
Itulah awal karir pemulungnya menanjak, sekarang yang dipulungnya sudah alat
berat kyak buldoser. Dalam perjalanan sampai
Jakarta aku tak banyak omong dengan pak
Jahru, aku diantar sampai ke Cipinang Muara,,
Aku sebelumnya diajak ke tempat tinggal pak Jahru menginap semalam dan besoknya aku diantar ke kontrakan Karim, teman sekolahku waktu di MI.
Di tempat kontrakan kumpul teman-teman
sedesaku. Ada Sengkle, Renges, Tro, Klewer, ah memang nama panggilan semua, sampai nama aslinya kami sudah lupa, dan nama-nama itu jadi simbol keakraban, satu nasib sepenanggungan.
“Wah kamu di sini juga Nges.”
Tanyaku ketika teman sepermainanku di kampung ini menyalamiku.
Renges, pemuda seumuranku 24
tahun, hidung pesek habis, lubang hidung melebar, karena sering dicongkel-congkel pakai jari, untuk mengambil kotoran hidung, kadang dia mencongkel hidung ngotot sambil berpegangan pada tiang, kayak sesuatu yang
teramat susah diambil dan membutuhkan tenaga ekstra, rambutnya panjang sebahu, wajahnya lebih mirip Kaka personel SLANK.
“Iya Ian, dah datang sebulan yang lalu, kamu
ndiri kesini ngapain?”
“Wah, aku mau nyari uang saku untuk di pondok.” kataku.
“Eh Ian, dah lama datangnya.” Karim masuk
kontrakan, langsung menyapaku, dia baru datang, kerjanya di kantor miliknya pak Abdullah.
“Baru aja Rim.” jawabku.
“Trus ada perlu apa?"
“Biasa nyari tambahan modal untuk di pondok
alias nyari kerjaan.”
“Iyalah besok aku cari’in kerjaan.”
Begitulah dialog-dialog ringan di antara kami.
Tapi setelah itu nyampai seminggu pun aku belum dapat kerjaan, makan nebeng, ah jadi tambah susah.
“Wah sudah ku carikan pekerjaan, tapi susah tak dapat-dapat tuh Ian, gimana?” tanya Karim pada suatu sore.
“Wah gimana ya Rim, la aku kalau balik ya lebih repot lagi,” jawabku prihatin.
“Kenapa gak bikin lukisan sendiri aja Ian?” sela Renges.
“Nanti tak bantu njualin deh.”
“Wah kalau itu perlu modal Nges…”
“Biar aku yang modalin, kamu anggep beres aja, butuh berapa?” kata Karim mantep.
“Ya paling butuh 4 ratusan ribu,” kataku.
“Ya udahlah besok beli barang keperluanmu.”
kata Karim.
Maka besoknya aku pun beli barang keperluan, aku membuat lukisan kaca, yaitu lukisan kebalik. Melukis dari dalam, jadi bisa dilihat dari luar.
Kelihatan bagus, tiga hari ku selesaikan lukisan besar, enam buah lukisan pemandangan. Setelah selesai dibingkai, aku dan Renges mulai menawarkan lukisan dari pintu ke
pintu, dari gang ke gang, banyak yang melihat
lukisan, dan menawar tapi tak ada yang mau beli,
setelah ku kasih tau harganya, satu lukisan ku tawarkan dengan harga 2 ratus ribu.
__ADS_1
Untuk mengejar isi perut yang keroncongan.
“Nges, perasaan kita muter-muter di jalan ini-ini aja?” kataku pada Renges sebagai penunjuk
jalan.
“Maksudmu kita bingung?” kata Renges, seakan aku tak percaya atas kefasihannya menghafal jalan Jakarta.
“Iya.” jawabku, dari pada muter-muter lagi.
Karena perut belum keisi dan pegelnya kaki
minta ampun.
“Aku ini sudah hafal jalan di Jakarta, lebih hafal jalan dari pada mata pelajaran di sekolah.” kata Renges sambil nepuk dada.
“Hafal jalan aja bingung, apalagi tak hafal
jalan?” kataku jengkel.
“Kamu itu yang bingung, karena lukisannya tak
laku.” kata Renges juga marah.
“Udah gini aja, kita lihat tuh ada toko Sarinah,
nah mari kita jalan, apa balik ke toko Sarinah
lagi apa enggak?” kataku menengahi keributan
kami, lalu kami pun melanjutkan perjalanan.
Dan memang sesuai dengan apa yang aku bilang, kami kembali ke toko Sarinah.
“Heran, kenapa bisa bingung gini ya?” kata
Renges sambil duduk di regol.
“Udah nges, mending kita cari masjid, ini waktu
Kami pun segera pergi ke masjid dan
menjalankan sholat dzuhur. Selesai sholat kami memajang lukisan di depan masjid, yang
kebetulan pertigaan jalan yang ada pohon mahoni tua.
Tapi sampai jam menunjukkan jam setengah lima,
tak juga ada yang beli, walau banyak yang nawar,
tapi sebatas nawar, kalau harus pulang ke kontrakan dengan tanpa lukisan terjual sama sekali, ah betapa jauhnya, kami berdua harus berjalan, belum lagi perut yang lapar karena dari pagi kami belum makan.
Ah kami lebih parah dari pada tentara yang kalah perang, pulang memanggul senjata, setidaknya mereka punya uang.
“Gimana Ian?” kata Renges, wajahnya yang
bertampang suntuk, makin suntuk aja.
“Aku tak kuat, kalau gini, udah jauh, perut lapar,
bisa klenger beneran nih,” tambahnya, makin
menambah beban masalah aja keluhnya.
“Ya mau gimana lagi Nges, la emang tak laku,”
“Satu aja dijual 50 ribu aja deh, buat naik
angkot. Dan untuk beli nasi bungkus” katanya
mengiba.
“Ya udahlah nanti kalau ada yang nawar, kasihkan aja,” kataku agak berat, karena kepikiran untuk mengembalikan uangnya Karim.
Selang beberapa menit, ada sepeda motor menghampiri kami dan menanyakan harga lukisan, e udah dikasih harga 50 ribu rugi harga produksi, masih tak laku juga, maunya 30 ribu, ya jelas aku tak mau, memangnya kacang garing, semurah itu,,
__ADS_1
Orang bermotor itupun pergi, meninggalkan harapan kami yang tercabik-cabik.
“Wah..! Udah Ian aku tak kuat lagi, mending
sekarang pulang aja, daripada nanti kemalaman.”
kata Renges, kayak mau nangis, rupanya keuletan dan kesabarannya telah memasuki batas toleransi.
“Gini aja, biar aku wirid di dalam masjid
sebentar, siapa tau masih bisa laku, kita masih
punya Alloh, aku akan meminta supaya lukisan
kita terjual.” kataku masih sabar.
“Ah Jakarta ini keras Ian, tak ada Alloh,
Allohan, di sini itu siapa kuat maka jaya.” kata
Renges masgul.
“Tapi ndak salah kan dicoba?”
“Ya udahlah sana, biar aku nunggu di sini, jangan lama-lama…!”
“Setengah jam aja.” kataku sambil berjalan ke
dalam masjid.
Aku segera ambil wudhu dan duduk membaca
wirid, yang kubaca surah waqi’ah 15 kali, untung aku telah hafal di luar kepala, jadi setengah jam pun selesai, dengan kesungguhan aku berdoa.
Lalu keluar, pas nyampai di tempat majang
lukisan, sebuah mobil kijang warna biru gelap
berhenti. Seorang pemuda turun dari mobil
menghampiri.
“Mas lukisannya harganya berapaan?” tanyanya.
“Duaratus ribu mas.” jawabku.
“Udah borong aja semua.” suara lelaki dari dalam mobil.
“Udah mas, saya borong semua, tolong diangkut ke dalam mobil.” kata pemuda itu, yang mengejutkanku, apalagi Renges, dia dalam keadaan jongkok, kulihat matanya melotot, atau kayak orang mau boker.
“Udah Nges, ayo diangkut ke dalam mobil,
tunggu apa lagi.” kataku mengejutkannya.
Kami segera mengangkut lukisan ke dalam mobil, dan di dalam mobil ada lelaki dan perempuan setengah baya, sebentar kami ngobrol dan aku diberi kartu nama, lelaki paruh baya itu bernama bapak Suwandi, pengusaha mebel dari Jepara.
Ah yang penting lukisanku telah laku, setelah
sholat magrib kamipun pulang ke kontrakan, tak lupa makan dulu di warung Padang, pesen
rendang kesukaanku, Renges sampai habis tiga piring.
Dan kami melenggang pulang dengan
kelegaan di hati, uang ada, rokok di tangan. Ah
mau apa lagi, yah kami butuh istirahat, atas
penat beban pikiran karena harapan yang
dipaksakan.
“Sekarang menurutmu Alloh ada di Jakarta
tidak Nges?” tanyaku pada Renges. Ketika kami ada di dalam angkot.
__ADS_1
Bersambung....