
Bahkan aku sendiri ikut dipekerjakan melayani
tukang batu, memang apes kalau bekerja dengan India, apalagi orang Saudi yang tak mengerti ijazah palsu atau bukan, jadi ingat orang India yang kerja di klinik, sakit apapun diberi obat Parasetamol padahal ijazahnya dokter.
Ah tak taulah yang penting tak menyalahi aturan Alloh, mau orang lain menyalahi aturan bukan urusan aq sendiri.
Untung ada tukang-tukang dari Maroko,
sehingga aku tak diminta bekerja berat, karena
tau menjadi pelayan tukang batu bukan
bidangku.
Sementara untuk mulai bekerja di kaligrafi
entah harus menunggu kapan, untuk meminta
meterial dan peralatan yang ku butuhkan
prosesnya sangat ribet, tak ada yang mengurus, dan aku harus mengurus sendiri, mengajukan permintaan kepada bagian yang anehnya semua tak merasa membawahi pekerjaanku, aku jadi ketawa sendiri, la aku harus minta pada siapa?
Sungguh pabrik sangat besar yang semrawut.
Padahal material yang ku butuhkan tak seberapa harganya.
Daripada nganggur, mending aku jadi tukang
sapu, aku tak rela memakan gaji buta, walau ini pabrik, tak rela rasanya tanpa mengeluarkan
keringat lalu menerima gaji, biarlah aku menyapu gudang tiap hari, sampai sebulan dua bulan, aku hanya menyapu ruangan yang panjangnya hampir limapuluh meter persegi.
Sampai Muhsin telpon, menanyaka kabarku,
“Bagaimana pekerjaan di sana?” tanya Muhsin.
“Kerja apaan… di sini sampai sekarang cuma jadi tukang sapu..” jawabku.
“Lhoh kirain sudah mulai kerja kaligrafi?” tanya
Muhsin.
“Ya aku ngajukan minta material yang ku
butuhkan juga belum dikasih, malah sampai
sekarang ndak jelas, ini aku ikut general
services apa ikut welfare section, semuanya tak jelas, jadi aku cuma jadi tukang sapu.”
“Wah memang kalau dipegang orang India semua pekerjaan semrawut, nanti aku menghadap manager.” kata Muhsin.
HP pun ditutup, sebenarnya aku sudah tak begitu perduli, mau kerja apa juga, asal tak terlalu berat.
Selama di pabrik baru aku, ternyata semua
orang Indonesia juga terkena penyakit telpon-
telponan sama TKW, malah ada yang sampai
ketemuan, janjian, padahal di Indonesia punya
anak dan istri, nyatanya semua orang tak tahan banting.
Dulu aku merasa kaget waktu di Jakarta,
melihat teman pesantrenku tak pada sholat,
padahal mereka jebolan pesantren Le**** ada juga yang jebolan pesantren Sar*** *******,
tapi begitu di Jakarta, sholatny sudah ditinggalkan.
Yang baru ku sadari, ternyata setiap tempat itu
mempunyai karakter cobaannya sendiri-sendiri, di Saudi mungkin saja sholat dilakukan tapi
__ADS_1
keluarga kemudian dihianati.
Aku tak ambil pusing dengan apa yang mereka lakukan, karena aku tau betul jika aku
mengingatkan mereka maka itu sama sekali tak akan membuat mereka sadar, malah bisa jadi aku malah akan dimusuhi.
Ada beberapa orang yang tak terseret oleh
godaan saling telpon dengan TKW, dan ada dua kelompok yang tak suka main telponan dengan TKW, yang satu berkumpul di kamar yang ada
TV nya, yang lain yang sering main ke kamarku, ya kalau di kamarku paling ku setingkan internet gratis dan sedikit ku ajak ngobrol tentang ilmu.
Dan sebagian meminta amalan, dan menjalankan puasa. Ada salah satu orang meminta satu kamar denganku namanya Lukman, katanya ingin biar bisa lebih dapat ku bimbing.
Aku tau Lukman mempunyai banyak masalah, di keluarganya, dan aku tau kalau dia ingin sekamar denganku hanya ingin agar bisa ngobrol berdua membicarakan masalahnya.
Dan dugaanku tak meleset, saat semua orang sudah tak ada main di kamarku. Lukman mulai mengungkap unek-uneknya padaku.
“Mas…! terus terang aku punya masalah yang
ingin ku sampaikan ke mas Ian…” kata Lukman
yang kurus dan tubuhnya ceking, tapi tinggi
semampai.
“Masalah apa? Ya kalau aku bisa membantu,
insaAlloh akan ku bantu mencarikan solusinya, tapi jika aku tak bisa membantu, ya aku minta
maaf.” kataku, yang tidur di ranjang satunya.
“Ini yang bisa membantu hanya mas Ian…,”
“Wah kok bisa gitu? Kan yang lain banyak teman-
teman kita, kenapa musti aku?” tanyaku heran.
“Kan mas Ian yang punya ilmu trawangan, melihat
“Wah kata siapa? Itu mengada-ada…”
“La buktinya kan banyak, misal soal mas Sarno, trus kemaren kan ada tukang kayu yang
pasahnya hilang, kan juga yang nunjukkan
ditaruh di atas lemarinya orang Arab kan juga
mas Ian, akhirnya pasahnya ditemukan.”
“Ah itu sih kebetulan, pas tukang kayu orang
Indo pasahnya hilang, dan dia habis ngerjain
rumahnya orang Arab, ya ku bilang saja
pasahnya di atas lemarinya orang Arab, dan pas kebetulan dicari di atas lemari pas ketemu, jadi bukan berarti aku bisa trawang atau melihat dari jarak jauh.”
“Ah mas aja yang merendah.”
“Bukan, memang aku tak punya ilmu seperti itu, jika pas kebetulan itu juga kan bukan berarti
aku punya ilmu seperti itu.”
“Jadi mas Ian tak mau membantu masalahku?”
“Bukan tak mau, aku mau saja membantu jika aku mampu, kenapa tak mau membantu orang lain, tapi itu jika mampu, kalau tidak mampu lalu membantu bukankah akan malah menambah susah saja.”
“Baik begini mas, aku punya istri, punya anak
satu yang masih kecil.”
“Lalu?”
“Kalau bisa dilihatkan bagaimana istri saya?
__ADS_1
Soalnya hati saya tak enak sekali.” kata Lukman.
“Lebih baik bekerja dengan baik, dan tak terlalu menyangka yang tidak-tidak, hanya akan
membuat hati tak tenang.” nasehatku.
“Ya tolong dilihatkan mas..” Lukman merajuk.
Lukman lalu mengeluarkan foto istri dan
anaknya.
“Ini mas, foto istriku…” Lukman menyodorkan
foto ke arahku.
“Kamu itu hanya rindu pada keluarga, dan semua orang yang bekerja di Saudi itu pasti mengalami cobaan itu, namanya juga jauh dari keluarga, jadi jangan kemudian menjadikan diri terseret pada prasangka dan bayangan yang membuat diri tak tenang.”
“Tidak mas, ini masalahnya lain…”
“Sudahlah tenangkan saja diri, banyak-banyak
dzikir, minta pada Alloh agar hati tenang.”
kataku.
Malam itu tetap saja tak ku jawab kemauan
Lukman, diriku memang serba susah, apalagi
menyangkut rumah tangga orang, aku sama sekali tak ingin ikut campur dalam rumah tangga orang.
Besoknya pulang kerja seperti biasa banyak
orang yang berkumpul di kamarku, ada yang tua ada juga yang muda, dan setiap waktu ada saja orang yang biasanya tak pernah ikut main ke kamarku, lalu tiba-tiba saja main, pasti ada
maksudnya.
Ini ada tiga orang yang biasanya tak main ke
kamarku, dan kali ini main, ada Iwan, pak
Purwanto, dan Sodikun, pak Purwanto orangnya sudah umur 50 an tahun, juga Sodikun sekitar
umur 50 an tahun. Iwan masih muda.
“Mas… saya mau ada perlu..” Sodikun mendahului bicara.
“Ada apa pak ?” tanyaku.
“Ini soal anak perempuan saya.” jawab Sodikun.
“Kenapa anak perempuannya?”
“Anak perempuan saya kemaren dibawa ke rumah sakit, dan divonis mengidap kanker rahim.”
“Hm… trus..?” kataku sambil membuang abu
rokok mallboro merah di asbak.
“Maksud saya pengen minta bantuan mas, minta dido’akan supaya penyakitnya sembuh tanpa harus operasi.” jelas Sodikun.
“Ya ndak papa, saya do’akan, wong mendo’akan
ljuga ndak bayar kok, tinggal minta saja sama Alloh, yang di rumah disuruh saja sedia air, nanti obatnya saya transfer ke air itu…, sana ditelpon dulu yang di rumah.” kataku.
“Iya mas, makasih sebelumnya.” kata Sodikun
kemudian menelpon rumahnya.
“Ini ada apa Wan kok gak biasanya main ke
kamarku?”
Bersambung...
__ADS_1