
“Makan bu…” ku bilang pada penjaga warung, lalu memilih lauk, dan mulai makan,
“Mari pak…” kataku menawari orang yang juga
makan di dalam warung.
“Silahkan…” jawab mereka berdua.
“Bapak ini juga ikut medical?” tanyaku pada dua orang yang keduanya sudah umur, ku perkirakan yang satu berumur 50 an tahun, yang satu berumur skitar 45 tahun.
“Iya…” kata mereka berdua hampir serempak.
“Mas ini juga ikut medical?” tanya yang tua.
“Iya pak.. la bapak ini mau kerja di mana?”
tanyaku.
“Kerja di Saudi, di pabrik semen.” jawab yang
muda.
“Lhoh kok sama, aku juga akan bekerja di pabrik semen, trus bapak ini dari mana asalnya?” tanyaku.
“Kami dari Tuban.” jawab yang muda.
“Lhoh kok sama, aku juga dari Tuban, Tubannya mana?” tanyaku.
“Wah pasti ini anaknya pak Mustofa…, aku sudah mengira,” kata yang tua.
“Iya aku anak pak Mustofa, wah bapak kok bisa
tau, bapak ini dari mana?” tanyaku makin heran.
“Aku ini iparnya mak Mudi, yang rumahnya di
belakang rumahmu.” jelas orang yang tua.
“Wah aku kurang paham… gak tau kalau kang
Mudi punya ipar yang sudah tua kayak sampean, hahah.” kataku bercanda.
Kami segera akrab dan bicara ngalor ngidul,
karena ketemu orang sedesa. Kamipun jadi bareng medical, dan bareng pulang ke tempat
penampungan bersama.
——————————————-
Besoknya kabar medical sudah bisa diterima,
tapi aku belum bisa dibilang fit, karena ternyata foto sinar x ku tidak ada kelihatan gambarnya,
jadi harus difoto ulang, tapi setelah difoto
ulang, tetap saja tak bisa, tak ada bentuk
gambarannya sama sekali.
Sebenarnya aku juga tau, khodam yang ada di
dadaku berusaha menutup dadaku, karena
memang aku punya penyakit asma, yang sudah lumayan akut, karena seringnya mengecat dengan kompresor jadi flak cat menempel di jalur pernapasanku, apalagi kalau nyemprot vernis,
Rasanya jalur napasku lengket. Wah bisa gak jadi berangkat ke Saudi nih kalo bgini. Aku akhirnya dirujuk ke tempat medical lain. Dan Alhamdulillah setelah otot-ototan karena foto sinar x ndak ada gambarnya juga, akhirnya diluluskan.
Karena wira-wiri, terpaksa waktuku habis,
sehingga masa terbang dan jeda istirahat sangat pendek. Menunggu panggilan, aku terbang pada pemberangkatan pertama rombonganku yang ada 30an orang, segera disuruh siap-siap besok akan ke Bandara.
Akupun menyiapkan semua barang yang akan
kubawa, malam sudah tak bisa tidur karena
membayangkan di pesawat, tapi esoknya waktu di absen, namaku tak tercantum, aku jadi
bingung. Tapi ya udahlah pasrah saja.
Tapi malam jam 10 malam, ada kabar pesawat
__ADS_1
terbakar satu sayapnya, dan terpaksa turun di
bandara Singapura, dan semua penumpang
diinapkan di hotel.
Wah ternyata ada maksudnya juga Alloh
menahanku tak ikut terbang, baru paginya aku
mendapat panggilan bersama TKI yang tersisa untuk terbang.
Ketika memasuki bandara Soekarno Hatta
Cengkareng, rasanya seperti mimpi, setelah
boking tiket, maka kami menunggu di ruang
tunggu, dan jam 3 siang pesawat segera
diberangkatkan.
Semoga selamat sampai tujuan. Dan pesawat
tinggal landas, menuju dunia baru yang tak
ketahui bagaimana nasibku di sana, tapi Alloh
selalu di hatiku, sebaik-baik penjagaku.
Sampai Bandara Riad rombonganku transit ke
penerbangan domestik, menuju Jijan. Sampai di bandara Jijan, turun dari pesawat, panas
langsung menampar wajah, keluar dari bandara sudah ada mobil penjemput dari Perusahaan, dan kami diantar ke perusahaan,
Setelah sampai di perusahaan semen kami ditempatkan di Barak yang lumayan besar, berisi ada 60 kamar, setiap kamar ditempati satu orang, tapi karena kami baru datang, dan
rencana sebagian akan dioper ke pabrik baru,
maka satu kamar diisi dua orang, aku dengan
orang yang tak ku kanal, walau sama-sama dari Indonesia.
langsung kerja, langsung mendapat pakaian
seragam.
Urusan administrasi selesai, kami tetap harus
masuk kerja, walau belum kerja, hanya
berkenalan dengan para pekerja lain. Dan
bagusnya berarti langsung di catat gaji.
Jam 4 sore pulang kerja, kamis – jum’at libur,
jika masuk maka dihitung overtime(lembur).
Malam, aku memilih tidur sore, sebab badan
rasanya lelah setelah perjalanan jauh belum
istirahat.
Di malam saat aku beranjak tidur lampu ku matikan, dan lampu dari kamar mandi menyorot. Temanku sekamarku tidur di ranjang lain di sampingku, karena memang ada dua ranjang dalam kamar.
Di saat aku tidur, aku merasa ada yang
mengawasi di atasku, aku membuka mata, dan aku kaget, karena ada kepala dengan pengikat
kepala putih, dan berambut panjang, tengah
melayang di atasku.
“He… siapa kau…!” dalam kagetku.
Dia juga kaget, mungkin kaget karena aku bisa
melihat dia, dia langung melesat kabur dan
__ADS_1
menabrak pintu.. “jedak…!” dan kepalanya
mental, menengokku yang bangun dengan
pandangan panik dan takut, lalu melesat lagi
menembus pintu.
Aku membetulkan selimutku, karena kamar
serasa dingin sebab ber AC, heran juga baru
pertama sampai sudah ada arwah orang mati
penasaran yang mendatangiku. Sepertinya akan ada kejadian yang lain yang akan menjadi kisah panjangku di Saudi Arabia.
Hari kedua, ternyata pabrik ini sangat besar,
mungkin luasnya di Indonesia, seluas satu
kecamatan lebih, dan banyak dikelilingi gunung, yang kerja di bagian peledakan gunung untuk
diambil batunya harus diantar jemput bus,
karena jauhnya, dalam hitungan ini hari pertama aku bekerja, asalnya salah aku dikirim bekerja sebagai cleaning servis tapi kemudian dipindah ke tempat kerjaku sendiri sebagai penulis kaligrafi.
Aku punya ruangan sendiri, berupa gudang, ah
pokoknya dijalani aja, dan tetangga kerjaku
servise jok kursi, ada juga orang Indonesianya,
aku kaget ketika melihat orang Indo yang kerja
di sebelahku, karena aku sudah pernah secara
tak sengaja menolong orang itu.
Memang garis taqdir itu melintang-lintang
kadang kita tanpa sadar bertemu dengan garis
taqdir orang lain.
Ketika menolong orang ini yang bernama Sarno, saat itu tak sengaja aku meraga sukma, dan terseret pada tarikan kekuatan, sampai ke suatu daerah Malang, tepatnya Gondang Legi, aku melihat Sarno yang waktu itu belum ku kenal, Sarno memasuki sebuah rumah mewah, dan di dalam rumah mewah itu ada dua orang
perempuan ibu dan anak, yang sedang
membicarakan kalau Sarno akan dikorbankan
kepada Nyai Blorong, aku heran kok aku ketarik ke rumah itu,
“Ah aku tak mau bu… wong Sarno itu orangnya
jelek.” kata si anak gadisnya.
“Udah jangan mikir soal itu, yang penting kamu pura-pura saja nikah sama dia, nanti kan dia
cuma dijadikan tumbal.” jelas ibunya.
Aku heran mendengar percakapan mereka. Dan Sarno masuk lalu aku keluar melayang ke suatu tempat, tempat itu adalah warung nasi, yang di
depannya ada pohon mangga, aku berdiri di atas pohon mangga, dan melihat ke warung tak mengerti. Di dalam warung ada dua orang gadis sedang makan nasi sambil ngobrol.
“Apa kamu suka sama kang Sarno?” tanya gadis satunya.
“Iya…, aku terlanjur berbuat dengannya, jika
aku tak nikah dengannya aku akan dukunkan dia,”
jawab perempuan satunya.
Aku heran kok balik-balik Sarno. Tiba-tiba aku
terseret lagi ke sebuah rumah, di dekat
tikungan nampak Sarno berlarian, menggedor-
gedor rumah, aku masih kebingungan karena
tarikan yang tak bisa ku lawan.
__ADS_1
Aku ikut masuk ke rumah itu, di mana ada seorang lelaki setengah tua......
Bersambung,...,.