Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Laut Ujung Kulon


__ADS_3

Di Gunung Kolir ada Prabu Jaksa (lagi/lainnya), dan di Gunung Kendeng ada Aji Dipo. Di Daerah Argopuro ada Sunan Lawu, di Bayat ada Ki Malangganti, di Toyamas ada Kolo nadah, di Segaluh ada Si Renthil, di Pegunungan ada Ki Wosasih, di Lowanu ada Si Korok, di Gunung Duk ada Genioro, di Parang Tritis ada Mbok Bereng, di Purbalingga ada Drembamoha, di Karang Bolong ada Si Kreta, di Banarawi ada Si Belen, di Jenu ada Karung Kala, di Pengging ada Banjaran Sari, di Dhung Winong ada Andonsari, di Bagelen ada Ki Condrolatu, dan di Gunung Kendalisada ada Khetek Putih. Menapaki daerah ngayah, ada pemuka lelembut bernama Butho Glemboh. Di Demak ada Rara Denok, di Tuban ada Si Bathilhi, di Talsanga ada Juwalpasal, di Tremas ada Si Kujang, di Trenggalek ada Nyai Kuring, di Cemorosewu ada Si Kuncung, di Benthongan ada Kala- dhadung, di daerah Taji ada Asmoro, di Kudus ada Bagus Anom, di Imogiri ada Mang- larmungo, di gadhing ada Ki Puspogati, dan di daerah Kartika ada Cucuk Dhandang. Di Sungai Opak ada Songgabuana, di Pejarakan ada Pak Keyek, di Kali Bening ada Cincing- golong, di Dhahrama ada Korowelang, di Warulandeyan ada pasangan Ki Daruna dan Ni Daruni, di Alas Roban ada Bagus Karang, di Pasujayan ada Udan Riris, di Dalepih ada Wodonongga, di Kadunggarunggung ada Si gadhung, di Karabean ada Citranaya, di Majaraga ada Genapura, di Juwana ada Logenjeng, dan di Rembang ada Bajul Bali.


Menapaki daerah Wirasaba, di sana ada penguasa Si Londir. Di Madura ada Bhuta Carigis, di Matesih ada Jaran Panolih, di Pecangakan ada Si Gober, di Jatisari ada Danapi, di Jatirnalang ada Obarabir, di Lodhaya ada Haryo Tiron, di Pening ada Sarpa Bongsa, di Pesayangan ada Udan Gelap, di Tegil ada Bhuto Gigis, di Grenggeng ada Caping Warih, di Penawangan ada Gutukwatu, dan di Tengger ada Ni Otarwiyah. Kemudian, di Wiradesa ada Gustigeni, di Penarukan ada Setan Korokan, di Randulawang ada Rara Dungik, di Menthahang ada Retno Pengasih, di Prambanan ada Bhuto Kepala, di Gunung Wilis ada Mbok sampur, di Gunung Gajah Mungkur ada Raden Gelang- gangiati, di Tal Pegat ada Si Gedruk, di Ngembel ada Raden Panji, di Pagerwaja ada Raden Kusumoyudho, di Kacangan ada Si Penthul, di Pecabakan ada Dodol Kawit, dan di Jepara ada Si Kunthung. Di daerah Pati ada Gambir Anom, di Ngremo ada Tambak Suli, di Delanggu ada Yudhapaksa, di Pesisir ada Butho Kala, di Kadilangu ada Si Kecubung, di daerah Jenar ada Nini gelu, di Banjarsari ada Klabang Curing, di Watukura ada Talengkung, di Tal Rukmi ada Si kuris, di Semeru ada Pujongga dan Pujonggi, di Ardi Baita ada bancuri dan Bancuring, serta di Tegal Pat ada Si Bedreg.


Di Subang ada Si Lowar, di Kuwu ada Ondar- Andir, di Comal ada Si Barandang, di Duduk jalmi ada Si Kalunthung, di Tegala Pasir ada Si Jalilung, di Tuntang ada Kala ngadang, di daerah Bocor ada Si Kuru, di Petanahan ada Singanadha, di Cilacap ada Telohbrojo, di Nusabarong ada Burat Wangi, di Singgela ada Ki Nayadipa, dan Weleri ada Si Dulit. Di wilayah Pring Tulis ada Udan Geni, di Kandang Wesi ada Gendir Diyu, di Kejayan ada Barukin, di Jeruk Legi ada DirGabu, di Nusa Kambangan ada Mahesa Kuda, di Mancingan ada Rara dulek, di Guwa Langse ada Raja Putri, dan di Parang Wedang ada Raden Arya Jeyeng Westhi. Untung aku pakai metode, jika jin yang datang belum trilyunan, maka aku belum mau mengislamkan, kecuali sudah berkumpul trilyunan jin, maka satu jin ku minta jadi wakil jin yang lain masuk ke dalam tubuh mediator, sehingga hanya dia yang menirukan secara langsung bacaan sahadat, sehingga proses pengislaman jin cepat dan efektif, dan pengislaman jin lebih tak memakan waktu banyak.


Tak akan semua dialog jin masuk Islam ku tulis, hanya beberapa, untuk kisah saja, sebab hampir semua dialognya sama.


“Siapa ini yang menghadap?” tanyaku.


“Saya ratu Nyai Ganda Sari.” jawabnya dengan logat bahasa Jawa yang kental.


“Nyai Ganda Sari? Yang pernah menyerang kyai itu yang menjadi muridnya Sunan Gunung Jati.”


“Bukan, bukan pak kyai, beda, saya dari keraton Jogyakarta…”


“Ooo pantesan berbicara bahasa Jawa..”


“Nyai ratu, kok dipanggil ratu, apa nyai yang menguasai keraton?”


“Benar sekali kyai, maaf baru bisa menghadap sekarang, karena di keraton sibuk..”


“Ya, ya gak papa..”


“Yang dibawa ada berapa orang?”


“Banyak kyai… semua prajurit jin keraton Jogya…”


“Ooo ya ya… kenal dengan jin yang di Malioboro?”


“Kenal sekali kyai… itu sekarang kok yang dilagukan bukan lagi gending Jawa.”

__ADS_1


“Lhoh apa yang dilagukan?” tanyaku heran.


“Yang dilagukan ayat-ayat qur’an, saya sempat heran, lalu saya tanya, apa yang dibaca kok sejuk didengar,”


“Jawabnya ayat qur’an, pak kyai yang mengajari, mendengar itu saya ingin sekali sowan ke sini, tapi saya ndak berani…”


“Wah kenapa ndak berani…?”


“Kyai orang besar saya hanya penguasa kerajaan kecil… tak pantas menghadap kyai..”


“Walah-walah, saya orang biasa nyai…”


“Ndak kyai… saya saja ndak berani melihat kyai..”


“Lhoh kenapa..”


“Saya silau kyai..”


“Di seluruh tubuh kyai banyak sekali malaikatnya..”


“Hehehe, sudah kyai, tapi Islam Islaman…”


“Ya ndak papa… nanti diIslamkan lagi, oh ya kalau penguasa keraton Solo, namanya siapa?”


“Itu ki Ajeng…”


“Apa dia tak ikut menghadap?”


“Dia juga takut menghadap pak kyai…”


“Walah kok pada takut to.., coba panggil sekalian dia menghadap.” Maka dipanggilah ki Ajeng…

__ADS_1


Dan tanpa banyak kata keduanya beserta pengikutnya ku Islamkan. Dan ku minta supaya kembali ke kerajaan masing-masing.


______________________________


Datang berbondong-bondong jin dari Ujung Kulon…


“Siapa ini?” tanyaku.


“Kami dari Ujung Kulon kyai….”


“Wah banyak juga…”


“Kalau di Ujung Kulon, sering melihat kyai kalau ke Banten.”


“Sering sekali kyai… tapi kami tak berani menyapa…”


“Kenal sama nyai Mayang Sari… penguasa laut Ujung Kulon?”


“Kenal kyai, belau baik, kami bersahabat.”


“Apa dia tak ikut hadir?”


“Tidak kyai… beliau tak berani menghadap kalau tidak dipanggil kyai.”


“Ooo coba panggil kesini, diperintah menghadap kyai.” Nyai Mayang Sari sebentar kemudian sudah datang… dan ku minta masuk saja ke mediator.


“Ini benar, nyai Mayang Sari.. penguasa laut Ujung Kulon,”


“Benar sekali kyai… saya nyai Mayang Sari.”


“Nyai Mayang Sari sudah Islam..”

__ADS_1


“Alhamdulillah sudah kyai, tapi kalau boleh saya ingin masuk lagi ke Islamnya kyai, dan menjadi muridnya kyai, boleh kan kyai…?”


“Boleh saja… mari tirukan saya mengislamkan. Lalu ku tuntun para jin dari Ujung Kulon dan nyai Mayang Sari untuk masuk Islam. Setelah ku Islamkan lalu ku perintah untuk kembali ke wilayah masing-masing.


__ADS_2