
“Iya, aku tau, tapi di Saudi seperti itu tak ada,
kamu memiliki ilmu haq, tapi di sini, Saudi,
seperti itu tak ada, pemerintah mempunyai
mazhab wahabi, yang bersandar pada ibadah
yang logika, masuk akal, dan wajar, jadi kalau
minta hujan ya pakai istisqo’, do’a itu ada kalanya diijabah di akherat sana.”
“Hehehe… aneh.”
“Apanya yang aneh?” kejarnya
“Coba bayangkan, kalau semua do’a minta hujan diijabah di akherat, apakah akheratnya ndak kebanjiran, apa itu namanya tak aneh, di akherat bukannya orang yang masuk surga sudah disediakan semua kelengkapannya,?
Kalau berdo’a minta rizqi diijabah di sana, apa ndak aneh? Di surga bukannya ndak ada orang sakit? Kalau do’a minta disembuhkan diijabah di sana, apa ndak aneh?” kilahku.
“Wah kamu terlalu mengerti banyak, itu akan
membahayakanmu.”
“Lhoh bukannya itu hal yang masuk akal.” sambungnya
“Ijabah Alloh itu tidak mesti dalam bentuk
sesuatu yang kita minta.” jelas Mutowak.
“Iya tapi Alloh kan tidak terhalang dalam
memberi ijabah.” kataku.
“Sudah-sudah aku mumet bicara denganmu,
hanya pesanku, jangan kamu perlihatkan
kelebihan yang kamu miliki, kepada orang lain,
itu demi keselamatanmu.”
“Baik-baik…” jawabku.
“Damai.” kata dia mengulurkan tangannya.
“Damai.” jawabku menyalaminya.
Skipp,,next..
Semua orang berpegang pada keyakinan masing-masing, sekalipun kita yakin seyakin yakinnya kepada apa yang kita yakini, maka itu untuk kita sendiri, dan semua orang berhak ada dalam apa yang diyakini, selama apa yang diyakini itu tidak mencedrai keyakinan orang lain.
Sesuatu apapun itu menjadi salah atau
kebenaran sekalipun jadi salah jika dipaksakan kepada orang lain.
Kecuali itu telah disetujui menjadi hukum suatu negara, maka negara berhak memaksakan kehendaknya pada rakyatnya. Jika rakyat tak mau, turunkan saja pemimpin yang memaksakan kehendaknya pada rakyat itu.
Sebagai pribadi, maka tak selayaknya kita
memaksakan kehendak atau keyakinan kita
kepada orang lain, sekalipun apa yang kita yakini itu telah terbukti kebenarannya, cukup "wa’mur bil urfi wanha ‘anil mungkar," memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran, hidayah atau petunjuk itu mutlak di tangan Alloh,
Jika kita telah memaksakan keyakinan diri pada orang lain, maka berarti kita telah berusaha menjadi TUHAN.
Aku amat percaya, jika seseorang berusaha
menjadi Tuhan, yaitu yang memaksakan
kehendak pada orang lain, supaya mengikuti apa yang diperintahkan dan dikehendakinya, maka selamanya tak akan sukses,
Sejak dulu banyak orang yang berusaha menekankan dan memaksakan kehendaknya pada orang lain, juga sejak dulu tak ada satupun yang berhasil, malah akan menimbulkan pertengkaran dan perselisihan
__ADS_1
baru, permusuhan yang tiada ujung pangkalnya.
Menurutku kita ikuti saja perintah Alloh, Alloh
memerintahkan kita kepada kebenaran, maka
kebenaran itu kita sampaikan, tak perlu
menggurui, tak perlu menunjukkan diri berilmu, bahkan kadang kita tak perlu berbicara lebih,
Cukup menjadi contoh dan mencontohkan, "lisanul khal afsokhu min lisanil maqol," lisannya perbuatan itu lebih fasih berbicara dari lisan ucapan.
Kejernihan hati itu akan berimbas pada orang
yang memiliki kejernihan itu, dan berimbas pada orang yang melihat, suatu ketenangan akan merambat menjalari hati siapa saja yang
bertemu dengan orang yang kejernihan hati,
seperti orang yang berdiri di tepi danau, dan
akan merasa tenang ketika melihat danau yang tenang, angin yang lembut menyegarkan menerpa pipi, dan damai dengan sendirinya akan merasuk ke hati, walau dia tak menyentuh danau yang tenang itu.
next...
Hari-hari biasa, jika sudah malam, kamarku
sering didatangi teman-teman yang sekedar
nongkrong, duduk ngobrol, juga banyak yang
belajar internet gratis.
Yatno termasuk yang sering main ke kamarku,
“Kamu punya masalah ya No..?” tanyaku suatu
hari.
“Kok tau kang?” tanya Yatno heran.
sumpek, dan suntuk.” jawabku.
“Aku mau nanya soal perempuan kang…, kalau
boleh.” kata Yatno.
“Lhoh bukannya kamu sudah punya anak bini?”
“Iya kang…, tapi aku sudah gak kumpul, dan aku punya pacar baru..”
“Wah jangan teruskan No…, percayalah kamu
akan menyesal nantinya.” jelasku.
“Wong aku cuma bantu kang…”
“Hahaha… mbantu? Aah gak usahlah banyak
alasan, aku tau semua, pokoknya ingat kata-
kataku ini, kamu akan menyesal kalau kamu
teruskan, nanti kalau ada apa-apa jangan minta tolong padaku lo…”
“Wah mbok sampean jangan nakut-nakuti aku to kang.”
“Lho nakuti gimana to, sesuatu perbuatan itu ya No, jika keluar dari jalur kebenaran pasti akan
celaka, menyesal, makanya karena aku merasa kita senasib di Saudi ini, kamu aku ingatkan,
agar tak menyesal nantinya.”
“Ya… aku jalani dulu kang…”
__ADS_1
“Kamu ini kok ya lucu..”
“Lucu bagaimana kang.”
“Yang kamu jalani itu ya apa enaknya.”
“Maksudnya kang?”
“Kamu itu kan di sini, pacarmu di Indonesia, coba apa kamu nyentuh, nyium? La apa enaknya pacaran kayak gitu, kalau aku orang gak bener, ngapa juga pacaran kayak gitu dilakuin.”
“Ah ndak tau lah kang..”
Mungkin di Saudi itu orang kesepian, apalagi
kami yang terkungkung seperti di penjara,
melihat perempuan ibarat seperti barang langka, melihat perempuan mungkin kalau pas beruntung lagi pergi ke kota, itu juga perempuan yang cuma kelihatan matanya, tak tau kalau pas dibuka ternyata perempuan tua.
Kesepian itu merajut hati siapa saja, dan
memenjarakan kehendak, tentu saja seperti
nafsu itu seperti kuda yang lama dipasung di
kandangnya.
Bahkan sebelum aku mengajari cara
berinternetan gratis, semua orang pada
terseret pada penyakit telpon menelpon TKW,
tiap habis kerja semua pada sibuk mojok, telpon telponan dengan TKW, tak tau orangnya jelek, hitam, jerawatnya batunya numpuk, asal
terdengar suaranya yang merdu manja,
semalaman pun kuat bicara, dan kebanyakan gaji habis untuk telpon-telponan, aku melihat merasa kasihan juga, sebab jelas semua orang jauh-jauh ke Saudi bukan untuk enak-enakan rekreasi, tapi mau memperbaiki ekonomi, mau agar taraf hidup jadi lebih baik, lalu kok gaji habis cuma untuk nelpon cewek yang tak jelas juntrungnya,
Perawan apa janda juga masih tanda tanya, juga sudah tua atau muda juga masih perlu
dibuktikan, tapi semua karena kodrat, lelaki itu
membutuhkan wanita, dan wanita membutuhkan lelaki.
Walaupun aku tak sampai ikut-ikutan, dan
maklum akan kebutuhan teman-temanku mengisi sisi hatinya yang kosong, apalagi yang punya istri mau telpon istri di Indonesia juga mahal, aku maklum, kalau masih nelpon cewek, dan tidak nelpon kambing, kan kalau nelpon kambing jadinya kan kelainan, tapi aku juga kasihan mengingat tujuan ke Saudi adalah mendapat uang untuk memperbaiki taraf hidup, jadinya uang dihabiskan, malah ada yang sampai habis uang 3 ribu real perbulan, atau tujuh juta setengah dalam rupiah, uang segitu hanya dihabiskan untuk haha-hihi dengan cewek yang tak jelas.Sungguh ironi.
Kayak pemuda bernama Tony, dia selalu telpon-telponan di dekatku, sambil sayang-sayangan, suara perempuannya sih kedengaran manja merayu.
“He Ton…!”
“Apa mas…”
“Kamu itu telpan telponan tiap hari, apa sudah
lihat ceweknya?”
“Ya belum mas…”
“Setahuku cewek yang suaranya merdu begitu,
apalagi mau bicara gak genah jorok gitu,
biasanya jelek.”
“Ah mana mungkin jelek, la suaranya saja merdu gitu.” elak Tony.
“Lha kenapa kamu ndak minta fotonya,
dibuktikan kata-kataku, daripada sudah yang-
yangan gak karuan ceweknya malah lebih tuwir dari emakmu, apa ndak menyesal.”
__ADS_1
Bersambung.....