Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Tertipu


__ADS_3

“Lha kenapa kamu ndak minta aja fotonya,


dibuktikan kata-kataku, daripada sudah yang-


yangan gak karuan,kalo nanti ceweknya malah lebih tuwir dari emakmu, apa ndak menyesal kamu”


“Dia sudah ku mintai foto, tapi tak punya hape


yang ada kameranya.”


“Nah ketahuan, apalagi pakai alasan segala,


sudah jelas jelek amit-amit itu orangnya.”


“Lha kalau memang dia tak punya hape yang


berkamera gimana?”


“Kan bisa pinjem hape orang lain, bilang saja


kalau tak mau memberikan kamu foto, dia kamu putusin.”


“Iya deh ku minta fotonya lagi.”


“Sekalian bilang kalau dia ndak ngasih foto


sekarang juga, kamu putus sama dia, tak mau


telpon-telponan lagi.”


“Iya ku bilang.”


Tony pun nelpon lagi, dan meminta foto, juga


mengatakan akan memberi foto.


“Gimana sudah mau ngasih?” tanyaku pada Tony setelah menelpon.


“Iya, setelah ku ancam mau ku putusin dia mau,


dan mau minjam hape temennya.” jawab Tony.


“Nah itu baru bener.”


——————————————-


Suara pintu diketuk.


“Masuk, tak dikunci.” kataku mempersilahkan


masuk yang mengetuk pintu.


Ternyata Muhsin dengan temannya, yang tak ku kenal karena bukan dari salah satu di antara


pekerja pabrik semen.


“Wah ramai sekali, pada ngumpul.” kata Muhsin sambil masuk.


“Mari silahkan, desak-desakan,” kataku karena


memang kamar sudah agak penuh orang.


“Ini mas… orang yang pernah aku ceritakan mau minta tolong.” jelas Muhsin setelah duduk memperkenalkan namanya Mabrur.


“Lha ada masalah apa mas?” tanyaku.


“Itu mas, saya membeli tanah di rumah di


daerah Cirebon.” cerita Mabrur.


“Trus ada apa?” tanyaku.

__ADS_1


“Nah itu, ceritanya begini mas, yang punya tanah itu dulunya pernah nyupang, bekerja sama dengan sebangsa buto ijo atau apa gitu, yang jelas kan di tanah yang ku tempati itu ada pohon sawo tua, nah sering kejadian orang lewat di sekitar sawo tuwa itu menjadi korban.”


“Maksudnya menjadi korban?” tanyaku.


“Ya kayak tiba-tiba mati tercekik, dan orang


yang ada di sekitar pohon itupun pada satu


persatu mati, dan memang di dekat sawo itu juga tempat saya mau tinggal nantinya, ini masih belum ku tinggali, sebab saya dan istri masih kerja di sini.” cerita Mabrur.


“Lalu…”


“Ya kalau bisa, mau minta tolong dipindahkan


atau mau diapakan agar buto itu tidak meminta korban lagi…” kata Mabrur.


“Hm… ” aku merenung.


“Ini sudah ku mintakan orang pinter, atau


paranormal untuk memindah mas, tapi tak ada


yang kuat, malah ada yang sampai mati tercekik.” jelas Mabrur.


“Wah ngeri juga ya…” kataku asli merasa ngeri


juga. Biasanya jin kalau sudah diajak kerja sama dengan manusia memang sudah kuat.


“Iya coba nanti ku usahakan, moga-moga Alloh memberi ijin dan kekuatan padaku untuk


mengusirnya.”


“Makasih sebelumnya.” kata Mabrur.


“Lalu yang kedua mas..” tambah Mabrur.


“Wah kayak buku saja ada yang kedua, hehehe…” candaku.


sampai di sini.”


“Apa itu yang kedua?” tanyaku.


“Ini soal majikanku mas, aku punya majikan, nah aku sudah lama bekerja sama istri di tempat majikanku itu, tapi gaji gak dikasih-kasih…”


“Siapa nama majikannya?” tanyaku. Lalu Mabrur menyebutkan nama.


“Ya insaAlloh nanti ku bantu do’akan.”


Teman sekamarku namanya Safi, orang Madura, dibilang lucu ya lucu juga, kerjanya tukang potong rambut,


Jadi di dalam perusahaan semen ini seperti layaknya kampung, semua bidang pekerjaan ada, dari sopir, satpam, tukang kayu,


tukang batu, tukang listrik, mekanik, sampai


tukang cukur juga ada, semua di bawah naungan pabrik semen, jadi orang tak perlu kemana-mana, semua sudah tersedia di dalam,


Bahkan lapangan bola, lapangan basket, kolam renang, juga mini market yang lumayan lengkap juga ada, dari pabrik seminggu sekali ada bus yang siap mengantar karyawan ke kota untuk belanja, dengan gratis.


Di dalam juga ada kantin, jadi mau makan tinggal potong gaji, mau masak sendiri juga boleh, dengan belanja sendiri tentunya.


Safi teman sekamarku itu orangnya suka


bercanda. Malam-malam dia mendekatiku, sambil nelpon,


“Ada apa?” tanyaku heran karena dia nelpon


dengan suara perempuan.


“Ssst…! Jangan keras-keras mas, aku lagi


ngerjain mas Widji.” kata Safi,

__ADS_1


“Ngerjain apaan?” tanyaku heran.


“Ngerjain nelpon dia, aku pura-pura jadi


perempuan, biar kapok, masak orang kok sukanya telponan sama perempuan.” kata Safi.


Walau aku mengerti maksudnya tapi aku kasihan juga sama yang dikerjai, karena sampai mau mengirimi pulsa, dikiranya Safi yang memakai nama perempuan itu benar-benar perempuan, sehingga sampai malam larut masih ngobrol sayang-sayangan, juga masih perawan, sakitlah, aku jadi tidak konsen nulis di hp.


Besoknya yang dikerjai orang lain lagi, bernama pak Bunawi, pak Widji dan pak Bunawi itu juga


orang tua yang sudah ubanan, lha heranku kok


bicara juga sayang-sayangan.


Dan lebih anehnya lagi nanti setelah nelpon pada ke tempatku, dan cerita sama Safi kalau habis telpon-telponan sama cewek, dan yang-yangan, kayak anak baru remaja saja, gak tau kalau yang barusan nelpon orang


yang sekarang diajak bicara, ah bener-bener


sudah edan semua, gara-gara pada kesepian.


Aku tinggal saja melepas sukma, pergi ke


Cirebon ke daerahnya Mabrur.


Sebagian orang ingin membunuh sepi, dengan


tikaman paling sederhana, lalu sepi mati dan tak pernah datang lagi selama hidupnya, tapi


sebagian pejalan pencari hakikat selalu mencari sepi seperti mencari anak yang hilang, yang sangat dikasihi, yang bisa mencerai beraikan hati, sekaligus juga manautkannya.


Sebab hanya dengan kehilangan yang fana hati bisa menemukan yang kekal.


Sukmaku segera membumbung, melesat


melintasi gunung batu dan malam yang membeku, laut yang mencair, dan perahu yang mencari harapan, setiap nafas itu adalah perjuangan, atau keterbuangan hembusan tanpa makna, tanpa aksara,


Sampai juga di satu pemakaman umum, dan satu makam dikeramatkan, ada juga orang


mencari serpihan harapan yang mungkin


ditinggalkan orang yang telah mati atau ditindih tipuan salah satu tipu daya dari sekian banyak


tipu daya setan yang telah dirancang sedemikian rupa untuk menyesatkan manusia pada puncak ketersesatan.


Aku juga tak tau kenapa aku tertarik ke arah


yang tak ku mengerti, lalu aku melesat lagi


sampai ke masjid tua, yang lantainya dari papan kayu, yang sudah halus di-elus kaki-kaki sang pengurai harapan, dari sisi yang diyakini


kebenarannya, ku lihat orang ramai sholat, aku


sekalian mengambil wudhu dan ikut barisan


jama’ah, sekalian sholat isya’ yang belum ku


tunaikan.


Tak ada seorangpun yang melihatku, selesai


sholat aku mengkonsentrasikan tujuanku, tapi


aku malah terseret ke arah air terjun kecil, lalu


baru melesat lagi dan berhenti di dekat pohon


sawo tua, ku lihat jin lebih tinggi dari pohon


sawo tua, mungkin tingginya ada sepuluh meter lebih, aku mengitarinya dengan melayang di udara.


Ku lihat tubuhnya biru tua, bukan hijau, tapi biru ke arah ungu, matanya merah menyala, tak ada taring, tapi lengannya sebesar pohon kelapa, aku yakin perwujudannya seperti itu karena sifat yang dimilikinya, bibirnya basah oleh darah,,

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2