
“Assalamualikum..” salamnya sembari
mengulurkan tangan.
“Waalaikum salam warokhmatulloh.” jawabku
menerima uluran tangannya untuk berjabat
tangan.
“Anak ini dari mana?” tanyanya setelah duduk di dekatku.
“Saya dari daerah Senori Tuban pak..” jawabku,
Sambil memperhatikan perawakan orang ini,
tinggi sedang, tubuhnya kelihatan kuat,
wajahnya biasa, tapi jenggotnya memanjang
sampai ke dada, dan rambutnya panjang diikat
tapi dimasukkan ke dalam baju.
“Jauh dengan daerang Sendang?” tanyanya lagi.
“Wah itu malah desaku.” jawabku yakin.
“Wah kok kebetulan begitu, aku punya kenalan di daerah itu, namanya pak Mustofa, apa kamu tau dik?”
“Pak mustofa yang mana ya?”
“Rumahnya belakang pesantren Darut******.”
kata orang itu.
“Wah itu ayahku…” kataku juga terkejud dan
heran, kenapa jadi kebetulan seperti ini.
“Lhoh kamu Ian? Febrian? Anak pak Mustofa,
cucu KH. Khus****.?”
“Benar pak…” seketika orang itu memelukku, dan mengucek-ucek rambutku.
“Walah sudah besar kamu nak, dulu aku terakhir melihatmu masih umur 4 tahun, masih suka nangis.”
“Bapak siapa?” tanyaku karena sejak tadi tak tau namanya.
“Namaku Fadhol, aku teman sekolah ayahmu..,
sudah-sudah, ayo ke rumah, bicara dan ceritanya nanti saja.” kata pak Fadhol, mengajakku kerumahnya, yang tak jauh dari masjid, hanya melewati jalan raya dan masuk gang 25 meteran.
“Nah ini rumahku nak Ian.” kata pak Fadhol,
Rumah yang sederhana, dari kayu tanpa dicat, di depan rumah juga ada dudukan dari kayu
sebesar lengan orang dewasa, terjejer, hingga
membentuk dudukan yang rapi, dan halus bukan karena diplitur tapi karena sering diduduki, di dalam rumah tak ada perabot yang mewah, cuma meja besar dari kayu tebal, yang kuno sekali juga kursi kayu kasar.
Pak Fadhol segera mempersilahkan aku untuk duduk, sementara dia masuk ke dalam memanggil istrinya, bernama ibu Zulaikhah. Tak lama kedua orang itu keluar.
“Oh ini anaknya pak Mus? Wah bener-bener
sudah besar.” kata bu Zulaikhah.
“Udah bu, sana siapkan makan…” kata pak
__ADS_1
Fadhol, dan sambil nunggu makan disiapkan aku pun ngobrol dengan pak Fadhol,
“Kok kamu sampai di sini, sebenarnya mau ke
mana nak Ian?” tanya pak Fadhol.
“Yah beginilah pak, saya cuma mengikuti langkah kaki, kemana mau membawa.” jawabku.
“Ee alah wong turunan orang yang suka tirakat, ya jadi suka tirakat…., jadi tak punya tujuan
pasti to? We kalau begitu mau kan nginep di sini barang 3, 4 hari.?”
“Wah jadi merepotkan bapak..”
“Endak, nggak merepotkan kok, mau ya?”
“Baiklah pak.”
“Nah gitu dong.”
Bu Zulaikhah pun memanggil kami untuk makan.
Nasi, sayur kangkung, tempe goreng kering
tanpa tepung, sambel jeruk, pindang, wah nikmat sekali untuk perut yang lapar.
Semalaman aku dan pak Fadhol ngobrol.
“Ngger, sebenernya apa yang kamu cari dalam
lelakumu ini?” tanya pak Fadhol, sambil
mengebulkan asap rokok Sukun Kretek.
“Ah saya juga tak tau pak…, sebenarnya saya
ingin lepas dari belenggu keinginan, tapi kok ya malah tercebur pada keinginan yang lain.”
Kretek, karena melihat betapa nikmatnya pak
Fadhol ngerokok jadi aku juga kepingin.
“Maksudmu apa to ngger?”
“Maksudku, aku ingin menghilangkan rasa ingin dimulyakan, punya kedudukan, punya kekayaan, punya derajat dihormati masyarakat, punya istri yang cantik, dan sholeh, juga ingin lepas dari
tindihan nafsu kenikmatan panca indra, tapi aku kok malah terperosok pada keinginan baru, yaitu keinginan ingin lepas dari ingin, bukannya aku malah lepas, tapi malah tambah saja keinginanku, yang membuatku makin terkhijab dengan Alloh.”
“We ladalah, aku kok malah mumet to mendengar penuturanmu?” kata pak Fadhol, mengerutkan kening, dan tangannya memegangi kepala.
“Saya aja yang mengucapkan mumet, apalagi
sampean..” kataku, dan kami tertawa berdua.
Kira-kira saat itu jam 1 dini hari, tiba-tiba pak
Fadhol mengajakku ke kebun jagung belakang
rumah, ku kira mau membakar jagung.
Sementara bulan di langit terang mengapung di angkasa. Ini tanggal 19, sehingga bulan masih
penuh.
Sampai di kebun, tiba-tiba pak Fadhol
menghentakkan kaki dan tubuhnya meloncat
seperti belalang, melenting ke pucuk pohon
__ADS_1
jagung, ringan seperti kapas, kemudian berlarian di pucuk-pucuk pohon jagung, lalu kembali ke depanku.
“Apa ilmu begini ini yang kamu cari ngger?” kata pak Fadhol masih berdiri di pucuk pohon jagung, dan daun itu cuma bergoyang sedikit.
Aliran di pusarku mengalir deras, mengalir cepat ke seluruh urat di tubuhku, sehingga seketika tubuhku terasa enteng.
Tapi aku cepat-cepat minta perlindungan pada Alloh, dan minta disembunyikan siapa aku, dijauhkan dari pamer dan takabur.
“Ah ndak butuh ilmu seperti itu aku pak Fadhol.” jawabku.
“Lho memangnya kenapa? Semua pemuda
menginginkan ilmu seperti ini.., kok kamu
enggak?” kata pak Fadhol sambil melayang
ringan ke sampingku.
“Punya ilmu kayak gitu juga buat apa kalau hidup susah, hati nggrengseng, yang ku inginkan ketenangan batin, sehingga saat aku beribadah pada Alloh pikiran dan batinku tak kemana-mana.”
“Weh kamu ini cita-citanya sebenarnya sepele,
tapi setelah ku pikir kok teramat tinggi, dan di
atas kewajaran.” kata pak Fadhol sambil
melangkah memetiki jagung muda.
“Sebenernya itu keinginan wajar, seperti
keinginan orang pada umumnya, tapi…”
“Tapi apa ngger?” tanya pak Fadhol, tangannya
tak henti mengupas jagung, dan membersihkan, lalu menyalakan api pada tempat pembakaran, yang sepertinya sudah biasa dipakai, aku pun dengan cekatan membantu meletakkan jagung di api yang mulai membesar.
“Ya tapi mewujudkannya dalam nyata yang susah, apa itu cuma ada di batin?”
“Aku sendiri tak tau ngger, dulu aku juga sering lelaku sepertimu, tapi yang ku cari ilmu
kanuragan, aji kesentikan. Eh, besok ayo ke
tempatnya H. Ibrahim.”
“Mau apa pak? Apa dia juga kenalan ayahku?”
“Weh bukan kenalan lagi, sudah seperti saudara malah, dia pernah ngomong mau menjodohkan putri satu-satunya denganmu…”
Ah kenapa lagi-lagi soal jodoh… apa memang aku sudah saatnya menikah?teriakan batinku.
“Kenapa?” kata pak Fadhol melihatku melamun.
“Ah tak papa kok pak…”
“Kamu ragu ama anaknya pak Ibrahim? Ee.. kalau nanti sudah melihat orangnya kamu pasti bilang he-eh, orangnya cantik, pinter, jebolan
Nggontor, mau apa lagi, kekayaan ada.”
“Ya nantilah pak.” kataku supaya Pak Fadhol tak cerita terlalu banyak. Malam itu, setelah sholat
magrib, aku diajak pak Fadhol ke tempatnya pak Ibrahim, naik motor Honda cdi, rumahnya tak
terlampau jauh cuma 2 km.
Sampai di rumah pak Ibrahim, hampir isyak, pekarangan rumahnya luas, berpagar besi, dan bertutup viber, halamannya luas, aneka pohon dan bunga tertata rapi, sebagian halaman tertutup batako, dan sebagian tertutup rumput Jepang di antara beraneka tanaman bunga.
Bangunan rumah mewah dan berkelas, dengan tiang besar-besar dan bundar. Rumah bercat kuning gading, dan lantai dari marmer. Dari situ aja udah membuatku grogi, bukan karena aku yang miskin, aku hanya berpikir jika anak pak Ibrahim jadi istriku, tentu mahal biayanya merawat anak orang kaya.
Tapi ya udahlah, tapi aku benar-benar berdoa,
__ADS_1
moga-moga, dia bukan jodohku. Kami mengucap....
Bersambung...