
Maka pak Soleh segera memukul tangan anaknya itu sehingga cekikany terlepas. Melihat ada yang memukul tangannya, Marjuki pun segera mengalihkan serangan ke leher pak Soleh, dengan mudahnya dia menangkap leher pak Soleh dan mencekiknya,.
Tubuh pak Soleh sampai terangkat dari tanah.
Dia mencoba melepaskan dengan segala daya upaya, tapi tangan Marjuki yang kerasukan itu teramat kuat sehingga pak Soleh hanya bisa menendang-nendangkan kakinya,nyawanya benar-benar telah di ujung tanduk, sementara istrinya yang tadi dilepas oleh Marjuki, ngos-ngosan di tanah,
melihat suaminya dalam keadaan sekarat, segera mengambil kursi kayu, dan mengemplangkan ke kepala Marjuki sekuat kuatnya.
Sampai kursi kayu patah-patah. Untung saja cekikannya langsung terlepas, sehingga pak Soleh pun menggelosor jatuh di tanah.
Aneh, Marjuki sama sekali tidak berdarah, malah tertawa bergelak-gelak, lalu mengamuk menghantam meja kursi sampai
semuanya hancur berantakan.
Setelah itu dia berlari keluar rumah mengamuk di jalan, segera gemparlah semua tetangga, orang yang lewat segera lari ketakutan, lalu Marjuki meloncat ke atas genteng. Melempar-lemparkan genteng pada
orang yang lewat di jalan depan rumahny.
Ibu Marjuki menangis melihat keadaan anaknya seperti itu.
Para orang pintar telah didatangkan untuk
membujuk Marjuki agar turun dari genteng, tapi malah disambut dengan lemparan genteng, dia hanya mau turun kalau diberi minum darah ayam dan kambing.
Sudah dua hari Marjuki ada di atas
genteng, mau turun kalau ada darah ayam
dan kambing tersedia dibawah,setelah minum habis darah itu maka dia meloncat lagi ke atas rumah, dan menyambitin orang2 yang lewat.
Kelakuan Marjuki saat itu, sering melempari orang yang lewat dengan genteng rumahnya ini benar-benar membuat panas hati, maka para pemuda kampung pun bermusyawarah untuk menangkap Marjuki, dan nantinya akan dipasung,,
Setelah dipancing dengan darah, Marjuki pun turun, ketika sedang menikmati darah yang sebelumny dibumbui obat bius itu, para pemuda pun segera bergerak meringkusnya,
Yang mau meringkusnya dari belakang ada tiga orang itu kecele, walau Marjuki tak melihat kebelakang,tapi dengan mudahnya dia menjatuhkan diri dan berguling sehingga yang menubruknya dari belakang hanya menangkap angin.
Pemuda dan orang desa pun melakukan
pengepungan, dari kiri kanan, depan belakang,
dengan susah payah tujuh orang dapat
__ADS_1
memegang tangan kaki, namun semua dapat
disentak lepas, dan banyak yang terpental
dilemparkan oleh Marjuki saat kerasukan,yang
memang tenaganya berlipat-lipat,,
Kembali tujuh orang berusaha mendekap memiting kaki tangan Marjuki, namun kali ini para penduduk tak mau usaha mereka selama ini sia-sia, maka segera berbagai macam tambang dijeratkan ke tubuh Marjuki.
Rupanya saat itu obat bius yang dicampurkan
darah pun mulai bekerja.
Kelihatan sebentar-sebentar, Marjuki melengut ngantuk siut, lalu meronta lagi, begitu berulang kali, dan orang-orang tak mau kecolongan tetap mendekapnya erat, sampai akhirnya Marjuki benar-benar terbius.
Sungguh perjuangan yang melelahkan, Marjuki kelihatan tergolek di pelataran rumah pak Soleh, semua orang yang meringkusnya semua mandi keringat, bahkan ada yang luka berdarah dan salah urat.
Orang-orang yang tidak ikut meringkus Marjuki, benar-benar telah membuatkan pasung dari kayu sebesar sedekapan manusia dewasa, Marjuki pun lekas dipasung.
Tangannya dirantai, para dukun paranormal didatangkan, para Kyai dimintai tolong, untuk membantu mengobati,,
Sawah lima petak pun telah terjual sebagai biaya pengobatan, tapi kesembuhan tak kunjung datang. Sampai hampir setahun Marjuki dipasung. Tapi penyakit gilanya makin parah saja.
ternyata pemuda itu diletakkan di ruangan
terpisah di belakang rumah dalam satu ruangan,berdinding gedek(anyaman bambu),
Saat pintu dibuka, tidak menunggu lama aroma bau busuk segera menampar hidung, bangunan berukuran lima meter persegi itu gelap, karena tak ada jendela juga tak ada penerangan,
Penerangan hanya dari lampu ublik yang dibawa pak Soleh, nampak lapat lapat seorang pemuda dewasa tengah duduk terpasung dalam temaram keremangan, wajahnya mengerikan, matanya yang hitam ke atas, tapi yang putih mencorong merah menatap kami,,
Wajah pemuda itu tak bisa dibilang bersih lagi, wajahnya menghitam penuh daki, rambutnya awut-awutan kribo panjang, bagian atas tubuh tak berpakaian, nampak bekas darah ayam dan kambing yang mengering menempel di tubuhnya. Orang yang melihat keadaan Marjuki, pasti akan ngeri sekaligus iba, siapakah orangnya yang mempunyai cita-cita menjadi orang gila.
Karena penerangan yang tak memadai, maka oleh pak Soleh kami
diminta mengobatinya besok hari saja, malam ini kami dipersilahkan menginap, beristirahat.
“Yan bagaimana menurutmu, gila kerasukannya Marjuki?” tanya paman Muhsin, ketika kami
berdua telah rebahan dalam kamar.
__ADS_1
“Ya gilanya karena mempelajari ilmu, tanpa dasar yang kuat, tarekat misalkan, juga karena
mempelajari ilmu tanpa guru pembimbing,
sungguh berbahaya sekali, karena belajar ilmu
tanpa guru, maka gurunya adalah syaitan,
bagaimana menurut lek Muh sendiri?” tanyaku
balik.
“Apa yang kamu katakan, tepat sekali, tapi terus terang aku ragu akan bisa segera menyembuhkannya,apalagi normal seperti sediakala”
nampak lek Muhsin mengerutkan keningnya.
“Yah kita kan belum mencoba, kenapa harus ragu lek? Itu sama saja dengan kita kalah satu
langkah sebelum berperang, kita hanya berusaha, kesembuhan hanyalah di tangan Tuhan semata, jangan sampai kita tertindih oleh keharusan, seakan akan sembuh dan sakit itu kuasa kita, hidup dan mati kuasa kita, sebagai manusia kita hanya berusaha saja…”
Dan kami pun tidur tanpa beban.
Esoknya, kami berdua diantar pak Soleh ke
tempat Marjuki dipasung, jam di tanganku baru
menunjukkan pukul tujuh seperempat,,
Terlihat matahari pagi kuning keemasan memantulkan sinarnya yang hangat, terasa hangat di tubuhku saat selesai mandi, membayangkan hal seperti itu, betapa damai dunia, seakan di dunia ini tak ada kejadian yang seperti dialami Marjuki.
Setelah masuk ke tempat Marjuki, uh jijik
sekali, rupanya bau yang menyengat di malam itu, adalah baunya kotoran dan kencingnya Marjuki, juga bau bangkai tikus dan binatang-binatang lain yang dimakan mentah-mentah oleh Marjuki..
Oh, sungguh menggidikkan bulu roma.
Rupanya di sekitar tempat pemasungan, telah berjejal-jejal orang desa yang ingin menonton,berduyun-duyun tua muda, prawan, janda, remaja, jejaka, duda, semua pada datang menonton, sampai kebun belakang rumah pak Soleh bener-bener lebek luber, ah kyak ada tontonan dangdutan aja, atau bioskop misbar, gerimis bubar,
Orang-orang itu ada yang mengintip dari
gedek, ada yang berdesakan di pintu masuk, dan ada yang dari luar pagar saja,,
__ADS_1
Rupanya pengobatan Marjuki, tanpa disiarkan dengan mikropon keliling kampung atau toa masjidpun telah terdengar dari telinga ke telinga,mulut ke mulut..
Bersambung....