
“Bagaimana pak Bun? Sudah percaya dengan
ucapanku? Sudahlah kembali ke tujuan awal, ke Saudi itu untuk mencari uang, bukan untuk
menghabiskan uang untuk mengisi kesepian, yakalau sudah jauh-jauh ke Saudi, tapi malah
pulang tidak bawa uang, hanya habis untuk
telpon telponan, mending pulang, kerja kumpul keluarga, biar pendapatan sedikit asal berkah,
daripada sudah jauh anak istri, tapi malah hati
tak tenang, namanya tak kuat menghadapi cobaan dan ujian.”
Kataku dengan halus menjelaskan.
Ku lihat Pak Bun salah tingkah, ya tak apa-apa daripada terlanjur kemana-mana, aku harus menjelaskan kebenaran, semoga nantinya dijadikan pelajaran, walau aku sendiri tak berharap banyak, sebab kebanyakan manusia selalu kalah oleh nafsunya.
Hanya orang yang selalu sadar, dan ingat akan
selamat, eleng lan waspodo, sebab tipuan nafsu itu memang sulit dilawan, nafsu itu seperti duri dalam daging ikan, jika tanpa duri, nyatanya ikan itu butuh duri, tapi jika memakai duri maka ikan akan sulit jika mau dimakan.
Seperti tulang di tubuh manusia, jika tanpa
tulang, jelas manusia itu akan lemes seperti
plembungan kempes, jadi membutuhkan tulang, tapi karena ada tulang maka manusia jadi patah tulang dan kalau dipukul jadi benjut.
Nyatanya manusia itu butuh nafsu, agar punya
semangat hidup, mengejar bayangan yang ingin diraih, tapi juga karena nafsu manusia punya sifat pembunuh dan suka menghalalkan segala cara untuk meraih apa yang diharapkannya.
Suara hp Toni bunyi, dan dilihat ternyata
ceweknya itu yang nelpon, namanya sih keren,
Cintia, aku angkat.
“Halo mas Toni…” suaranya mendayu-dayu kayak ayunan.
“Maaf mbak ini siapa?” tanyaku.
“Mas Toninya ada?”
“Ada mbak, ini lagi dipegangi temen-temennya.”
jawabku asal sambil memberi isyarat jari agar
yang lain jangan ribut.
“Memangnya kenapa?” tanya dari Cintia.
“Gak tau mbak, tadi ngamuk-ngamuk, pelernya
sendiri dipukul-pukul pakai batu bata, sampai
setengah hancur.” jawabku ngawur.
“Ini juga dipegangi berusaha berontak, maunya katanya ngancurin pelernya sendiri, tadi sih bilangnya sedikit-sedikit katanya biar tak dimiliki perempuan, gak tau maksudnya apa, kasihan juga, dia jerit-jerit…” ku kasih isyarat pada yang lain agar membantu membuat suara gaduh.
“Pegangi tangannya, jangan sampai narik
pelernya lagi.” kata Arif.
“Kakinya-kakinya jangan dilepas…” kata Safi.
“Darahnya itu jangan netes di kasur.” kata Ibnu.
“Aduuuh, lepas… lepas… biar aku mati saja.” kata Toni.
Suasana jadi ramai, ada yang menggebrak meja, ribut amat, macam menangani orang gila yang lepas.
“Percuma aku hidup..” kata Toni.
“Awas dia mau gigit lidahnya, janggel giginya
__ADS_1
dengan sepatu.” kataku menambahi.
“Mas…! Maass.. ada apa sebenarnya?” kata Cintia panik.
“Ya gak tau tadi habis telponan kok jadi kayak
orang kerasukan, apa tadi nelpon minta apa ke
ceweknya gak dikasih, jadinya setengah edan
gini…. ambil tambang ikat di pohon..” kataku
seakan mengalami hal yang sebenarnya.
Di selani teriakan semua temanku ramai, padahal kami lagi nongkrong santai di dalam kamar.
“Iya… iya mas bilang aku mau ngasih apa yang dia minta, jangan menyiksa diri.” kata Cintia panik.
“Mau ngasih apa mbak?” tanyaku pura-pura tak tau.
“Udah pokoknya bilang sebentar lagi ku kirim..” jawab Cintia.
“Oh iya mbak akan ku kasih tau, he Ton… udah
jangan ngamuk, mbak ini mau ngasih apa yang kamu minta…. hee, jangan biarkan Toni pegang bata itu… ambilkan obat merah.” kataku. Dan segera
hape Cintia berbunyi tut tut tutttt panjang pertanda dimatikan.
Sungguh sandiwara yang aneh… memang sesuatu yang serba bayangan harus menyelesaikannya dengan bayangan.
Sepuluh menit kemudian ada kiriman MMS
masuk di hape Toni, dan tetap foto wanita itu
yang terkirim dalam keadaan telanjang.
“Nah sekarang bagaimana Ton, apa mau dilanjut, kamu kirim pulsa ke cewek itu, atau mau kamu nikahin atau bagaimana, sekarang sudah ku tunjukkan kenyataan.” kataku mengingatkan.
“Rasanya masih tak percaya kalau dia sejelek
lemes,
“Dunia itu tak sesederhana itu Ton, dalam agama saja seorang lelaki tak harus asal cantik saja mencari pendamping hidup, nabi mengajarkan, kalau mencari pendamping hidup yang bernasab, nasabnya baik, bukan anak zina yang gak jelas bapaknya, juga kalau bisa yang kaya, kalau bisa yang cantik, dan kalau bisa yang sempurna agamanya, kalau cantik terus ditinggal sebentar sudah dibawa kabur lelaki lain kan juga makan hati.
Jadi cari yang jelas jangan yang cuma lewat
hape, moroti uangmu, kan uang kamu bisa
dibelikan sawah, nanti pulang dari Saudi bisa
digarap sawahnya atau digarapkan orang lain,
atau dibelikan sapi atau kambing, disuruh
merawat orang, nanti kan bisa dijual, daripada
kamu kasihkan orang yang tak jelas gitu… apa
kamu mau di Saudi sampai tua?”
“Iya mas…, memang aku sudah habis banyak,”
“Iya kamu ngirimi dia pulsa tiap hari, dia jual
pulsa itu pada temannya di sana, insaf, mending nanti pulang cuti, nikah sekalian.” kataku.
“Iya makasih mas…, mungkin kalau mas tidak
mengarahkan, aku akan makin habis-habisan.”
kata Toni.
Next....
Pabrik semen tempat ku bekerja punya tiga cabang tempat, yang dua di daerah Bissa, dan Tahamah. Dan ketiga pabrik itu pekerja penulis kaligrafinya cuma aku, jadi suatu saat bisa saja aku dikirim ke Bissa atau ke Tahamah.
__ADS_1
Di Bissa menurut teman-temanku daerahnya dingin, jadi biasanya yang pulang dari sana bibir akan pecah-pecah, dan kulit ari pada
terkelupas, karena hawa dingin dan matahari
terik, jadi orang kayak kena penyakit panas
dalam.
Sedang di Tahamah adalah pabrik baru yang
baru dibangun, juga baru selesai, jadi amat
membutuhkan banyak tulisan kaligrafi, entah
untuk pintu kantor, nama-nama manager dan
nama vila, sampai papan rambu jalan.
Sepertinya dalam waktu dekat aku akan dikirim ke Tahamah, teman sepenerbanganku sudah
dikirim ke Tahamah, namanya juga pabrik baru, jadi segala fasilitas belum selengkap pabrik
lama, aku akan sering dikirim untuk mengerjakan pekerjaan kaligrafi, dengan sistim kirim danbalik lagi, tak seperti yang lain tinggal menetap.
Memang resiko pekerjaan, kerjaan ringan tapi
wira-wiri.
——————————————-
Muhsin datang ke kamar, sambil menenteng tas kresek.
“Ini mas ada titipan dari Mabrur, dia tadi siang
main ke tempatku, dan mengucapkan terima
kasih karena masalahnya sudah beres.” kata
Muhsin.
“Oo ya syukur kalau begitu.”
“Saya juga mau mulai puasa mas.”
“Ya bagus, puasa itu untuk tempat lahan ilmu,
puasa itu untuk membersihkan tanah hati, jika
mau ditanami ilmu, maka puasa, seperti tanah
mau ditanami padi maka dibersihkan dari rumput dan batu, juga dicangkul, agar didapat kesuburan yang didapat, biji-biji fadhilah dari Alloh akan tumbuh dengan subur, lalu disiram, dipupuk dan diistiqomahi dengan dzikir, kapan mulai puasa?” tanyaku kemudian.
“Baiknya kapan mas?” tanya Muhsin.
“Kapan saja tak masalah, ingat ikhlaskan dalam menjalankan, jangan punya pamrih apa-apa,
jangan punya keinginan pengen bisa sesuatu,
laksanakan dzikir karena memenuhi perintah
Alloh wadzkurulloha katsiro, ingatlah Alloh
sebanyak-banyaknya, banyak menurut Alloh tak terbilang menurut manusia, di akherat saja
sehari sama dengan lima ratus tahun di dunia,
dan jangan mengeluh waktu dzikir, jangan
membuat kalkulasi, dzikir segini selesai segini
jam, sebab dalam dzikir itu tak bisa dikalkulasi, hitungan penetapan itu hanya agar seseorang itu istiqomah, walau di dalamnya menyimpan banyak rahasia, tapi jangan mengkalkulasi dzikir dengan itungan jam dan ketetapan waktu,
Sebab Alloh sendiri membuat penekanan, wayarzuqhu min khaisu la yakhtasib, Alloh memberi rizqi dalam artian umum, sebab rizqi itu bukan cuma harta, tapi juga waktu, kesempatan dan berbagai macam, itu dengan arah yang tak dapat....
Bersambung....
__ADS_1