
“Yah selama ini kami repot, karena setiap yang ngontrak di sini selalu tak krasan, ya alasannya ada hantunyalah, ada setannya, kemudian uang kontrakan diminta lagi, ya kami yang repot, karena uangnya terlanjur kepakai.”
“Apa emang bener ada hantunya?” tanyaku sambil jalan melihat kamar-kamar.
“Wah kalau saya kgak percaya hal kayak gituan mas, cuma takut kalau bener ada trus saya dicekik.” Aku heran dengan penjelasan pemuda ini, wong tak percaya tapi kok ya takut. Akhirnya aku menyetujui, kalo udah rizqi emang tak kemana, kalau udah dicap untuk kita, ya untuk kita, aku pun menempati rumah itu gratis, padahal kalau ngontrak rumah segede ini paling enggak empat ratus ribuan per bulan, wah kalau disuruh nempati gratis kayak gini ya jelas enak lah.
__ADS_1
Aku segera bekerja membersihkan rumah, menguras bak mandi, mengepel, untung juga di ruang tamu ada televisinya, wah bener-bener bisa kerasan. Tapi aku cuma mau nyari tempat tinggal sampai kerjaan di Cipinang Indah selesai. Besoknya aku mulai kerja membuat motif granit di tembok dan tiang rumah, juga membuat lukisan-lukisan di titik tertentu sesuai permintaan, juga aku puasa di siang hari dan wirid di malam hari, wiridnya tak terlalu banyak macamnya, walau hitungannya mencapai puluhan ribu. Karena sambil kerja waktu tak terasa berlalu. Tak terasa duapuluh hari telah berlalu, ini adalah puasa hari ke dua puluh satu, dari ilmu yang diajarkan Kyai ini hanyalah puasa dasar, setelah ini aku puasa empat puluh satu hari, lalu setelah selesai aku puasa tiga bulan, kemudian tujuh bulan, kemudian sembilan bulan, satu tahun setengah, tiga tahun, lima tahun, tuju tahun, semua harus dilakukan berturut, artinya misal mau puasa empat puluh satu hari, selama empat puluh satu hari harus puasa, nah kalau sudah selesai, baru berhenti, mau satu atau dua tahun lagi baru puasa yang tiga bulan terserah. Selama aku menempati rumah kontrakan ini adem ayem aja, tak terjadi apa-apa, aku lebih memilih menempati kamar atas tepat di atas kamar mandi karena lebih dekat ke kamar mandi, walau kadang aku ketiduran di ruang tamu, karena keasyikan nonton tivi. Malam ini wirid terakhirku, setelah sholat isya, aku duduk bersila, tasbih di tangan kananku, dan counter di tangan kiriku. Dudukku kubuat sesantai mungkin, karena wirid ini baru bisa kuselesaikan dalam tiga jam.
Napas kutarik panjang dan kusimpan di perut, berbarengan terus aku membaca aurad setelah perutku penuh, dan aku tak kuat menahan napas, napas perlahan lahan kukeluarkan, sangat perlahan, sampai aku tak mendengar desah tarikan nafasku. Mulutku tertutup rapat, dan mataku terpejam, sementara hati ku terus membaca wirid tanpa henti. Setelah napas kukeluarkan semua, diam sejenak, aku mengulang pernapasan seperti awal, begitu terus sampai wirid selesai, dalam mata batinku aku melihat gelap yang pekat, semua gelap tak berujung tak berpangkal, lalu di jauh sekali kulihat setitik cahaya, aku seperti meluncur ke arah cahaya itu, dan masuk ke dalamnya, semua serba cahaya putih menyilaukan mata hatiku silau lalu ada cahaya merah, hijau, kuning, biru, dan banyak lagi berpendaran, lalu aku terseret dalam satu cahaya melesat berputar, sampailah aku di satu ruang yang terang tapi lembut, damai, aku tak tau ruang apa itu, kurasakan dari pusarku mengalir hawa dingin yang sedang, mendamaikan mengalir ke semua tubuhku, kadang alirannya ku arahkan ke bagian tubuhku yang pegal-pegal, seketika hilang rasa pegalku. Tiba-tiba angin keras menerpa di sekitarku, aku tetap duduk tenang, angin semakin keras, sampai pakaianku berkibar-kibar, sekejap konsentrasiku buyar, karena sejenak aku berpikir, bagaimana mungkin ada angin yang keras masuk sedang jendela dan pintu terkunci. Tapi aku cepat berkonsentrasi lagi, dan sampai wirid selesai tak terjadi apa-apa, setelah melipat sajadah akupun pergi ke ruang tamu dan nonton tivi sambil tiduran di sofa. Tak terasa aku telah lelap, kira-kira jam tiga malam terdengar ledakan di atas genteng, suaranya keras, sampai aku yang lagi tidur terjaga, ah mimpi pikirku.
“Duar..!,duar…!” terdengar ledakan keras di atas genteng, suaranya seperti petasan, atau seperti suara vespa yang distarter lalu meledak dan copot kenalpotnya, aku sempat terbangun karena ada percikan api di atasku, kukira konsleting listrik, tapi kenapa lampu kamar sebelah tak mati? Memang lampu di ruang tamu tempat aku tidur di sofa, kumatikan, tapi bias cahaya dari kamar sebelah masih, bisa membantu mataku mengenali setiap benda di ruang tamu ini, ah perduli amat, besok aku kerja maka malam ini aku harus beristirahat cukup. Aku segera membetulkan letak tubuhku agar nyaman, dan segera memejamkan mataku, tapi baru beberapa menit aku memejamkan mata, kudengar suara dekat di telingaku, walau kata-katanya tak jelas tapi benar-benar membuatku kaget, aku pun membuka mata, uh! Betapa terkejutnya aku, tepat tiga jengkal dari wajahku, seraut wajah yang menyeramkan melihatku, wajah orang tua jelek sekali, wajahnya keriputan penuh bisul menggelambir di sana sini, kepalanya botak, dan rambutnya hanya tumbuh di belakang kepala.
__ADS_1
“Hei siapa kau? Orang edan dari mana?!” tanyaku membentak, orang itu mundur dan mengoceh dengan bahasa yang tak ku mengerti. Tanganku terkepal maju mau melayangkan bogem ke wajah orang itu, ku lihat wajahnya ketakutan dan mundur-mundur, aku segera berlari melayangkan pukulan ke orang itu. Namun dengan cepat tanpa ku sangka-sangka orang itu melompat kearah tembok, dan hilang dalam tembok. Aku melangkah maju ketembok di mana orang itu hilang, kuraba tembok semen, ku getok-getok dengan jari, keras, bagaimana mungkin orang tua itu bisa nembus tembok, apa mungkin jin, setan, siluman? Tapi kenapa kalau memang jin atau sebangsanya kok malah takut kepadaku, padahal kalau melihat mukanya jelek banget, mestinya aku yang takut sama dia, bukannya dia yang takut kepada wajah kerenku. Aku kembali ke sofa, membaringkan diri, kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari, aku sudah tak bisa tidur lagi, mataku sekali waktu melihat tembok di mana orang tua jelek itu hilang.
Kisahku ini kuceritakan kepada Kyai, tapi Kyai hanya ketawa, dan mengatakan kalau menjalani puasa tingkat pertama memang akan bersentuhan dengan dunia gaib, jadi tak masalah. Di puasa yang keempat puluh satu aku juga mendapatkan tawaran melukis di sebuah rumah makan besar di daerah lintas jalan raya Serang-Pandeglang, rumah makan itu besar sekali, panjangnya aja sampai hampir mencapai seratusan meter, di bawah rumah makan itu ada pemancingan, pemilik rumah makan itu....
Bersambung.....
__ADS_1
Next ditunggu like n commentnya...