Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Sambung menyambung


__ADS_3

Anehnya ketika melangkah ke pintuku, maka


anaknya langsung diam, tak menangis. Memang di luar ku lihat dua jin lumpuh, tengah bersembunyi dari tatapan mataku.


“Ada apa mbak?” tanyaku.


“Ini Anakku, lumpuh dan rewel nangis terus.” jelasnya.


“Lha tidak rewel gitu kok mbak, anteng saja,”


kataku menunjuk anaknya yang tidur dalam


gendongannya.


“Iya ya…, tapi tadi rewel.” katanya. “Kalau gitu


saya mohon diri.” tambahnya.


“Ya silahkan…” ku antar sampai pintu, dan pintu ku tutup, tapi baru berjalan sampai 50 meteran, anaknya nangis lagi.


Aku juga mendengar, dan ku tunggu ternyata dia datang lagi, ku bukakan pintu.


“Siapa mas…?” tanya Husna yang bangun.


“Ini istrinya pak Askan.” jawabku.


Dan lagi-lagi ketika anaknya dibawa masuk ke


rumahku, maka tangisnya pun terhenti.


“Ini bagaimana …, kok kalau masuk rumah anakku jadi ndak nangis?” katanya.


Tak ku katakan kalau ada dua jin lumpuh yang


mengikuti dan dua jin itu tak berani masuk


rumahku, takutnya malah membuat istri pak


Askan takut.


“Wah aku ndak tau mbak, wong saya ini orang


bodo.” jawabku.


“Sudah tidur di sini saja mbak, wong anaknya


juga sudah anteng gitu tidurnya, sana bawa tidur di kamarku.” kata Husna. Dan Husna pindah ke luar tidur di lantai.


Paginya Kyai Askan datang dan mengajak pulang istrinya. Hanya Husna yang menemui.


Siangnya istrinya datang lagi, juga ditemui Husna. Dia cerita soal aku yang dikatakan orang yang bisa mengobati anaknya, lalu Husna memanggilku.


“Ada apa mbak?” tanyaku,


“Ini soal lumpuhnya anakku, kata orang pinter


sampean yang bisa mengobati.” katanya.


“Wah orang pinternya itu mengada-ada mbak,


wong saya ndak bisa apa-apa.” jelasku.


“Ya mbok sampean kasih air atau apa, biar


lumpuh anakku ini sembuh.”


“Dik tolong ambilkan aqua,” kataku pada Husna.


Lalu air ku bacakan basmalah, dan ku tiupkan ke air,


“Ini nanti airnya dicampur dengan air yang untuk dipakai memandikan si kecil ya mbak.., semoga Alloh memberikan kesembuhan.” kataku.


Lalu istrinya Kyai Askan mohon diri, aku hanya


berharap semoga semua menjadikan kebaikan ke depan, walau aku tak banyak berharap.

__ADS_1


Dan memang besoknya anaknya Kyai Askan


benar-benar sembuh.


Tapi kemudian malah dalam pengajiannya aku


disiarkan di speaker bahwa aku telah mengerjai anaknya.


Yah biarlah, aku juga tak berharap pekerjaanku dinilai dengan penghargaan, kok kemudian malah membuatku karena menolong orang lain aku makin dijelek-jelekkan, mungkin


akan membuatku makin meningkat derajadku di sisi Alloh,


Dan saat cerita ini ku tulis, sekarang malah


bukan kyai Askan saja yang memusuhiku, tapi


juga istrinya, sampai berusaha dengan daya


upaya, dan membakar ke sana-sini untuk


menjatuhkan namaku.


Tapi segala kebaikan pasti harus ada yang


dengki agar kebaikan itu seperti terdorong.


Dan keikhlasan manusia akan teruji, serta


terukur, keikhlasan tertinggi menurut


dangkalnya pikiranku adalah ketika kita telah


tak merasa bahwa perbuatan baik apapun yang kita lakukan adalah perbuatan kita, tapi itu


adalah perbuatan Alloh,


Kita hanya lapangan tempat Alloh melakukan perbuatan baik, bagaimana tidak, kan semua anggota tubuh yang kita punya adalah milik Alloh, bahkan sebuah niat baik melakukan perbuatan baik yang menempatkan di hati adalah Alloh, dan pemikiran untuk melakukan perbuatan dengan segala bentuk kejlimetan proses teorinya yang memberi ilham agar terealisasi dengan sempurna adalah Alloh,


Bahkan kemudian suatu perbuatan yang asalnya dalam bentuk teori dan rencana


mengijinkan dan memberi tempat, waktu,


peluang, semua yang memberi adalah Alloh, maka tak ada satupun hak kita mengakui kalau satupun adalah perbuatan kita, walau bila dilihat seperti perbuatan kita.


Coba saja kalau satu saja itu merupakan


perbuatan kita, contoh saja waktu, jika kita


merasa itu waktu kita, maka coba hentikan


waktu, berarti kita harus menghentikan semua,


menghentikan waktu yang berjalan, seluruh


manusia di seluruh dunia yang bergerak, seluruh jantung mahluk, dari semut, sampai hiu, manusia dan jin yang berdetak, angin yang berhembus, dari denyut nadi sampai pergerakan matahari.


Cuma mau menghentikan waktu saja begitu


beragam dan majmuknya yang harus kita


hentikan bersama penghentiannya waktu.


Dan jangankan menghentikan seluruh dunia,


bahkan menghentikan diri sendiri, aliran darah,


degup jantung, kita tidak bisa menghentikan,


apalagi harus menghentikan seekor hiu yang


berenang, bukankah kita akan mati sendiri.


Berarti kalau kita munafik, maka waktu itu


bukan milik kita, juga kesempatan, sampai

__ADS_1


detilnya semua kejadian, hanya Dzat Yang Maha Sempurna dan tanpa cela juga kekuranganlah yang mampu mengatur.


Jadi hanya Alloh yang berbuat baik, kita hanya


menjadi tempat Alloh melakukan perbuatan baik, karena hanya menjadi tempat perbuatan baiknya Alloh,


Maka tak pantas kita mengharap suatu


balasan dari perbuatan baik yang tak pernah


kita lakukan, jika kita masih mengaku-aku, maka perbuatan baik kita itu tak ada nilai dan


timbangannya.


"Fadholallohu ba’dokum", Alloh memberi


keutamaan, jadi bila keutamaan itu kita sadari


dan kita yakini adalah PEMBERIAN, bukan dari


daya upaya, atau kelebihan kita menjalankan laku tertentu, maka kita baru dikatakan bersyukur, kalau menggunakan keutamaan atau kebisaan yang kita miliki untuk dipakai sesuai dengan guna kelebihan yang kita miliki, maka kita baru dikatakan orang yang bersukur, dan jika kita bersyukur, maka Alloh akan menambahi fadhilah atau kelebihan lain yang Alloh anugerahkan.


Bukan sebagai suatu alasan tertentu, tapi


sebagai kewajaran kejadian, sebab sudah


sunatulloh, peraturan dari Alloh, bahwa kejadian atau sesuatu yang terjadi itu akan menjalar pada kejadian yang lain, makanya dikatakan "Lain sakartum la azidannakum", apabila kamu bersyukur maka kami akan menambahi untuk kalian, sebab sesuatu yang terjadi itu akan menimbulkan kejadian baru,


Dan kejadian baru itu membutuhkan kelengkapan waktu, ruang, materi pendukung terjadinya.


Contoh sepele saja, kita mau makan, jika kita


pergi ke warung nasi, jika tempatnya jauh kita


butuh jalan, dan jalan harus ada yang membangun, jika jalan raya, maka harus ada


kerikil, aspal, kontraktor, krikil itu harus ada


yang mengangkut, ada kejadian sampai


terjadinya berbentuk kerikil, dll.


Jika sampai di warung, maka warung itu berdiri, harus ada yang mendirikan, dibangun dari kayu, maka harus ada kayunya, penebang kayunya,


yang mengangkut, tukang kayu, dan


kelengkapannya.


Contoh kita ambil jika ada tukang kayu, maka


tukang kayunya harus dalam keadaan sehat,


hidup, kuat, bisa menukang, punya peralatan


lengkap dari ukur sampai gergaji, lalu kita ambil lagi tentang gergaji, harus ada besi, ada


pembuat gergaji, ada kikir Itu belum sampai ke nasinya, baru dalam perjalanan ke warung nasi, begitu banyak dan sambung menyambung suatu kejadian, dengan kejadian lain.


Jadi kata simpelnya, jika kita melakukan sesuatu sesuai dengan cara dan teori yang benar, maka Alloh akan memudahkan terjadinya pendukung lain dari yang menyangkut yang berhubungan dengan perbuatan yang kita lakukan dengan


benar.


Semua dijadikan mudah, mau kemana, jalannya mulus, prosesnya lancar, tak ada macet, antara kejadian yang satu dengan yang lain sepenuhnya saling mendukung.


Sebab semua seratus persen dalam kendali Gusti Alloh, jika kita menjalankan sesuatu tidak sesuai aturan Alloh, katakanlah menyalahi aturan yang benar, maka "Laingkafartum inna adzabi lasadid", jika kamu ingkar maka adzab Alloh itu teramat pedih, itu juga suatu kejadian wajar,


Jika kesalahan satu akan menimbulkan kesalahan yang lain.


Contoh, pembangunan jalan raya, uang


pembangunannya dikorupsi, jalan dibangun


dengan mengurangi ini itu, jalan berkuwalitas rendah....


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2