
“Apa mau kalian?” kataku berdiri dari kursi, dan menikmati sedotan terakhir dari puntung rokok yang ku pegang.
Ah mati aku, tentu mereka akan mengeroyokku, aku membayangkan tubuhku dicacah pedang dan dibiarkan tergeletak dirubung lalat, dan kemudian dibungkus tikar, lalu tercatat di surat kabar, seorang gelandangan dibunuh di setasiun, dan ayah ibuku menangisi kematianku, ah betapa pendeknya usia, berdesir darahku, suara jantungku bledag
bledug tak karuan, aku manusia biasa, yang tak tau kapan akan mati, dan akan mati yang
bagaimana?
Ah benar-benar membuat keberanianku kuncup, terbang atau entah kemana?
Aku jadi ingat waktu jadi ketua gank dan
dikeroyok 20 orang, dulu aku nekat, tapi
sekarang, hidup dengan iman begitu nikmat dan
mengasikkan, andai disuruh memilih mati yang bagaimana? Aku lebih memilih mati dalam keadaan sholat, tidak mati dikeroyok,
Tapi apa
dayaku, aku coba tenang dan membangkitkan tenaga yang selama ini mengeram di pusarku, walau ku lihat sudah tidak keburu, karena kulihat semua orang telah merangsek maju, memburu menikam dan membacok tubuhku, aku hanya sempat mengucap takbir, melompat maju, membuat perlawanan sekenanya….
Berkelit kesana sini dan melepas bogem,
sekenanya, tanpa memilih mana dan siapa yang kupukul, yang jelas perlawanan karena
ditimbulkan dalam kepanikan,
Tapi hatiku yang telah tiap hari ku gantungkan padaNya tak lupa berdoa,
“Wahai Dzat, wahai Kekasih…, apakah
kau biarkan aku teraniaya mati di sini? Engkau
yang lebih kuasa dari segala sesuatu….”
Mungkin baru 2 orang yang kupukul, dan dalam kengerian dan kepengecutanku aku memukul
dengan mata terpejam teramat rapat.
Suasana sepi, aku belum membuka mata, apakah aku telah mati? Membuka mata ku rasa lebih menakutkan.
Tanganku masih mengepal gemetar, mata masih terpejam, suara kereta api barang telah tak ada, bau minyak rem, terbawa desir angin, apakah aku yang telah mati dan beginikah rasanya, tapi kenapa tak kurasakan sakit sama sekali,
Sakitnya nyawa dibetot dari badan, nyawa yang dibetot dan karena telah terikat dengan urat-urat maka akan menyisakan sakit di sekujur badan, karena urat-urat semua akan putus, dan rasa sakitnya akan sampai kiamat masih terasakan, setidaknya begitu yang kubaca tentang ruh dari kitab kitab kuning,
Tapi ini aku tak merasakan sakit sama sekali,
perlahan ku buka mataku sebelah, memicing,
sebab begitu takutnya aku andai menyaksikan
kenyataan yang pahit, yaitu aku telah mati.
Ah aku masih berdiri, dan tak ada orang lain
yang berdiri kecuali aku, lalu kemana semua
penyerangku?
Aku heran ku lihat semua terkapar, bukan hanya 3 langkah di depanku aja, tapi ada juga yang
__ADS_1
kelihatannya baru mau berlari ke arahku juga
nyungsep tak bergerak, perlahan ku teliti satu
persatu, semua pingsan.
Heran? Jelas aku heran, dalam angan anganku
yang terkapar harusnya aku, mengapa malah para pengeroyokku? Sambil ku seret tubuh pemuda-pemuda yang pada pingsan itu dan kukumpulkan menjauhi rel kereta, takut kalau ada kereta yang lewat, dan terlindas,
Aku memikirkan siapa orang yang telah membantuku, menundukkan semua pengeroyokku? Tapi andai manusia dan punya ilmu yang teramat tinggi, dan bisa
bergerak demikian cepat, tentu aku masih
merasa kehadirannya,
Tapi ini kehadirannya tidak kurasakan, ah entahlah mungkin pertolongan Alloh, membuat pingsan orang satu negara aja bisa, apalagi cuma beberapa gelintir orang, biarlah semua jadi misteri.
Ku kumpulkan beraneka macam senjata yang
akan dibuat menyerangku, ada pisau, golok,
pedang, pentungan, semua ku buang ke tempat sampah di pojok setasiun.
Lalu aku mengambil air wudhu dan melakukan
sholat malam, terdengar sayup adzan pertama, dari masjid Muhamadiyyah.
Aku wirid sambil menunggu saat memasuki waktu subuh.
Dua hari aku masih di setasiun Babat. Dan
udara terasa panas, sehingga aku duduk sendiri, mencari udara yang agak tak terasa gersang di perasaan,
Malam telah menunjukkan jam 2 dini hari, sambil memutar tasbih, aku duduk di kursi peron, kulihat seorang wanita tua tidur mendengkur di pojok dekat pintu, menunggu dagangan pecel, yang akan dijual besok hari,
Ah kejamnya dunia, bagaimana orang setua itu masih menanggung kepahitan hidup, kadang
anak-anaknya, menunggu di rumah, untuk
meminta uang dengan marah-marah, lalu dibuat hura-hura, aku ingat tetanggaku si ZUHDI yang selalu mengejar-ngejar orang tuanya dengan parang hanya untuk minta uang buat mabuk-mabukan,
Salah siapa sebenarnya, kegetiran hidup dirasakan hampir seluruh lapisan bawah,
rakyat negeri ini? Jerit rakyat, tindihan keluarga, keadilan yang diputar balikkan, seperti mengikuti tangan penguasa kemana mengarahkan, ah entahlah, terlalu rumit, kenyataan dan terlalu pahit untuk dirasakan, moga-moga aja mereka masuk surga,
walau di dunia tak dapat kebahagiaan,
Setidaknya di akhirat masih ada harapan, ku
teruskan wiridku, sambil kaki selonjoran di
kursi, malam mulai membawa angin segar angin pagi… , udara sejuk, mengalir menghembus tubuhku.
Kulihat seorang pemuda berjalan kearahku dari depan setasiun, aku menengok, ketika langkah
kakinya terdengar di telingaku, kemudian dia
duduk di kursi, dari dua kursi yang ku duduki,
mungkin umur pemuda itu dua tahun lebih tua
__ADS_1
dariku,
Wajahnya mengguratkan keresahan hati, duduknya serba tak tenang, setidaknya di penglihatanku, saat malam makin mendesirkan kesunyian yang rindu akan suara, geseran tubuh pemuda itu terdengar jelas, seperti mengganggu ketentraman, dan konsentrasi wiridku, tiba-tiba dia berjalan ke arahku, dan berdiri di depanku.
“Sendiri mas?” tanyanya sekedar basa basi, atau ngomong sembarangan dari pada tidak ada yang diomong,
“Iya, ” jawabku singkat, tanpa nada suara yang
meledak.
“Apa ndak kuwatir mas sendirian?” tanyanya lagi.
“Kuwatir kenapa?” aku balik bertanya.
“Ya kalau-kalau dirampok orang.”
“Apa yang harus dirampok dariku? La uang
seripis aja ndak punya.” jawabku dengan
tertawa, walau tidak tertawa getir.
“Nginap aja di tempatku…!” katanya, dengan nada yang aku mencium, entah apa terasa di telingaku, kurang berkenan,
“Ah ndak lah, aku biasa tidur di sini, kemaren
juga tidur di sini….”
“Nggak mas, di tempatku juga ndak ada orang,
jadi kalau mau, nginap dan tidur sepuasnya juga gak ada yang akan menyalahkan…”
Setelah dibujuk-bujuk akhirnya akupun mau,
kami berjalan menyelusuri lorong-lorong dekat
pasar Babat, dan dalam perjalanan pun kami
saling ngobrol, dan ku kenal, pemuda itu bernama Hendra.
Rumah Hendra tak terlalu besar, walau tidak
bisa dikatakan kecil, cat rumah juga sudah
banyak yang terkelupas, ada kesan rumah yang tak terurus, atau orangnya yang malas ngurus,
Segala macam pakaian tergantung, dan
menumpuk di sana-sini, yah mungkin Hendra ini, terlalu malas, setidaknya seukuran orang yang tak punya istri, aku disuruh duduk di kursi, yang teramat apek, mungkin lebih nyaman di setasiun,
Aku pun mendudukkan pantat di kursi, yang
busanya udah pada bolong, mungkin dimakan
tikus yang nyari makan sudah tidak ada yang
lain, jadi busa juga dimakan, mungkin
dibayangkan sebagai roti, ah apakah tikus juga berhayal seperti manusia?
Bersambung......
__ADS_1