
“Ibu ini ada keperluan apa?” tanyaku, mengalihkan pembicaraan kepada perempuan
yang baru datang.
“Ini pak kyai, saya kakinya sakit, dan entah kenapa kayak ada yang nggandoli.” jelasnya.
“Ibu kerjanya apa?” tanyaku.
“Saya kerjanya memandikan mayat.” jawabnya.
“Hm pantes..! Sebentar ya bu.” aku bangkit, dan mengambil air mineral, lalu ku tiup dengan do’a.
“Tolong ini diminum bu…” kataku sambil menyerahkan air mineral, dan segera diminum ibu tersebut.
Ku rasakan jin keluar dari tubuh ibu tersebut dan lari, ku biarkan saja.
“Coba bu, dirasakan kakinya, dipakai berdiri, dan jalan.” kataku. Lalu ibu itu berdiri dan jalan.
“Bagaimana bu, masih ada yang sakit dan berat tidak kakinya?” tanyaku.
“Sudah enteng dan ringan.” jawabnya.
“Maaf ya bu…, ibu ini pernah memandikan seorang yang mati, dan orang itu melakukan laku pesugihan, dan jin yang diajak melakukan amal pesugihan itu nempel ke ibu, tadi saya lihat heran kok jin masuk ke rumahku dengan minta gendong ke ibu, makanya saya cepat ibu minum air agar dia lepas.” jelasku.
“Wah kok menakutkan to pak kyai…? Tapi
memang ini saya alami sejak saya memandikan seorang perempuan yang meninggal dalam keadaan rusak wajahnya, dan sakit yang di kaki saya itu kok
sering jalan berpindah- pindah.” kata Ibu itu.
“Ya ndak papa, sekarang sudah pergi, jadi tak
usah ditakutkan lagi.”
“Anu pak kyai, saya punya cucu di Jakarta, ini
baru menempati tempat kontrakan baru, tapi
terus-terusan kok anaknya nangis terus tiap
hari, apa bisa dibantu pak kyai.” cerita ibu itu.
“Cucunya itu umur berapa bu?” tanyaku.
“Umur 5 tahun pak.”
“Suruh saja menyediakan air, nanti ku transfer,
tolong bilang anaknya dikasih minum air itu, dan airnya dipakai memandikan anaknya sebagian, dan sebagian lagi dipakai mengepel rumah, ingat jangan sampai ada yang tertinggal, artinya semua tempat di-pel,”
“Kalau tempatnya ada barang-barangnya
bagaimana pak kyai?”
“Ya kan bisa disemprot memakai semprotan air
yang kayak semprotan untuk setrikaan.”
“Oo gitu ya pak.?”
“Iya soalnya kalau tidak nanti kayak kemaren ada yang kesini, anaknya rewel, lalu ku kasih air,
dan ku suruh mengepel semua, artinya semua
tempat harus kena cipratan air, nah pada saat
itu ada yang terlewat yaitu di atas lemari, dan anaknya tetap menangis, katanya kalau melihat
ke lemari menangis sambil takut dan menyembunyikan diri, ya karena atas lemari tak
__ADS_1
di-pel, maka jin yang menyerupai kunti itu duduk di atas lemari, jadi anaknya melihat.” jelasku.
“Iya makasih penjelasannya kyai,”
“Kalau gitu saya telponnya dulu kyai…”
“Iya.. suruh saja sedia air,”
Sebentar ibu itu menelepon.
“Maaf kyai, airnya baru dicarikan, apa ada
syarat lain pak?”
“Ini air yang aku transfer sifatnya sementara,
jadi hanya untuk kepeluan yang mendadak saja,
jadi entah di bulan berikutnya, bisa saja jin itu
akan kembali lagi.”
“La saya harus bagaimana pak?” tanya Ibu itu.
“Ya biar tidak kembali lagi, maka sebaiknya
rumahnya dipagar dengan ditanami batu kerikil
yang ditanam di pojokan rumah.”
“Begitu ya pak kyai?”
“Iya, agar jinnya tak kembali lagi, air dan batu
itu bukan apa-apa, tak ada apa-apanya, saya
mengisikan do’a ke batu itu…”
“Iya pak kyai, saya paham.”
“Kebetulan, dua hari lagi saya sudah ada rencana ke jakarta, jadi apa besok batunya sudah bisa saya bawa?”
“Bisa, besok saja kesini lagi.” kataku.
“Baik kami berdua mohon diri.” kata Ibu itu.
“Hp ku bunyi.” ku lihat ternyata dari Ibuku di
Tuban. Ku jawab salam lalu ku tanya. “Ada apa Bu?”
“Ini diminta menyampaikan pesannya pak Muhadi, kakinya sudah sembuh, dan terimakasih banyak, gitu bilangnya.”
“Iya bu.”
…………………………………………..
Dalam niat, kita selalu membekali gerak dan laku dengan niat itu, menjadi bernilai atau tak
bernilai setiap perbuatan amaliyah, disandarkan pada niat awal akan melakukan suatu perbuatan, jika kita menjalankan amaliyah dengan disertai niat ikhlas karena semata-mata memenuhi semua perintah Alloh, maka semua gerak selangkah atau setengah langkah, setarikan nafas sekalipun akan bernilai pahala.
Betapa pentingnya menata niat di hati, jangan
sampai sudah seribu perjalanan kita tempuh,
tapi semua hanya perbuatan sia-sia, seorang
yang berakal dan selalu menghitung dengan
akalnya, akan menimbang, betapa pendek umur
__ADS_1
kita di dunia, seandainya banyak sudah perjalanan ditempuh, dan ternyata kebanyakan
sia-sia, sedang umur itu mendekati ajal, kontrak
kita di dunia itu setiap waktu berkurang
masanya, kalau seseorang tak juga menyadari
maka pasti akan merugi.
Jika bapak kita mati, ibu kita mati, nenek kita
mati, kakek kita mati, apalagi kita yang menjadi
anaknya.
Siapa yang bertaqwa pada Alloh, maka Alloh
akan memberi jalan keluar terbaik dari permasalahan, dan akan diberi rizqi yang tidak
bisa disangka-sangka datangnya.
Jika seseorang tak memotifasi diri, motifasi orang lainpun tak akan membuat diri beranjak dari tidur panjangnya hati, kadang hati itu harus
ditundukkan dengan apa yang disenangi, dan apa yang disenangi itu selalu apa yang diharap untuk terjadi di kehidupan kita, orang miskin ingin kaya, orang susah ingin bahagia, orang sakit ingin sembuh, orang tak punya jodoh ingin nikah, dan banyak lagi apa yang kita senangi, apa yang kita senangi sah-sah saja dijadikan motifasi untuk mendekatkan diri pada Alloh, jika miskin perbanyak dzikir yang jalurnya rizqi, apabila sakit perbanyak dzikir yang untuk
menyembuhkan penyakit, apabila tak punya
jodoh, perbanyak dzikir untuk menyatukan
jodoh, jika ketika kita miskin kemudian dzikir
yang unsurnya meminta rizqi, itu terijabah, maka akan menumbuhkan rasa cinta akan dzikir.
Memang seseorang itu tak langsung bisa
mencapai ikhlas yang paling tinggi, maka tak
masalah kita menapak ikhlas paling rendah,
dengan membuat harapan balasan atas apa yang diamalkan, setelah apa yang didzikirkan atas rizqi kemudian sering terwujud, maka akan
menimbulkan rasa cinta akan dzikir, walau
cintanya masih cinta yang dipenuhi berbagai
maksud dan keinginan, sebab seorang itu tak
bisa menapak langsung ke tataran yang tertinggi, kecuali dari tangga terendah suatu proses cinta Alloh yang hakiki.
Diriku juga masih dalam proses, belum seorang
yang ikhlas yang mutlak, tanpa tapi, Dulu waktu masih masa latihan agar bisa setiap malam tak tidur selamanya, aku melatihnya dengan tiap malam selalu pergi, dari mulai setelah isya’, aku pergi menjelajah malam, sampai pagi datang, berganti teman-teman yang ku ajak menemani, tanpa dzikir, hanya kelayapan, agar aku terbiasa dengan tak tidur malam sama sekali, itu sekitar tiga tahun ku jalankan, setelah itu aku melatih untuk suka dan cinta pada dzikir, aku meminta dalam dzikir dan menyondongkan dengan apa yang di sukai nafsuku, entah perempuan atau uang, sampai waktu dalam latihan, aku selalu punya pacar ada dua puluhan dan mendapat rizqi yang tak disangka-sangka,
Yang di luar nalar, agar kecendrungan nafsuku
tertaklukkan, dan yakin dengan haqul yakin apa
yang ku do’akan mendapat ijabah dengan nyata,
setelah terbiasa dzikir, maka dzikir malah menjadi cinta, jika tidak dzikir akan terasa hati
benar-benar rindu, dan ingin selalu dzikir setiap
waktu.
Dan kecendrungan nafsu pun akan menapak pada penundukan kehendak yang lebih remeh dari sekedar apa yang bisa didapat dengan gampang, ingin melihat Alloh menunjukkan hal-hal yang di luar nalar dan logika, tapi kemudian nafsu perlahan tertaklukkan, lalu mendapat hidayah seperti angin yang menghembus dan air yang mengalir, tujuan yang satu kemudian menjadi fokus, kecintaan pada dzikir karena kecintaan pada yang didzikirkan, sedetik tak menyebut....
Bersambung....
__ADS_1