
Aku terus berjalan, hanya berhenti, kalau waktu sholat datang, mampir ke masjid, dan menjalankan sholat, lalu berjalan lagi.
Malam telah tiba, aku yang tau jalan, sama sekali tak takut tersesat, karena tak punya tujuan,,
Jadi apa yang harus disesatkan. Aku tak punya arah, jadi tak takut kehilangan arah, ku
langkahkan saja kaki yang teramat lelah.
Ketika waktu isyak tiba aku coba mencari masjid, ketika bertanya pada orang, bukanynya dijawab, tapi malah ditinggal pergi, endingnya aku akhirnya menemukan mushola kecil, pas ada beberapa orang sedang melakukan sholat berjamaah, aku segera ambil wudhu dan ikut dalam barisan jamaah, perut yang seharian ku isi air saja, terdengar berkrucukan saat aku sedang sujud.
Setelah sholat, semua orang pergi, tinggal aku sendiri, mengenang satu-satu perjalanan hidupku, sambil terus memutar tasbih, menuntaskan wiridku.
Dan tanpa sadar aku pun roboh tertidur, padahal nyamuk-nyamuk besar mengeroyok dan berpesta diatas kulitku tapi tak menggemingkan tidurku.
Kira-kira jam 2 malam aku terbangun, karena
dingin yang menusuk tulang, tapi aku kaget,
karena telah berselimut, dan di sampingku ada obat nyamuk, pasti ada orang yang
menyelimutiku saat aku lelap, aku pun pergi ke tempat wudhu.
Dan menjalankan sholat malam, lalu wirid sampai tertidur lagi, waktu subuh terbangun, saat adzan dikumandangkan, dan
mengikuti sholat subuh, lalu melakukan wirid
biasa setelah subuh.
Setelah wirid, matahari telah meninggi, aku keluar dari mushola, di depan mushola ada gadis sekitar umur 17 tahun, tengah menyapu halaman.
“Mas, itu ketela goreng dan kopinya dimakan,”
kata gadis manis itu, sambil menunjukkan ketela goreng, dan segelas kopi hangat.
“Wah, makasih mbak, jadi ngrepotin aja.” kataku berbasa basi.
Ah tanggungan dari Alloh, gak boleh ditolak, akupun lahap ketela, wah sayang tak ada rokok, yah kenapa, sejak kemaren aku lupa ngumpulin uthis, untuk sekedar ngerokok, tak lama setelah makan aku pun pamitan melanjutkan perjalanan.
Kembali aku melangkah dan melangkah, cuma kali ini dengan harapan baru, harapan nemuin uthis, atau puntung rokok, harapan baru ini cukup membuatku sibuk, apa sih berharganya puntung rokok, cuma mungkin karena ada unsur kepentingan dunia, jadi membuatku benar-benar sibuk.
Yah aku kadang sibuk mengikuti seseorang yang sedang merokok sambil berjalan. Terus ku kuntit kemanapun orang itu pergi, ku ikuti masuk gang dan jalan-jalan kecil, sampai orang itu membuang puntung rokoknya, yah kalau ternyata puntung yang di buang kecil, kadang malah sampai habis, aku menyumpah “pelit amat, kenapa gak dimakan sekalian gabusnya ditelan.” kataku jengkel.
Dan kalau puntungnya panjang, aku seperti
menemukan bongkahan emas. Begitulah terus. Aku betapa sibuknya, cuma karena puntung.
Tak terasa telah seharian aku berjalan, dan
sampai di daerah pinggiran hutan, kubaca tulisan yang terpampang di regol desa,
SELAMAT DATANG DI KEDUNG TUBAN.
Segera kucari masjid, tak begitu susah, karena suara adzan yang berkumandang, dan aku pun pergi ke masjid, mengikuti sholat berjama’ah, mungkin nanti malam bermalam di masjid ini, batinku, selesai sholat aku pun duduk di emperan masjid, ku ambil satu puntung rokok dan kunyalakan, dengan kenikmatan yang tersisa, inilah yang paling nikmat, menikmati ketidak punyaanku, kemiskinan tiada tara. Kepapaan tiada duanya.
Tapi aku tak kawatir, dan tak takut, apapun yang menimpaku, terburuk sekalipun, aku akan terima dengan kelapangan dada. Aku tak takut karena kehilangan jabatan, karena aku tak punya kedudukan apa-apa, walaupun cuma jadi hansip pun enggak,,
Aku tak takut kehilangan harta benda, karena
uang cuilan satu rupiah pun tak punya, aku
benar-benar tak punya apa-apa yang harus
__ADS_1
dibanggakan.
Lapar? Haus? Aku telah yakin Alloh akan menanggungku, takut apa lagi?
Untuk menuju Alloh, ikuti sungai-sungai dzikir,
walau menabrak batu kebosanan, aliran itu
adalah sabar. Lintasi gersangnya padang puasa.
Yang panasnya luruhkan hati yang melata.
Rumputnya kadang kita cintai. Karena tumbuh
dari kesenangan hati. Basuh jubahnya dengan
istigfar. Kuatkan dengan sholawat.
Lailahailallah,
Terbawa ke satu muara, ketenangan jiwa yang
merana, khauqolah, tak ada yang mampu
bergerak, dan tak ada yang dapat berhenti,
keculi atas idzin-Nya. Tak ada yang lebih
menyenangkan dari pada tenggelam di samudra makrifat.
Bercumbu dengan kekasih yang telah
lama dirindukan. Ah kenapa aku malah menikmati puntung rokok, ah syetan telah hampir menundukkanku, dengan barang yang sebenarnya dibuang oleh orang lain,
Aku segera membuang semua puntung
rokok yang seharian ini ku kumpulkan dengan
kecintaan dunia, dan segera mengambil air
wudhu di samping masjid, kemudian duduk
bersila memulai wirid-wiridku, mungkin baru
beberapa jam, kudengar suara ramai di depan
masjid, laki-laki dan perempuan, lalu salah seorang menghampiriku.
“Maaf mas, mas ini harus menghadap kepala
desa.” kata seorang pemuda umur 17an.
“Lho ada apa?” kataku heran.
“Wah kampung kami, sedang rawan, banyak
maling, kami takut nanti mas disangka maling.”
“Oo.. begitu, ya udah mari menghadap.” kataku
sambil beranjak berdiri.
__ADS_1
Kemudian diikuti sekitar 15 pemuda pemudi, ku dengar bisik-bisik, ada beberapa yang menganggapku gila, ya tak salah memang saat itu, aku sendiri tak tau persis keadaanku, sudah beberapa hari tak mandi, rambutku juga panjang terurai, tak pernah kucuci, kulitku pasti hitam berdebu, juga pakaianku yang pasti entah bagaimana kotornya, karena tidur di sembarang tempat.
Dianggap gila? Itulah yang ku harap,atau mungkin aku lebih tepatnya ingin dianggap
bukan dari bagian dunia.
Sampai di tempat kepala desa aku pun ditanya
ini, itu, ditanya KTP, ditanya langsung dicocokkan dengan KTP-ku, setelah itu aku diajak nonton latihan silat Kera S****.
Aku santai saja duduk di kursi, sampai seorang gadis umur 18 tahun menghampiriku,
“Mas, ayo ke rumah makan dulu.” kata gadis itu, yang segera ku ikuti dari belakang, sampai di
rumah kepala desa lagi, telah tersedia masakan opor ayam.
Aku pun disuruh duduk, ditinggal
makan sendiri. Malam itu, aku menginap di rumah kepala desa, tak ada yang istimewa, besoknya aku pamitan melanjutkan perjalanan.
Jalan kaki, menulusuri jalan, tanpa tujuan. Tapi baru satu kilometer, berjalan, tiba sebuah sepeda motor Astrea berhenti, seorang gadis berseragam sekolah pengendaranya.
Aku tak perduli, jalan saja, tapi gadis itu memanggilku,
“Mas Ian…” aku pun terpaksa berhenti, ternyata
anak kepala desa yang waktu berkenalan
denganku namanya Maftukhah.
“Eh embak…” kataku dengan panggilan
menghormati, walau umurnya lebih muda dariku.
“La kok jalan kaki mas? Kenapa tak naik mobil
aja?” tanyanya kawatir.
“Sebenarnya mau kemana sih?”
“Iya mbak, jalan kaki aja, dan aku tak punya
tujuan.” jawabku agak lama, karena bingung, mau
jawab bagaimana.
“Tak punya uang ya?” wah nanyanya yang enggak aja, mau ku jawab punya, jelas aku bohong, mau ku jawab tak punya, aku diam aja. Dia menyodorkan uang 20 ribuan,
“Ini ambil..!” katanya, tapi tak ku ambil,
“Kurang?” katanya, wah kenes juga nih gadis.
“Bukan, bukan itu maksudku, tak usah… aku…”
aku jadi bingung. Dan dia sudah memasukkan
uang ke sakuku. Yah udahlah dari pada gontok-
gontokan tak ada ujung pangkalnya.
“Ayo naik ke motor, aku bonceng…, atau kamu
__ADS_1
yang di depan, aku dibonceng…
Bersambung....