Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Pindah Kerja


__ADS_3

“Kita lihat aja nanti.” kataku menambahkan,


sambil nyedot rokok kuat-kuat, biar agak


mantepan dikit.


“Mbak Lina itu habis putus pacar lo Yan.” kata


Ikhrom nambahi,


“Masak?” kataku agak neleng, kayak serius


menanggapi,


“Iya.., cowoknya yang dulu ditendang, katanya


ndak setia.” tambah Edi, kayak makin seneng aja ngomongin orang.


“Lah mbak Lina secantik itu masak cowoknya


bisa ndak setia?” tanyaku asli merasa heran


bukan ku buat-buat, karena memang aneh juga kalau orang cantik kok ada cowoknya yang ndak setia,


“Sebenarnya itu sih alasan aja, mbak Linanya


sendiri yang udah bosen.” kata Edi menutup


pembicaraan, karena kami sudah sampai pintu rumah pak Sugeng.


Setelah sholat isyak kami pun berangkat tidur,


waktu telah menunjukkan jam 12 lebih lima


menit, seperti biasa, aku dan Edi tidur satu


kamar, dan Ikhrom tidur di kamar lain,


“Yan kalau mbak Lina naksir kamu beneran, kamu mau jadi cowoknya?” tanya Edi berbisik, padahal tidak usah berbisik juga suara Edi kurang keras,


Karena kebiasaan Edi kalau mau tidur nyalain


tape recorder, dari tape mobil yang sudah bodol, dan yang diputer lagu itu-itu saja, lagunya Kus Plus kalau ndak salah judulnya Telaga Sunyi, dan urutannya yang aku sampai hapal itu lagu Mari Nyanyi Bersama, yah kalau di denger-denger lagu itu makin bosen, tapi lama-lama enak juga untuk pengantar tidur, tapi malah membuatku tidak konsentrasi untuk wirid dalam hati,


“Apa?” tanyaku karena memang suara Edi yang tak jelas,


“Ya kalau mbak Lina beneran naksir kamu, kamu mau gak jadi cowoknya?” tanyanya mengulang pertanyaannya dengan nada yang tak sama,


“Kalau menurut kamu aku mau apa ndak?” tanyaku.


“Lhoh ini kan yang jalanin kamu Yan kok malah tanya aku lagi?” rungut Edi.


“La aku sendiri tidak tau, aku baiknya mau apa

__ADS_1


nggak? Udahlah besok aja dibicarakan lagi,


sekarang tidur..” kataku sambil menutupkan


tangan pada atas mata.


Hari berlalu seperti melewati lingkaran yang


berputar dalam satu poros, kami ini seperti tikus yang berlari dalam putaran roda, makin lama kami berlari, maka tetap saja kami ada di jalan yang sama, Matahari departement store, jalan rumah nginap, kok aku pikir makin jenuh saja,


Pagi jam sembilan berangkat kerja, jam sepuluh buka toko, sebelumnya sarapan dulu, menghadapi pembeli, sore pulang, kayaknya kalau kami pikir seperti robot saja, terus terang kalau aku ndak berjiwa muda, artinya masih anak muda,


Jenuhnya minta ampun, untung aku ini anak muda, sekali waktu nggodain cewek cantik yang jalan-jalan ngelewati toko kami, atau kadang kala aku iseng nggoda cewek, supaya membeli sepatu yang ku pajang, ku goda sampai akhirnya beli, padahal asal ngecap saja, kubilang kalau pakai sepatu yang ku pajang itu malah cakep, malah kelihatan modis,


Padahal aku ndak ngerti modis itu apa,


dan kadang yang bikin aku ketawa, cewek yang jelas-jelas wanita, namanya juga cewek ya pasti wanita, ku godain supaya beli sepatu yang


bergaya lelaki, dan ku bilang malah cuantik, dan akhirnya beli dan dipakai, padahal jelas nyalahi, tapi kok ya mau aja..,


Ah kalau di pikir emang makin ngawur dunia,


kebanyakan remaja itu ngikuti kata orang, ndak tau kalau orang yang diikuti itu ngawur bicaranya ya mereka tetap saja ngikuti.


“Yan,.. sini.” tiba-tiba pak Sugeng manggil aku.


“Ada apa pak?” tanyaku setelah ada di depannya,


“Oh gitu ya pak?” tanyaku.


“Iya.., orangnya bilang, kamu ya


ng rapi aja, rambutnya di ikat ke belakang yang rapi, besok mulai kerja di sepatu bata ya..” tambah pak Sugeng jawab tanyaku.


“Iya pak..” kataku hormat, mengingat pak


Sugeng banyak menolongku. Toko sepatu bata tak jauh dari tempatku kerja sekarang, dipisah


empat toko, toko jam tangan, toko emas, butik


bak lina, dan toko es krim, jadi toko sepatu bata pas sebelah toko es krim dan roti.


Waktu istirahat aku sempatkan nyamperi ke


tempat toko septu bata, lalu berkenalan dengan pemiliknya dan dua gadis pelayannya yang


nantinya jadi teman keseharianku,


“Mas ini ya yang besok kerja di sini?” tanya


gadis bernama Mona, wajah gadis itu biasa saja, kayak gadis desa, rambut sebahu, tampang malu-malu, kulit sawo matang,


Tingginya pun paling seratus enampuluhan, dia memakai seragam, dan gadis yang satunya bernama Anna, cantik juga, lumayan tinggi mungkin tingginya seratus enampuluh enam, wajah cantik, bibir tipis, rambut lurus sepunggung, kulit kuning langsat, hidung mungil, cuma bedaknya rada tebal, mungkin untuk menyembunyikan jerawat yang ada di pipinya, padahal nurut aku makin banyak

__ADS_1


bedak, makin mudah jerawatan, karena pori-pori tertutup, itu juga menurut pendapat ndesoku.


Setelah kami melakukan perkenalan sebentar


aku pun kembali ke tempat kerjaku setelah


sholat dzuhur di masjid belakang plaza, esoknya pagi-pagi aku berangkat lagi sama Edi, walau mulai sekarang aku tak kerja lagi bareng Edi, tapi tetap tidurku bareng sama Edi di tempat pak Sugeng.


Kami berjalan, melewati lorong panjang pasar


pagi dadakan, yang buka tiap pagi menjual sayur di jalur plaza, yah pasar yang entah berapa kali digusur oleh Satpol pp, tapi tetap saja buka tiap pagi, aku juga tak mau menyalahkan para pedagang yang tiap pagi jualan,


Mungkin mereka mau menyewa tempat untuk berdagang secara benar, tidak menggunakan ruas jalan, tapi mungkin harga sewa kios terlalu mahal, jadi karena modal cekak akhirnya juga tetep jualan di ruas jalan, dan yang terang saja mengganggu kelancaran lalu lintas, juga aku tak menyalahkan petugas Satpol pp, yang selalu mengobrak abrik dagangan mereka, karena tuntutan tugas menertibkan kota,


Tapi hari berlalu seperti itu akan terulang kalau pemerintah tak bijak mengambil keputusan, seakan pedagang itu bukan rakyat Indonesia, mereka digusur, padahal dagangan itu mungkin dari modal ngutang, untuk menghidupi keluarganya, ku rasa kalau ini berjalan terus tanpa adanya suatu solusi bijak, yang dirugikan akhirnya semua, orang yang lewat, juga pedagang kurasa tak banyak mengambil banyak untung dari dagangan yang diorat-arit,


Aku hanya menatap pada petugas Satpol pp,


yang memakai tampang digarangkan, padahal


mungkin orang tua mereka juga bisa saja salah satu yang digusur, andai orang Satpol pp itu


sedikit berpikir andai mereka yang digusur


bagaimana, dan pedagangnya yang sekali waktu disuruh jadi petugas Satpol pp,


Yah carut marut ini sebenarnya kuncinya ada di pemerintah, kalau rakyat tak miskin, kurasa kejadian seperti kejar-kejaran pedagang dan petugas tak mungkin terjadi.


Tapi inilah yang terjadi, terjadi dan terus


terjadi entah sampai kapan?


“Yan…” suara Edi mengagetkanku.


“Ada apa.” kataku sambil menghindari orang yang hilir mudik di jalan yang hampir menabrakku.


“Soal mbak Lina, gimana tuh Yan ?” tanyanya lagi sambil berjalan cepat di sampingku.


“Gimana apanya?” aku balik bertanya.


“Maksudku apa ndak kamu kasih perhatian?”


“Perhatian yang gimana lagi?” aku balik bertanya.


“Ya apa kamu ndak nerima dia?” tanyanya lagi.


“Nerima gimana, la dia juga gak nyatain apa-apa, ndak ngasih apa-apa, aku mau nerima apa?”


kataku dan kami mulai berjalan tenang karena


telah melewati pasar sayur.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2