
Salahnya sendiri ia menyombongkan dirinya di tengah-tengah orang lain.
Kemudian ada lagi malaikat hafazhah yang naik ke langit keempat, membawa amal seseorang yang bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, puasa, shalat, naik haji, dan umrah.
Tapi, ketika sampai di langit keempat, malaikat penjaga pintu langit keempat mengatakan kepada malaikat hafazhah.
“Berhentilah, jangan dilanjutkan lagi. Tamparkanlah amal ini ke wajah pemiliknya, aku ini penjaga orang-orang yang suka ujub (membanggakan diri). Aku diperintahkan untuk pp menerima masuk amal tukang ujub.
Jangan sampai amal itu melewatiku untuk mencapai langit yang berikutnya, sebab ia kalau beramal selalu ujub. Kemudian naik lagi malaikat hafazhah ke langit kelima, membawa amal hamba yang diarak bagaikan pengantin wanita digiring kepada suaminya, amal yang begitu bagus, seperti amal jihad, ibadah haji, ibadah umrah. Cahaya amal itu bagaikan cahaya matahari. Namun, begitu sampai di
langit kelima, berkata malaikat penjaga pintu langit kelima, “Aku ini penjaga sifat hasud
(dengki, iri hati).
Pemilik amal ini, yang amalnya sedemikian bagus, suka hasud kepada orang lain atas kenikmatan yang Allah berikan kepadanya. Sungguh ia benci kepada apa yang diridhai Allah SWT. Saya diperintahkan agar tidak membiarkan amal orang seperti ini untuk melewati pintuku menuju pintu selanjutnya.“
Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik dengan membawa amal lain berupa wudhu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, haji, dan umrah. Tapi saat ia sampai di langit keenam, malaikat penjaga pintu ini mengatakan. “Aku ini malaikat penjaga rahmat. Amal yang seolah-olah bagus ini, tamparkanlah ke wajah pemiliknya. Salah sendiri ia tidak pernah mengasihi orang.
Bila ada orang lain yang mendapat musibah, ia merasa senang. Aku diperintahkan agar amal seperti ini tidak melewatiku hingga dapat sampai pada pintu berikutnya.”
Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik ke langit ketujuh dengan membawa amal seorang hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad, dan kewara’a. Suaranya pun bergemuruh bagaikan geledek. Cahayanya bagaikan malaikat. Namun tatkala sampai di langit yang ketujuh, malaikat penjaga langit ketujuh mengatakan.
“Aku ini penjaga sum’at (ingin terkenal / Riya). Sesungguhnya orang ini ingin dikenal dalam kelompok, kelompok, selalu ingin terlihat lebih unggul disaat berkumpul dan ingin mendapatkan pengaruh dari para pemimpin. Allah memerintahkanku agar amalnya itu tidak
sampai melewatiku. Setiap amal yang tidak bersih karena Allah, itulah yang disebut Riya.
Allah tak akan menerima amal orang-orang yang riya.”
Kemudian ada lagi malaikat hafazhah naik membawa amal seorang hamba: shalat, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak yang baik, pendiam, tidak banyak bicara, dzikir kepada Allah. Amalnya itu diiringi para malaikat hingga langit ketujuh, bahkan sampai menerobos memasuki hijab-hijab dan sampailah kehadirat Allah. Para malaikat itu berdiri dihadapan Allah. Semua menyaksikan bahwa amal ini adalah amal yang shalih dan ikhlas karena Allah SWT.
Namun Allah berfirman. “Kalian adalah hafazhah, pencatat amal-amal hamba-Ku. Sedangkan Akulah yang mengintip hatinya. Amal ini tidak karena-Ku. yang dimaksud oleh si pemilik amal ini bukanlah Aku. Amal ini tidak diikhlaskan demi Aku. Aku lebih mengetahui dari kalian apa yang dimaksud olehnya dengan praktek itu. Aku laknat dia, karena menipu orang lain dan juga menipu kalian (para malaikat hafazhah).
Tapi Aku tak’kan tertipu olehnya.
Aku ini yang paling tahu akan hal-hal yang ghaib. Akulah yang melihat isi hatinya, dan tidak akan samar kepada-Ku setiap apapun yang samar. Tidak akan tersembunyi bagi-Ku setiap apapun yang tersembunyi. Pengetahuan -Ku atas apa yang telah terjadi sama dengan pengetahuan-Ku akan apa yang akan terjadi. Pengetahuan-Ku atas apa yang telah lewat sama dengan pengetahuan-Ku atas apa yang akan datang.
Pengetahuan-Ku kepada orang-orang terdahulu sebagaimana pengetahuan-Ku kepada orang- orang yang kemudian. Aku lebih tahu atas apapun yang tersamar dari rahasia. Bagaimana bisa amal hamba-Ku menipu-Ku? Dia bisa menipu makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku ini Yang paling Mengetahui hal-hal yang ghaib. Laknat-Ku tetap.kepadanya. Tujuh malaikat hafazhah yang ada pada saat itu dan 3000 malaikat lain yang mengiringinya menimpali.
“Wahai Tuhan kami, dengan demikian tetaplah laknat-Mu dan laknat.kami kepadanya.” Maka, semua yang ada di langit pun mengatakan, “Tetapkanlah laknat Allah dan laknat mereka yang melaknat kepadanya.” Tahanlah mulutmu, Mu’adz pun kemudian menangis terisak-isak dan berkata:
__ADS_1
“Ya Rasulullah, bagaimana bisa aku selamat dari apa yang baru engkau ceritakan itu?”
Rasulullah SAW menjawab.
“Wahai Mu’adz, ikutilah nabimu dalam hal keyakinan!”
Mu’adz berkata lagi, ‘Wahai Tuan, engkau adalah Rasulullah.
Sedangkan aku ini hanyalah si Mu’adz
bin Jabal, bagaimana aku dapat selamat dan terlepas dari bahaya tersebut?”
Rasulullah SAW bersabda.
“Seandainya dalam amalmu ada kelengahan, tahanlah mulutmu, jangan sampai menjelek- jelekkan orang lain, dan juga saudara- saudaramu sesama ulama. Apabila engkau hendak menjelek-jelekkan orang lain, ingatlah pada dirimu sendiri. Sebagaimana engkau tahu dirimu pun penuh dengan aib. Jangan pernah membersihkan dirimu dengan menjelek-
jelekkan orang lain.
Jangan mengangkat dirimu sendiri dengan menekan orang lain. Jangan Riya dengan amalmu agar diketahui orang lain. Janganlah termasuk golongan orang yang mementingkan dunia dengan melupakan akhirat. Kamu jangan berbisik-bisik dengan seseorang padahal disebelahmu ada orang lain yang tidak diajak berbisik. Jangan takabur kepada orang lain, nanti akan kadaluarsa bagimu kebaikan dunia dan akhirat. Jangan berkata kasar dalam suatu majelis dengan maksud supaya orang-
orang takut akan keburukan akhlaqmu itu.
Jangan mengungkit-ungkit ketika berbuat
Aku (Mu’adz) berkata: “Ya Rasulullah, siapa yang akan kuat menanggung penderitaan semacam ini?”.
Jawab Rasulullah SAW, “Wahai Mu’adz, yang kuceritakan tadi itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah SWT. Cukup
untuk mendapatkan semua itu, engkau menyayangi orang lain sebagaimana engkau
menyayangi dirimu sendiri, dan membenci sesuatu terjadi kepada orang lain apa-apa yang
engkau benci bila sesuatu itu terjadi kepadamu. Bila seperti itu, engkau akan selamat, terhindar dari penderitaan itu.”
Khalid bin Ma’dan (yang meriwayatkan hadits itu dari Mu’adz RA) mengatakan, “Mu’adz sering membaca hadits ini sebagaimana seringnya ia
membaca Al-Qur’an, mempelajari hadits ini
sebagaimana ia mempelajari Al-Qur’an dalam
__ADS_1
majelisnya.”
Seseorang siapapun itu tidak akan bisa mengendalikan dirinya atas hatinya, atas jasmaninya, atas ruhnya, karena arrukhu min amri robbi, ruh itu urusannya Allah, hati itu urusannya Allah, ruh itu urusannya Allah, dalam diri manusia itu ada tujuh latifah, sebagaimana
ada pintu tujuh langit, latifah itu adalah latifah
qolbi, latifah sir, latifah khofi, latifah akhfa, latifah ruh, latifah nafsi, dan latfah kullu badan.
Kalau manusia itu membersihkan latifah dalam
tubuhnya, maka sama saja dia membersihkan diri dari 7 kekotoran yang menjadi sebab tertolaknya amal sampai menembusi 7 langit,
dengan sendirinya kalau tujuh latifahnya bersih
dari sifat tercela maka sama saja dia telah
membuka 7 pintu langit, ini sebenarnya teori
sangat sederhana, tapi mungkin jarang orang
yang berfikir ke sana.
Jika 7 latifah kita terbuka bersih dari batu dan
kekotoran yang menutup sumur fadzilah, maka
air fadzilah dari Allah akan memancar, memancar tanpa harus kita mengupayakan agar air keluar, sebagaimana sumur yang telah
ketemu sumbernya yang ada 7, sumur itu akan
menyumber terus tanpa kita mengupayakan agar airnya keluar, nah saat pembersihan dan
penggalian 7 pintu latifah itu dan saat pembersihan soal ruhani itu jelas bukan urusan
kita, atau penyedot debu dari manapun, juga bukan urusan cleaning servis manapun, tak ada
pembersih atau sabun apapun yang bisa membersihkan, tak bisa itu dilakukan manusia,
kecuali oleh Allah yang bisa membolak balikkan hati, penguasa alam ruh, alam sir dan akhfa.
__ADS_1
Maka tak ada solusi paling cerdas, melebihi
solusi mendekatkan sang maha membersihkan.