Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Di Dunia baru


__ADS_3

“Makan bu…” ku bilang pada penjaga warung, lalu memilih lauk, dan mulai makan,


“Mari pak…” kataku menawari orang yang juga


makan di dalam warung.


“Silahkan…” jawab mereka berdua.


“Bapak ini juga ikut medical?” tanyaku pada dua orang yang keduanya sudah umur, ku perkirakan yang satu berumur 50 an tahun, yang satu berumur skitar 45 tahun.


“Iya…” kata mereka berdua hampir serempak.


“Mas ini juga ikut medical?” tanya yang tua.


“Iya pak.. la bapak ini mau kerja di mana?”


tanyaku.


“Kerja di Saudi, di pabrik semen.” jawab yang


muda.


“Lhoh kok sama, aku juga akan bekerja di pabrik semen, trus bapak ini dari mana asalnya?” tanyaku.


“Kami dari Tuban.” jawab yang muda.


“Lhoh kok sama, aku juga dari Tuban, Tubannya mana?” tanyaku.


“Wah pasti ini anaknya pak Mustofa…, aku sudah mengira,” kata yang tua.


“Iya aku anak pak Mustofa, wah bapak kok bisa


tau, bapak ini dari mana?” tanyaku makin heran.


“Aku ini iparnya mak Mudi, yang rumahnya di


belakang rumahmu.” jelas orang yang tua.


“Wah aku kurang paham… gak tau kalau kang


Mudi punya ipar yang sudah tua kayak sampean, hahah.” kataku bercanda.


Kami segera akrab dan bicara ngalor ngidul,


karena ketemu orang sedesa. Kamipun jadi bareng medical, dan bareng pulang ke tempat


penampungan bersama.


——————————————-


Besoknya kabar medical sudah bisa diterima,


tapi aku belum bisa dibilang fit, karena ternyata foto sinar x ku tidak ada kelihatan gambarnya,


jadi harus difoto ulang, tapi setelah difoto


ulang, tetap saja tak bisa, tak ada bentuk


gambarannya sama sekali.


Sebenarnya aku juga tau, khodam yang ada di


dadaku berusaha menutup dadaku, karena


memang aku punya penyakit asma, yang sudah lumayan akut, karena seringnya mengecat dengan kompresor jadi flak cat menempel di jalur pernapasanku, apalagi kalau nyemprot vernis,


Rasanya jalur napasku lengket. Wah bisa gak jadi berangkat ke Saudi nih kalo bgini. Aku akhirnya dirujuk ke tempat medical lain. Dan Alhamdulillah setelah otot-ototan karena foto sinar x ndak ada gambarnya juga, akhirnya diluluskan.


Karena wira-wiri, terpaksa waktuku habis,


sehingga masa terbang dan jeda istirahat sangat pendek. Menunggu panggilan, aku terbang pada pemberangkatan pertama rombonganku yang ada 30an orang, segera disuruh siap-siap besok akan ke Bandara.


Akupun menyiapkan semua barang yang akan


kubawa, malam sudah tak bisa tidur karena


membayangkan di pesawat, tapi esoknya waktu di absen, namaku tak tercantum, aku jadi


bingung. Tapi ya udahlah pasrah saja.


Tapi malam jam 10 malam, ada kabar pesawat

__ADS_1


terbakar satu sayapnya, dan terpaksa turun di


bandara Singapura, dan semua penumpang


diinapkan di hotel.


Wah ternyata ada maksudnya juga Alloh


menahanku tak ikut terbang, baru paginya aku


mendapat panggilan bersama TKI yang tersisa untuk terbang.


Ketika memasuki bandara Soekarno Hatta


Cengkareng, rasanya seperti mimpi, setelah


boking tiket, maka kami menunggu di ruang


tunggu, dan jam 3 siang pesawat segera


diberangkatkan.


Semoga selamat sampai tujuan. Dan pesawat


tinggal landas, menuju dunia baru yang tak


ketahui bagaimana nasibku di sana, tapi Alloh


selalu di hatiku, sebaik-baik penjagaku.


Sampai Bandara Riad rombonganku transit ke


penerbangan domestik, menuju Jijan. Sampai di bandara Jijan, turun dari pesawat, panas


langsung menampar wajah, keluar dari bandara sudah ada mobil penjemput dari Perusahaan, dan kami diantar ke perusahaan,


Setelah sampai di perusahaan semen kami ditempatkan di Barak yang lumayan besar, berisi ada 60 kamar, setiap kamar ditempati satu orang, tapi karena kami baru datang, dan


rencana sebagian akan dioper ke pabrik baru,


maka satu kamar diisi dua orang, aku dengan


orang yang tak ku kanal, walau sama-sama dari Indonesia.


langsung kerja, langsung mendapat pakaian


seragam.


Urusan administrasi selesai, kami tetap harus


masuk kerja, walau belum kerja, hanya


berkenalan dengan para pekerja lain. Dan


bagusnya berarti langsung di catat gaji.


Jam 4 sore pulang kerja, kamis – jum’at libur,


jika masuk maka dihitung overtime(lembur).


Malam, aku memilih tidur sore, sebab badan


rasanya lelah setelah perjalanan jauh belum


istirahat.


Di malam saat aku beranjak tidur lampu ku matikan, dan lampu dari kamar mandi menyorot. Temanku sekamarku tidur di ranjang lain di sampingku, karena memang ada dua ranjang dalam kamar.


Di saat aku tidur, aku merasa ada yang


mengawasi di atasku, aku membuka mata, dan aku kaget, karena ada kepala dengan pengikat


kepala putih, dan berambut panjang, tengah


melayang di atasku.


“He… siapa kau…!” dalam kagetku.


Dia juga kaget, mungkin kaget karena aku bisa


melihat dia, dia langung melesat kabur dan

__ADS_1


menabrak pintu.. “jedak…!” dan kepalanya


mental, menengokku yang bangun dengan


pandangan panik dan takut, lalu melesat lagi


menembus pintu.


Aku membetulkan selimutku, karena kamar


serasa dingin sebab ber AC, heran juga baru


pertama sampai sudah ada arwah orang mati


penasaran yang mendatangiku. Sepertinya akan ada kejadian yang lain yang akan menjadi kisah panjangku di Saudi Arabia.


Hari kedua, ternyata pabrik ini sangat besar,


mungkin luasnya di Indonesia, seluas satu


kecamatan lebih, dan banyak dikelilingi gunung, yang kerja di bagian peledakan gunung untuk


diambil batunya harus diantar jemput bus,


karena jauhnya, dalam hitungan ini hari pertama aku bekerja, asalnya salah aku dikirim bekerja sebagai cleaning servis tapi kemudian dipindah ke tempat kerjaku sendiri sebagai penulis kaligrafi.


Aku punya ruangan sendiri, berupa gudang, ah


pokoknya dijalani aja, dan tetangga kerjaku


servise jok kursi, ada juga orang Indonesianya,


aku kaget ketika melihat orang Indo yang kerja


di sebelahku, karena aku sudah pernah secara


tak sengaja menolong orang itu.


Memang garis taqdir itu melintang-lintang


kadang kita tanpa sadar bertemu dengan garis


taqdir orang lain.


Ketika menolong orang ini yang bernama Sarno, saat itu tak sengaja aku meraga sukma, dan terseret pada tarikan kekuatan, sampai ke suatu daerah Malang, tepatnya Gondang Legi, aku melihat Sarno yang waktu itu belum ku kenal, Sarno memasuki sebuah rumah mewah, dan di dalam rumah mewah itu ada dua orang


perempuan ibu dan anak, yang sedang


membicarakan kalau Sarno akan dikorbankan


kepada Nyai Blorong, aku heran kok aku ketarik ke rumah itu,


“Ah aku tak mau bu… wong Sarno itu orangnya


jelek.” kata si anak gadisnya.


“Udah jangan mikir soal itu, yang penting kamu pura-pura saja nikah sama dia, nanti kan dia


cuma dijadikan tumbal.” jelas ibunya.


Aku heran mendengar percakapan mereka. Dan Sarno masuk lalu aku keluar melayang ke suatu tempat, tempat itu adalah warung nasi, yang di


depannya ada pohon mangga, aku berdiri di atas pohon mangga, dan melihat ke warung tak mengerti. Di dalam warung ada dua orang gadis sedang makan nasi sambil ngobrol.


“Apa kamu suka sama kang Sarno?” tanya gadis satunya.


“Iya…, aku terlanjur berbuat dengannya, jika


aku tak nikah dengannya aku akan dukunkan dia,”


jawab perempuan satunya.


Aku heran kok balik-balik Sarno. Tiba-tiba aku


terseret lagi ke sebuah rumah, di dekat


tikungan nampak Sarno berlarian, menggedor-


gedor rumah, aku masih kebingungan karena


tarikan yang tak bisa ku lawan.

__ADS_1


Aku ikut masuk ke rumah itu, di mana ada seorang lelaki setengah tua......


Bersambung,...,.


__ADS_2