
“Bapak ini bagaimana to… kemarin sudah ku hadapkan pada dukunnya, bapak ku suruh bertanya sejelasnya lalu bapak tak mau bertanya mendetail, kemarin kan bapak sudah bicara panjang lebar dengan ruh dukunnya, sampai dukunnya juga minta maaf bapak juga sudah memaafkan, kok sekarang berubah?”
“Maaf saya menyela..” kata dukun,
“Saya masih tak percaya… dengan apa yang pak kyai lakukan, bisa saja itu hanya rekayasa.”
“Rekayasa bagaimana?”
“Coba pak kyai buktikan lagi, jika itu bukan rekayasa.”
“Baik… aku akan ambil ruh anak bapak yang sudah meninggal, akan ku masukkan ke orang, nanti bapak tanya sendiri, kalau ndak percaya, nanti mas yang suka usil ini jangan salahkan kalau ku cabut ruhnya, ku lempar ke neraka…, atau ku pindah ke hewan.” kataku yang segera minta ijin ke malaikat Isrofil untuk didatangkan ruh anak kecil yang kemarin meninggal. Namanya juga mimpi, ya aneh aneh saja.
Satu menit berlalu. Dan ruhnya anak kecil yang meninggal sudah ada di dalam tubuh mediator.
“Huuuu huuu..” dia menangis…
“Nduk jangan menangis nduk… ini bapakmu ingin minta pak yai bertanggung jawab atas kematianmu, silahkan bapak bertanya, ini ruh anak bapak.”
“Nduk bener ini kamu nduk…”
“Iya pak ini aku pak… huuu huuu.. jangan menuduh pada pak kyai yang tak bersalah, yang berusaha menolongku, malah bapak salahkan…, pak…, ikhlaskan aku mati ya pak…, aku kesakitan kalau bapak tak ikhlas..” jawab ruh anak kecil yang di dalam mediator.
“Apa meninggalmu tak wajar nduk.”
“Bapak sendiri kan tau kalau aku meninggal tak wajar, kemarin pak kyai sudah menunjukkan, tapi kenapa bapak jelek sekali perangainya, kenapa malah menuduh pak kyai yang dengan ikhlas menolong, kenapa bapak begitu,”
“Aku tak menuduh nduk… tapi bapak bingung,” kata pak Jo “Paak.. pak.. ikhlaskan aku ya pak, memang aku awalnya mati tak wajar, tapi Allah sudah memperbolehkanku dan aku meninggal dengan ikhlas…, pak, aku disiksa, kalau bapak menuduh pak kyai, aku kesakitan pak. Bapak begitu tega padaku, malah tidak mendoakanku, malah menuduh pak kyai yang melakukan ini, padahal dia menolongku, pak kyai maafkan bapakku pak kyai, huu huuu…”
“Ya nduk, kyai ndak papa dituduh, Allah maha tau…, silahkan pak… bertanya apa lagi?”
“Ya pak kyai, saya sudah ikhlas… dan tak akan menuduh pak kyai..” kata pak Jo.
__ADS_1
“Ini mumpung anak bapak di sini, jadi mau tanya apa lagi…?” tanyaku.
“Sudah pak kyai.”
“Sudah ya nduk, maaf pak kyai memanggil ruhmu kembali, sekarang ku serahkan lagi ke malaikat Isrofil.”
“Ya pak kyai, maafkan saya dan bapak saya..”
“Ya nduk…, yang tenang di sana.” Aku segera mengembalikan ruhnya anak itu ke akherat. (namanya juga mimpi, ya aneh-aneh saja)
“Bagaimana, apakah mas ini masih mau menuduhku?” telunjukku ku arahkan pada dukun yang menyertai. “Kalau masih tak percaya, akan ku buktikan kalau itu disangka bukan ruh asli, akan ku pindah ruh mas ini ke kecoak… mau?”
“Ah ndak pak kyai, kenapa begitu?” kata si dukun.
“Ya biar percaya, apa yang saya lakukan ini benar atau bukan…., cuma rekayasa atau bukan.”
“Sudah saya percaya saja…”
“Ya tidak bisa begitu… mumpung masih di sini, dibuktikan kan bisa, daripada nanti di belakang ndak bener, kan sekarang saja dibuktikan.”
“Saya itu orangnya tak suka main-main…” kataku ku pertegas.
“Lalu bagaimana dengan kakak anak ini yang mimpi dilihatkan kejadian kalau adiknya itu tak beres meninggalnya?” tanya dukun.“Nah itu juga bisa dibuktikan.”
Ku tarik jin yang memberi mimpi pada anak remaja itu, dan ku masukkan ke mediator.
“Sukses..” kata jin yang masuk ke mediator.
“Sukses apa?” tanyaku.
“Sukses memperdaya anak remaja ini, ku masuki mimpinya, dan ku bisiki dia, agar menyangka kalau adiknya matinya karena pak kyai, hihihi…” kata si jin.
__ADS_1
“Hm, begitu ya… apa kamu ndak takut denganku..?” tanyaku.
“Takuuut, takut sekali, siapa di dunia jin dari ujung barat dan timur yang tak kenal dengan kyai Nur, semua kenal, raja segala jin di penjuru bumi, makanya aku takut, lalu memperdaya anak ini, agar menuduh pak kyai… hihiiii… aku berhasil…, tapi tertangkap basah… “
“Hm, kenapa kamu jahat begitu…?”
“Karena aku pengikut iblis…”
“Ya sudah kamu mati saja…”
“Ampuuun ampuun pak kyai jangan bunuh aku…”
“Aku tak akan membunuhmu, silahkan malaikat maut cabut nyawanya…”
Mediator segera mengejang, dan jin sudah tercabut nyawanya. Kejadian mimpi makin panjang, dan berlanjut pada orang tua anak yang meninggal minta rumahnya dibersihkan, dan berlanjut pada cerita keluarganya dibersihkan semua dari gangguan jin, juga si dukun juga ikut-ikutan minta dibersihkan dari jin. Ah cerita mimpinya jadi gak seru.
___________________________________
Cerita mimpi yang lain saja, ku tekankan yang tak suka baca, sebaiknya jangan baca soal mimpiku ini, karena ndak ada manfaatnya sama sekali, juga jangan diikuti alur ceritanya karena namanya juga mimpi, sama sekali ndak nyambung. Jamin! Tapi aku akan menulis saja mimpiku ini… walau sekedar mimpi. Kali ini mimpi, nabi Sulaiman AS mendatangiku, ya bisa saja jin, atau setan yang mendatangiku, dia mengaku sebagai nabi Sulaiman, karena dalam mimpi aku juga gak sempat nanya nomer hp nya, namanya juga mimpi, jika ada yang nanya nomer hpnya nabi Sulaiman itu berapa?, dia
menyerahkan sebuah mahkota ke kepalaku, dan menyematkan cincinnya di jariku, katanya cincin di jariku adalah cincin untuk menaklukkan segala macam jin. Wah jan mimpi kok ya aneh-aneh… Setelah itu aku diminta memanggil semua jin yang dulu takluk padanya, dan diminta mengislamkannya, dan datang berjuta-juta trilyun jin, berbentuk kelelawar, dan segera ku mediumisasi, dan ku Islamkan, kalau ada yang tanya, mana mahkota nabi Sulaiman?, ya gak ada lah, wong mimpi kok ditanyain wujudnya.
___________________________________
Mimpi nyatanya ya aneh-aneh, tapi tetap saja mimpi…., dan kebanyakan mimpi itu bukan logika. Jadi bingung kadang mau cerita mimpi, banyak mimpi-mimpi mau diceritakan keburu lupa, sampai kadang kepikiran apa ada gak ya alat untuk memutar ulang mimpi, agar mimpi yang aneh-aneh itu bisa diceritakan, paling tidak daripada membicarakan kejelekan orang, sama-sama nganggurnya, mending membicarakan mimpi yang tidak menyakiti orang lain, misal kok ada nama atau kejadian yang sama, ya kali saja kebetulan, seperti kalau di buku-buku fiksi, jika ada kejadian atau nama yang sama dengan cerita ini maka itu hanya kebetulan saja, sama sekali tak ada unsur kesengajaan. Juga sama dengan mimpiku, jadi kalau ada kejadian yang sama atau mencakup siapa saja, maka itu tanpa ada unsur kesengajaan, aku hanya menulis mimpiku, kamu juga bisa menulis mimpimu, kalau perlu sedia buku siapa tau mimpi bisa diterjemahkan ada maksud di balik kejadian di alam bawah mimpi, yang tukang tombok TOGEL saja selalu mencari arti di balik mimpi. Heheheh…
Ku lanjutkan di cerita mimpi yang lain. Suatu kali iseng-iseng aku memanggil ruh para leluhur sampai pada tarapan tertentu, aneh juga berbondong-bondong ruh para leluhur para silsilahku datang, dan yang membuatku lebih aneh, ada di antara ruh itu adalah orang yang berwajah sebagaimana Sunan Ampel dan Sunan Giri, kenapa ku kenal dengan Sunan Ampel dan Sunan Giri, sebab sebelumnya aku pernah bertemu dengan Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Kalijaga yang memberikan ilmu padaku, juga memberikan nasehat padaku, sehingga aku paham dengan wajahnya, aneh juga.
“Apa ini semua adalah ruh kakekku?” tanyaku polos.
“Benar kami para kakekmu, ada keperluan apa ngger kamu memanggil kami?” tanya salah satuny.
__ADS_1
“Boleh saya tau nama-nama kalian, agar saya bisa mendoakan satu persatu?” kataku beralasan. Lalu salah satu berkata.
“Kalau mendoakan, dijama’ saja ngger… ndak usah satu satu….”Wah gak bisa tahu kalau begitu, waduh aku mati kutu.