Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Lanjut Ngedan


__ADS_3

Aku terus berjalan, hanya berhenti, kalau waktu sholat datang, mampir ke masjid, dan menjalankan sholat, lalu berjalan lagi.


Malam telah tiba, aku yang tau jalan, sama sekali tak takut tersesat, karena tak punya tujuan,,


Jadi apa yang harus disesatkan. Aku tak punya arah, jadi tak takut kehilangan arah, ku


langkahkan saja kaki yang teramat lelah.


Ketika waktu isyak tiba aku coba mencari masjid, ketika bertanya pada orang, bukanynya dijawab, tapi malah ditinggal pergi, endingnya aku akhirnya menemukan mushola kecil, pas ada beberapa orang sedang melakukan sholat berjamaah, aku segera ambil wudhu dan ikut dalam barisan jamaah, perut yang seharian ku isi air saja, terdengar berkrucukan saat aku sedang sujud.


Setelah sholat, semua orang pergi, tinggal aku sendiri, mengenang satu-satu perjalanan hidupku, sambil terus memutar tasbih, menuntaskan wiridku.


Dan tanpa sadar aku pun roboh tertidur, padahal nyamuk-nyamuk besar mengeroyok dan berpesta diatas kulitku tapi tak menggemingkan tidurku.


Kira-kira jam 2 malam aku terbangun, karena


dingin yang menusuk tulang, tapi aku kaget,


karena telah berselimut, dan di sampingku ada obat nyamuk, pasti ada orang yang


menyelimutiku saat aku lelap, aku pun pergi ke tempat wudhu.


Dan menjalankan sholat malam, lalu wirid sampai tertidur lagi, waktu subuh terbangun, saat adzan dikumandangkan, dan


mengikuti sholat subuh, lalu melakukan wirid


biasa setelah subuh.


Setelah wirid, matahari telah meninggi, aku keluar dari mushola, di depan mushola ada gadis sekitar umur 17 tahun, tengah menyapu halaman.


“Mas, itu ketela goreng dan kopinya dimakan,”


kata gadis manis itu, sambil menunjukkan ketela goreng, dan segelas kopi hangat.


“Wah, makasih mbak, jadi ngrepotin aja.” kataku berbasa basi.


Ah tanggungan dari Alloh, gak boleh ditolak, akupun lahap ketela, wah sayang tak ada rokok, yah kenapa, sejak kemaren aku lupa ngumpulin uthis, untuk sekedar ngerokok, tak lama setelah makan aku pun pamitan melanjutkan perjalanan.


Kembali aku melangkah dan melangkah, cuma kali ini dengan harapan baru, harapan nemuin uthis, atau puntung rokok, harapan baru ini cukup membuatku sibuk, apa sih berharganya puntung rokok, cuma mungkin karena ada unsur kepentingan dunia, jadi membuatku benar-benar sibuk.


Yah aku kadang sibuk mengikuti seseorang yang sedang merokok sambil berjalan. Terus ku kuntit kemanapun orang itu pergi, ku ikuti masuk gang dan jalan-jalan kecil, sampai orang itu membuang puntung rokoknya, yah kalau ternyata puntung yang di buang kecil, kadang malah sampai habis, aku menyumpah “pelit amat, kenapa gak dimakan sekalian gabusnya ditelan.” kataku jengkel.


Dan kalau puntungnya panjang, aku seperti


menemukan bongkahan emas. Begitulah terus. Aku betapa sibuknya, cuma karena puntung.


Tak terasa telah seharian aku berjalan, dan


sampai di daerah pinggiran hutan, kubaca tulisan yang terpampang di regol desa,


SELAMAT DATANG DI KEDUNG TUBAN.


Segera kucari masjid, tak begitu susah, karena suara adzan yang berkumandang, dan aku pun pergi ke masjid, mengikuti sholat berjama’ah, mungkin nanti malam bermalam di masjid ini, batinku, selesai sholat aku pun duduk di emperan masjid, ku ambil satu puntung rokok dan kunyalakan, dengan kenikmatan yang tersisa, inilah yang paling nikmat, menikmati ketidak punyaanku, kemiskinan tiada tara. Kepapaan tiada duanya.


Tapi aku tak kawatir, dan tak takut, apapun yang menimpaku, terburuk sekalipun, aku akan terima dengan kelapangan dada. Aku tak takut karena kehilangan jabatan, karena aku tak punya kedudukan apa-apa, walaupun cuma jadi hansip pun enggak,,


Aku tak takut kehilangan harta benda, karena


uang cuilan satu rupiah pun tak punya, aku


benar-benar tak punya apa-apa yang harus

__ADS_1


dibanggakan.


Lapar? Haus? Aku telah yakin Alloh akan menanggungku, takut apa lagi?


Untuk menuju Alloh, ikuti sungai-sungai dzikir,


walau menabrak batu kebosanan, aliran itu


adalah sabar. Lintasi gersangnya padang puasa.


Yang panasnya luruhkan hati yang melata.


Rumputnya kadang kita cintai. Karena tumbuh


dari kesenangan hati. Basuh jubahnya dengan


istigfar. Kuatkan dengan sholawat.


Lailahailallah,


Terbawa ke satu muara, ketenangan jiwa yang


merana, khauqolah, tak ada yang mampu


bergerak, dan tak ada yang dapat berhenti,


keculi atas idzin-Nya. Tak ada yang lebih


menyenangkan dari pada tenggelam di samudra makrifat.


Bercumbu dengan kekasih yang telah


lama dirindukan. Ah kenapa aku malah menikmati puntung rokok, ah syetan telah hampir menundukkanku, dengan barang yang sebenarnya dibuang oleh orang lain,


Aku segera membuang semua puntung


rokok yang seharian ini ku kumpulkan dengan


kecintaan dunia, dan segera mengambil air


wudhu di samping masjid, kemudian duduk


bersila memulai wirid-wiridku, mungkin baru


beberapa jam, kudengar suara ramai di depan


masjid, laki-laki dan perempuan, lalu salah seorang menghampiriku.


“Maaf mas, mas ini harus menghadap kepala


desa.” kata seorang pemuda umur 17an.


“Lho ada apa?” kataku heran.


“Wah kampung kami, sedang rawan, banyak


maling, kami takut nanti mas disangka maling.”


“Oo.. begitu, ya udah mari menghadap.” kataku


sambil beranjak berdiri.

__ADS_1


Kemudian diikuti sekitar 15 pemuda pemudi, ku dengar bisik-bisik, ada beberapa yang menganggapku gila, ya tak salah memang saat itu, aku sendiri tak tau persis keadaanku, sudah beberapa hari tak mandi, rambutku juga panjang terurai, tak pernah kucuci, kulitku pasti hitam berdebu, juga pakaianku yang pasti entah bagaimana kotornya, karena tidur di sembarang tempat.


Dianggap gila? Itulah yang ku harap,atau mungkin aku lebih tepatnya ingin dianggap


bukan dari bagian dunia.


Sampai di tempat kepala desa aku pun ditanya


ini, itu, ditanya KTP, ditanya langsung dicocokkan dengan KTP-ku, setelah itu aku diajak nonton latihan silat Kera S****.


Aku santai saja duduk di kursi, sampai seorang gadis umur 18 tahun menghampiriku,


“Mas, ayo ke rumah makan dulu.” kata gadis itu, yang segera ku ikuti dari belakang, sampai di


rumah kepala desa lagi, telah tersedia masakan opor ayam.


Aku pun disuruh duduk, ditinggal


makan sendiri. Malam itu, aku menginap di rumah kepala desa, tak ada yang istimewa, besoknya aku pamitan melanjutkan perjalanan.


Jalan kaki, menulusuri jalan, tanpa tujuan. Tapi baru satu kilometer, berjalan, tiba sebuah sepeda motor Astrea berhenti, seorang gadis berseragam sekolah pengendaranya.


Aku tak perduli, jalan saja, tapi gadis itu memanggilku,


“Mas Ian…” aku pun terpaksa berhenti, ternyata


anak kepala desa yang waktu berkenalan


denganku namanya Maftukhah.


“Eh embak…” kataku dengan panggilan


menghormati, walau umurnya lebih muda dariku.


“La kok jalan kaki mas? Kenapa tak naik mobil


aja?” tanyanya kawatir.


“Sebenarnya mau kemana sih?”


“Iya mbak, jalan kaki aja, dan aku tak punya


tujuan.” jawabku agak lama, karena bingung, mau


jawab bagaimana.


“Tak punya uang ya?” wah nanyanya yang enggak aja, mau ku jawab punya, jelas aku bohong, mau ku jawab tak punya, aku diam aja. Dia menyodorkan uang 20 ribuan,


“Ini ambil..!” katanya, tapi tak ku ambil,


“Kurang?” katanya, wah kenes juga nih gadis.


“Bukan, bukan itu maksudku, tak usah… aku…”


aku jadi bingung. Dan dia sudah memasukkan


uang ke sakuku. Yah udahlah dari pada gontok-


gontokan tak ada ujung pangkalnya.


“Ayo naik ke motor, aku bonceng…, atau kamu

__ADS_1


yang di depan, aku dibonceng…


Bersambung....


__ADS_2