
“Iya… kami akan menyerang semuanya.”
“Apa masih ada yang belum datang?”
“Ada.. para arwah dukun yang menyembah nyai, sekarang masih di atas.”
“Suruh sekalian masuk, sekalian mengeroyok- ku.” Kataku.
Maka masuk ada sekitar 600 ruh para dukun yang menyembah Nyai Roro Kidul. Suasana menjadi tegang, dan udara juga di sekitarku juga mulai memadat, aku sengaja ajak mediator mojok, agar serangan tak mengenai orang lain.
“Siapa ini?” tanyaku.
“Kami para dukun yang mengabdi pada nyai roro kidul.” jawab ruh para dukun.
“Dari mana saja?”
“Kami dari mana-mana, kami ada 600 orang.”
__ADS_1
“Kalian berani melawan ini yang bersamaku?” Mereka melihat pada yang di sampingku, ada
syaikh Abdul Q********** RA, syaikh N*****,
syaikh Abdul K****, syaikh T*****, dan kyai guru, dalam bentuk sukma dan mereka semua silau, sambil menyembunyikan wajahnya.
“Aku tak berani, tapi kami berani melawanmu, apa kamu berani melawan kami semua?”
“Boleh, ayo aku dilawan.” Para prajurit jin, sebanyak 1 juta dan para arwah dukun segera mempersiapkan diri menyerang, aku tak mau repot, segera ku panggil malaikat Malik penjaga neraka jahanam dan malaikat maut untuk membantuku, beratus-ratus juta yang datang, semua siap sedia (siapa saja boleh tak percaya dengan cerita ini, mungkin lebih baik kalau yang tak percaya, bisa memediumisasi jin, ke tubuh manusia, dan ditanyakan apa ceritaku soal melempar nyai Roro Kidul ke neraka dan apa yang ku tulis ini benar atau tidak, sebab aku sendiri juga tak melihat, hehehe..), mungkin akan timbul pertanyaan kok tau yang datang malaikat beratus juta, itu namanya pertanyaan bodoh, kan aku yang minta pada Allah, supaya didatangkan malaikat beratus uta malaikat, dan siapa saja boleh meminta pada Allah, semilyar malaikat juga boleh ndak ada yang melarang.
“Bagaimana… menyerah tidak?” tanyaku di antara geliat mereka karena kena cambukan.
“Hah, kau curang, siapa mereka?”
“Curang bagaimana, kalian satu pasukan, kan aku juga punya pasukan malaikat.”
“Kami tak akan menyerah.”
__ADS_1
“Cabut nyawanya dan lempar ke neraka yang tak mau menyerah, dan mau masuk Islam.” kataku pada malaikat, dan semua segera diboyong ke neraka oleh malaikat Malik.
Pertarungan hanya sebentar hampir hanya sekitar 5 menit atau 10 menit, tapi belum lama berselang datang lagi pasukan dari kirimannya Sengkuni, walau tak banyak hanya beberapa ribu jin, yang berupa kera, mereka semua tak bisa bicara.
Hanya aa uu, aa uu, dan menggaruk-garuk, jin diambil dari tempat Situ di daerah Bandung, dan semua tak berani melawanku, ku suruh masuk Islam juga tak mau, maka daripada di belakang hari merepotkan, semuanya ku minta malaikat maut yang masih menunggu perintah, ku minta mencabut nyawanya.
___________________________________
Akhir-akhir ini kejadian yang ku alami, seperti roda kereta api yang berkejaran, susul menyusul, waktu serasa teramat cepat dan kejadian di dalamnya teramat banyak, seperti aku sendiri masuk ke dimensi waktu yang bukan manusia, cobaan beruntun, tindih menindih dan kadang sepertinya aku ini amat sendirian, sangat sendiri, harus menghadapi sendirian, semua serasa menjauh dan meninggalkanku hanya bisa berharap pada Allah, jika Allah juga tak memperdulikanku, maka jadinya apa dengan diriku, aku seperti panglima tanpa tentara, tanpa senjata, tanpa apa-apa yang dijadikan kekuatan dalam berperang, hanya Allah dan Allah lah tempat bersandar, dikeroyok dari mana-mana, hm, rasanya tak mungkin akan menang, kecuali Allah menolongku, dan aku yakin Allah menolongku.
Cuma pertolongannya bagaimana itu aku yang tak tau, tapi sekalipun tanpa pasukan dan tanpa senjata, aku akan terus maju ke medan laga, syukur tak apa-apa mati sahid, semua orang hidup juga akan mati, mati sebagai orang yang gugur di medan laga, selalu siap insaAllah Kembali lagi datang sisa-sisa pasukan nyai Roro Kidul, segera ku tangkap dan aku sudah tak mau banyak tarung-tarungan yang tak ada perlunya, ada seribu yang sedang melayang di udara, ku tangkap saja semua dan kumasukkan kedalam botol, siapa tau ada yang ingin diberi oleh-oleh jin. Sementara itu juga, serangan dari Sengkuni juga masih terus menggebu-gebu, lebih sering lagi kepada anak istriku, juga pada murid internetku yang ketahuan membantuku, ada beberapa murid internetku yang takut, karena serangan itu ada yang tetap bertahan, memang iman sedang diuji, ketahanan sedang dipertaruhkan, maju terus atau berhenti, memang banyak juga yang memilih berhenti, jadi ingat kata guruku.
“sama muridku atau muridmu, nanti akan disaring oleh waktu dan kejadian, orang-orang pilihan akan jadi orang pilihan, akan maju menjadi orang yang utama, yang gagal memang sebaiknya mundur dari sekarang, dari awal, daripada nanti hanya akan menjadi beban di perjalanan” terngiang selalu pesan itu.
Sengkuni itu, kyaiku juga selalu memanggilnya setan, walau beliau kadang menyebutnya dengan bercanda, tapi berulang kali, dan kadang dengan kata mendadak “SETAN SENGKUNI!!” seperti kata sumpahan, ya aku tak tau apa yang diucapkan beliau, itu dari dulu, saat beliau masih disantet, dan aku yang mengobati di sebelah beliau, beliau selalu menyumpahi Sengkuni, padahal orangnya tak ada, tak terpikir sama sekali apa maksudnya, padahal itu tahun 2011, baru sekarang aku pahami maksudnya, kyai disantet, yang nyantet Sengkuni, sementara Sengkuni itu tak ada, dan juga sering hadir di depan kyai, bagaimana perasaan orang yang tau jelas siapa yang nyantet, karena terbuka hijab penglihatannya, sementara yang nyantet itu selalu hadir di depannya, dengan pura-pura baik, kalau aku tak kemplang kepalanya, tapi kyai tetap tersenyum, bahkan selalu bersikap baik, seperti tak terjadi apa-apa, bahkan kalau aku mengatakan : ini yang berbuat Sengkuni kyai… kyai jawab, bukan, bukan Sengkuni, tapi setan yang berupa Sengkuni, seakan mau membuat perumpamaan, dengan kata-kata yang membingungkan, kalau orang yang tak paham akan mengatakan yang melakukan adalah orang lain.
Kalau berhadapan dengan guruku, dan membahas sesuatu kadang beliau melarang yang jelas-jelas itu menurutku sangat menguntungkan, tapi malah beliau melarang, dan memang kemudian di akhirnya, ketahuan itu adalah hal yang merugikanku di suatu saat nanti, kita seperti berjalan ke depan dengan orang yang paham akan ada jalan begini dan begitu yang kita lewati, dan kita dituntun agar selamat sampai tujuan, disuruh belok kanan dan kiri, sementara tanpa penjelasan kenapa ke kanan kenapa kekiri? Jadi seringnya sangat membingungkan, paling baik adalah berlagak seperti orang tidur, dan menjadi penumpang yang yakin akan dibawa kemana oleh sopir, pasti sopir tak akan memasukkan kendaraan ke jurang, karena itu sama saja memasukkan diri sopirnya ke dalam jurang.
__ADS_1