Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Ternyata Baru Sadar


__ADS_3

“Kenapa tak dari kemaren-kemaren dek Ian, dek


Ian, sudah habis air mataku…” kata bik Asiah,


masih menangis, dia melepaskan pelukannya,


kemudian mencium pipi kiri kananku, lalu


bersimpuh di tepi ranjang suaminya,


memegang erat tangan suaminya yang lemah. Baru sekarang


aku tau sebenarnya dalam tubuhku telah


mengalir ilmu pengobatan yang aku tak tau


bagaimana dan dari mana ilmu itu ada dalam


diriku. Aku masih berfikir ketika tiba-tiba


paman Muhsin menepuk pundakku,


“Itu bagaimana si Muhamad, semua orang


kuwalahan!” ku lihat wajah pamanku itu kawatir.


Memang Muhamad yang sedang kerasukan


benar-benar mengamuk, kursi meja pada patah, kang Wiji dan kang Nur yang ahli beladiri, serta


dua pemuda dimentalkan begitu saja, kang Nur


coba menerjang dengan menotok bagian-bagian tertentu dari tubuh Muhamad, tapi segala serangannya seperti mengenai batu, hingga jari-jarinya terasa nyeri. Bahkan kakinya ketika menendang kena ditangkap Muhamad, dan dia diputar bagaikan gasing, lalu tubuhnya dilempar,


untung kang Nur orangnya jago sehingga ketika


menghantam tembok ia dahulukan punggungnya,


dan ketika mental kembali dia berputar miring dan jatuh di tanah tangan dan kakinya menahan hempasan badannya.


“Hua haha ilmu kroco macam itu dibanggakan di depanku.”


kata Muhamad dengan suara dalam dan berat.


Kang Wiji pun tak mau kalah, dia maju


menyerang dengan bogem yang telah dilambari aji lebur sekti, tangannya yang besar berotot


menderu,, tapi plep!


Pergelangan tangannya dapat


ditangkap Muhamad.


Dan oleh Muhamad kepalan kang Wiji diadu dengan bogemnya . Dugh!


Kang Wiji menjerit, jari-jarinya seperti patah semua,lalu tangan kang Wiji yang masih digenggaman Muhamad itu diangsurkan ke mulutnya yang terbuka menganga,


“Sudah mateng huahahahaha..”


tangan kang Wiji digigit, aku sudah sampai disitu..


“Hentikan!!” bentakku tak sadar.


Muhamad kaget, tangan kang Wiji dilepaskan, yang segera dipeganginya dan wajahnya meringis-ringis,


sementara Muhamad melihatku, dia mundur-


mundur Takut,


Aku beranjak maju, dan


Muhammad mundur-mundur.


Untung saja aku mempunyai daya hayal yang tinggi karena setelah ku pelajari, ilmu dalam tubuhku ini perlu dibangkitkan dengan memerlukan daya hayal yang tinggi,


melihat Muhamad yang kerasukan


mundur-mundur takut padaku, bertambahlah


keberanianku,,

__ADS_1


Tanganku terangkat dengan jari telunjuk membuat coretan-coretan di udara


kearah tubuh Muhamad, setelah itu tapak


tanganku terbuka, kubayangkan aku menyedot


jin yang ada di dalam tubuh Muhamad,


Dengan menggunakan telapak tanganku, hasilnya tubuh Muhamad lemas menggelosor ke bawah, pertanda jin telah keluar.


Saat yang menegangkan telah berlalu,


Bibi Asiah tak menangis lagi, dan Muhamad juga telah sadar, sementara tak hentinya orang-orang memberikan ucapan selamat atas keberhasilanku mengobati.


Para tukang suwuk memuji-muji ilmu


yang ku miliki.


“Mas Ian, benar-benar luar biasa, belum pernah


saya melihat ilmu sehebat itu,


mengeluarkan jin dari seseorang tanpa jurus-jurus.” kata kang Nur.


“Ah jangan dilebih-lebihkan, biasa saja.”


jawabku yang memang belum tau pasti akan ilmu dalam tubuhku.


“Benar sampean kang Nur.” tandas paman


Muhsin, “Aku saja kalau mengeluarkan jin harus pakai sarat atau jurus tertentu, setidaknya harus pakai bacaan Ayat tertentu dari Alquran.”


kang Nur dan kang Wiji manggut-manggut. Kang


wiji nampak memegangi tangannya yang biru


lebam.


“Kenapa kang tangannya?”


“Ini mas tadi, beradu jotos dengan Muhamad


menahan sakit.


“Coba lihat.” tangan kang Wiji yang lebam segera


diangsurkan kepadaku.


“Saya akan coba obati, kalau sembuh ya syukur,


kalau tak sembuh ya sabar.” kataku, karena


sekalian mau mencoba ilmu yang ada di dalam


tubuhku.


Kusuruh kang Wiji meletakkan tangannya yang


lebam membiru di atas tapak tangan kiriku yang


terbuka, lalu tapak tangan kananku ku taruh di atas tangan kang Wiji, berjarak sepuluh sentian,


kubayangkan tenaga mengalir dari pusarku


hangat bergulung berkumpul di tapak tanganku, menyerbu masuk ke tangan kang Wiji mengangkut segala sakit derita, nyeri terangkat


seperti udara hitam berkumpul terangkat dan ku tangkap di tapak tanganku, kemudian kubuang.


“Sudah..!” kataku, sambil melepaskan penahanan napasku, semua mata yang memandang pun ikut


bernapas lega, yang saat aku mengobati kang


Wiji semua menatap tegang.


“Bagaimana kang rasanya?” tanyaku yang tak


yakin akan ilmuku sendiri.


Kang wiji menggenggam lalu membentangkan


jarinya, dilakukan berulang-ulang, “Sudah enak, tak sakit lagi.” katanya girang.

__ADS_1


“Ah yang benar kang?” kata kang Nur tak


percaya.


“Tadi apa yang kau rasakan, saat diobati?”


“Seperti banyak semut yang masuk ke dalam


tubuhku, lalu seperti ada yang terbetot keluar


dari tanganku, wah, makasih banyak mas


Febri…!” kata kang Wiji haru.


Malam itu aku benar-benar tak habis-habisnya


dipuji. Besoknya jadi pembicaraan di setiap mulut,


sekaligus menambah keyakinanku akan ilmu


pengobatan dari Kyai.


Dan di malam aku mengobati itu, dalam tidurku tiba-tiba aku mendengar ledakan teramat keras membahana.


Aku kaget dan terbangun. Betapa terkejutku,


karena kamarku penuh asap.


Dan ternit kamarku jebol. Yang lebih menakutkanku apa yang ku lihat..


Ku lihat tubuh yang teramat besar dalam


kamarku, aku beringsut mundur, melihat


penampakan yang memiriskan hati, tubuh yang tinggi besar sampai kepalanya tembus ke


internitku, padahal ternit dalam kamarku


tingginya empat meter dari tanah.


“Kau siapa?” tanyaku gemetar.


“Ampun tuan, mohon saya dilepaskan dari


belenggu ini tuan..!” kata suara mahluk besar itu


memelas, mengiba-iba.


Baru kuperhatikan tubuh mahluk besar itu terbelit-belit rantai yang hampir membungkus tubuhnya.


“Hei, siapa yang membelenggumu?” tanyaku


keheranan.


“Oh kenapa tuan lupa? Bukankah tuan yang


membelengguku? Huhuhu…, tolong tuan lepaskan saya, ampuni saya tuan, huhuhu…” kata mahluk itu


menangis.


“Hus..,cengeng, masak begitu saja nangis…” aku mulai berani.


“Tapi tuan, kalau belenggu ini tak dilepas, saya


akan sengsara seumur-umur, huhu…bagaimana kalau saya makan, bagaimana saya buang air besar, huhuhu…, bagaimana aku pipis? Tak ada yang memegangi, pasti kencingnya kemana-mana,.huhuhu…”


“Nanti dulu, nanti dulu.., aku mau melepaskanmu, tapi kau tunjukkan dulu asalmu dan kenapa


sampai di tubuh paman Mursid, awas jangan


bohong!!, udah jangan nangis…! Jadi jin cengeng


amat sih…” kataku agak jengkel juga karena jin


itu nangis hahahuhu.


“Tuan, aku ini adalah jin penghuni Telogo Wungu, daerah Pati, aku sampai di tubuh Mursid karena aku dikirim orang.”


“Dikirim lewat pos? atau paket kilat?”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2