Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
pak Sutono


__ADS_3

“Kok kamu masuk lagi?”


“Saya tak masuk..”


“Lalu di mana?”


“Saya di belakangnya anak ini,”


“Duduk apa berdiri?”


“Duduk, saya hanya meminjam mulut anak ini untuk bicara.”


“Ooo begitu.”


“Bunga…”


“Iya..”


“Kenapa kamu kok jadi pengikutnya Ratu?”


“Saya diajak teman-temanku.”


“Apa kerajaannya luas Ratu itu?”


“Iya.”


“Apa dia sakti.”


“Ya.”


“Sakti mana sama dengan ratu pantai selatan?”


“Sama-sama saktinya.”


“Saya dibantu ya..”


“Bantu apa?”


“Di dalam tubuh gadis ini ada berapa jin?”


“Saya tidak bisa melihat mereka.”


“Kenapa?”


“Saya dihalang-halangi penglihatan saya.”


“Sama siapa?”


“Sama mereka.”


“Lhoh bukannya mereka temanmu?”


“Bukan.”


“Lalu mereka siapa?”


“Mereka kiriman orang yang diarahkan untuk


mencelakai anak ini.”


“Ooo begitu, jadi bukan temanmu?” tanyaku.


“Bukan.”

__ADS_1


“Saya bantu melihat ya..” kataku sambil menempelkan tangan ke kening gadis yang kerasukan.


“Ya… ada 7.”


“Apa saja bentuk mereka?”


“Bentuknya macam-macam..”


“Yang mengirim siapa?”


“Yang mengirim, orang yang rumahnya di pinggir laut.”


“Kenapa mereka sama sekali tak menyerangku?”


“Semua takut,”


“Yang takut siapa?”


“Yang takut jin dan juga dukun yang mengirim.”


“Aneh… kenapa mereka takut padaku?”


“Tak tau, gurunya Bowo, dan ratu juga takut.”


“Denganku?”


“Ya.”


“Apa kamu juga takut denganku, coba pandang aku.” Lama Bunga terdiam tak menjawab.


“Bagaimana?”


Dia diam saja..


“Ya..”


“Kamu mau di sini saja, jadi muridku?”


“Mau… tapi saya kasihan sama ibu bapakku, yang ditawan ratu.”


“Sudah dulu ya Bunga… kasihan anak ini lelah, kamu pinjam lisannya..”


“Iya..”


“Jangan masuk lagi ke tubuh anak ini ya..”


“Iya…”


Mengajak kepada kebaikan, itu tugas kepada siapa saja yang sudah ingin menjalankan keislamannya dengan sempurna, orang mengajak kepada kebaikan itu tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi karakter manusia itu berbeda-beda, kalau ngajak di tempat pengajian, atau gembar gembor di tempat yang orangnya sudah dikumpulkan oleh panitia, dan mendapat undangan, ya gembar gembornya mudah, tapi apa ada yang mau ikut?


Habis dipidatoni juga paling sudah lupa dengan apa yang dikatakan tukang pidatonya, seperti menyiram air pada keramik, ada banyak debu menempel juga keramiknya sudah kotor lagi, menurutku mengajak itu harus dari hati, harus dari dalam pribadi manusia, dari kedalaman jiwa mereka, buat mereka tertarik dengan hatinya, baru diberi penjelasan kalau sudah ikut.


Dan memberi penjelasan itu juga tak mudah, apalagi menjelaskan kepada orang yang belum tau sama sekali apa yang akan kita jelaskan, dan dalam pikiran orang itu lepas menuju pemahaman yang bebas, akan makin sulit menjelaskannya, bisa-bisa yang kita jelaskan akan mengalami kebingungan akhirnya setelah dijelaskan, bukannya akan paham, tapi malah bingung.


Apalagi syaitan juga menghalang-halangi kebaikan itu disampaikan, kebenaran itu dibuka, malah makin sulit lagi, yang kita jelaskan malah ngantuk dan gak sabar mendengar penjelasan kita karena kata-kata kita yang tak menarik dan ndak ada hadiahnya kalau mendengarkan. Mengajak orang sampai orang itu ikut dan menjalankan yang kita arahkan, menurutku suatu keindahan dan kenikmatan tersendiri, apalagi sampai meneguhkan hati orang, dan merubah pandangan hidupnya, berubah total pada ke arah kebaikan dan kebahagiaan kekal di sisi Allah.


Tapi bagiku itu kita mengajak saja ke arah kebaikan, orang perduli apa tak perduli, itu bukan urusan kita, kita lakukan saja dengan ikhlas, Allah pasti sudah mencatat amal ikhlas


kita mengajak ke jalan kebaikan, menjadi amal


ibadah, ikut atau tak ikut orang yang kita ajak,


ndak usah memaksakan kehendak wong hidayah itu miliknya Allah, kita hanya menuruti saja perintah Allah semampunya, wa’mur bil urfi, mengajak ke dalam kebaikan, wanha anil

__ADS_1


mungkar, dan mencegah kemungkaran.


Semampu kita.


Nyatanya makin banyak orang yang kita ajak, akan makin banyak pahala yang kita petik, seperti manager bos perusahaan yang mengajak pada orang banyak untuk ikut bekerja di pabriknya, makin banyak orang yang bekerja, berarti makin banyak produksi dibuat. Pak Sutono dan anaknya yang kerasukan menginap di rumahku berhari-hari, banyak juga yang ku petik pelajaran dari orang setengah baya ini, selama bicara denganku, banyak sekali yang diceritakan, kisahnya bermacam-macam, yah


dari kisah seseorang itulah kita kadang memetik hikmah, dan pelajaran, tak mesti kita melakukan kesalahan sendiri, untuk memahami arti hidup dan kehidupan, sekecil apapun kita jadikan pelajaran.


“Maaf pak… apa ini musholla?” tanya pak Sutono padaku sambil menunggui anaknya yang sudah tenang setelah ku keluarkan jinnya.


“Bukan pak… ini majlis…” jawabku singkat.


“Dzikir apa pak…?” tanyanya lagi.


“Bapak lihat sendiri apa yang tertulis di dinding itu?” jawabku singkat lagi sambil mengambil


rokok dan ku nyalakan.


Aku berusaha menghadapi tamu senyaman mungkin, agar tamuku juga merasa nyaman di depanku, ku tawarkan rokok pada pak Sutono.


“Oh ya… dzikir thoreqoh, apa ini sama yang Su****** itu?” tanyanya lagi.


“Ya bisa dikatakan sama, tapi juga beda.”


“Apa kita ini perlu to pak berthoreqoh?” tanya


pak Sutono.


Ku pandang wajah pak Sutono, dan ku angan- angan selama beberapa hari di rumahku, sebab percakapanku ini setelah beberapa hari pak Sutono ada di rumahku, jadi ku ketahui kalau pak Sutono tak pernah sama sekali terlihat menjalankan sholat selama tinggal di rumahku, tapi aku juga tak akan memerintahkannya, sebab bisa saja dia berkeyakinan lain, atau beragama lain, aku tak perduli, pertama aku menolong orang sebatas yang bisa ku tolong, entah agamanya apa, itu urusan masing- masing punya keyakinan.


Tapi aku merasa kesulitan juga mau menjelaskan bagaimana menjelaskannya, setelah lama berfikir, dan rokok ku hisap berkali -kali aku buka suara, walau sekalipun pertanyaan pak Sutono padaku sekedar iseng saja atau bukan.


“Kalau orang Islam, bertharekat itu tidak harus, seperti sebagaimana makan, orang itu tak harus makan, tapi makan akan jadi butuh kalau perut lapar, juga makan tak harus makanan yang bersih, tapi kalau kemudian karena makan lalu sakit, dan berbagai sakit dalam tubuhnya bersarang, dari sakit perut sampai jantung, komplikasi dll, ya menurutku akhirnya juga harus menjaga pola makan yang bersih, agar dirinya sehat wal afiat, seperti bapak ini seumuran bapak tentu punya pengalaman yang banyak, nah masak di pengalaman itu bapak sendiri tidak timbul pertanyaan, kenapa saya kok hidup begini, apa bapak hidup tenang di saat ini?” tanyaku.


“Ya saya memang banyak pengalaman dan berbagai warna hidup ku jalani pak, dari pengalaman hidup saya, saya sendiri belum bisa memetik sedikitpun pelajaran.” jawab pak


Sutono.


“Ya itu bisa dilihat dari keadaan bapak yang maaf, masih ku katakan hidup kelihatannya penuh kesengsaraan dan sepertinya lelah penuh kekecewaan dan kegagalan.”


“Bener sekali pak, saya memang orang yang sangat-sangat gagal… kalau boleh saya cerita…” kata pak Sutono sambil wajahnya menunggu


persetujuanku.


“Ya silahkan pak…” kataku sambil menyalakan


rokok, karena kurasa kisahnya akan lama….


“Dari dulu.. tahun 80an, saya sudah bekerja,


sebelum saya punya istri dan masih muda, dan saya bekerja di Pekalongan, kerja serabutan, apa saja saya jalani asal dapat bekerja, sampai saya menemukan kerja saya yang sekarang ini sebagai penjual bubur kacang hijau, di antara kerjaan saya sebagai seorang penagih hutang, dulu, kalau nagih hutang, saya sering ke dukun, untuk minta syarat agar kerjaan nagih hutang saya lancar tanpa kendala.


Ada seorang dukun yang saya andalkan, namanya dalang Waskito, dipanggil ki Waskito, memang dari sarat ki Waskito saya sering mendapat sareat darinya sehingga waktu


menagih hutang itu saya menjadi gampang,


karena sering ke rumah ki Waskito, kami akhirnya seperti keluarga, ki Waskito tinggal di daerah Krapyak, suatu malam saya dan teman saya namanya Junaidi seperti biasa meminta sareat pada ki Waskito, dan malam itu jam baru saja habis magrib, sedang kami dalam keadaan


ngobrol, tiba-tiba ada tamu yang datang,


seorang berpakaian hitam-hitam, aneh pak, saya kok merinding melihat orang itu padahal ya orang biasa, otomatis pembicaraan saya, Junaidi dan ki Waskito terhenti, sementara ki Waskito mempersilahkan tamu itu untuk masuk, tapi tamu itu tetap berdiri tak mau duduk.”


Bersambung.....

__ADS_1


Sorry aga lama updateny, ga punya lepy cuma ngetik di hp yg itupun gantian dengan anak istri, jadi satu hp buat 5orang 🤣🤣🤣, kebetulan hp istri rusak seketika saat jatuh di buat mainan putriku.. Love you aLL.😘♥️


__ADS_2