Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Basa-basi


__ADS_3

Kebetulan mobil truk yang saya bawa diserang kawanan bajing loncat, saya tidak berdaya, dan digiring ke dalam hutan, barang kiriman saya dipindah ke truk mereka dan saya saat itu mau dibunuh, dengan cara dilemparkan ke dalam jurang, saya sudah pasrah, wong saya diikat dan diseret ke dalam hutan, ada grombolan bajing loncat, yang ditugasi membunuh saya, ketika saya mau dibunuh, kok kalau Allah belum menghendaki mati ada saja cara Allah menyelamatkan saya.”


“Bagaimana itu kok bapak bisa selamat?” tanyaku penasaran.


“Ya saat itu saya mau dipenggal, dan mayat saya mau dilempar ke dalam jurang, tapi ketika pedang mau diayunkan ke kepala saya, ada salah seorang yang menahan.”


“Ee sebentar… sebentar dulu Jo..! Kok saya


seperti pernah melihat orang ini.” kata orang itu sambil menyenterkan senter yang dibawanya ke arah saya.


“Wah benar saja ini kang Sunoto, tetanggaku


Jo..” kata orang yang mengarahkan cahaya senternya ke arahku, sambil mengangkat wajahku yang menunduk pasrah.


“Dah lepaskan lepaskan…” kata bajing loncat yang mengenaliku, yang wajahnya masih tertutup dengan kain penutup wajah.


“Ini saya kang, tetanggamu.. Wugiri.” kata pemuda di depanku yang membuka penutup


wajahnya.


Aku hanya bengong “Wah kok bisa begitu kamu Wu? kok jadi garong begitu?”


“Ya tuntutan utang kang..” jawab Wugiri.


“Ya memang kalau Allah mau menyelamatkan orang ya akan diselamatkan, misal kok tetanggane sampean itu kok gak jadi salah satu bajing loncatnya, mungkin nyawane sampean juga sudah pergi ke akherat, jadi segala sesuatu itu disyukuri saja, juga ndak perlu menyalahkan Wugiri tetanggamu itu, bisa saja dia awalnya menanggung banyak hutang, lantas kemudian masuk menjadi group bajing loncat, sebenarnya maksud Allah adalah agar dia dijadikan Allah jalan waktu sampean dirampok, maka sampean bisa diselamatkan, Allah itu mengatur segala sesuatu dengan rantai berantai, sambung menyambung.” jelasku.


“Iya kyai, saya selama ini malah menyalahkan


Wugiri, kenapa kok dia jadi rampok begitu? iya benar juga kata pak kyai, kalau Wugiri tak jadi perampok, bisa saja sekarang saya sudah mati.” Kata Sutono, matanya menerawang jauh, mungkin membayangkan Wugiri yang telah menolongnya, tapi malah selalu dia salahkan karena telah menjadi perampok.


Pak Sutono dan anaknya beberapa hari tidur di majlis, sehingga banyak waktu dia pakai mengobrol denganku, selama ku lihat di majlisku juga tak pernah ku lihat pak Sutono menjalankan sholat, tapi aku biarkan saja, walau banyak komplain dari para jamaah dzikirku, dan timbul antipati dari mereka, rasa kasihan yang awalnya ada pelan-pelan terkikis, rasa simpati juga mulai tipis melihat anak bapak itu tak melakukan sholat, tapi ku biarkan saja, setiap orang punya keyakinan masing masing.


“Dzikir di majlis ini dilakukan kapan saja pak kyai?” tanya pak Sutono di sela pembicaraan


kami berdua.


“Tiap hari juga ada, tapi kalau mau ikut yang banyak orang ikut saja di malam minggu legi sama minggu kliwon..” jawabku dengan setengah menjelaskan.


“Kok malam minggu legi sama malam minggu kliwon? Seperti ada unsur kejawennya?” tanyanya dengan enteng.

__ADS_1


“Itu hanya masalah penempatan waktu, untuk mempermudah saja, sebab cabangnya yang banyak, sehingga agar tidak bertabrakan dengan jadwal dzikir di cabang yang lain, dan bila dikehendaki kumpul bersama di majlis pusat, semua cabang tak meninggalkan jadwal dzikirnya.” jelasku.


“Ooo tak berkaitan dengan itungan jawa?”


“Tidak.”


“Saya beserta teman-teman saya kemaren berembug, itu teman-teman yang kemaren menghantar kami kesini, mereka ingin ngajak kita ikut majlis dzikir ini, apa diperbolehkan?”


“Ya boleh saja, silahkan saja datang, jika waktu ada jadwal dzikir.”


“Apa syaratnya Kyai?”


“Ndak pakai syarat, pakai saja pakaian putih kalau punya, kalau ndak punya juga gak usah pakaian putih, pakai pakaian biasa aja asal rapi, dan bawa air untuk diisi doa, nanti untuk keperluan masing-masing.”


“Itu apa air bisa untuk keperluan kami yang kebanyakan jualan bubur kacang hijau.”


“Ya insaAllah akan berkah dan laris jualannya, dipakai saja nanti dibuktikan sendiri, kalau saya bicara muluk-muluk nanti juga apa gunanya kalau ternyata tak ada efeknya apa-apa, kan sama saja saya menipu, jadi ikut saja dzikir, bawa air, nanti airnya dido’akan sendiri untuk agar jualan bubur kacang hijaunya laris manis, nah dibuktikan sendiri, nanti laris apa gak?”


“Apa dipungut biaya?”


“Wah endak sama sekali, sama sekali gak pakai biaya, malah di sini yang ikut dzikir itu dijuluki


BAJINGAN.”


“Iya soalnya BAr ngaJI maNGAN, itu bahasa jawa, artinya habis ngaji langsung makan.” “Ooo begitu…”


“Jadi boleh ya kami ikut?”


“Boleh.” Jawabku singkat, ya karena aku juga tau, pembicaraan kami hanya sekedar basa basi semata, seperti orang gak ada bahan pembicaraan jadi bicara yang bisa dibicarakan, karena pak Sutono juga tak pernah datang pada pertemuan pengajian sama sekali, itu hal yang wajar, dan mengajak seseorang pada kebaikan juga tak semudah itu, hidayah itu hanya Allah kehendaki pada orang yang Allah kehendaki


mendapatkannya, kadang yang jauh juga malah dapat yang dekat malah tidak dapat.


Yang kadang aneh malah jamaah dzikirku kadang yang datang dari Jakarta, Bogor, Sukabumi, Bandung, Purwokerto, Semarang, Jogya Solo, Surabaya, tapi malah tetangga kanan kiri jarang ada yang mau ikut, nah itu yang kadang aku sendiri merasa aneh.


“Maaf pak yai, saya boleh bertanya?”


“Boleh… bukannya dari tadi kita tanya jawab?”


“Ini soal istri saya.”

__ADS_1


“Kenapa dengan istrinya?”


“Istri saya itu suka kerasukan juga dari dulu.”


“Maksudnya pak?”


“Ya istri saya itu suka sekali kerasukan, kalau anak saya ini yang kerasukan, orang 5 masih kuat memeganginya, tapi kalau istri saya yang kerasukan, orang 8 juga masih dilempar.”


“Kok kuat begitu..?”


“Iya kalau kerasukan itu suka menggereng- gereng seperti macan.”


“Begitu ya… coba dibawa kesini.”


“Sudah saya ajak kesini kyai, tapi gak mau…”


“Apa istrinya punya ilmu, maksudku pernah mempelajari ilmu yang aneh?”


“Iya kyai…. ayah istri saya kan dukun, yang biasa juga mengobati orang.”


“Ooo la kok kenapa ndak mengobati anaknya sampean yang mau dikorbankan orang yang mengambil pesugihan.”


“Sudah berusaha tapi langsung kalah, dan sakit, jadi tak berani lagi,”


“Apa yang dipelajari istri sampean?” tanyaku.


“Itu kyai, ini menurut kyai benar apa salah?”


“Bagaimana itu?”


“Saya biasanya kalau sama istri, misalkan saja kami mau pulang ke Cirebon, sedang kami sama sekali ndak punya ongkos, kami tetap saja naik bus, dan nanti di bus mantra istri saya dibaca, dan anehnya kami kemana saja tak akan ditarik ongkos.”


“Wah itu ya salah, gak benar seperti itu.”


“Tapi kami kepepet saja, tak kami pakai tiap hari kok kyai.”


“Ya kalau tiap harinya gak punya ongkos dan tiap hari kepepet ya kan dipakai tiap hari, malah tiap jam..”


“Iya juga ya, hehehhe..”

__ADS_1


“Itu kan kasihan sopir busnya gak dapat uang, la misal semua penumpang itu punya kebisaan seperti istri sampean, la semua bus di Indonesia....


Bersambung....


__ADS_2