
Malah selama ini, orang daerahku belum ada yang tau aku ini orang toreqoh, dan taunya aku orang yang belajar ilmu pengobatan, dengan media do’a, padahal apa yang ku miliki dan ku bisa hanyalah anugerah Alloh semata, bukan karena aku sakti atau punya kelebihan tertentu.
"Orang hanya taunya kulitnya saja."
Apalagi sifatku yang tertutup dan tak pernah melakukan atau berlagak seperti orang punya ilmu, sehingga semua orang akan merasa aku seperti teman dan orang yang bebas lepas bisa diterima di setiap kalangan.
Tapi Kyai Askan makin menggebu-gebu memusuhiku, aku dibilang dukun prewangan lah, dikatakan tukang tiup botol dan airnya dijual, tapi semua orang yang pernah ku tolong malah yang mendebat akan semua tuduhan kyai Askan, karena memang aku tak pernah meminta apa-apa pada orang yang ku tolong, bahkan jika orangnya miskin dan payah hidupnya tak jarang pulang malah ku beri oleh-oleh.
Sebab bagiku keikhlasan itu perlu bukti nyata, lepas luar dalam, tak mencari nama walau sebesar titik debu, aku sampai memperingatkan orang-orang yang mendebat kyai Askan, ku katakan,
“Jangan seperti itu, jangan didebat, itu tak baik.”
“Kami tak rela, kyai diburuk-burukkan.” jawab
mereka.
“La aku dijelek-jelekkan kan tak berkurang apa- apa, kyai Askan juga menjelekkanku, kalau dia haus dan lapar juga makan dari uangnya sendiri, itu malah akan mengambil dosaku,
Baginda Nabi saja ketika dijelek-jelekkan orang kafir, lalu Abu Bakar membelanya, Nabi marah kepada Abu Bakar.
Lalu Abu Bakar bertanya: ‘kenapa aku tak
boleh mendebat sumpah serapah mereka?,’
‘Karena sebelum kamu menjawab sumpah serapah mereka, malaikat yang membalas sumpahan mereka, tapi ketika kamu yang membalas sumpah mereka, maka para malaikat serentak pergi.’
Jadi biarkan aku dijelek-jelekkan, jangan dibantah, diam saja, kesabaran itu perlu diuji, kebersihan hati itu hanya akan dikeruhkan oleh rasa benci, diamlah, rasakan, masihkah hati itu suka panas, atau sakit hati? ataukah tenang, jernih, bening, sabar, tawakal, syukur, di situ nilai ilmu seseorang itu manfaat tidak bagi diri atau tidak bermanfaat bagi diri, terjawab, dengan praktek nyata, bukan dengan kata-kata, aku ini ikhlas, aku ini tawakal, aku ini sabar, la kalau cuma kata-kata, anak kecil juga bisa.”
Alhamdulillah orang yang sebelumnya membelaku dan mendebat kyai Askan kemudian perlahan sudah mau menuruti apa yang aku harapkan, berarti aku berhasil menanamkan kadar ilmu ke hati kepahaman mereka.
Perlahan tapi pasti, setiap hari di majlisku ada orang yang mulai datang, dan berkumpul, bukan untuk mengaji kitab kuning, bahkan aku tak pernah meminta mereka datang, mereka datang dengan kemauan sendiri, lalu mendengar ulasanku tentang agama, seperti orang yang ngobrol, tapi semua antusias, tak pernah sekalipun aku memerintah sholat, tapi aku jelaskan dengan saripatinya amal, sehingga semua sering malah merasa rindu kalau tak hadir di rumahku.
Malah ada yang sampai mengatakan sehari tak melihat wajahku, hatinya merasa risau, jadi kadang ada yang datang ke rumah, hanya ingin menatap wajahku, ya aku ndak papa, kadang sampai ada yang datang sehari tiga kali, kayak orang makan saja, dan cuma bersalaman denganku dan duduk dua-lima menit lalu pamit, dan banyak yang mencintai diriku melebihi kecintaannya kepada dirinya sendiri, kadang ada suami istri yang setiap hari datang, hanya ingin mencium tanganku, padahal mereka berumur 60 an tahun, ya aku dengan senang hati memberikan tangan yang ingin dicium, kadang ada nenek- nenek yang sudah udzur lalu menangis-nangis minta didoakan bisa meninggal khusnul khotimah, dan meminta diijinkan mencium tanganku, semua hanya kehendak Alloh yang memiliki rahasia.
Pagi-pagi sudah ada tamu seorang ibu-ibu
seumuran 50 an tahun.
“Ada apa bu?” tanyaku.
“Saya ini dari Jakarta.” jelasnya.
“Wah jauh-jauh ada keperluan apa bu? Saya jadi
tak enak membuat ibu jauh-jauh datang.”
“Saya ada perlu untuk keperluan anak saya.”
“Kenapa anaknya bu?” tanyaku.
“Anakku lumpuh, sudah sembilan tahun, seluruh badannya tak bisa digerakkan sama sekali. Bahkan tangan dan kaki, juga mulutnya sudah tak bisa bergerak.” cerita dia.
__ADS_1
“Lalu maksud ibu datang ke rumah saya?”
“Ya saya mau minta anak saya dido’akan, supaya disembuhkan dari kelumpuhan.”
“La awalnya bisa lumpuh bagaimana bu?”
“Karena kecelakaan dik, ya pertama kecelakaan
tak apa-apa, kelumpuhan terjadi setelah setahun mengalami kecelakaan.”
“Lalu kata dokter bagaimana?” tanyaku.
“Kata dokter urat saraf yang di punggung ada
yang putus dan kejepit tulang.” jawabnya.
“Juga pernah dibawa ke pengobatan alternatif?”
“Ya kan sudah 9 tahun lumpuhnya, di mana ada
tung..!, ada pengobatan yang kami dengar, maka kami berusaha mendatangi, mari to dik dilihat anak saya.”
“Walah bu…, saya itu sebenarnya tak bisa
mengobati apa-apa, jadi kalau saya datang ke
rumah ibu di Jakarta, sudah jauh-jauh ya
“Lalu saya bagaimana?”
“Ya ibu ku kasih air saja, nanti diminumkan dan
dilapkan airnya ke seluruh tubuhnya.” kataku.
“Baik dik,” katanya.
Lalu ku beri air mineral, yang sebelumnya ku tiup dulu, dengan meminta pada Alloh kesembuhan untuk anaknya.
——————————————-
Besoknya ibu yang kemaren datang lagi.
“Gimana, ada apa lagi bu, kok ibu kemaren
datang, sekarang datang lagi, apa gak jauh
Jakarta?”
“Oo saya juga kan asli Pekalongan dik, jadi ini
masih di rumahku Pekalongan.”
__ADS_1
“Ooo kirain dari Jakarta langsung, rupanya
tinggal di sini.., lalu ini ada apa bu?”
“Alhamdulillah, anak perempuanku yang lumpuh, tadi pagi mulutnya sudah bisa bicara, tangannya juga sudah bisa bergerak, juga kakinya bisa digerak-gerakkan.”
“Ya syukur, bagus itu.” kataku.
“Jadi saya kesini, mau mengajak adik ini ke
rumahku, tolong dipegang anak aku.” kata ibu itu.
“Bukannya aku tak mau bu, tapi banyak orang lain yang juga membutuhkanku, jadi ini baru ibu yang meminta, nah kalau sehari dua puluh orang yang meminta seperti ibu, apakah saya tidak wira-wiri kemana-mana, apa tidak menjadikan saya super sibuk, ibu tak beri air saja dan dipakai seperti kemaren.” kataku,
Semua orang itu selalu kalau berpenyakit pasti ingin cepat sembuh, seperti permainan sulap.
“Iya tak apa-apa, tapi boleh tidak kalau ada
orang yang mau mengobati, dengan diurut.”
“Ya monggo, silahkan saja bu, itu hak penuh ibu, mau meminta orang lain mengobati, aku ini kan bukan mengobati bu, tapi berdo’a, jadi soal
kesembuhannya bukan urusanku, tapi itu urusan Alloh.” kataku.
Dua hari kemudian ibu yang anaknya lumpuh itu datang lagi. “Kenapa lagi bu…?” tanyaku melihat wajahnya sedang sedih.
“Itu nak, kok punggung anakku jadi pada
melepuh,” katanya.
“Melepuh bagaimana bu?”
“Ya melepuh, melembung dan di dalamnya ada
airnya gitu.” jawabnya.
“Oo itu mungkin anak ibu alergi terhadap minyak tertentu, atau karena lumpuh jadi tidak
bergerak, sehingga punggungnya yang ada
minyak gorengnya jadinya panas.”
“Apa karena ku pijitkan ya?”
“Wah aku sendiri tak tau… dibelikan saja salep,
atau dipanggilkan dokter kulit.” kataku. Dia pun
mohon diri.
Kadang orang tak sabar, maunya segala sesuatu itu sembuh seperti sulap.
__ADS_1
Malamnya seseorang datang dengan membawa saudaranya yang sakit katanya dikuasai jin, selalu saja mendapat bisikan, sehingga sering tingkah lakunya tak karuan. Mungkin lagi musim.