Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Gonta- ganti


__ADS_3

Lalu muntah-muntah di depan rumahku, dipegangi suaminya, sampai akhirnya jatuh pingsan. Bingung juga menghadapi hal seperti itu, ku suruh mas Slamet menggotong istrinya ke tempat yang lebih bersih.


Tiba-tiba mbak Sun sadar dan muntah-muntah lagi, lalu pingsan lagi, begitu berulang-ulang, kasihan juga melihatnya, maka ku suruh saja bawa pulang, besok saja dilanjutkan. Besoknya setelah dzikir ku coba seperti semalam, ku kasih air dan ku suruh menempelkan jarinya di fotoku, baru jarinya menyentuh fotoku, langsung saja tubuhnya lemas seperti orang pingsan, dan ketawa cekakak cekikik sebagaimana orang yang kerasukan.


“Ini siapa?” tanyaku, melihat jin yang ada di tubuh mbak Sun langsung berulah, dengan menendang-nendang suaminya yang mencoba memegangi, sehingga suaminya berkali-kali kena tendang.


“Sudah biarkan saja tak usah dipegangi.” Mbak Sun menatapku dan dia seketika langsung memalingkan wajahnya.


“Hii takut,siapa kamu wong bagus, wajahmu


menakutkan.” Katanya.


“Kamu sendiri siapa?” kataku balas bertanya. “Aku gak mau mengaku, kecuali kamu mau memenuhi syarat yang ku ajukan.”


“Apa syaratnya?” tanyaku.


“Syaratnya kamu mau menikah denganku.”


“Kalau aku tak mau?”


“Ya aku tak mau mengaku siapa aku.”


“Ooo begitu, kalau begitu aku paksa mengaku.”


“Paksa pakai apa?”


“Paksa pakai ini” lalu ku tempelkan tanganku ke tubuh mbak Sun.


“Aduuuuh panas, panasss… iya… iya aku mau mengaku, aku mengaku..”


“Kamu siapa?”


“Saya dikirim orang.”


“Siapa yang mengirim?”


“Ya saingan dagangnya perempuan ini, aku dikirim diperintahkan untuk menghancurkan usaha perempuan ini.”


“Siapa yang mengirim?”


“Dewi…”


“Punya saingan bernama Dewi kang Slamet?” tanyaku pada kang Slamet.


“Iya, orangnya jualan sebagaimana aku dan istriku.” jawab kang Slamet.


“Dikirim dengan dukun dari mana?”


“Dukun dari Jogya, malah Dewi membayar dengan memberikan tubuhnya dan membayar 10 juta untuk mengirimkan diriku.” kata jin yang ada di dalam tubuhnya mbak Sun.


“Bayar sama siapa?” tanyaku heran.


“Ya bayar melayani perantara dan dukunnya..”


“Ya sama perantara dan dukunnya.”


“Hm begitu…” kataku heran.


“Iya… hihihi..” jawab jin itu sambil cekikak


cekikik.


“Kamu keluar ya!” kataku sambil menatap wajahnya yang terus berusaha menghindari tatapanku.


“Jangan menatapku begitu aku takut, kamu sebenarnya siapa kok bagus bener wajahmu, tapi menakutkan..?”


“Aku gurunya orang yang kamu masuki ini..” jawabku tandas.


“Aku takut..” kata jin itu.


“Ya kalau takut keluar..”


“Aku ndak berani keluar nanti aku disalahkan dan dihukum dukun yang mengirimku, aku nanti dihajar.”


“Takut mana denganku apa dengan dukun itu?”


“Ya takut denganmu, badanku panas semua, rasanya semua tulangku lepas.”


“Makanya keluar, jangan sampai aku marah nanti malah aku hancurkan kamu."


“Iya iya, saya keluar, tapi saya minta ijin dulu sama dukun yang mengirimku.”


“Ya kalau begitu ku bakar saja kamu” kataku sambil mengulurkan tangan untuk memegang mbak Sun, segera saja dia berusaha menghindar, tapi kupegang kakinya, dan seketika tubuhnya lemas, tanda jin sudah keluar, dan mbak Sun kembali sadar.


Selang beberapa saat, ku biarkan mbak Sun istirahat, karena ku lihat kelelahan. Lalu setelah ku rasa cukup, ku suruh lagi minum air isian, dan air segera dibuang.

__ADS_1


“Air apa ini?” katanya dengan suara orang lain lagi, pertanda sudah ada jin lain lagi yang menguasai.


“Dengan siapa ini?” tanyaku dan jin dalam tubuh mbak Sun melihat dengan mata nanar, dan ketika tatapan wajahnya melihatku, dia seperti silau dan segera berpaling.


“Kamu siapa?” tanyaku.


“Aku jin yang dikirim.”


“Dikirim siapa?”


“Aku tak mau menyebutkan.” Ku tempel tanganku di tubuh mbak Sun.


“Aduh panaaasss, iya iya aku mengaku.”


“Dikirim siapa?”


“Dikirim Tobil, yang mengirimku dulu suka sama orang ini tapi tidak diterima, jadi dia mengirimkan jin, agar orang ini mau untuk dinikahinya”


“Orang mana?”


“Orang yang di daerah Kretek”


“Sekarang kamu keluar atau ku paksa keluar?”


“Memangnya kamu itu siapa? Punya apa kok mau memaksaku keluar?”


Ku tempel saja tanganku ke tubuh mbak Sun dan ku tarik jinnya keluar, dan jin pun keluar.


Ku suruh lagi untuk meminum air isian, dan sekali lagi air baru saja ditenggak, mbak Sun sudah lemas, dan berubah suara lagi menjadi suara lain.


“Siapa ini?”


“Kenapa nanya nanya?”


“Ya aku ingin tau kenapa kamu di dalam?”


“Saya dikirim”


“Dikirim siapa?”


“Dikirim kyai Juki.”


“Kyai Juki itu siapa?”


“Itu Kyai yang sering jadi penceramah di masjid Agung sana.” jelas Taufik yang memang kenal


“Oooo” aku heran, kyai juga main jin.


“Iya dia di luarnya juga alim,” tambah Taufik.


“Wah wah wah dunia, kalau begini kan ketahuan jadinya..” kataku.


“Untuk urusan apa kamu dikirim kyai Juki?” tanyaku pada jin yang ada di tubuh mbak Sun.


“Memangnya kamu ada urusan apa? kamu siapanya? Kok nanya nanya? jangan ikut campur urusan orang lain!” jawab jin itu.


“Ya dia ini muridku, jelas jadi urusanku.”


“Kamu berani denganku..?” tanya jin itu.


“Aku ini sakti.”


“Sakti? Kalau sakti coba tatap aku.” kataku.


Dia menatapku tapi segera berpaling,


“Ih takut, kau menakutkan, matamu sangat menakutkan, panasss.”


“Bagaimana kau berani denganku sekarang?” tanyaku.


“Kau ini sebenarnya siapa? Mengapa ilmumu tinggi sekali, kau muridnya siapa?”


“Aku murid Syaikh Nawawi.” jawabku.


“Jangan sebut nama itu, panas,”


“Bagaimana mau melawanku?”


“Tidak, tidak, aku tak berani, biar aku keluar saja.”


“Keluar sendiri atau ku keluarkan?”


“Aku keluar sendiri saja” katanya dan mbak


Sun pun lemas.

__ADS_1


Malam itu entah berapa jin yang sudah ku keluarkan silih berganti jin ku keluarkan, karena malam sudah larut, maka ku sarankan untuk


dilanjutkan besok paginya saja. Dan siangnya mbak Sun datang lagi sambil diantar suaminya, di Facebook yang memakai Id Slamet Kliwon itu, segera saja ku suruh minum, dan aku lupa memberinya minum pakai gelas kaca, jelas gelas langsung dibanting pecah dan mbak Sun sudah berubah menjadi orang lain.


“Siapa?” tanyaku.


“Aku kirimannya Siswoyo…”


“Siapa itu Siswoyo?”


“Siswoyo ya mertuanya Sun ini.”


“Itu mertuanya yang dulu mas..” jelas kang Slamet.


“Ooo…. begitu, lalu untuk apa kamu dikirim?”


“Dulu Sun ini tak mau dinikahkan dapat anaknya, jadi tubuhnya diisi jin, biar mau..”


“Jadi sudah lama kamu di dalam?”


“Ya sudah lama, tapi sejak Sun ikut ngaji thoreqoh itu, tubuhku panas, aku gak kuat di dalam, aku kepanasan, ngaji di mana itu kok


panas sekali..”


“Ya ngaji di sini, aku gurunya.”


“Hah takut aku, aku ta berani, aku dikeluarkan saja, aku tak kuat.”


Segera jin ku keluarkan, dan ku suruh minum air isian lagi, dan langsung saja berubah menjadi suara lain.


“Dengan siapa ini?”


“Aku jin dikirim oleh Supeno dan Supeni.”


“Siapa itu?”


“Dukun suruhannya Siswoyo..”


“Ooo… kamu keluar ya..”


“Saya tak bisa keluar.”


“Kenapa?”


“Saya harus minta pertanggung jawaban pada Supeno dan Supeni.”


“Ya sana meminta pertanggung jawaban.”


“Tak bisa.”


“Kenapa.”


“Orangnya sudah meninggal semua..”


“Ya nanti minta pertanggung jawaban di akherat, sekarang kamu keluar.”


“Ya ya saya keluar tapi saya biarkan di tubuh perempuan ini sebentar, saya kasihan padanya,


dia orang baik kok dikirimi jin.”


Aku tak sabar menunggu lantas saja jin ku keluarkan, tapi segera berganti jin baru.


“Siapa ini?” tanyaku.


Dia menggeleng.


“Kamu siapa?”


Dia menggeleng lagi dan memberi isyarat kalau


dia tak bisa bicara. Ku suruh ambilkan spidol beserta secarik kertas. Dan ku sodorkan di depannya.


“Kamu siapa?” Dia menulis, ‘saya kiriman’,


“Sudah berapa lama di dalam?”


Dia menulis, ’20 tahun’.


Heran juga aku, tapi karena susahnya berkomunikasi, maka ku keluarkan saja jinnya.


Karena melihat keadaan mbak Sun kelelahan maka pengeluaran jin ku hentikan beberapa saat, dan setelah ku rasa cukup istirahat, ku suruh lagi mbak Sun minum air isian dan langsung saja berubah gerak geriknya,


“Dengan siapa ini?” tanyaku.


“Saya jin yang disuruh orang menyerang pada

__ADS_1


ayahnya anak ini.”


__ADS_2