Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Umroh


__ADS_3

Drama, ya memang sudah jadi kebiasaan kerja


drama, aku tidak ikutan drama maka disalahkan yang lain, padahal jelas itu amat tak sesuai


dengan nuraniku, uang itu ku makan, dimakan


anak istriku, menjadi darah, mencuci hati, menjadi daging, aku membayangkan, jika anak


istriku ku beri makan dari hasil kerja mendrama, yang tak halal, aku membayangkan anakku akan susah ku nasehati, istriku akan jadi orang keras kepala, ah tak sanggup aku membayangkannya, dan rasanya ingin pulang saja.


Tapi aku sudah di Saudi, belum hajian lagi,


apalagi keberangkatan ke Saudi uangnya harus ku ganti, karena biaya keberangkatanku di


tanggung PJTKI.


Hari kamis, libur, paling enak tidur, di hari biasa saja di tempatku sudah tak ada kerjaan, maka


jangan harap aku mendapat lembur, sementara yang lain pada lembur.


Setelah sarapan pagi, siap-siap untuk tidur, hp


bunyi.


“Lagi apa mas?” suara Muhsin.


“Ya biasa tidur.” jawabku malas karena sudah


setengah tidur.


“Gak lembur?”


“Ah mana ada lembur, apa yang mau


dilemburkan?”


“Umroh yuuk..”


“Umroh? Ah ndak punya uang, mau umroh pakai apa?” jawabku.


Bagaimana mau umroh, gaji saja belum diterima, ah ada-ada aja si Muhsin. Aku melanjutkan tidur lagi, tapi sebentar hp bunyi lagi, ku angkat.


“Mas aku sudah di depan kamar.” suara Muhsin.


“Iya sebentar ku bukain.” karena kamar ku kunci, aku telah pindah kamar dari sekamar dengan orang yang cuma punya satu kunci, pindah ke kamar yang punya dua kunci, barengan orang Madura. Kamar ku buka.


“Ayo mas umroh…, masih tidur?” tanya Muhsin.


“Iya…” jawabku dengan mata memicing, karena silau oleh cahaya masuk ke kamar, maklum di


Saudi itu kalau pagi matahari sudah terik kayak di Indonesia di waktu siang tengah hari.


“Ayo siap-siap.” ajaknya.


“Aku ndak punya uang..” kataku.


“Tinggal berangkat aja kok mas.., itu taksinya


sudah nunggu di depan.


“Wah ini serius.?” tanyaku.


“Ya iyalah..”


“Tapi aku ndak punya pakaian umroh.”


“Udah ku sedia’in semua, tinggal bawa pakaian ganti.”


“Ya kalau gitu aku ambil pakaian ganti.” kataku


sembari berjalan ke lemari, ambil tas dan


memasukan pakaian ganti, sabun dan pasta gigi.


“Trus besok sabtu kerja bagaimana itu?”

__ADS_1


tanyaku.


“Kan berangkat dari sini pagi, besok jam segini


sampai di Makkah, lalu siang hari jum’at


berangkat ke Mekkah, malam jam tigaan kan


sudah sampai di sini, istirahat sebentar kan


sabtunya sudah bisa kerja.” jelas Muhsin.


Ternyata taksi sudah ada di luar, dan di dalam


taksi sudah ada Munif, orang Indo dan sopir


Raju, sopir taksi juga pekerja pabrik, yang juga


mau umroh.


Mobil melaju dengan kencang, penunjuk


kecepatan sampai mentok, yang ku suka di Saudi adalah tak ada macet, jalan lurus, dan tak banyak belokan, dan tak ada jalan tol, semua


jalan lebih tol dari jalan tol di Indonesia.


Jika bicara jujur, memang pemerintah Saudi


yang kenyataan tanahnya tandus, keunggulan


melebihi Indonesia, dari yang hampir tak ada korupsi, mobil murah karena tanpa pajak, BBM juga seReal dapat dua liter, berarti seliter kalau


dihitung rupiah cuma seribu dua ratus rupiah,


tak ada cerita pom bensin dijaga polisi, juga tak ada polisi cepek (pa ogah) di jalan, orang paling miskin dan udik saja punya mobil, apalagi orang kaya.


Pemerintah Saudi memang sangat perhatian


sama rakyatnya, tak ada dan tak mungkin orang luar bisa usaha atau membuka usaha di Saudi


Sebab Raja tak mau rakyatnya dijajah bangsa asing, yang hebat semua orang mempunyai ATM, dan uang dari pemerintah langsung sampai ke tujuan orang yang akan diberi, tanpa melewati siapapun.


Pas bulan puasa, jadi banyak orang yang pergi


umroh, di jalan kami temukan banyak rombongan keluarga.


Malam makin larut, mobil taksi masih melaju,


tiba-tiba ban meletus, untung mobil langsung


keluar dari jalan raya, dan di tepi jalan hanya


pasir, dan untungnya juga pas di dekat kami ada bengkel penggantian ban, di Saudi itu tak ada tukang tambal ban, adanya bengkel penggantian ban, jika ban kempes, lansung diganti yang baru, dan hebatnya penggantian semua dari pencopotan baut sampai pelepasan ban semua memakai mesin otomatis, jadi pencopotan sampai ban terganti ban baru waktunya paling enam menit, malah Muhsin yang ke kamar kecil, kedahuluan ban terganti dan mobil siap jalan.


Di Saudi juga kepentingan rakyat soal jalan amat diperhatikan oleh pemerintah, dari banyaknya gunung yang di-bor untuk jalan tembus menjadi terowongan di lambung gunung tak terhitung, sehingga jalan bisa diperpendek tak perlu mengitari gunung, dan jalan mulus, lancar, bagus, tapi tak ada jalan tol, tak ada tarikan sana-sini,jalan antar kota, bisa ngebut sengebut-ngebutnya, tak pakai macet sama sekali.


“Ini ada dua orang TKI yang datang dari


Indonesia, asalnya melalui bandara Riyad, tapi


dialihkan ke bandara Jeddah.” kata Muhsin.


“Kok bisa begitu?” tanyaku heran.


“Iya soalnya ini berbarengan banyak orang


umroh di bulan puasa, baiknya bagaimana mas?” tanya Muhsin.


“Terus ada penjemputan dari pabrik tidak yang


di Jeddah?”


“Tidak ada mas, ya harus naik bus sendiri dari


Jeddah.”

__ADS_1


“Wah kalau seperti itu ya repot, TKI itu pasti


tak punya uang real kan?”


“Iya juga mas…, makanya aku bingung..,”


“Punya teman gak yang di Jeddah? Yang agak


dekat bandara?” tanyaku.


“Ada sih mas, coba ku hubungi.”


“Iya baiknya begitu, suruh dia membelikan tiket bus ke Jizan, pasti dua TKI itu juga belum bisa


bahasa Arab, beli tiket sendiri pasti juga tak


bisa.”


“Iya mas…” jawab Muhsin, yang menghubungi


temannya lewat hp.


“Sudah mas, temanku sudah sanggup


menjemputnya ke bandara, dan membelikan


tiket, nanti biar tiketnya diganti sama


perusahaan.”


“Ya sukur kalau begitu, moga saja ndak ada


halangan.”


——————————————-


Jam delapan pagi kami sampai di Yu lam-lam, dan berganti pakaian umroh, di kamar mandi antrian sampai panjang, harus sabar, kekurangan Saudi mungkin tak ada WC yang membayar seperti di Indonesia, karena tidak bayar, maka WC jadi tidak ada yang membersihkan, sepanjang jalan semua WC kotor banget, bahkan tak disiram, atau dalam keadaan tersumbat, jadinya ngeri kalau ke kamar kecil, jadi harus nahan selama


perjalanan.


Ya semua yang gratis memang tak selamanya


baik, jika mungkin berbayar, WC jadi ada yang


membersihkan.


Sampai di Masjidil Haram kami segera towaf,


dan cepat-cepat menjalankan rukun umroh,


sebab setelah sholat jum’at rencana langsung


pulang kembali ke pabrik, karena mengejar


waktu dengan kembali bekerja besok paginya.


Selesai sa’i aku cepat-cepat ke tempat di mana kami janjian, jika kami terpisah maka selesai


menjalankan ibadah kami akan ketemuan di


depan toko asir, tapi semua tak ada, aku


menunggu sambil duduk melepas lelah, sebentar kemudian Munif nongol,


“Ian dah selesai?” tanyanya tiba-tiba di


sampingku.


“Sudah… tinggal potong rambut.” jawabku.


“Ini ada gunting, biar ku potong sedikit


rambutmu, sebagai sarat aja.” kata Munif


mengeluarkan gunting dari tas pinggangnya.

__ADS_1


__ADS_2