Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Diajak Nikah Lagi


__ADS_3

“Ngapain di situ Ian..??” tanyanya dengan


senyum khas bibir hitamnya. “Mana si Edi?”


“Si Edi pulang bentar.”


“Wah sembarangan si Edi, kalau pak Sugeng


datang, dia tak ada, bisa dimarahi habis-


habisan.”


“Dia lagi ngambilin celana untukku.”


“Lhah memang celanamu kenapa?”


“Robek Ik…”


“Wah bahaya…”


“Bahaya kenapa?”


“Di tokomu tadi mbak Lina nyari-nyari kamu.”


“Yang bener Ik??”


“Ya bener lah, napa aku bohong.”


“Nah tuh dia kesini tuh..”


“Ssst bilangin kamu ndak tau.”


“Ndak tau gimana? La jelas aku lihat gini, aku


bohong dong.”


“La kan bohong demi kebaikan juga dibolehkan Ik.”


Aku langsung menyembunyikan diri di kotak.


“Lihat mas Ian gak Ik?” suara khas Lina yang


lembut, setengah centil terdengar renyah kayak


kacang sanghai waktu dikunyah.


“Ian….?” dug..dug.. aku khawatir pasti si Ikrom


akan omong apa adanya.


“Tadi aku melihat, tapi sekarang aku tak


melihat,” jawab Ikrom.


“Ya udah, ntar bilangin ya kalau aku nyari dia.”


“Kenapa ndak bilang sendiri aja.” jelas Ikrom.


“Iya deh…” kata Lina sambil berlalu.


“Sst… sst..! orangnya dah pergi..” kata Ikrom


setelah Lina berlalu.


Pas kebetulan Edy pun datang membawa celana, dan akupun lekas memakainya, lalu cepat-cepat kembali ke tempat kerja.


Ternyata Lina sudah nunggu di tempat kerjaku


toko sepatu bata.


“Kemana aja? ku cari-cari kemana-mana ndak


ketemu.” sapanya dengan nada manja.


Aaah perempuan, bener-bener bisa membuat


hati bercabang-cabang, herannya juga kenapa


selalu lelaki normal suka sama perempuan, dan aku termasuk lelaki normal, tapi di dasar hatiku yang tengah bergulat selalu ada perang batin,


Perang antara menyenangkan nafsu, dan


berusaha tak dikendalikan nafsu, dan terus


terang kelemahan terbesarku adalah tak bisa


tidak suka pada perempuan, karena aku lelaki,


dan perempuan lawan jenisku,


Jika aku dicoba

__ADS_1


keimanan, maka aku akan memilih jangan dicoba dengan perempuan, sebab kebanyakan aku pasti yang kalah, tak bisa menolak cinta mereka, tak bisa menyakiti mereka.


Benar kalau Nabi sendiri menekankan, seakan


ada unsur ancaman di dalamnya: MENIKAHLAH, MENIKAH ADALAH SUNNAHKU, SIAPA YANG TIDAK MENIKAH BUKAN TERMASUK GOLONGANKU.


Aku merasakan seakan Nabi mencintai


Ummatnya dalam penekanan itu, agar umatnya tidak tergoda dengan lawan jenisnya, sebab


beratnya godaan itu, sehingga Nabi menekankan ancaman yang tidak menikah bukan golongannya.


“Ada apa mbak nyari aku? Mau ngajak nikah ya..”


aku mengucapkan dengan kata enteng.


“Eh kamu ngigau ya…?” kata Lina dan matanya


menatapku dengan jeli, dan bening matanya


seperti kilatan-kilatan listrik yang


menggetarkan nadiku.


“Kenapa memandang aku seperti itu? Apa di


wajahku telah tumbuh bunga?” kataku asal.


“Hm… kamu cakep.” katanya seperti dengan


ketidaksadaran, karena pandangan matanya tak lepas dari wajahku seperti mata pisau yang mau mengoperasi kulit wajahku lalu menguraikan dagingku untuk mencari di dalam ada apanya.


“Kamu serius?” katanya kemudian dengan juga seperti seorang penantang, dadanya


dibusungkan.


“Serius apa?” tanyaku, kubuat bloon, sebab aku sendiri tak berani menerima kenyataan, misal


sampai terjadi menikah sama Lina.


“Ya soal nikah.” jawabnya setengah


menggantung.


“Aku kan cuma nanya, Mbak Lina nyari aku, ada apa?” jawabku sambil membetulkan sepatu di


jejeran rak pemajangan.


“Maas…! Mas Ian..! ” panggilnya memaksaku


mengalihkan perhatian dari deretan sepatu.


“Iya ada apa? Kita kan bisa omong sambil menata sepatu, soalnya ini tanggung jawabku, kerja di sini,” jelasku.


“Pindah aja kerja di tempaku, bagaimana?”


katanya lembut.


Wah setan itu kalau kita mau berbuat dosa,


nyatanya peluang ke sana dibuat semulus


mungkin, ya mungkin saja jika di depan ada


pohon perdu, setan akan berusaha


menebanginya, kalau jalan dosa itu belum


teraspal, setan akan berusaha mengaspalnya.


“Gak ah, ntar malah terjadi yang enggak-


enggak.” kataku membuat batasan.


Aku bukan orang suci, dan hatiku amat pekat


dilapisi nafsu, pandanganku saja jika melihat


perempuan masih selalu terfokus pada kesempurnaan bentuk tubuhnya, jelas aku orang


yang masih mudah sekali tergoda, jika aku tak membuat kendali sendiri, apa aku harus menunggu orang lain membuat kendali di


leherku?


“Mas…!”


“Iya… ada apa? Bicara aja.” jawabku sambil


tetap menata sepatu, anehnya dia malah


memiringkan sepatu yang tatanannya udah ku

__ADS_1


benarkan, dia buat miring sehingga kami berdua muter-muter di situ-situ saja, padahal toko sepatu bata ini luas sekali.


“Terus terang, aku sayang, cinta, tak bisa


melupakan mas…, siang malam selalu ku ingat, sehari tak bertemu, serasa kangeeen minta


ampun, aku tak tau, tak sebelumnya aku dengan cowok lain seperti ini, aku merasa mas inilah yang terbaik untuk hidup dan masa depanku,


Yang pantas menjadi imamku, yang pantas


membimbingku.” Lina mengutarakan semua unek-unek di hatinya, dan jongkok di depanku, karena aku juga sedang jongkok menata sepatu yang di bawah.


Aku menatap wajahnya, dan kulihat matanya


menatapku dengan penuh cinta menggelora,


tatapan yang seakan ada ribuan bintang di setiap inci matanya, dan aku amat tahu, jika aku menatap lama-lama, pasti akan membuatku


hanyut oleh keindahan,


Wajah yang dibalur aura cinta memang adalah lain daripada yang lain. Tapi aku menatapnya, malah ingin aku bisa tidak, sanggup tidak melawan tarikan kumparan magned gaib yang disebut kasih sayang.


Dadaku berdentuman, ada rasa sesak, ketika


tarikan itu mencoba menarik dan *******-


***** jantungku, aku berusaha bertahan dalam logika totalitas kesadaran, dan perlahan


gelombang magnet yang ada di wajah Lina


terlihat biasa di mataku.


Ku lihat masih ada getaran kecil di bibirnya karena luapan perasaannya.


“Kau kan belum tau siapa aku, terlalu jauh


penilaian yang kau berikan, aku tak mau kau akan menyesal nanti, sebaiknya pikirkan dengan pikiran jernih.” kataku meredakan gejolaknya.


Orang yang mudah terseret pada satu keadaan, maka sulit bila menjadi pengayom dan pelindung orang lain, dan aku harus berlatih mengendalikan perasaanku sendiri.


“Mbak Lina ini kan belum tau secara


keseluruhan, jadi dipikirkan dulu, sebab banyak sifat burukku, nanti jangan sampai penyesalan


akan terjadi, dan itu sudah terlambat.” jelasku.


“Ya kita kan bisa pacaran dulu.” jelasnya juga


tak mau kalah.


“Hm pacaran? Walau aku sendiri suka pacaran, tapi aku sekarang jika menyukai perempuan,


maka akan ku nikahi saja, tak pakai pacaran.”


“Nah tu kan.!”


“Tuh kan kenapa?” tanyaku.


“Ya kelihatan, mas bukan lelaki yang jelek


budinya.”


“Haha… bilang begitu, kamu anggap sudah baik budinya, wah dangkal dong nilai suatu budi


pekerti yang baik, semua lelaki juga bisa


mengucapkan seperti yang aku ucapkan, suatu budi pekerti yang baik itu perlu menjalani perjalanan panjang,


Untuk tau jelek atau baik budi pekerti seseorang, seseorang yang budi selalu memberimu barang berharga saja belum


tentu dia budi pekertinya baik, sebab bisa saja


dia ada maksud di balik pemberian- pemberiannya, orang yang selalu menemanimu, kesana kesini, membantumu, selalu kelihatan di depanmu murah senyum, bisa jadi di belakang dia menikammu,


Jadi budi pekerti seseorang itu tidak bisa di tentukan dengan sekali dua kali pertemuan, seseorang itu bisa di ketahui baik atau tidaknya, jika kau telah mengumpulinya


dalam bersama mengecap keprihatinan, dan


bersama memetik kebahagiaan, bisa saja


seseorang itu jika dalam keprihatinan bisa seiya sekata, tapi jika ada emas di tanganmu, maka dia tak segan-segan menghunjamkan belati di jantungmu,


Jika kau maju, bisa saja dia iri dan berusaha menjatuhkanmu, aku jadinya kok banyak omong ya..!” kataku.


“Gak, aku suka, setahun sekalipun jika mas Ian


bicara di depanku, aku akan rela duduk selalu


mendengarkan.”


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2