
“He-eh, mau ngajak kamu maen.” katanya.
“Main kemana?” tanyaku.
“Ya kemana aja, supaya kita masing-masing
saling kenal.”
“Tadi sudah ijin sama ayah ibumu?”
“Sudah.”
“Diijinin?”
“Ya diijinin lah, masak bisa nyampek sini, kalau tak diijinin?”
“Ya siapa tau kamu kabur.”
“Enak aja, emangnya aku perempuan apaan? Aku itu teramat tunduk pada ayah ibuku.”
“Ih promosi…., “
“Ah jangan godain terus ah, mau enggak kamu ku ajak jalan?”
“Kamu tak takut apa, kalau ku apa-apakan?” tanyaku sambil ku tatap lekat-lekat ekpresi wajahnya, dan dia balas menatapku dengan titik embun di matanya, sehingga memaksaku memalingkan pandang dan berlindung pada Alloh atas godaan syaitan yang terkutuk, tapi juga aku mendesah dalam hati,,
Mengapa begini berat cobaan yang
Kau beri duhai kekasih, apakah aku akan
berpaling dariMu.
“Kenapa harus takut? Aku tau kamu bukan tipe
lelaki seperti itu.”
“Dari mana kamu tau?”
“Dari tatapan matamu padaku.”
“Emang kenapa tatapan mataku?”
“Kamu tak pernah menatapku dengan tatapan
birahi.”
“Ah sok ngerti aja kamu, siapa tau di hatiku aku birahi padamu.”
“Ya bagus, kan nantinya kita jadi suami istri.”
katanya sumringah.
“Siapa yang mengatakan begitu?” tanyaku.
“Ah tak usah muter-muter ah omongnya, mau
enggak ku ajak jalan?”
“Entar dulu aku tak ijin ibu.”
Aku segera berjalan ke dalam dan ijin untuk
pergi. Kami pun berboncengan di motor, aku risih juga ketika Ulfa menempelkan tubuhnya lekat di tubuhku, dan kedua tangannya melingkar di pinggangku, seperti memakai sabuk ular aja rasanya.
Sebenarnya pikiranku menerawang jauh,
mengingat satu-satu tentang mimpi semalam,
padahal aku tak melepas sukma, kurasa mimpiku itu nyata, tentang Ulfa dengan seorang pemuda bernama Imron..
Ketika sampai di jalan sepi, jauh dari perumahan, nampak sebuah warung,
kubelokkan motor ke warung dan berhenti di
depan.
“Mau sarapan?” tanya Ulfa,
“He-eh.” jawabku dan segera turun dari motor
melangkah ke dalam warung, kulihat perempuan setengah baya tengah menaruh gelas piring,,
Aku segera memesan teh hangat, juga untuk Ulfa. Ku comot gorengan, sembari menunggu teh datang, perempuan pelayan warung itupun membawakan teh hangat, meletakkan di depan kami dan masuk lagi, tinggal aku dan Ulfa, ku sruput teh, rasa hangat mengaliri tenggorokanku, ku pandang Ulfa di depanku.
“Heh, kenapa menatapku seperti itu?”
__ADS_1
jengahnya.
“Kenapa kamu tak terus terang?” kataku.
“Terus terang apaan?” tanyanya jidatnya
mengerut.
“Terus terang pada kedua orang tuamu, kalau
kamu hamil.” kataku datar tanpa ekspresi.
“Ih ngaco kamu, kamu kesambet ya?” katanya
wajahnya memerah, pias dia tak dapat
menyembunyikan keterkejutannya.
“Heh, ngaco? Aku tau semua, tentang Imron,
tentang hubunganmu dengannya, perbuatanmu dengannya, dari a sampai z aku tau…”
“Tau? Tau dari mana? Kamu temannya Imron?
Imron yang cerita padamu?” Ulfa panik.
“Aku tak pernah kenal dengan Imron, tapi aku
tau semua… Walau aku tak kenal Imron, dan tak pernah ketemu dengannya, tapi aku tau siapa
ayah ibunya, rumahnya bagaimana, bahkan kamu melakukan dengannya di mana aja, kalau tak percaya, kamu melakukan dengannya pertama kali di sebuah bugalow di pinggiran Telaga Sarangan, apa perlu ku ungkap semua?”
Wajah Ulfa memerah, menunduk dalam, aku
harus tega, kebenaran harus diluruskan, walau
dalam hati ada rasa iba menyeruak, untuk tak
menyakiti perempuan secantik Ulfa, tapi
kebenaran adalah kebenaran yang tak mengenal cantik atau jelek, diletakkan di manapun kebenaran tetap harus berjalan dalam relnya.
“Bagaimana mungkin kau tau?” tanyanya seperti anak kecil bego yang tak pernah kenal sekolah, atau orang tua yang buta huruf, diberitahu bunyi sebaris tulisan.
tau apalagi Alloh, Alloh Maha Tahu segala-
galanya, kamu bisa mendustai orang tuamu, tapi tak bisa mendustai, dan menipu Alloh, dan jika Alloh menghendaki aku untuk tau apa susahnya?” kataku.
“Apakah kau seorang auliya’?” tanyanya dengan wajah takut.
“Auliya’? Aku hanya orang sepertimu, yang
hampir kau tipu dan kau perdaya, yang akan kau buat menutupi aibmu.” kataku dengan senyum sinis.
Seketika tubuh Ulfa gemetar, dan luruh
merosot dari kursi, dan bersimpuh di tanah,
menangis….
“Maafkan aku, maaf… hu.. hu..”pecah suara dan tangisnya makin keras, membuat ibu yang menjadi pemilik warung keluar, tapi kembali ke dalam lagi setelah ku beri isyarat dengan tangan.
“Bukan padaku kau minta maaf, kepada kedua
orang tuamu, yang telah kau tipu selama ini,
harusnya kau minta maaf, juga segeralah kau
bertaubat pada Alloh,” kataku dengan nada
lemes.
“Aku tak sanggup, ayah ibu, selama ini betapa
menyanjungku, aku anak yang berbakti, aku tak bisa mengecewakan mereka.” katanya mengiba.
“Lucu…. lalu kamu mau menunggu apa lagi? Mau menunggu orok di dalam rahimmu lahir?” kataku lumayan ketus.
“Kenapa kamu tak malu dulu pada saat
melakukan? Kamu nikmati tiap inci dosa-dosa, ini baru hamil, belum akibat lebih buruk, kamu
masuk neraka, apa kamu sudah merasa kebal
dibakar api? Atau jangan-jangan tak ada iman di hatimu? Jangan-jangan kamu tak percaya akan adanya keadilan Alloh?” Ulfa terdiam aku
__ADS_1
lanjutkan kata-kata.
“Apa kamu menunggu keadilan Alloh tiba? Aibmu dibuka di depan makhluq seluruh dunia, dari jaman nabi Adam sampai sekarang?” Ulfa masih diam.
Tiba-tiba matanya nanar menatapku, merah, dan ada lingkar hitam di sekitar mata.
“Biarkan aku mati! Biarkan..!” “bruak!” dia
menggebrak meja, gelas minumannya sampai
terlontar dan jatuh pecah di lantai warung.
Lalu dia lari keluar, seperti orang kesetanan, menuju kebun belakang warung, ada kebun tebu dan gerumbul hutan kecil, aku segera memburu mengejarnya, ku ikuti arah jeritannya.
“Biarkan aku mati!” Ulfa lari tak terarah,
menerobos semak perdu,,
Ku percepat kejaran kaki untuk memburu di belakangnya, setelah dekat ku sergap dari
belakang, aku dilempar, ternyata kuat sekali, ah ada yang tak beres, masak kekuatan wanita bisa melemparku dengan ganas begitu,
Menyadari hal itu, lalu ku baca wirid tiga kali, ku salurkan ke tapak tangan, tangan terbuka ku hantamkan ke punggungnya, Ulfa terpelanting, jatuh terjengkang.
Matanya merah menatapku, “Siapa kau!?” bentakku,
“Hahaha, aku penghuni pohon mahoni tua…”
suaranya berat, suara lelaki.
“Kenapa kau memukulku?” tanyanya.
“Aku tak cuma akan memukulmu, tapi akan
membakarmu jadi arang kalau kau tak segera
keluar dari tubuhnya.” kataku sambil membaca wirid, menyalurkan tenaga ke tapak tangan, dan membayangkan tanganku telah berbentuk api,
tapak tanganku mulai ku rasa hangat.
“Heh.! Hehehe…, mau kau bakar aku? Kau bakar dengan apa?” tanyanya.
Tanganku mulai memanas, “Lihat ini…” tangan ku acungkan.
“Ampun..!, Ampun…” katanya lagi.
“Cepat keluar!”
“Iya.., aku keluar.” katanya, dan Ulfa pun
mengejang, lunglai setelahnya, aku segera mendekatinya, ku tempel tangan ke kepala dan punggungnya, untuk mengambil pengaruh jahat yang masih tertinggal, dan perlahan dia sadar dan membuka mata.
“Hah… Kenapa aku di sini mas…?” tanyanya, tapi segera ku ajak kembali ke warung, diantar
tatapan kawatir oleh suami istri pemilik warung.
“Tak apa-apa mas?” tanya lelaki paruh baya
pemilik warung,
“Tak apa-apa kok pak.” jawabku rikuh, setelah
sampai di dalam warung aku minta air putih
untuk diminum Ulfa, tak lupa ku isi, supaya hati dan pikirannya tenang.
Setelah memutuskan, aku akhirnya mengantar
Ulfa pulang ke rumahnya, sampai di depan
rumah, bu Aminah ibunya Ulfa menyambutku,
“O… nak Ian, mari-mari, ibu kira Ulfa dengan
siapa? Ternyata dengan nak Ian, tadi pagi Ulfa
juga pamitan mau main ke tempat nak Ian.”
Kata bu Aminah, dengan senyum tak dibuat-buat.
“Maaf bu, bapak ada?” kataku tak bertele-tele.
“Oh ada, sebentar ibu panggilkan, ayo duduk dulu di kursi, ibu kedalam dulu..” kata bu Aminah.....
Bersambung.....
__ADS_1