
“Kamu siapa?” tanyaku pada jin.
“Saya pocong.” jawabnya.
“Kok pocong?”
“Ya bentukku pocong.”
“Bentuk kamu memang asli pocong apa bagaimana?”
“Pura-pura jadi pocong.”
“Ooo sebenarnya hanya pura-pura ya?”
“Iya..”
“Kok pura-pura, lalu bentuk aslimu apa?”
“Gak tau..”
“Lalu pakai putih-putih itu diambil dari mana?”
“Ya dari kain kafannya orang mati.”
“Untuk apa kok mengambil bentuk serupa
pocong?”
“Ya agar orang takut, hi hi hi…”
“Masih banyak yang di dalam yang berupa
pocong?”
“Masih banyak…”
“Berapa?”
“Masih terlalu banyak, sampai-sampai aku tak bisa menghitung.”
Ku tarik keluar saja jinnya, karena sudah tidak ada dialog yang bisa diambil pelajaran.
Segera ganti lagi jin baru
“Kamu siapa?” tanyaku.
“Saya kuntilanak..” jawab nya jin yang ku ajak bicara.
“Perempuan kalau begitu?”
“Ya saya perempuan.”
“Kok kamu sampai masuk di dalam?”
“Saya dikirim, saya sendiri tak tau kenapa saya dikirim di dalam tubuh gadis ini.”
“Apa untuk menaklukkan hati gadis ini?”
“Ya…”
“Memakai amalan?”
“Ya, yang mengirimku dukunnya, tapi anaknya disuruh mengamalkan amalan.”
“Amalan apa?”
“Tak tau.” jawab kuntilanak.
“Apa jaran goyang?”
“Ya seperti itu.”
“Trus kamu asalnya tinggal di mana?”
“Saya tinggal di bambu di pinggir sungai, dekat jembatan.”
“Daerah mana?”
__ADS_1
“Warung asem.”
“Bagaimana prosesnya kok kamu dikirim ini?”
“Saya ditangkap sama dukunnya, lalu saya dimasukkan kedalam botol, banyak juga teman-teman saya dari tempat-tempat angker yang diambil oleh dukun itu dari segala penjuru mana saja yang dianggap angker, lalu dimasuk- kan ke dalam botol, nanti kami akan dikirim kalau ada orang yang minta pada dukun itu untuk dikirim pada seseorang.”
“Kamu muslim?”
“Saya muslimah.” jawab kuntllanak.
“Coba baca fatekhah…”
Dia mulai membaca fatekhah sampai selesai.
“Kamu muslim kok mau dikirim untuk menjahati orang?”
“Saya tidak berdaya.”
“Jadi kamu tak bisa menghindari untuk tidak ditarik ke dalam botol, dan dikirim?”
“Ya saya tak bisa menghindar, karena saya diberi makan.”
“Apa makanmu?”
“Kembang.”
“Apa semua temanmu, makananya kembang semua?”
“Tidak, ada yang makan pasir, tanah, lumut.”
“Kok pakaianmu itu warnanya putih, ngambil dari mana kok gak warnanya merah?”
“Hihihihi dari kain kafan orang yang meninggal.”
“Dijahitkan di mana?”
“Ya gak dijahitkan lah…”
“Apa gak lepas kalau dipakai, jadi dipakai kemulan saja begitu.”
“Ya tidaklah, masak dari kapur, nanti perih, ya dari tepung singkong,”
“Nyuri ya singkongnya?”
“Hihihi… tau saja..”
“Kok memakai wajah yang rusak ada darahnya begitu? Maksudnya apa?”
“Ya saya kan dulunya dari orang yang ke- celakaan, meninggal karena ketabrak mobil di jembatan, perempuan hamil yang melewati jembatan, lalu ketabrak mobil dan mati.”
“Coba pandang wajahku..”
“Ampun panas, maaf… ampun, saya bohong, itu cuma serita akal-akalan yang saya buat, agar orang mengira saya arwah penasaran.”
“Jangan bohong di depanku..”
“Ya saya tak berani. Saya dikeluarkan saja.”
Maka kuntilanak itu saya keluarkan, dan berganti dengan jin yang lain, sampai 3000an lebih jin, sehingga sampai seminggu lebih Yaya harus menginap di majlis. Walau memakan waktu lama, akhirnya pengeluaran jin pun sampai tuntas, yang heranku, kenapa jinnya ada yang masuk pada sebuah batu kerikil di kamarku, pernah aku heran waktu guruku pernah memberiku batu kerikil kecil sebesar jempol tangan, batu itu tak ada bagus- bagusnya sama sekali, karena sebagaimana batu kerikil biasa, tapi karena pemberian guru- ku, ya batu kerikil itu ku simpan, sebagai rasa takdzim pada guruku, pas banyak jin ada di tubuh Yaya, ku ambil batu, karena aku sendiri tak tau sama sekali soal batu, entah batu untuk bangunan atau batu mulia, di mataku tetap sama, walau secara lahiriyahnya satu batu biasa dan yang satu batu mulia, yang warnanya menurut sebagian orang ada keindahannya, ya di mataku gak ada yang indah.
Aku ingat kadang di saat-saat tertentu, guruku
sangat menyukai batu dan suka membuat mainan dari batu, batu dikumpulkan yang indah dan aku sama sekali tak ada ketertarikan ingin tau, karena memang tak tertaik dengan batu, batu ku tunjukkan pada salah satu jin yang ada di dalam tubuh Yaya.
“Ada yang tau soal batu tidak jin yang di dalam?” Tanyaku, dengan nada rendah, karena kami walau mereka yang di dalam adalah jin, kami sudah seperti teman saja.
“Sebentar saya tanyakan.”
Lalu ku tunggu Yaya yang tengah dikuasai jin terdiam, mungkin jin di dalam pada mencari yang tau soal batu,
“Saya tau…” suara salah satu jin.
“Coba lihat batu ini…? Apa isinya, ada gak isinya?” tanyaku.
“Wah berat sekali batu ini.”
“Apa ada isinya?”
__ADS_1
“Iya ada… hah kenapa teman-temanku yang kemarin di dalam tubuh ini dan sudah keluar, kenapa ada di dalam batu ini..”
“Yang benar?”
“Iya benar… mereka pada berpegangan pada besi.”
“Besi? Besi apa?”
“Besi penjara… di dalam ada penjaranya dan mereka semua di dalam penjara,”
“Apa benar seperti itu?”
“Benar kyai, saya tak berani membohongi kyai..”
“Jadi teman-temanmu di dalam?”
“Iya.”
“Apa kamu mau ku masukkan ke dalam?”
“Jangan kyai… saya dikembalikan saja pada yang mengirim saya..”
“Untuk apa?”
“Ya biar saya hajarnya biar kapok.”
“Ya sudah, ku keluarkan..”
maka jin segera ku keluarkan.
Kejadian ribuan jin ini, banyak sekali ku ambil manfaat, dan pelajaran, juga sangat baik ku pakai mengetes murid-muridku yang baru menerima kunci doa, setelah menyelesaikan puasa 41 harinya, sehingga bisa tidak ilmunya dipakai, ku tes dengan ku suruh menarik jin dalam tubuh dan alhamdulillah semua yang ku tes memuaskan, dan ilmunya dapat dipakai. Setelah pengeluaran jin selesai, dan Yaya sudah sehat seperti sedia kala, dia mulai pulang, dan bekerja di pabrik lagi, tapi baru bekerja di pabrik, dia sudah kemasukan jin kiriman lagi, padahal rumah Mbak Sun sudah dipagar, cuma karena magarnya ditancap di dinding, jin yang di dalam ditanya, kenapa bisa masuk? Mereka menjawab, bahwa masuk lewat bawah tanah.
Lagi-lagi ku keluarkan jin yang masuk, sekali waktu ku tanya, kadang ku suruh melihat ada
tidaknya jin di dalam tubuh tamu yang datang,
juga kadang jika jinnya bisa ilmu urat, ku suruh
mengobati orang yang salah urat, sebelum ku
keluarkan, jinnya sendri sebenarnya gak mau
dikirim, tapi mereka tak berdaya, bahkan itu dukun sebenarnya kata jinnya tak mau lagi mengirim, tapi karena di bayar mahal, dan jika
tidak bekerja jadi dukun, yang dimakan tidak
ada, ya terpaksa tetap saja dijalankan profesi
dukun, dan kata jinnya, sebenarnya si dukun sudah terlentang, tak berdaya dan berulangkali muntah darah, serta badannya sakit, tapi ya
karena butuh obat terpaksa nerima dibayar dan
menjalankan tugas mengirim jin lagi.
Aku mengambil hikmahnya saja, pada kejadian
yang terjadi, ambil manfaatnya, berpikir tentang manfaat, ada kejadian kesurupan massal di MTS Wali Songo, awalnya begini, anak MTS ada
kegiatan biasa, setiap hari jum’at mengadakan pembacaan sholawat di salah satu siswa, nah
kebetulan pas saat itu ada sebuah jembatan yang diperbaiki, yang dekat dengan sekolah, orang awam juga tak tau kalau di jembatan itu
ada kerajaan jinnya, karena jembatannya diperbaiki, dan otomatis kerajaan yang di
jembatan itu ambruk, maka jinnya pada marah,
dan merasuki pada anak sekolah yang kerasukan.
Pas kerasukan terjadi di tempat rumah siswa
yang dipakai baca sholawat bersama, maka
terjadilah ramai orang kampung menonton, biasa setiap ada kejadian orang yang merasa punya ilmu, ingin menunjukkan punya ilmu, lantas eksien, ya ada yang kyai, guru silat, sesepuh desa, bahkan para dukun ramai ingin
menunjukkan kebisaannya mengeluarkan jin, ada yang dengan main pencak dulu selama seperempat jam, baru mengeluarkan jin, ada yang mengambil air, lalu duduk bersila membaca yasin, ditiupkan air, lantas air disemburkan ke yang kerasukan, ada juga yang sholat dulu, lalu mengeluarkan jin, semua memakai cara-cara masing-masing bahkan....
Bersambung....
__ADS_1