Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Pembuktian


__ADS_3

Itulah awal karir pemulungnya menanjak, sekarang yang dipulungnya sudah alat


berat kyak buldoser. Dalam perjalanan sampai


Jakarta aku tak banyak omong dengan pak


Jahru, aku diantar sampai ke Cipinang Muara,,


Aku sebelumnya diajak ke tempat tinggal pak Jahru menginap semalam dan besoknya aku diantar ke kontrakan Karim, teman sekolahku waktu di MI.


Di tempat kontrakan kumpul teman-teman


sedesaku. Ada Sengkle, Renges, Tro, Klewer, ah memang nama panggilan semua, sampai nama aslinya kami sudah lupa, dan nama-nama itu jadi simbol keakraban, satu nasib sepenanggungan.


“Wah kamu di sini juga Nges.”


Tanyaku ketika teman sepermainanku di kampung ini menyalamiku.


Renges, pemuda seumuranku 24


tahun, hidung pesek habis, lubang hidung melebar, karena sering dicongkel-congkel pakai jari, untuk mengambil kotoran hidung, kadang dia mencongkel hidung ngotot sambil berpegangan pada tiang, kayak sesuatu yang


teramat susah diambil dan membutuhkan tenaga ekstra, rambutnya panjang sebahu, wajahnya lebih mirip Kaka personel SLANK.


“Iya Ian, dah datang sebulan yang lalu, kamu


ndiri kesini ngapain?”


“Wah, aku mau nyari uang saku untuk di pondok.” kataku.


“Eh Ian, dah lama datangnya.” Karim masuk


kontrakan, langsung menyapaku, dia baru datang, kerjanya di kantor miliknya pak Abdullah.


“Baru aja Rim.” jawabku.


“Trus ada perlu apa?"


“Biasa nyari tambahan modal untuk di pondok


alias nyari kerjaan.”


“Iyalah besok aku cari’in kerjaan.”


Begitulah dialog-dialog ringan di antara kami.


Tapi setelah itu nyampai seminggu pun aku belum dapat kerjaan, makan nebeng, ah jadi tambah susah.


“Wah sudah ku carikan pekerjaan, tapi susah tak dapat-dapat tuh Ian, gimana?” tanya Karim pada suatu sore.


“Wah gimana ya Rim, la aku kalau balik ya lebih repot lagi,” jawabku prihatin.


“Kenapa gak bikin lukisan sendiri aja Ian?” sela Renges.


“Nanti tak bantu njualin deh.”


“Wah kalau itu perlu modal Nges…”


“Biar aku yang modalin, kamu anggep beres aja, butuh berapa?” kata Karim mantep.


“Ya paling butuh 4 ratusan ribu,” kataku.


“Ya udahlah besok beli barang keperluanmu.”


kata Karim.


Maka besoknya aku pun beli barang keperluan, aku membuat lukisan kaca, yaitu lukisan kebalik. Melukis dari dalam, jadi bisa dilihat dari luar.


Kelihatan bagus, tiga hari ku selesaikan lukisan besar, enam buah lukisan pemandangan. Setelah selesai dibingkai, aku dan Renges mulai menawarkan lukisan dari pintu ke


pintu, dari gang ke gang, banyak yang melihat


lukisan, dan menawar tapi tak ada yang mau beli,


setelah ku kasih tau harganya, satu lukisan ku tawarkan dengan harga 2 ratus ribu.

__ADS_1


Untuk mengejar isi perut yang keroncongan.


“Nges, perasaan kita muter-muter di jalan ini-ini aja?” kataku pada Renges sebagai penunjuk


jalan.


“Maksudmu kita bingung?” kata Renges, seakan aku tak percaya atas kefasihannya menghafal jalan Jakarta.


“Iya.” jawabku, dari pada muter-muter lagi.


Karena perut belum keisi dan pegelnya kaki


minta ampun.


“Aku ini sudah hafal jalan di Jakarta, lebih hafal jalan dari pada mata pelajaran di sekolah.” kata Renges sambil nepuk dada.


“Hafal jalan aja bingung, apalagi tak hafal


jalan?” kataku jengkel.


“Kamu itu yang bingung, karena lukisannya tak


laku.” kata Renges juga marah.


“Udah gini aja, kita lihat tuh ada toko Sarinah,


nah mari kita jalan, apa balik ke toko Sarinah


lagi apa enggak?” kataku menengahi keributan


kami, lalu kami pun melanjutkan perjalanan.


Dan memang sesuai dengan apa yang aku bilang, kami kembali ke toko Sarinah.


“Heran, kenapa bisa bingung gini ya?” kata


Renges sambil duduk di regol.


“Udah nges, mending kita cari masjid, ini waktu


Kami pun segera pergi ke masjid dan


menjalankan sholat dzuhur. Selesai sholat kami memajang lukisan di depan masjid, yang


kebetulan pertigaan jalan yang ada pohon mahoni tua.


Tapi sampai jam menunjukkan jam setengah lima,


tak juga ada yang beli, walau banyak yang nawar,


tapi sebatas nawar, kalau harus pulang ke kontrakan dengan tanpa lukisan terjual sama sekali, ah betapa jauhnya, kami berdua harus berjalan, belum lagi perut yang lapar karena dari pagi kami belum makan.


Ah kami lebih parah dari pada tentara yang kalah perang, pulang memanggul senjata, setidaknya mereka punya uang.


“Gimana Ian?” kata Renges, wajahnya yang


bertampang suntuk, makin suntuk aja.


“Aku tak kuat, kalau gini, udah jauh, perut lapar,


bisa klenger beneran nih,” tambahnya, makin


menambah beban masalah aja keluhnya.


“Ya mau gimana lagi Nges, la emang tak laku,”


“Satu aja dijual 50 ribu aja deh, buat naik


angkot. Dan untuk beli nasi bungkus” katanya


mengiba.


“Ya udahlah nanti kalau ada yang nawar, kasihkan aja,” kataku agak berat, karena kepikiran untuk mengembalikan uangnya Karim.


Selang beberapa menit, ada sepeda motor menghampiri kami dan menanyakan harga lukisan, e udah dikasih harga 50 ribu rugi harga produksi, masih tak laku juga, maunya 30 ribu, ya jelas aku tak mau, memangnya kacang garing, semurah itu,,

__ADS_1


Orang bermotor itupun pergi, meninggalkan harapan kami yang tercabik-cabik.


“Wah..! Udah Ian aku tak kuat lagi, mending


sekarang pulang aja, daripada nanti kemalaman.”


kata Renges, kayak mau nangis, rupanya keuletan dan kesabarannya telah memasuki batas toleransi.


“Gini aja, biar aku wirid di dalam masjid


sebentar, siapa tau masih bisa laku, kita masih


punya Alloh, aku akan meminta supaya lukisan


kita terjual.” kataku masih sabar.


“Ah Jakarta ini keras Ian, tak ada Alloh,


Allohan, di sini itu siapa kuat maka jaya.” kata


Renges masgul.


“Tapi ndak salah kan dicoba?”


“Ya udahlah sana, biar aku nunggu di sini, jangan lama-lama…!”


“Setengah jam aja.” kataku sambil berjalan ke


dalam masjid.


Aku segera ambil wudhu dan duduk membaca


wirid, yang kubaca surah waqi’ah 15 kali, untung aku telah hafal di luar kepala, jadi setengah jam pun selesai, dengan kesungguhan aku berdoa.


Lalu keluar, pas nyampai di tempat majang


lukisan, sebuah mobil kijang warna biru gelap


berhenti. Seorang pemuda turun dari mobil


menghampiri.


“Mas lukisannya harganya berapaan?” tanyanya.


“Duaratus ribu mas.” jawabku.


“Udah borong aja semua.” suara lelaki dari dalam mobil.


“Udah mas, saya borong semua, tolong diangkut ke dalam mobil.” kata pemuda itu, yang mengejutkanku, apalagi Renges, dia dalam keadaan jongkok, kulihat matanya melotot, atau kayak orang mau boker.


“Udah Nges, ayo diangkut ke dalam mobil,


tunggu apa lagi.” kataku mengejutkannya.


Kami segera mengangkut lukisan ke dalam mobil, dan di dalam mobil ada lelaki dan perempuan setengah baya, sebentar kami ngobrol dan aku diberi kartu nama, lelaki paruh baya itu bernama bapak Suwandi, pengusaha mebel dari Jepara.


Ah yang penting lukisanku telah laku, setelah


sholat magrib kamipun pulang ke kontrakan, tak lupa makan dulu di warung Padang, pesen


rendang kesukaanku, Renges sampai habis tiga piring.


Dan kami melenggang pulang dengan


kelegaan di hati, uang ada, rokok di tangan. Ah


mau apa lagi, yah kami butuh istirahat, atas


penat beban pikiran karena harapan yang


dipaksakan.


“Sekarang menurutmu Alloh ada di Jakarta


tidak Nges?” tanyaku pada Renges. Ketika kami ada di dalam angkot.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2