Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah kamu dustakan?”


__ADS_3

“Ah pedangmu tak mempan padaku..” katanya.


Lalu pedang ku arahkan ke lehernya.


“Ampuun.., ampun.. iya.. iya aku tak akan meyiksa istriku.”


“Benar…?”


“Benar.”


Pedang ku tarik baru ku masukkan dia sudah ngoceh lagi.


“Aah pedangmu tak mempan padaku..”


Segera pedang ku cabut lagi dan ku acungkan pada lehernya, dan dia minta ampun lagi, dan tak berdaya. Lalu pedang ku masukkan.


“Bagaimana?”


“Ya aku taat, aku tunduk,”


“Masih mau menyiksa istrimu?”


“Tidak.. saya ingin masuk Islam..”


“Benar?”


“Benar.. angkat aku jadi murid..”


“Tapi kamu harus taat dan tunduk padaku juga semua anak buahmu dan kerajaanmu.”


“Ya saya siap tunduk dan taat..”


“Ikuti bacaan sahadat yang ku ajarkan.”


“Ya..”


Lalu ku ajarkan dia dua kalimat sahadat, dan


setelah itu lukanya ku obati, dan dia mohon diri. Yaya mengejang lagi tanda ada jin masuk lain.


“Siapa?”


“Saya, Ratu..”


“Apa suamimu sudah tak menyiksamu?”


“Iya sudah tidak, saya rela kok disiksa, tak papa..”


“Ya tak bisa seperti itu..”

__ADS_1


“Siapa namamu…?”


Dia menyebutkan nama…


“Bagaimana sekarang soal tinggal anak buahmu?”


“Ya tak tau, karena istana kami sudah rusak.”


“Tinggal di rumah sebelahku itu mau.”


“Di mana?”


“Di rumah sebelah itu.”


“Ya mau..”


“Nah rakyatnya semua diajak ke rumah sebelah itu ya..”


“Ya..”


“Jadi muridku yang taat..”


“Ya.”


“Jaga tempat sekitar rumahku, dan kalau ada pengajian ikut ngaji ya..”


“Ya..”


“Ya kami semua siap sedia, tunduk dan taat pada kyai..”


“Rakyatmu yang belum Islam, di-Islamkan..”


“Ya insaAllah, kyai doakan kami..”


“Ya… ingat yang taat padaku.”


“Kami akan tunduk dan taat, apapun kyai butuhkan kami siap memberikan bantuan.”


“Nah begitu..”


Alhamdulillah semua permasalahan tentang kerasukan masal di sekolah semua selesai.


“Besok ke sini lagi, saya akan ajari dzikir yang benar, nanti diamalkan, ajak sholat berjamaah rakyatmu yang muslim.”


“Ya kyai, kami berterimakasih sekali.”


Malam jam 9, suasana hening, ada tamu juga dan aku sedang mengajari ratu untuk menjalan- kan dzikir pondasi, Alhamdulillah sekali ku ajarkan caranya semua langsung bisa melakukan, gak kebayang, banyak punya murid dari bangsa jin, yang bukan hanya seribu dua ribu, bahkan sampai ratusan ribu…. ini amanah dari Allah, semoga saja aku kuat menjaga amanah yang dibebankan di pundakku, aku yakin, Allah maha bijak, dan aku yakin Allah akan memberikan kekuatan untuk menjaga amanah ini, sehingga memberikan amanah ini, sebab aku sendiri adalah hamba yang daif, tak berdaya, tiada daya upaya apa-apa, kecuali hanya atas pertolongan Allah semata.


Sekali lagi saya tekankan, apa yang saya tulis ini hanya kejadian biasa, dan bisa saja terjadi pada siapa saja, saya menulis ini juga bukan bertujuan mencari popularitas, sebab saya sendiri tiap hari sudah sibuk mengobati pasien, dan membantu menyelesaikan banyak orang yang minta bantuan, di samping wira wiri Pandeglang, Jepara, Pekalongan, untuk memimpin dzikir, jadi ini sekedar pengalaman yang ku alami, bukan untuk dipercaya kejadian- nya, sebab yang kita alami, belum tentu dialami orang lain, jadi jika tak percaya itu wajar, jika tidak percaya juga sebaiknya tidak komentar, sebab ini hanya kejadian, kejadian yang siapa saja bisa mengalami, atau siapa saja mungkin tak mengalami, namanya juga taqdir Allah, setiap orang ditaqdirkan berbeda kejadian

__ADS_1


perjalanan hidupnya.


Seperti seorang Badui (pedalaman) yang pergi ke kota, yang asalnya tak pernah sama sekali pergi ke kota, yang hidupnya di tengah hutan, juga teman-temannya tak tau akan kemajuan zaman, ketika si badui kembali ke hutan dan bercerita kepada teman-temannya, pastinya teman-temannya menganggapnya aneh bahkan gila, padahal dia hanya cerita soal mobil, jalan raya, sepeda, tv, dan apa saja yang ada di kota, yang di pandangan orang kota itu hal yang sangat biasa, tapi bagi orang badui, malah ada yang bilang.


“Kau bunuh aku, aku tetap tak percaya dengan ceritamu, sejak kau keluar dari tanah badui, sekarang bicaramu makin ngawur dan kau dijangkiti pernyakit gila, suka menghayal dan berbuat yang aneh-aneh, kalau mandi makai sabun, kalau mau tidur memakai alat yang mengeluarkan buih(gosok gigi), kau sudah melanggar kebiasaan nenek moyang kita.”


Padahal yang diceritakan badui yang baru pulang dari kota itu hal yang biasa dan ada terjadi di keseharian di kota, bukan hal aneh, dan ada nyatanya, tapi bagi badui yang tak pernah ke kota hal itu jadi di jadikan alasan menuduh kalau badui itu mulai terjangkit penyakit gila. Makanya saya sadar, sesadar sadarnya, kalau yang saya tulis ini, nantinya juga tak selalu dipercaya, dan sekali lagi bagi para pembaca, tulisanku ini bukan untuk dipercaya, malah silahkan saja siapa saja menulis pengalaman pribadinya sendiri, syukur banyak yang mau membaca, jadi jangan mengirimkan pesan padaku, seakan kepercayaannya ku butuhkan, jangan merasa jadi orang penting, lantas mengirimkan pesan: “Aku tak percaya dengan tulisan mas di kisah ini.”


Jika orangnya masih mengirim itu, ya berarti dia bodoh, ndak bisa baca sebenarnya, karena sudah ku bilang berulang kali bahwa ceritaku ini bukan untuk dipercaya kejadiannya. Karena ini hanya pengalamanku saja, bahkan orang yang bareng-bareng denganku saja yang mengalami bareng denganku dengan mata kepalanya sendiri saja belum tentu percaya, apalagi orang lain? istriku saja seringnya tidak percaya,kadang mengatakan:


“kok kayak hayalan saja ya?”


Tulisan yang ku tulis ini akan banyak kejadian


soal jin, jadi sekali lagi ku tekankan, sebaiknya


jangan percaya, daripada mumet,ruwet, karena


membaca kisahku, jadikan saja bacaan ringan.


Kalau mumet, segeralah hentikan membaca.


Setelah sekerajaan jin itu masuk Islam dan menjadi murid-murid ku, akhirnya banyak kejadian yang bertubi-tubi, kejadian yang awalnya tak terungkap, akhirnya terungkap, kejadian yang sebelumnya aku sama sekali tak memikirkan bahkan tak terlintas dalam pkiranku, akhirnya terbuka. Dan memahami, saya sendiri tak seratus persen mempercayai, karena sebenarnya juga aku tak mengerti dengan benar dunia jin, dan dunia yang gaib, yang kadang kita sangka hijau bisa jadi biru, kita sangka putih ternyata hitam.


Awalnya ratu jin, sebagai pemimpin jin mulai


akrab denganku, dan dia siap dipanggil kalau aku ingin memerintahnya, dia beserta anak buahnya siap jika diperintah, aku seperti punya mainan baru, walau tak percaya seratus persen, setidaknya ada bayang-bayang jawaban dari hal yang sebelumnya tak ku mengerti, awalnya ku tes ratu mendeteksi penyakit, dan metode paling simpel mengobatinya, ku cermati, bagaimana dia mendeteksi, ternyata dia masih memakai ilmu hikmah, juga mengobati penyakit masih memakai ilmu hikmah, lalu aku perintahkan agar dia belajar menjalankan lelaku amaliyah thoreqoh, yang bersifah maunah, atau pertolongan Allah, bukan bentuk ilmu hikmah, ku contohkan pada ketika para panglima dan raja, suaminya ratu mau menyerangku dengan semua ilmu hikmah mereka, mereka semua gagal, alhamdulillah dia mau ku ajari dzikir dengan detail, juga semua prajurit jin yang sebanyak 30 ribu kemudian menjalankan dzikir juga sholat berjamaah, dan dia menceritakan setelah menjalankan dzikir yang ku berikan, tubuh mereka bercahaya dan serasa tenang, juga raja beserta semua pasukannya banyak mengucapkan terimakasih dan makin ingin mengabdi padaku selamanya.


Ya pelan-pelan ku didik, dan ku ajari ngaji, khususnya soal membersihkan hati dan ruhani menjadi punya watak terpuji. Apa yang ku lakukan hanya mencoba meniru apa yang dilakukan Rosulullah SAW, ya setidaknya sedikit meniru.


Firman Allah SWT: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada- Ku.” (Surah az-Zariyaat, ayat56) Demikianlah penegasan Allah dalam Al-Qur'an tentang tujuanNya menciptakan jin dan manusia, yaitu semata-mata untuk beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.


Golongan jin dan manusia terbagi dua, yaitu


Islam dan kafir. Jin menyatakan keIslaman mereka yang dijelaskan dalam al-Quran surah Jin artinya:


“Katakanlah (wahai Muhammad): Sudah


diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya satu rombongan jin sudah mendengar (al-Quran yang aku bacakan), lalu mereka (menyampaikan hal itu kepada kaumnya dengan ) mengatakan: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang susunan (ayatnya) dan menakjubkan. Kitab yang memberi petunjuk ke jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya dan kami tidak sekali-kali akan mempersekutukan sesuatu makhluk dengan Tuhan kami.” (Surah Jin, ayat 1-2) Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah SAW bersama sahabat sedang melaksanakan shalat Subuh. Ketika itu beliau membaca surah ar- Rahman, ayat 1-78. Dalam surah ar-Rahman ini


ada beberapa ayat yang bermaksud: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah kamu dustakan?”


Ketika ayat ini dibacakan, jin yang hadir saat itu


langsung menjawabnya dengan kalimat: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikit pun. Segala pujian hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat zahir dan batin kepada kami.”


Ibnu Masud menyatakan bahwa ia turut


menyaksikan malam turunnya ayat Jin ini.

__ADS_1


__ADS_2