Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Ahmadi


__ADS_3

Akhirnya Askan mengajak orang-orang yang rumahnya jauh dari tower, agar mau diajak unjuk rasa, dan saat tulisan ini ku tulis, oleh pihak desa, Askan akan dilaporkan Polisi, karena memprofokasi warga, malah semua pengurus masjid diadu, terjadilah perpecahan dalam kepengurusan masjid, sebagian memihak Askan dan sebagian memihak tower bisa didirikan, karena tower ada di belakang masjid.


Tapi anehnya bolak-balik Askan menjadikanku alasan dalam permasalahan tower, padahal aku sendiri tak ikut ngurus apa-apa, sementara aku lebih memilih menyibukkan diri dalam urusan majlis dzikirku.


Rupanya Alloh akan menunjukkan rahasia lain dalam urusan pembangunan majlisku, di antara cercaan Askan, dan tanah yang akan dibangun majlis dimintai pembayaran, Gusti Alloh mendatangkan orang-orang yang hatinya sebening embun datang berbondong-bondong mentrasfer uang ke rekeningku, dalam rangka pembangunan majlisku.


Teman-teman internetku banyak yang ikut andil, aku jadi terenyuh haru, begitu indahnya Alloh membuat bukti kebesarannya, walau masih jauh dari kebutuhan, setidaknya itu sudah membuatku terhibur, Alloh masih saja memperhatikanku dengan perhatian yang


sangat indah, mendatangkanku orang-orang yang hatinya bening, ikhlas dan tanpa ragu-ragu mencurahkan sebagian dananya untuk membantu pembangunan majlisku.


Memang Alloh mengumpulkan orang ikhlas hanya dengan orang ikhlas, orang mukmin, dengan orang mukmin, dan bantuan-bantuan anehnya terus mengalir, dan terus berdatangan, semoga dalam waktu dekat semua tanah yang akan ku dirikan majlis cepat terbeli, dan majlis segera terbangun, aku yakin kalau Alloh itu memilihkan aku jalan juga teman-teman terbaik, dan memberikan jawaban bahwa perjuanganku nanti tak akan sia-sia belaka.


Malam ini aku akan menyelesaikan urusan


Suhandi, tengah malam aku berangkat ngeraga sukma ke rumah Ahmadi, aku melesat menuju


Kajen, di suatu pemakaman yang dikeramatkan aku berhenti, sebelumnya ada pondok putri,


sebenarnya secara pribadi aku sendiri tak tau kenapa aku melesat ke arah sebuah pemakaman, dipagar bambu yang disigar-sigar, aku berhenti di antara gundukan tanah, karena memang pemakaman itu jalannya naik turun.


Ku lihat seorang pemuda keluar dari pemakaman, dia membawa seekor ular kecil yang sudah dipotong kepalanya, entah untuk apa, ku ikuti pemuda itu, mungkin ini pemuda yang bernama Ahmadi? ku ikuti terus pemuda itu berjalan melewati gerumbul semak perdu menuju ke arah sungai, sungai yang lumayan besar, banyak pohon rindang dan besar di sekitar sungai, aku ikuti terus pemuda itu, aku ingin tau apa maksudnya pemuda itu di malam-malam yang sudah larut kok pergi ke sungai, sementara aku bebas melayang di antara ujung daun, tanpa kawatir pemuda itu mengetahui keberadaanku.


Karena aku dalam bentuk sukma yang tak


terlihat, aku masih memperhatikan pemuda yang ku yakin bernama Ahmadi. Pemuda itu lalu menyalakan menyan, dan membakar ular yang dibawanya di bawah sebuah pohon besar, dan dia sendiri bersemedi, samar-samar dari dalam pohon keluar bayangan, awalnya hanya berupa asap putih, lalu membentuk perwujudan seorang perempuan, perempuan yang cantik, tapi aku merasa itu hanya bentuk buatan yang dicipta jin itu, lalu antara wanita jin dan pemuda itu saling menyalurkan hasratnya, aku masih melihat dari puncak pohon, lalu setelah kedua mahluk berlainan jenis dan alam itu selesai


menumpahkan nafsunya, nampak jin perempuan itu memberikan sebuah buah mirip buah jambu kepada pemuda itu dan menyuruhnya memakan.


Lalu kedua mahluk berlainan jenis itu berpisah,


sedang jin yang berbentuk perempuan itu


melayang kembali ke atas pohon tua, aku segera melesat menghadangnya.


“Siapa kau…!?” kata jin perempuan itu kaget, karena aku tiba-tiba ada di depannya.


“Seharusnya aku yang bertanya siapa kau….?”


tanyaku.


“Kau panas…, menjauh dariku…,” katanya sambil


mundur.


“Kau pasti jin fasik, apa yang kau lakukan dengan pemuda dari manusia itu?” tanyaku.


“Apa urusanmu….”

__ADS_1


“Baik kalau kau tak mau menjawab… itu


terserahmu.” kataku, sambil membatin lafad


Alloh di dadaku, dan dari dada memancar cahaya yang menyambar jin itu, dia terlempar sampai daun pohon berhamburan karena diterjang tubuhnya yang terlempar oleh sambaran cahaya dari dadaku, dan nampak tubuhnya hangus dan mengeluarkan bau daging terbakar.


“Aduuuh…. ampun… ampuuuun…, panaaas..,


panaaas, ampuuun…!,” dia mengaduh-aduh tiada henti, dan tubuhnya tergeletak tanpa daya di bawah pohon, tempat tadi dia berhubungan


badan dengan pemuda.


“Bagaimana? Apa sekarang kau mau merasa sok- sokan di hadapanku? Atau menjawab saja apa yang ku tanyakan, atau lebih memilih ku cairkan menjadi cairan minyak?” bentakku dengan suara tetap pelan.


“Aduh ampuun…, tuan ini manusia atau


malaikat…?”


“Kalau malaikat hanya menuruti perintah Alloh,


tapi aku punya amarah dan kehendak.., bisa saja aku menghancurkanmu, jika kau tak menjawab pertanyaanku,”


“Iya-iya, aku akan jawab…”


“Siapa pemuda yang kau ajak berbuat zina itu?”


“Paling kau hanya menyesatkannya, siapa


namanya dia?”


“Dia bernama Ahmadi, dia sudah lama meminta ilmu dan kesaktian padaku, dan imbalannya dia mau bersetubuh denganku, dan selama ini dia mendapatkan ilmu dan kelebihan yang aneh-aneh dariku.”


“Kalau begitu sekarang ku perintahkan, kau


cabut semua ilmumu dari pemuda yang bernama Ahmadi itu..”


“Mana bisa seperti itu.., ilmu itu sudah ku


berikan, dan dia juga memberikan kepuasan


padaku.”


Ku konsentrasikan lafad Alloh di dada lagi,


segera sambaran cahaya, menyambar seperti


sambaran kilat menghajar jin perempuan itu, dia menjerit melengking, mencoba kabur, tapi

__ADS_1


sambaran cahaya dari dadaku seperti begitu


saja memenuhi perintahku, langsung mengurung jin perempuan itu dalam diameter yang makin sempit dan mengecil, jin perempuan itu menjerit-jerit melengking tapi tak berani sama sekali bergerak, karena cahaya itu jika tersentuh oleh kulitnya, maka kulitnya langsung mengeluarkan asap dan tercium bau hangus daging menyengat, aku tau banyak jin di sekitar yang memperhatikan, tapi tak berani berbuat apa-apa, malah berusaha menjauh.


“Bagaimana apa kau masih tak mau mencabut


kembali ilmu hitam yang kau tanam di tubuh


pemuda itu, maka akan ku biarkan kau


terkungkung dalam cahaya itu,”


“Iya… iyaaa… aku mau, aku mau mencabutnya, tolong hilangkan cahaya ini, aduuuh panasss, paanaaas…!”


“Baik, besok kalau ku lihat dia masih punya ilmu hitam di tubuhnya, maka kau tak akan selamat…,ingat itu..!”


Aku berlalu, dan cahaya yang mengelilingi jin itu hilang, dan ternyata jin itu telah berubah


menjadi rupa nenek-nenek yang teramat jelek,


wajahnya dipenuhi benjolan, dan kerutan tak


karuan.


Aku melesat lagi, mengikuti tarikan


tenaga takdir yang membawaku, bagaimana saja Alloh menghendaki aku ikuti, seperti angin yang dibawa aliran hembusannya, dan seperti air yang mengalir selalu melewati alirannya, sampai di persawahan, tiba-tiba seorang perempuan setengah tua menyapaku, dia berpakaian seperti orang Jawa zaman dulu, dengan sanggul di kepalanya, dia melayang di atas padi dan sepertiku, aku merasa orang ini sudah berupa ruh, dia berhenti di depanku, dan mengucapkan salam, lalu ku jawab salamnya.


“Maaf siapa ibu..?” tanyaku.


“Saya ibunya Ahmadi.”


“Tapi ibu….”


“Ya saya sudah lama meninggal, saya hanya ingin mengucapkan terima kasih karena anak ini sudah menolong anakku dari jeratan jin fasik itu, sekali lagi terima kasih, jika anak ini ingin ke rumah anakku, dan ingin tau rumah anakku, mari silahkan, biar saya antar.” kata perempuan itu yang mendahuluiku, melayang ke arah desa di depan, dan jalanan menurun.


Aku mengikuti dari belakang, perempuan itu


menceritakan keluarganya sambil jalan, dan


menceritakan pekerjaan anaknya yang


menghabiskan kekayaan keluarga, sehingga


kemudian terseret mengamalkan ilmu sesat, ibu itu merasa prihatin tentang nasib anaknya, tapi tak mampu berbuat apa-apa, aku hanya sebentar....


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2