
“Bagaimana awalnya dan bagaimana bisa sampai dibawa kesini ini?”
Pak Sutono mulai bercerita.
“Awalnya terjadi kerasukan masal di sekolah SMA di daerah saya sana pak pas kejadian ada acara upacara, di mana anak saya ini sekolah, juga awalnya anak saya ini tidak ikut kerasukan, jadi dia yang malah mau bantu menolong kerasukan, eee malah anak saya yang kemudian kerasukan, dan yang lain sudah pada sembuh, anak saya malah yang gak ikut sembuh, sampai dibawa pulang juga gak sembuh, lantas saya carikan obat kesana kemari, untuk mengobati anak saya yang kerasukan,tapi gak sembuh-sembuh juga.
Saya sampai kemana-mana mencari obat agar anak saya bisa sembuh dari kerasukan, berapapun uang saja saya keluarkan agar anak saya sembuh, tapi tetap saja berganti-ganti orang kerasukan anak saya gak sembuh- sembuh, malah ada yang ditendang sampai pingsan, ada yang dicakar sampai berdarah- darah, juga ada yang disembur pakai darah, sama anak saya ini, saya sampai kuwalahan, bagaimana lagi, dan kemana lagi mencari obat, sampai akhirnya anak saya sudah saya kira mati, karena nafasnya sudah gak ada, sudah tiga hari, semua tubuhnya juga sudah dingin, jadi saya menganggapnya sudah meninggal, maka akan saya kuburkan, ee entah tau darimana ada datang seorang kyai yang datang ke rumah, gak tau juga siapa yang ngundang saya gak tau.
Tau-tau saja dia datang ke rumah saya, mencegah saya menguburkan anak saya ini.
“Jangan kuburkan anakmu, dia belum meninggal, sukmanya sedang ditawan.” kata kyai itu.
“Lalu bagaimana ini pak? anak saya sudah ndak ada nafasnya begitu..” jawab pak Sutono.
“Gak papa biar saya bantu menarik sukmanya, sebentar saya akan memanggil teman-teman saya..”
Kata kyai itu sampil bergegas pergi dan segera kembali dengan membawa sepuluh orang.
Kemudian sepuluh orang itu menjalankan lelaku ritual, menarik sukma anak saya.
Setelah setengah harian menjalankan lelaku, maka alhamdulilah tangan anak saya bergerak gerak, dan akhirnya bisa bergerak dan sadar, tapi aneh, seluruh tubuhnya menghitam.
__ADS_1
Saya kasihan sekali melihat keadaan anak saya, kata kyai tersebut anak saya mau dikorbankan pada pesugihan, sebenarnya awalnya juga saya tak tau pak bagaimana kok ada tumbal pesugihan
segala, tapi setelah dicermati memang ada seseorang bernama pak Bowo yang rutin menjadi donatur sekolah, dia kaya raya, usahanya di mana-mana, vila, hotel, dan berbagai usaha ditekuninya, secara logika ya tak heran kalau orang itu kaya, karena memang banyak usahanya, tapi apa mungkin, tapi memang di sekolah tempat anak saya sekolah ini memang sudah banyak anak sekolah yang meninggal, ya ada saja sebabnya kebanyakan karena terjadi kecelakaan, misal ada kasus kemaren belum lama ini, yang ada anak tiga dilindas truk pasir, lalu ada yang ditabrak kereta api padahal palang kereta sudah ditutup, herannya anak itu menerobos palang kereta, dan ditabrak kereta api, ada juga yang naik motor cuma nabrak spion angkot lantas begitu saja jatuh mati.
Pokoknya aneh-aneh lah pak kejadiannya, sampai tak masuk akal, dan kalau dihitung sudah korban kejadian itu ada 37 orang, jadi maunya 40 orang maka tinggal 3 orang, nah anak saya inilah yang nomer 38 pak.”
“Wah panjang juga ceritanya.”
“Nah setelah kyai yang menolong anak saya untuk sembuh itu selesai menyadarkan anak saya, anak saya pun cerita bahwa selama tiga hari itu dia dibawa ke kerajaan jin, ke rumahnya ibu Ratu Dewi, di Paliman, menurut anakku ini dia ditunjukkan nantinya tempatnya, yang akan ditempati setelah menjadi korban ini, setelah
mengetahui itu, saya dengan kyai, temannya dan para aparat desa, kami bersama-sama mau mendatangi rumahnya Bowo, malam-malam kami datang pak, karena siangnya Bowo itu tidak ada, jadi kami datang malam, anehnya pak, rumah mewahnya yang luas sekali berhektar-hektar itu gak ada sama sekali, kami semua tak melihat rumahnya di mana, padahal jelas di sebelah jembatan, jadinya sebelah jembatan malah gak ada rumah, adanya hanya kebon semua, lalu kami pun meminta tetangganya yang dekat, untuk mengantar agar kami bisa menemukan rumahnya, dan aneh tetangganya itu malah masuk ke kebonan, ya kami kehilangan dia, dan dia kembali-kembali sudah di ujung, lalu kami panggil katanya dia sudah masuk ke rumahnya sama saya, dan juga rombongan saya, padahal saya sama rombongan tidak ikut masuk, lalu keputusan kyai yang beserta saya, rumahnya sangat kuat perlindungannya jadi tidak bisa di tembus.”
“Aneh juga…” kataku.
“Lalu selanjutnya bagaimana?” tanyaku.
“Ya begitu pak, setelah kejadian itu dia malah berkata pada saya, soal sakit anakmu itu berapa biayanya, semua saya ganti, begitu katanya, ya saya gak mau sambil saya minta jangan mengganggu anak saya, eee malah akhirnya bukan anak saya saja yang kemudian jadi kerasukan istri saya pun akhirnya ikut kerasukan, malah lebih ganas lagi, sampai sebelumnya kyai yang menolong anak saya sadar, awalnya mereka sanggup membantu, akhirnya mereka semua angkat tangan gak sanggup, dan menyerah.
Maka saya kembali mencari orang pintar untuk mengobatkan istri saya, kemana mana saya berusaha mecari, sampai saya mau putus asa rasanya, kalau anak saya sebelumnya kerasukan kan dipegang orang delapan saja masih kuat, kalau istri saya yang kerasukan kok orang delapan yang memegangi saja gak kuat, semua dimentalkan, sampai suatu malam saya bermimpi, yang bisa menyembuhkan anak saya itu orang yang rumahnya di Jogya, di suatu daerah dan saya pun berangkat mengikuti
isyarat mimpi saya, seharian di Jogya saya tanya kesana kemari, sampai akhirnya sampai di daerah yang saya tuju.
__ADS_1
Saya ketemu orang namanya pak Giman, dia orang yang tubuhnya lumpuh separo dan berjalan memakai tongkat.
“Ada apa?” tanya pak Giman.
“Ini pak saya mau minta tolong, soal istri saya yang kerasukan, sudah saya obatkan kemana-
mana gak sembuh, bagaimana pak apa bapak mau membantu? Apa syaratnya?”
“Sudah bapak di sini saja…” jawab Pak Giman.
“Maksudnya pak?”
“Ya biar saya yang kesana..”
“Ke rumah saya bareng saya saja pak.”
“Gak saya kesana sekarang..” Lalu pak Giman masuk kamar, dan setengah jam kemudian menemui saya lagi.
“Sudah istrinya sudah sembuh, silahkan bapak
pulang.”
__ADS_1
Saya heran dan saya pulang, memang istri saya memang sudah sadar dari kerasukannya, dan menurut yang saya serahi nunggu di rumah, memang pak Giman datang dan menebas-nebas istri saya.