
Ironis memang ketika Raja sangat kasih sayang pada rakyatnya, korupsi hampir tidak ada, sekolah hampir semua gratis, orang miskin mendapat jatah bulanan, dan bahkan orang mau nikah juga dapat bagian, pemerintah berapa tahun sekali membagikan uang,
Malah menjadikan sebagian orang berfikir sempit dan malas sekolah, lha miskin saja mendapat jatah, untuk apa sekolah, biasanya orang sekolah kan punya alasan atau tujuan, agar mudah mendapat kerja, atau agar mudah mencari kehidupan, tapi kalau sudah kehidupan mudah, dan bukankah akan membuat orang
malas, untuk apa repot-repot menjadi pinter,
kalau bodoh, miskin, juga sudah bisa hidup
berlebih karena ada jatah dari pemerintah??,
maka jadinya negaranya jadi negara bodoh, .
Memang kadang kayak di Indonesia misal negara bisa memberi jatah kehidupan layak, orang miskin mendapat jatah tiap bulan dari
pemerintah, belum tentu akan baik kedepannya, karena terkadang orang jadi malas mengejar cita-cita, orang jadi lebih memilih hidup ongkang-ongkang kaki, wong tidur tiap hari sudah dapat jatah dari pemerintah, jadi kadang yang kelihatannya baik, belum tentu jika dipraktekkan akan menjadi baik pada akhirnya.
Juga orang Arab itu kebanyakan bisa membaca Qur’an bukan karena belajar membaca, tapi dari kaset/ rekaman yang diputar berulang-ulang, sehingga lama-lama mendengar beberapa kali maka akan hafal, soal tajwid atau tanda baca ya asal-asalan, namanya juga hafalan karena mendengar dari kaset, makanya jarang yang menjadi imam Masjidil Haram itu orang Arab asli,
Kebanyakan dari Mesir, jebolan Al Azhar, atau dari Pakistan, dan tak sedikit yang dari Indonesia, yang seumur-umur hidupnya menjadi imam Masjidil Haram, seperti Syaikh Sambas, Syaikh Karim, Syaikh
Nawawi, yang selama hidupnya menjadi imam Masjidil Haram.
Kalau yang ngimami orang Arab kebanyakan
bacaannya acak-acakan, ya maklum hafalan
qur’annya bukan dari belajar tapi dari
mendengar kaset diputar, sehingga kalau lupa ya ndak bisa melanjutkan.
Arab itu bagusnya mungkin kalau jama’ah sholat lima waktu, diwajibkan, sehingga pas waktu sholat berjama’ah, ada polisi yang patroli di jalan-jalan, jika ada orang pas waktu sholat
jama’ah kok terlihat berkeliaran di jalan, lalu
ditanya polisi, ternyata agamanya Islam, maka
akan ditangkap, dibawa ke kantor polisi, kayak
naik motor tak pakai helm, jadi ada razia sholat berjama’ah.
Tapi ada juga jadinya menjadi kekurangan, orang sholat jadinya karena takut kena razia, makanya kalau sholatnya jadi asal-asalan, misal kalau lagi sholat suka malah sibuk sendiri nyari upil di hidung, maklum di Arab kan berdebu, jangankan upil hidung, telinga saja kalau tak sering dibersihkan akan jadi budeg karena banyak debu yang masuk ke telinga.
Jadi kalo disini orang sholat pada sibuk mencongkeli upil itu amat biasa, atau bawa hp, kalau hpnya bunyi ya sempat-sempatnya hp diangkat.
Kalau sholat di samping orang Arab jadi was-
was, takutnya upilnya di oleskan ke kita,
hehehe…
Kelebihan orang Arab lagi, suka bicara kayak
perempuan, ngrumpi gak ada ujung pangkalnya, soalnya kan orang lelaki yang belanja, orang perempuan ngendon aja di rumah, karena yang tukang belanja, ya tak heran juga, jadinya suka ngerumpi.
--------------------------
Setelah mencari kesana-kesini ketemu juga
__ADS_1
kamar mas Sarno, aku ketuk pintunya dan dia segera membukakan, mas Sarno di Arab mungkin sudah 16 tahunan, di pabrik ini, tiap tahun karyawan naik gajinya, kalau gajinya sudah 16 tahun bisa dibayangkan berapa ribu dalam real Arab, dan otomatis kalau sudah lama gajinya mungkin di Indonesia sama dengan gaji DPRD, ya akibatnya kalau sudah lama bekerja di Arab, akan sangat berat meninggalkan Arab,
Karena gaji sudah besar, dan kalau di Indonesia juga mendapat gaji segitu juga belum tentu bisa, ujung-ujungnya di Arab sampai tua, jika ijin tinggal habis ya memperbaharuinya.
Semua barak, kamarnya sama, tempat tidur, dan kamar mandi ada di dalam,
“Ayo-ayo, silahkan duduk,” kata mas Sarno
sambil menuangkan minuman jus buah.
Di Pabrik semen yang ku tempati itu, semua
kebun ada, dari kebun pisang, jeruk, jambu,
mangga, dan buahnya juga lebat, karena ada
bagian perkebunan yang merawat, sebenarnya
Arab itu kalau penduduknya tak malas dan mau mengolah tanahnya, tanahnya juga tak tandus
amat, malah tak ada kisahnya kalau Arab itu
padang pasir, aku malah berpikiran kalau Arab
jarang ada pohon dan tandus itu bukan karena
asli tandus, tapi karena penduduk miskin yang
miskin sekalipun mendapat jatah dari
malas, ya jadinya tanah jadi tandus, karena tak
ada tumbuhan yang di tanam, hujan sekalipun tak ada serapan air, karena tak ada pohon.
Di manapun jika kita membawa kebeningan hati, maka orang lain akan merasa nyaman dan tenang di samping kita, kecuali orang yang takut bayangan buruknya terlihat di kebeningan air yang tenang.
Hati dan kebeningannya itu bisa melihat segala sesuatu dengan jelas, sejelas orang yang
berkaca di air yang jernih, dan air hati yang
jernih itu akan dikeruhkan oleh kemauan-
kemauan yang berlapis-lapis, keinginan yang
bertumpuk-tumpuk, seperti kopi, jahe, teh,
bakso, santan, itu seperti keinginan baik, yang
dimasukkan ke air yang jernih, dan oli, tinta,
comberan, dan segala kekotoran, yang
dicampurkan ke air jernih itu seperti air yang
kotor.
Kesederhanaan cara pandang itulah yang selalu ku pakai di manapun aku berada, dan berusaha ku lekatkan setiap gerak-gerik.
__ADS_1
Tapi ada yang kadangkala di luar perhitunganku yang amat dangkal, kadangkala karena suatu
kejadian membuat anugerah yang diberikan
Alloh padaku tercabut, juga kadangkala yang
telah jelas kita ikhlaskan melakukan, tapi
dijadikan orang lain mengambil kesempatan,
untuk mengambil keuntungan kesenangan
nafsunya, sehingga tak jarang membuatku yang berusaha mengalir seperti air jernih, malah masuk dalam ruang lingkup air comberan, dan suatu nilai air jernih yang bermanfaat pun hilang, itu menjadikanku semakin berhati-hati melangkah, segala sesuatu kadang harus matang dipertimbangkan, sebab yang menurut kita baik, belum tentu akan baik kita terapkan kepada orang lain.
Golok yang mungkin bagi kita sangat berguna
untuk memotong kambing, tapi ternyata
dipegang orang lain malah dipakai memotong
leher manusia.
Jadi tak cukup kita punya niat berbuat baik,
sebab baik menurut kita, belum tentu akan baik bagi orang lain, setiap hati itu beda, dan hati
yang kadang telah pernah dijadikan perang,
ditanami ranjau, dipagar kawat berduri, dan
banyak ditumbuhi pohon beracun, maka akan
mengalirkan perbuatan dan ucapan keji, juga niat keji yang tak segan-segan dibungkus dengan tingkah yang baik.
Tapi di dalam pepatah jawa ada istilah: becik
ketitik olo ketoro, perbuatan baik akan
tertandai, dan perbuatan buruk akan terlihat
walau disembunyikan.
Wamaiya’mal mitsqola dzarrotin khiro yaroh,
wamaiya’mal mitsqola dzarrotin sarroiyaroh.
Siapa yang melakukan perbuatan baik, walau
seberat semut pudak maka Alloh akan
melihatnya, dan barang siapa berbuat keburukan seberat semut pudak maka Alloh akan melihatnya.
Berbuat baik tak usah takut tak akan terbalas,
hanya keikhlasan kita yang menentukan kita ini menjalankan segala gerak tanpa beban, tenang....
Bersambung......
__ADS_1