
Untung Sarno masuk ke ruanganku, karena
mendengar ribut-ribut.
“Ada apa mas?” tanya Sarno yang masuk disertai orang India yang bekerja dengannya.
“Gak tau mas Sarno, la ini orang masuk-masuk ke ruanganku, langsung marah-marah, gak tau ini orang kesambet di mana.” jelasku.
Lalu orang India yang masuk dengan Sarno
menanyakan masalah kenapa Kumar marah,
kemudian diterjemahkan ke bahasa Arab pada
Sarno, dan Sarno mengucapkan dalam bahasa
jawa kepadaku. Jadi bicara dalam tiga bahasa.
“Orang ini, Kumar marah karena mas kerja di
sini, ini kan ruangan kerja ayahnya, sekarang
sedang dikirim ke pabrik baru, dan karena mas
kerja di sini maka nantinya ayahnya Kumar akan dipecat, makanya dia marah-marah, karena mas membuat ayahnya Kumar dipecat.” jelas Sarno.
Lalu ku jawab yang jawabanku diterjemahkan
Sarno dalam bahasa Arab kepada orang India
yang bernama Jabir lalu diterjemahkan dalam
bahasa India kepada Kumar. Jadi proses 1-2
kata saja bicara jadi lama dan berbelit-belit.
“Bilang mas, aku kerja di sini tak kenal dengan
bapaknya, apalagi satu sekolah, aku kan orang
baru, penempatan kerja juga tergantung managernya, soal bapak dia dipecat atau bukan itu bukan urusanku, tapi urusan manager.”
“Dia tak perduli, pokoknya mas Ian ini
menurutnya sebagai penyebab dipecatnya
bapaknya.” terjemah Sarno.
“Ooo berarti dia ngajak ribut..?” tanyaku.
“Pokoknya mas tidak boleh bertempat di ruang kerja bapaknya, kalau perlu pulang lagi ke
Indonesia.” terjemah Sarno.
“Ooo begitu…” jawabku.
Kumar pergi sambil menendang kursi, dan semua barang yang ada diambil takutnya ku pakai.
——————————————-
Tapi seminggu kemudian Sarno bilang padaku.
“Mas…! Orang yang bernama Kumar yang marah-marah di sini itu, sekarang kecelakaan, tak tau bagaimana nasibnya, soalnya dia naik taksi dan mobil taksinya masuk ke bawah truk gandeng dan dilindas truk gandeng.” kata Sarno.
“Kok bisa?” tanyaku heran.
“Ceritanya dia mau umroh naik taksi, lalu
kecelakaan, menurut cerita mobilnya dilindas
truk gandeng, jadi roda truk gandeng sampai
naik ke atas taksi.” jelas Sarno.
“Wah kayak di film aja…”
“Kalau menurut cerita si Kumar lehernya patah, tak tau mati apa masih hidup, tapi sekarang di
rumah sakit.” jelas Sarno.
Sebagaimana biasa tiap malam Muhsin main ke
__ADS_1
kamarku.
“Mas, ada orang Indonesia yang ingin minta
tolong, apa mas mau?” tanya Muhsin.
“Mana orangnya kok ndak ke sini saja, kalau aku bisa menolong ya akan ku usahakan menolong, kalau aku tak mampu ya aku minta maaf.” jawabku.
“Orangnya bukan bekerja di pabrik sini kok mas, tapi bekerja di luar sini.” jelas Muhsin.
“Ya suruh saja dia ke sini sendiri, lalu
masalahnya apa… dia cerita, kalau aku bisa
menolong, akan ku usahakan.”
“Oh ya bagaimana soal istri saya mas…, apa ndak bisa dilihat?”
“Wah balik lagi ke istri, istri sampean ndak ada
masalah apa-apa, gini saja, bagaimana kalau ku katakan di dalam sumur sampean ada belut
putihnya, sampean percaya tidak?”
“Tidak percaya.”
“Makanya kalau ku bilang ada belut putihnya, aku bohong gak?” tanyaku.
“Ya kalau ada gak masuk akal juga, soal bohong apa tidaknya kan perlu bukti.” jawab Muhsin.
“Makanya segala sesuatu itu perlu bukti, jangan percaya dengan kata siapapun sebelum kita
membuktikan sendiri, Alloh saja berfirman,
wa’budulloha khatta a’tiyakal yaqin, jadi segala
sesuatu itu harus yaqin, dan keyakinan itu ada
karena ainul yaqin, melihat dengan yaqin, sebab melihat dengan mata kepala sendiri, bukan kata si A, atau kata si B, juga bukan karena kata
saya, seperti saya mengatakan ada belut putih di sumurmu,” “Aku pernah masuk ke rumahmu tidak?” tanyaku pada Muhsin.
“Tidak pernah Mas.” jawab Muhsin pasti.
tidak?”
“Tidak pernah mas.” jawab Muhsin lagi.
“Berarti kataku mengatakan di dalam sumurmu ada belut putihnya mengada-ada kan?” tanyaku lagi.
“Iya mas…"
“Makanya jangan percaya, apalagi kamu bertanya soal istrimu padaku.., lebih-lebih hal pribadi lalu menyandarkan suatu jawaban dari orang yang tidak tau permasalahan, itu namanya ngawur.”
——————————————-
Pagi-pagi Muhsin nelpon,
“Ada apa?” tanyaku.
“Istriku pas nimba di sumur, mendapatkan belut putih di timbanya.” kata Muhsin.
“Hm… lalu…” “Kan berarti kata mas benar, di sumurku ada belut putihnya, mas… saya dijadikan murid ya…?”
“Jadi murid saya itu berat, harus puasa, harus
dzikir, harus nurut sama kata guru.”
“Gak papa mas, saya siap.”
“Ya kalau siap, silahkan saja.”
“Ya nanti malam saya ke kamar mas.., “
Jam sembilan pagi, ada istirahat sebentar dan
para pekerja menyebutnya dengan SAE, atau
ngeteh, orang Arab biasanya berangkat kerja
membawa sarapan pagi, roti kubus, kubus
__ADS_1
terbuat dari tepung diuleni dengan air dan
garam, lalu dipipihkan dan ditempel ke tembikar tanah, makannya disobek dan dicocolkan ke kare, rasanya? ya kalau aku sih gak doyan.
Jam 9 aku menghadap manager administrasi,
soalnya waktu berangkat dari Indo aku dijanjikan mau dinaikkan gajiku kalau sudah di
Saudi.
Sebenarnya sudah sering ku dengar kata-
kata JANGAN PERCAYA DENGAN UCAPAN
ORANG SAUDI, kata itu sering ku dengar dari
teman-temanku yang pernah bekerja di Saudi,
selalu bilang, JANGAN PERCAYA UCAPAN
ORANG SAUDI, JANGAN MAU DIBERI
JANJI TANPA ADA HITAM DI ATAS PUTIH,
JANGAN MAU DISURUH KERJA YANG
BUKAN TERMASUK YANG TELAH
DISEPAKATI WALAU DIJANJIKAN UPAH
LEBIH.
Tapi aku langgar semua kata itu, pertama aku
percaya pada manager yang mengatakan : nanti setelah di Saudi gaji ku naikkan.
Dan jam 9 itu aku menghadap ke manager untuk mengkonfirmasi janjinya. Tapi dia bilang, sekarang masa training, nanti setelah 3 bulan,
setelah masa training, gaji ku naikkan. Begitu
katanya meyakinkan.
Setelah 3 bulan aku menghadap lagi, dan
ternyata dia bilang: kenaikan gaji itu bukan
hakku, itu hak kantor pusat di ABHA, jadi aku
tak bisa memberi kenaikan.
Aku geleng-geleng kepala, ah dia telah salah
memilih orang untuk didzolimi.
Ku katakan pada Muhsin, “Managermu telah
salah memilih orang untuk didzolimi, ini ingat
kata-kataku sebentar lagi pabrik akan mengalami kebangkrutan, perlahan akan hancur,”
Dan belum sampai setahun, pabrik benar-benar mengalami kebangkrutan, export ditutup
pemerintah, biasanya yang beli semen sampai
ngantri berkilo meter, jadi sepi, karyawan mulai dipecati, yang tua dipulangkan, lembur
diwajibkan tapi tak dibayar, manager sudah
kayak orang setres, tukang kayu disuruh jadi
tukang kebun, tukang kebun disuruh jadi tukang kayu, apalagi ditambah perang yang terjadi di sekitar pabrik antara pemberontak kuti Yaman, dengan tentara Saudi, keadaan pabrik makin merosot.
Profesionalisme memang bukan sifat orang
Saudi, maka jangan percaya dengan kata orang Saudi.
——————————————-
“Katanya sudah menghadap manager soal
kenaikan gaji, bagaimana hasilnya?” tanya
__ADS_1
Muhsin.