Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Kepercayaan


__ADS_3

Untung Sarno masuk ke ruanganku, karena


mendengar ribut-ribut.


“Ada apa mas?” tanya Sarno yang masuk disertai orang India yang bekerja dengannya.


“Gak tau mas Sarno, la ini orang masuk-masuk ke ruanganku, langsung marah-marah, gak tau ini orang kesambet di mana.” jelasku.


Lalu orang India yang masuk dengan Sarno


menanyakan masalah kenapa Kumar marah,


kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab pada


Sarno, dan Sarno mengucapkan dalam bahasa


jawa kepadaku. Jadi bicara dalam tiga bahasa.


“Orang ini, Kumar marah karena mas kerja di


sini, ini kan ruangan kerja ayahnya, sekarang


sedang dikirim ke pabrik baru, dan karena mas


kerja di sini maka nantinya ayahnya Kumar akan dipecat, makanya dia marah-marah, karena mas membuat ayahnya Kumar dipecat.” jelas Sarno.


Lalu ku jawab yang jawabanku diterjemahkan


Sarno dalam bahasa Arab kepada orang India


yang bernama Jabir lalu diterjemahkan dalam


bahasa India kepada Kumar. Jadi proses 1-2


kata saja bicara jadi lama dan berbelit-belit.


“Bilang mas, aku kerja di sini tak kenal dengan


bapaknya, apalagi satu sekolah, aku kan orang


baru, penempatan kerja juga tergantung managernya, soal bapak dia dipecat atau bukan itu bukan urusanku, tapi urusan manager.”


“Dia tak perduli, pokoknya mas Ian ini


menurutnya sebagai penyebab dipecatnya


bapaknya.” terjemah Sarno.


“Ooo berarti dia ngajak ribut..?” tanyaku.


“Pokoknya mas tidak boleh bertempat di ruang kerja bapaknya, kalau perlu pulang lagi ke


Indonesia.” terjemah Sarno.


“Ooo begitu…” jawabku.


Kumar pergi sambil menendang kursi, dan semua barang yang ada diambil takutnya ku pakai.


——————————————-


Tapi seminggu kemudian Sarno bilang padaku.


“Mas…! Orang yang bernama Kumar yang marah-marah di sini itu, sekarang kecelakaan, tak tau bagaimana nasibnya, soalnya dia naik taksi dan mobil taksinya masuk ke bawah truk gandeng dan dilindas truk gandeng.” kata Sarno.


“Kok bisa?” tanyaku heran.


“Ceritanya dia mau umroh naik taksi, lalu


kecelakaan, menurut cerita mobilnya dilindas


truk gandeng, jadi roda truk gandeng sampai


naik ke atas taksi.” jelas Sarno.


“Wah kayak di film aja…”


“Kalau menurut cerita si Kumar lehernya patah, tak tau mati apa masih hidup, tapi sekarang di


rumah sakit.” jelas Sarno.


Sebagaimana biasa tiap malam Muhsin main ke

__ADS_1


kamarku.


“Mas, ada orang Indonesia yang ingin minta


tolong, apa mas mau?” tanya Muhsin.


“Mana orangnya kok ndak ke sini saja, kalau aku bisa menolong ya akan ku usahakan menolong, kalau aku tak mampu ya aku minta maaf.” jawabku.


“Orangnya bukan bekerja di pabrik sini kok mas, tapi bekerja di luar sini.” jelas Muhsin.


“Ya suruh saja dia ke sini sendiri, lalu


masalahnya apa… dia cerita, kalau aku bisa


menolong, akan ku usahakan.”


“Oh ya bagaimana soal istri saya mas…, apa ndak bisa dilihat?”


“Wah balik lagi ke istri, istri sampean ndak ada


masalah apa-apa, gini saja, bagaimana kalau ku katakan di dalam sumur sampean ada belut


putihnya, sampean percaya tidak?”


“Tidak percaya.”


“Makanya kalau ku bilang ada belut putihnya, aku bohong gak?” tanyaku.


“Ya kalau ada gak masuk akal juga, soal bohong apa tidaknya kan perlu bukti.” jawab Muhsin.


“Makanya segala sesuatu itu perlu bukti, jangan percaya dengan kata siapapun sebelum kita


membuktikan sendiri, Alloh saja berfirman,


wa’budulloha khatta a’tiyakal yaqin, jadi segala


sesuatu itu harus yaqin, dan keyakinan itu ada


karena ainul yaqin, melihat dengan yaqin, sebab melihat dengan mata kepala sendiri, bukan kata si A, atau kata si B, juga bukan karena kata


saya, seperti saya mengatakan ada belut putih di sumurmu,” “Aku pernah masuk ke rumahmu tidak?” tanyaku pada Muhsin.


“Tidak pernah Mas.” jawab Muhsin pasti.


tidak?”


“Tidak pernah mas.” jawab Muhsin lagi.


“Berarti kataku mengatakan di dalam sumurmu ada belut putihnya mengada-ada kan?” tanyaku lagi.


“Iya mas…"


“Makanya jangan percaya, apalagi kamu bertanya soal istrimu padaku.., lebih-lebih hal pribadi lalu menyandarkan suatu jawaban dari orang yang tidak tau permasalahan, itu namanya ngawur.”


——————————————-


Pagi-pagi Muhsin nelpon,


“Ada apa?” tanyaku.


“Istriku pas nimba di sumur, mendapatkan belut putih di timbanya.” kata Muhsin.


“Hm… lalu…” “Kan berarti kata mas benar, di sumurku ada belut putihnya, mas… saya dijadikan murid ya…?”


“Jadi murid saya itu berat, harus puasa, harus


dzikir, harus nurut sama kata guru.”


“Gak papa mas, saya siap.”


“Ya kalau siap, silahkan saja.”


“Ya nanti malam saya ke kamar mas.., “


Jam sembilan pagi, ada istirahat sebentar dan


para pekerja menyebutnya dengan SAE, atau


ngeteh, orang Arab biasanya berangkat kerja


membawa sarapan pagi, roti kubus, kubus

__ADS_1


terbuat dari tepung diuleni dengan air dan


garam, lalu dipipihkan dan ditempel ke tembikar tanah, makannya disobek dan dicocolkan ke kare, rasanya? ya kalau aku sih gak doyan.


Jam 9 aku menghadap manager administrasi,


soalnya waktu berangkat dari Indo aku dijanjikan mau dinaikkan gajiku kalau sudah di


Saudi.


Sebenarnya sudah sering ku dengar kata-


kata JANGAN PERCAYA DENGAN UCAPAN


ORANG SAUDI, kata itu sering ku dengar dari


teman-temanku yang pernah bekerja di Saudi,


selalu bilang, JANGAN PERCAYA UCAPAN


ORANG SAUDI, JANGAN MAU DIBERI


JANJI TANPA ADA HITAM DI ATAS PUTIH,


JANGAN MAU DISURUH KERJA YANG


BUKAN TERMASUK YANG TELAH


DISEPAKATI WALAU DIJANJIKAN UPAH


LEBIH.


Tapi aku langgar semua kata itu, pertama aku


percaya pada manager yang mengatakan : nanti setelah di Saudi gaji ku naikkan.


Dan jam 9 itu aku menghadap ke manager untuk mengkonfirmasi janjinya. Tapi dia bilang, sekarang masa training, nanti setelah 3 bulan,


setelah masa training, gaji ku naikkan. Begitu


katanya meyakinkan.


Setelah 3 bulan aku menghadap lagi, dan


ternyata dia bilang: kenaikan gaji itu bukan


hakku, itu hak kantor pusat di ABHA, jadi aku


tak bisa memberi kenaikan.


Aku geleng-geleng kepala, ah dia telah salah


memilih orang untuk didzolimi.


Ku katakan pada Muhsin, “Managermu telah


salah memilih orang untuk didzolimi, ini ingat


kata-kataku sebentar lagi pabrik akan mengalami kebangkrutan, perlahan akan hancur,”


Dan belum sampai setahun, pabrik benar-benar mengalami kebangkrutan, export ditutup


pemerintah, biasanya yang beli semen sampai


ngantri berkilo meter, jadi sepi, karyawan mulai dipecati, yang tua dipulangkan, lembur


diwajibkan tapi tak dibayar, manager sudah


kayak orang setres, tukang kayu disuruh jadi


tukang kebun, tukang kebun disuruh jadi tukang kayu, apalagi ditambah perang yang terjadi di sekitar pabrik antara pemberontak kuti Yaman, dengan tentara Saudi, keadaan pabrik makin merosot.


Profesionalisme memang bukan sifat orang


Saudi, maka jangan percaya dengan kata orang Saudi.


——————————————-


“Katanya sudah menghadap manager soal


kenaikan gaji, bagaimana hasilnya?” tanya

__ADS_1


Muhsin.


__ADS_2