
“Heheheh… raja Najwa.. raja Najwa… ya sudah kalau maksa, tapi aku ini siapa saja yang jadi muridku ku wajibkan tunduk dan taat padaku, apa raja Najwa sanggup?.”
“Saya siap taat, kalau kyai perlu, silahkan saja panggil saya… silahkan perintahkan pada saya, saya akan siap menjalankan perintah kyai, kapan pun kyai perintahkan, saya dan segenap rakyat jin laut merah, siap menjalankan.”
“Baiklah kalau begitu…”
Ku lihat dari raut wajah raja Najwa ada terbesit kesedihan.
“Kenapa murung?” tanyaku, karena melihat raja Najwa murung.
“Maaf kyai, aku ini sekarang sendirian, istriku sudah meninggal.”
“Selain Allah itu pasti mati.”
“Bukan masalah itu kyai.”
“Lalu apa?”
“Istriku meninggal setelah beberapa tahun dia sakit, karena memikirkan anak kami yang hilang entah kemana, ketika dulu terjadi perang antara laut merah dan laut pantai selatan, saat perang itu terjadi tiba-tiba anak kami hilang, padahal dia anak satu-satunya kami, yang kami harapkan menjadi pewaris tahta, tapi malah anak itu hilang, dia hilang waktu masih bayi.”
“Ooo begitu rupanya.”
“Iya kami sudah mengusahakan sudah sampai berhari-hari, berbulan-bulan bahkan hingga ratusan tahun, pergi ke orang pintar, untuk menemukan anak kami, tapi tetap saja anak kami tak juga kami temukan, sampai istriku juga akhirnya teramat sedihnya jadi akhirnya sakit dan meninggal.”
Tiba-tiba tanganku seperti ada yang menggerakkan, dan mengambil sesuatu. Lalu mulutku, berbicara.
“Apa ini anakmu raja Najwa?”
“Hah, benar kyai… ini anakku, ini pakaian yang dia pakai, juga selimutnya, masih utuh, subhanallah, tak salah kyai memang orang yang sangat sakti…, padahal selama ini saya mengusahakan untuk mencarinya ke segala penjuru, kami tanyakan ke orang-orang pintar dari kalangan kami dan manusia, tapi tak juga ketemu, sedang kyai hanya menggerakkan tangan sedikit, dan anakku sudah ada di tangan kyai…. maha besar Allah yang menciptakan orang-orang yang dianugerahi kelebihan…, terimakasih kyai… terimakasih kyai..” kata raja Najwa sambil mengguguk menangis, dan sujud-sujud di depanku.
“Sudah, sudah… raja Najwa, jangan berlebihan.”
“Ooooh ya Allah… maha agung, terimakasih ya Allah… engkau mengirimkan anakku lewat tangan mulia kekasihmu..”
“Sudah raja Najwa… ini anaknya diberi makan.” kataku sambil memberikan bunga dari alam hayalku.
Dan segera diterima raja Najwa, lalu diberikan kepada anaknya dan dia terkejut sekali, karena menurutnya anaknya jadi membesar, bisa jalan langsung yang asalnya bayi, dan bisa sebesar ayahnya.
“Ooooh kyai selama aku hidup tak pernah ku lihat keajaiban sedasyad ini, maha besar Allah, tak heran kalau kyai itu jadi raja segala jin, karena kyai punya banyak keajaiban, tak percaya rasa mataku melihat, kyai saya mohon izin undur diri, ingin pulang dulu, nanti kalau kyai ingin memanggilku, silahkan saja kyai panggil, saya akan siap diperintah apapun oleh kyai..”
__ADS_1
“Ya.. ya.. silahkan raja Najwa.”
Raja Najwa dan anaknya segera pergi.
RAJA JIN BRUNEI DARUSSALAM.
Mimpi masih berlanjut. Suasana tak ada yang aneh dan tak ada yang disertai suasana seram mencekam, semua ya biasa saja, tak seperti film hantu, atau horor, tak ada juga musik pengiring. Seorang raja bermahkota datang menghadapku. Dia bersimpuh menunduk di depanku.
“Siapa?” tanyaku pelan.
“Hamba, raja bangsa Jin dari Brunei Darussalam,”
“Ada keperluan apa?”
“Saya ingin menakluk dan menjadi bawahan kekuasaan kyai..”
“Boleh…, tapi harus menjadi muslim di bawahku.”
“Iya saya siap sedia.”
Lalu ku ajari membaca dua kalimat sahadat.
“Maaf kyai, boleh saya tinggal di sini.”
“Iya, tapi saya ingin menjadi murid kyai yang taat, saya melihat semua jin di sini, semua begitu taat, wajah mereka memancarkan cahaya, dan mereka semua ku lihat bahagia, jadi membuat saya ingin bertempat tinggal di sini, bagaimana kyai, saya ingin mengabdikan diri pada kyai…”
“Jangan, kamu kembali saja ke Brunei, pimpin kerajaan jin di sana, sebagai bawahanku, lakukan ibadah yang taat.”
“Tapi kyai… saya cinta kyai… saya ingin mengabdi pada kyai..” kata raja jin Brunei sambil menangis.Wah, jin kok pada aleman kalau denganku.
“Kan sama saja, kamu di sana juga mengabdi padaku, memajukan Islam di sana juga sama, Islamkan dan sebarkan Islam kyai kepada semua rakyat jin di Brunei.”
“Besar harapan saya untuk selalu dekat dengan kyai, tapi kalau memang kyai menghendaki saya ke Brunei, saya turut perintah.” Raja jin Brunei segera berlalu pergi setelah meminta ijin sebentar tinggal di sudut majlis, untuk bisa menatapku agak lama, permintaannya kok ya aneh-aneh saja, lalu datang raja jin dari Mesir, dan Arab Saudi. Sampai datang raja segala raja jin yang sudah hidup sejak jaman nabi Adam.
“Siapa ini…?” tanyaku.
“Saya Mohammad Tolkhah, raja segalan jin, dari penjuru bumi, semua jin tunduk kepadaku, karena usiaku di atas nabi Adam.”
“Wah berarti sudah teramat tua sekali.”
__ADS_1
“Iya kyai…, tapi ilmuku tak ada seujung kuku dari ilmu kyai.”
“Wah, wah… jangan berlebihan seperti itu, malah aku tak ada ilmunya sama sekali.”
“Sudah ku kira jawaban kyai seperti itu…, kyai saya ingin menjadi bawahan kyai… bolehkan.”
“Ee ee.. raja Tolkhah, bukankah kamu raja segala jin di seluruh dunia, bagaimana mungkin akan menjadi bawahanku.”
“Kekuasaan kyai di atas saya, saya hanya raja jin di dunia, sementara kyai menjadi raja jin tuju lapis bumi, dan tuju lapis langit, sewajarnya kalau saya tunduk dan taat pada kyai, dan kalau boleh saya mohon diangkat kyai menjadi murid kyai..”
“Hahahaha… raja Tolkhah kan jin umurnya yang sudah ratusan juta tahun, bagaimana akan menjadi murid saya yang muda ini, hahahah nanti semua jin akan mentertawakan.”
“Tak ada jin yang berani mentertawakan kyai…”
“Wah, wah… aku ini orang biasa …”
“Tidak semua jin tau, jin yang mempunyai pandangan jauh, semua tau kyai siapa.”
“Memangnya aku siapa? Aku orang yang ndak punya apa-apa..”
“Saya tak boleh mengungkapkan siapa sebenarnya kyai… yang jelas semua tentara langit tunduk atas perintah kyai.”
“Wah, wah… jangan berlebih lah raja tolkhah..”
“Kyai saya siap diperintah sama kyai, kerajaan saya bersebelahan dengan raja jin Saudi Arabia, dekat di Masjidil Haram, jika kyai ke Makkah, akan kami sanggupi dan kami sediakan tempat yang mulia.”
“Tak usah berlebihan, saya hanya manusia biasa.”
“Benar apa kata semua raja jin yang bertemu denganku.”
“Apa kata mereka?”
“Kyai orang yang ilmunya sulit diukur, dan tak tau sampai di mana, sakti, menghadapi dukun jahat, dan menghadapi trilyunan juta milyar keroyokan jin, hanya dihadapi sendirian, tapi semua bisa dikalahkan, dan orangnya selalu merendah, bersahaja..”
“Weslah dipuji setinggi gunung begitu, nanti lalu jatuh sampai hancur…”
“Tidak kyai saya mengatakan apa adanya..”
“Sudah, jangan berlebihan.”
__ADS_1
“Silahkan kyai perintahkan apa, akan saya laksanakan, apa perlu, rumah kyai akan saya bawa ke Makkah, dan kyai tinggal di sana..”
“Ah tak usah… di sini saja..”