
Drama, ya memang sudah jadi kebiasaan kerja
drama, aku tidak ikutan drama maka disalahkan yang lain, padahal jelas itu amat tak sesuai
dengan nuraniku, uang itu ku makan, dimakan
anak istriku, menjadi darah, mencuci hati, menjadi daging, aku membayangkan, jika anak
istriku ku beri makan dari hasil kerja mendrama, yang tak halal, aku membayangkan anakku akan susah ku nasehati, istriku akan jadi orang keras kepala, ah tak sanggup aku membayangkannya, dan rasanya ingin pulang saja.
Tapi aku sudah di Saudi, belum hajian lagi,
apalagi keberangkatan ke Saudi uangnya harus ku ganti, karena biaya keberangkatanku di
tanggung PJTKI.
Hari kamis, libur, paling enak tidur, di hari biasa saja di tempatku sudah tak ada kerjaan, maka
jangan harap aku mendapat lembur, sementara yang lain pada lembur.
Setelah sarapan pagi, siap-siap untuk tidur, hp
bunyi.
“Lagi apa mas?” suara Muhsin.
“Ya biasa tidur.” jawabku malas karena sudah
setengah tidur.
“Gak lembur?”
“Ah mana ada lembur, apa yang mau
dilemburkan?”
“Umroh yuuk..”
“Umroh? Ah ndak punya uang, mau umroh pakai apa?” jawabku.
Bagaimana mau umroh, gaji saja belum diterima, ah ada-ada aja si Muhsin. Aku melanjutkan tidur lagi, tapi sebentar hp bunyi lagi, ku angkat.
“Mas aku sudah di depan kamar.” suara Muhsin.
“Iya sebentar ku bukain.” karena kamar ku kunci, aku telah pindah kamar dari sekamar dengan orang yang cuma punya satu kunci, pindah ke kamar yang punya dua kunci, barengan orang Madura. Kamar ku buka.
“Ayo mas umroh…, masih tidur?” tanya Muhsin.
“Iya…” jawabku dengan mata memicing, karena silau oleh cahaya masuk ke kamar, maklum di
Saudi itu kalau pagi matahari sudah terik kayak di Indonesia di waktu siang tengah hari.
“Ayo siap-siap.” ajaknya.
“Aku ndak punya uang..” kataku.
“Tinggal berangkat aja kok mas.., itu taksinya
sudah nunggu di depan.
“Wah ini serius.?” tanyaku.
“Ya iyalah..”
“Tapi aku ndak punya pakaian umroh.”
“Udah ku sedia’in semua, tinggal bawa pakaian ganti.”
“Ya kalau gitu aku ambil pakaian ganti.” kataku
sembari berjalan ke lemari, ambil tas dan
memasukan pakaian ganti, sabun dan pasta gigi.
“Trus besok sabtu kerja bagaimana itu?”
__ADS_1
tanyaku.
“Kan berangkat dari sini pagi, besok jam segini
sampai di Makkah, lalu siang hari jum’at
berangkat ke Mekkah, malam jam tigaan kan
sudah sampai di sini, istirahat sebentar kan
sabtunya sudah bisa kerja.” jelas Muhsin.
Ternyata taksi sudah ada di luar, dan di dalam
taksi sudah ada Munif, orang Indo dan sopir
Raju, sopir taksi juga pekerja pabrik, yang juga
mau umroh.
Mobil melaju dengan kencang, penunjuk
kecepatan sampai mentok, yang ku suka di Saudi adalah tak ada macet, jalan lurus, dan tak banyak belokan, dan tak ada jalan tol, semua
jalan lebih tol dari jalan tol di Indonesia.
Jika bicara jujur, memang pemerintah Saudi
yang kenyataan tanahnya tandus, keunggulan
melebihi Indonesia, dari yang hampir tak ada korupsi, mobil murah karena tanpa pajak, BBM juga seReal dapat dua liter, berarti seliter kalau
dihitung rupiah cuma seribu dua ratus rupiah,
tak ada cerita pom bensin dijaga polisi, juga tak ada polisi cepek (pa ogah) di jalan, orang paling miskin dan udik saja punya mobil, apalagi orang kaya.
Pemerintah Saudi memang sangat perhatian
sama rakyatnya, tak ada dan tak mungkin orang luar bisa usaha atau membuka usaha di Saudi
Sebab Raja tak mau rakyatnya dijajah bangsa asing, yang hebat semua orang mempunyai ATM, dan uang dari pemerintah langsung sampai ke tujuan orang yang akan diberi, tanpa melewati siapapun.
Pas bulan puasa, jadi banyak orang yang pergi
umroh, di jalan kami temukan banyak rombongan keluarga.
Malam makin larut, mobil taksi masih melaju,
tiba-tiba ban meletus, untung mobil langsung
keluar dari jalan raya, dan di tepi jalan hanya
pasir, dan untungnya juga pas di dekat kami ada bengkel penggantian ban, di Saudi itu tak ada tukang tambal ban, adanya bengkel penggantian ban, jika ban kempes, lansung diganti yang baru, dan hebatnya penggantian semua dari pencopotan baut sampai pelepasan ban semua memakai mesin otomatis, jadi pencopotan sampai ban terganti ban baru waktunya paling enam menit, malah Muhsin yang ke kamar kecil, kedahuluan ban terganti dan mobil siap jalan.
Di Saudi juga kepentingan rakyat soal jalan amat diperhatikan oleh pemerintah, dari banyaknya gunung yang di-bor untuk jalan tembus menjadi terowongan di lambung gunung tak terhitung, sehingga jalan bisa diperpendek tak perlu mengitari gunung, dan jalan mulus, lancar, bagus, tapi tak ada jalan tol, tak ada tarikan sana-sini,jalan antar kota, bisa ngebut sengebut-ngebutnya, tak pakai macet sama sekali.
“Ini ada dua orang TKI yang datang dari
Indonesia, asalnya melalui bandara Riyad, tapi
dialihkan ke bandara Jeddah.” kata Muhsin.
“Kok bisa begitu?” tanyaku heran.
“Iya soalnya ini berbarengan banyak orang
umroh di bulan puasa, baiknya bagaimana mas?” tanya Muhsin.
“Terus ada penjemputan dari pabrik tidak yang
di Jeddah?”
“Tidak ada mas, ya harus naik bus sendiri dari
Jeddah.”
__ADS_1
“Wah kalau seperti itu ya repot, TKI itu pasti
tak punya uang real kan?”
“Iya juga mas…, makanya aku bingung..,”
“Punya teman gak yang di Jeddah? Yang agak
dekat bandara?” tanyaku.
“Ada sih mas, coba ku hubungi.”
“Iya baiknya begitu, suruh dia membelikan tiket bus ke Jizan, pasti dua TKI itu juga belum bisa
bahasa Arab, beli tiket sendiri pasti juga tak
bisa.”
“Iya mas…” jawab Muhsin, yang menghubungi
temannya lewat hp.
“Sudah mas, temanku sudah sanggup
menjemputnya ke bandara, dan membelikan
tiket, nanti biar tiketnya diganti sama
perusahaan.”
“Ya sukur kalau begitu, moga saja ndak ada
halangan.”
——————————————-
Jam delapan pagi kami sampai di Yu lam-lam, dan berganti pakaian umroh, di kamar mandi antrian sampai panjang, harus sabar, kekurangan Saudi mungkin tak ada WC yang membayar seperti di Indonesia, karena tidak bayar, maka WC jadi tidak ada yang membersihkan, sepanjang jalan semua WC kotor banget, bahkan tak disiram, atau dalam keadaan tersumbat, jadinya ngeri kalau ke kamar kecil, jadi harus nahan selama
perjalanan.
Ya semua yang gratis memang tak selamanya
baik, jika mungkin berbayar, WC jadi ada yang
membersihkan.
Sampai di Masjidil Haram kami segera towaf,
dan cepat-cepat menjalankan rukun umroh,
sebab setelah sholat jum’at rencana langsung
pulang kembali ke pabrik, karena mengejar
waktu dengan kembali bekerja besok paginya.
Selesai sa’i aku cepat-cepat ke tempat di mana kami janjian, jika kami terpisah maka selesai
menjalankan ibadah kami akan ketemuan di
depan toko asir, tapi semua tak ada, aku
menunggu sambil duduk melepas lelah, sebentar kemudian Munif nongol,
“Ian dah selesai?” tanyanya tiba-tiba di
sampingku.
“Sudah… tinggal potong rambut.” jawabku.
“Ini ada gunting, biar ku potong sedikit
rambutmu, sebagai sarat aja.” kata Munif
mengeluarkan gunting dari tas pinggangnya.
__ADS_1