
“Kamu pernah menjalankan amalan kejawen?”
tanyaku lagi.
“Waduh mas kok tau semua to…”
“Ya dijawab, iya apa enggak.” kataku.
“Iya mas, ceritanya begini mas, aku ini kan seorang sopir, sopir kontainer, mas tau sendiri, kontainer itu membawa barang kadang berharga, la tak jarang kami itu dihadang bajing loncat, belum lagi kami sering dimintai polisi-polisi nakal di jalan, sehingga pendapatanku sering tinggal seratus ribu, karena diminta polisi-polisi itu, kami kan
juga punya keluarga, anak yang perlu dihidupi,
Pada suatu hari temanku bilang biar tidak
dihadang bajing loncat, atau polisi nakal, maka
aku disarankan meminta keselamatan pada
seorang yang linuweh di daerah dekat Alas
Roban, maka akupun diantar ke sana, dan aku diberi isi dan amalan, lalu ku amalkan,
Memang dalam perjalanan kami selalu aman, teman-teman yang lain dihadang bajing loncat, tapi aku tak pernah dihadang, juga tak pernah dimintai polisi-polisi nakal, sehingga uangku utuh.”
“Hm gitu…”
“Iya mas itu kisahnya.”
“Kalau ilmu kejawen, jin yang dari pantai selatan itu semua ku ambil dari tubuhmu, dan nanti kamu tobat, terus menjalankan hidup yang islami mau?” tanyaku.
“Mau-mau mas, asal hidupku tentram…
Alhamdulillah aku dipertemukan dengan mas,
Alloh telah mengirimkan mas padaku.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan mas?” tanya Tejo dengan wajah senang, dan bersemangat.
“Sekarang ambil air wudhu,” kataku.
“Oo baik-baik mas…” kata Tejo segera beranjak
menuju kamar mandi.
Bagiku di manapun tempat, kalau kita bisa, maka berbuat baik, dan selalu berusaha berbuat baik, belajar selalu mengikhlaskan segala perbuatan.
Sebab menurut hematku, jika amal baik itu
menyandarkan pada amal baik diri sendiri, aku
ragu jika amalku bersih, suci dari penyakit, dan
lolos bisa tembus langit tujuh, dan diterima oleh Alloh mendapat ACC, kalau amalku itu akan pantas mendapat balasan, mungkin amalku baru sampai di langit 1 atau 2, telak tertahan oleh malaikat penjaga pintu langit, karena aku yang penuh dosa dan kotor, maka aku perlu amal yang dengan sisitim tanam modal,
Aku mengajak orang lain untuk melakukan laku ibadah, dan dengan sendirinya aku akan mendapatkan bagian jika orang yang ku ajak menjalankan ajakanku.
Semakin banyak orang yang kita ajak, maka akan makin banyak pahala yang kita peroleh, malah bagian kita pasti langsung kita terima utuh, entah ikhlas atau tak ikhlas orang yang kita ajak dalam menjalankan ibadah, dan tentu saja tanpa mengurangi pahala orang yang kita ajak.
Teori ini tak bedanya dengan seseorang yang
mendirikan pabrik, misal pabrik pakaian, jika dia menjalankan pabrik itu sendiri, maka bisa jadi 1 baju bisanya terjual 1 bulan ke depan, beli bahan sendiri, diukur sendiri, dipotong sendiri, dijahit sendiri, dan dipasarkan sendiri.
Maka akan lama prosesnya, tapi jika dia mengajak banyak orang menjadi karyawannya, mengerjakan rancangannya, dan ada yang mengukur, ada yang tukang memotong, ada yang tukang menjahit, ada yang bagian pemasaran, bisa dipastikan
pabrik itu akan maju dan banyak omsetnya.
Nah itulah yang selalu ku lakukan, membangun perusahaan, mempunyai banyak karyawan, yang akan mengamalkan motif yang ku arahkan, jika ingin melesat cepat dalam kesuksesan, maka hal itu bisa diterapkan siapa saja, dan rasakan buah manisnya amal.
Jika mengandalkan amal perbuatan sendiri, maka kita akan sangat-sangat lama sekali berkembang, dan amal kita mungkin bertahun-tahun baru menuai hasil.
__ADS_1
“Sudah mas, saya sudah wudhu,” kata Tejo.
“Coba duduk membelakangiku.” kataku.
Tejo pun duduk membelakangiku, lalu ku
tempelkan tangan di punggungnya, dan ku
salurkan hawa murni ku padukan dengan do’a dan dzikir, semua kekuatan yang ada di tubuhnya ku sedot semua, lalu ku buang.
“Wah rasanya ada yang keluar dari tubuhku
mas…” kata Tejo.
“Wah sedang pada ngapain ini?” tanya Arif
Rahman yang tiba-tiba muncul.
“Ini mas lagi membereskan masalahnya kang
Tejo.” jelasku.
“Gimana mas, apa bisa dimulai membersihkan
penampungan?” tanya Arif.
“Udah dari sini juga bisa, biar ku tariknya dan
kumpulkan di sini, nanti ku omonginnya biar pada pergi.” kataku, yang saat itu duduk di tempat duduk depan penampungan.
“Harus dengan sarat apa mas?” tanya Arif.
“Nggak pakai sarat apa-apa, cuma supaya jangan ribut, biar saya konsentrasi.”
“Ooo silahkan-silahkan mas…” kata mereka
berdua.
menarik semua jin yang ada di dalam rumah,
hawa gelap menggulung, makin pekat, dan rasa merinding mulai menjalari tubuh, pertanda
mereka yang tertarik mulai mendekat.
Ku rasakan ada beberapa jin berkumpul
kebingungan di depanku, lalu ku beritahu semua, agar meninggalkan tempat penampungan itu.
“Mereka semua di sini, di depan sini.” kataku
pada Arif dan Tejo.
“Iya mas kami merinding, tapi ndak melihat.”
kata Tejo.
“Coba kamu berjalan ke depan.” kataku pada
Tejo, dan Tejo pun berjalan, lalu jatuh
menggrasuk kayak ada yang menghalangi kakinya.
“Waduh…!” kata Tejo yang segera ketakutan.
Aku katakan pada semua jin yang ada enam jin itu untuk keluar dari penampungan, ku
persilahkan mau menempati pohon atau apapun, asal jangan mengganggu penampungan, dan semua mau pindah, tanpa syarat.
Setelah semua beres, kami mengobrol sampai
__ADS_1
malam.
——————————————
Paginya setelah sholat subuh berjama’ah dengan Arif dan Tejo, kami sarapan pagi bareng.
“Alhamdulillah badan saya enak banget mas,
semalam tidur juga enak, bangun rasanya enteng, biasanya saya kalau mau tidur resah banget, biasanya bolak-balik ada dua jam an baru bisa tidur, alhamdulillah sekarang enak banget.” kata Tejo yang wajahnya kelihatan sudah tidak ada aura hitamnya.
“Ya syukur kalau begitu, jangan lupa sholat lima waktunya dijaga, soalnya itu juga menjadi modal rizqinya akan lancar berkah atau akan susah, sebab orang yang rajin sholat akan berkah rizqinya.” kataku.
“Iya mas, do’akan saya, biar bisa hidup dengan
islami.” kata Tejo.
“Ya jangan do’a-do’a aja, seseorang itu harus
punya keinginan kuat untuk merubah jalan
hidupnya, menempuh rel jalan yang diridhoi
Alloh, orang tak ada ceritanya bisa bahagia jika tidak menempuh jalan yang diridhoi Alloh,
diterima atau tak diterima kita ini ciptaan Alloh, maka jika ingin bahagia maka tempuhlah jalan
yang sudah ditunjukkan Alloh.” jelasku dengan
perlahan.
“Maaf mas, bisa kami minta diberi pegangan
dzikir, untuk kami istiqomahkan, agar kami bisa membiasakan menggantungkan diri pada Alloh.”
kata Arif, yang sedang memberesi piring kami.
“Ada kertas gak biar ku tuliskan amalan, ingat
diistiqomahkan,” kataku yang segera diambilkan kertas oleh Arif Rahman.
“Oh ya mas, nanti ku anter pakai motor untuk
ikut medical.” kata Arif sambil menyerahkan
pena dan kertas. Segera ku tulis amalan.
“Nanti setelah medical balik ke sini atau ke
penampungan pusat.” tanyaku sambil nulis
amalan.
“Ke penampungan pusat aja mas, soalnya pak
Daud sama pak Amir kpingin juga dilihat
rumahnya.” jelas Arif.
——————————————-
Tempat medical suasana ramai sekali, tapi
kebanyakan TKW, aku ditinggal oleh Arif
setelah didaftarkan dan menerima nomer urut,
tes urin, ditimbang, diambil darah sudah, tinggal difoto sinar x, sama pengecekan badan, itu saja sudah seharian, setelah selesai sholat ashar aku ke warung tegal, di dalam ada dua orang lelaki.
“Makan bu…” ku bilang pada penjaga warung, lalu memilih lauk, dan mulai makan...
__ADS_1
Bersambung...