
“Ya bahaya, apa kamu punya masalah soal tanah di rumah, maksudku tanah rebutan keluarga gitu?”
“Iya mas, tanah warisan jadi rebutan.”
“Bisa kamu sekarang telpon ibumu?” tanyaku.
“Sebentar biar ku hubungi.”
“Coba hubungi, lalu suruh duduk menghadap ke barat, biar penyakit di kepalanya ku tarik dari sini.”
“Apa bisa mas ditarik dari sini.”
“Ya bisa tidak bisanya kan belum tau, nanti saja dilihat perkembangannya.” kataku.
“Baik mas saya hubungi.” kata Romadhon.
Aku menunggu Romadhon menghubungi ibunya, sementara aku ngobrol sama Yono.
“Wah aneh sekali ya kelebihan mas Ian?” tanya
Yono.
“Ah tak aneh, sebenarnya semua orang juga bisa, asal mau menjalankan lelakunya, aku sendiri juga tak memiliki kelebihan apa-apa.” jawabku.
“Apa mungkin semua orang juga bisa mempunyai kelebihan seperti itu?”
“Semua orang bisa, syaratnya jelas Islam, mau
menjalani lelaku, dan mau menuruti apa saja yang,ditunjukkan oleh guru pembimbingnya,
sebenarnya teorinya cuma mendekatkan diri
pada Alloh, lalu Alloh mengijabah do’a kita, jadi kalau seperti aku sendiri, jelas tak punya
kelebihan apa saja, do’a itu kan kekuatan kita,
karena meminta pada Alloh, dan murni meminta pada Alloh, tidak lewat jin, atau khodam, atau malaikat sekalipun, makanya ijabah tak menunggu hari atau bulan atau tahun, tapi bisa seketika diijabah, tergantung kedekatan diri pada Alloh, jadi kuncinya mendekatkan diri pada Alloh, jika sudah dekat, maka ijabah Alloh itu tidak terhalang, kalau berhalangan namanya bukan Alloh, Alloh itu ‘ala kulli syai’ing qodir, sanggup melakukan apapun,
Jadi tak terhalang mengijabah do’a kita, kok do’a kita tak terijabah, berarti bukan Alloh yang terhalang, tapi kitalah yang tak ikhlas, tak mau
mendekatkan diri pada Alloh.”
“Mendekatkan dirinya itu yang sulit mas.” kata
Yono.
“Ya kan sudah ada guru yang mengarahkan, jika diri mengikuti arahan guru, maka proses juga tak akan lama. Proses menjadi lama itu karena diri masih tertawan dengan nafsu, dengan ego, merasa diri sok mulya, merasa diri lebih dari
orang lain, punya suara merdu saja sudah gaya, punya kegantengan sedikit sudah engkek, punya kekayaan sedikit sudah petentang -petenteng, dan berbagai macam kelebihan yang akhirnya menjadikan diri malah punya banyak kekurangan, tak ada manusia yang mulya, kecuali manusia yang terpilih memang mulya, seperti Nabi Muhammad, kalau diri merasa lebih dari orang lain, ya susahlah diajak maju…”
“Sudah mas, ibu saya sudah duduk menghadap ke barat.” Kata Romadhon.
Aku segera konsentrasi, menyatukan daya, do’a, dzikir, menyatukan ingatan pada sang pemberi
kesembuhan yaitu Alloh, lalu mengirim
konsentrasi dalam satu titik, yaitu sakit di
__ADS_1
kepala Ibunya Romadhon, dan meminta pada
Alloh agar penyakit di kepalanya dibuang.
Setelah selesai penarikan, aku berkata pada
Romadhon.
“Coba sekarang, kamu telpon ibumu, tanyakan
sudah enakan belum.” kataku pada Romadhon.
Lalu Romadhon menelpon pada Ibunya, dan
kemudian selesai.
“Sudah enakan mas katanya, katanya kayak ada hawa diingin masuk ke kepalanya, dan ada
sesuatu yang seperti tertarik keluar.”
“Bener sudah enakan?”
“Bener mas.”
“Ya syukur kalau gitu., moga saja sembuh.”
kataku.
Malam sudah makin larut, ada beberapa ledakan di luar kamar, menghantam tembok, risih juga sering-sering mendengar ledakan, walau santet tak mengenaiku, tapi kadang pas tidur ada ledakan bikin kaget juga.
Suara ketukan pintu, pasti si Yatno, biasa pasti
Benar dugaanku, Yatno masih memakai pakaian kerja, dan masih penuh debu.
“Ada apa lagi No?” tanyaku setelah membukakan pintu dan membiarkannya masuk kamar.
“Aku rasanya tak kuat kang…!” kata Yatno
memelas.
“Sakit lagi..?” tanyaku.
“Dadaku rasanya kayak diremas-remas kang, aku ingin bunuh diri saja, aku ingin mati saja, aku tak kuat kang…!” kata Yatno.
“Hehehe, dulu, sudah ku katakan kalau kamu
akan mengalami masalah seperti ini, kamu juga tak mau percaya, memangnya mati akan
menjadikan masalahmu selesai? Kamu akan malah disiksa sampai hari kiamat No.” kataku.
“Tapi aku tak kuat kang, di dalam pikiranku
selamanya kok ya bayangan cewek itu melulu,”
“Ah kamu ini cemen, cengeng,”
“Ya tapi ini juga gak wajar kang.”
__ADS_1
“Makanya kamu jangan kalah, permasalahan
sebenarnya bukan dari luar dirimu No, tapi dari dirimu sendiri.”
“Lho kok malah sampean nyalahkan aku to kang.”
“La kalau tak menyalahkanmu, memangnya aku nyalahkan kambing, ayam, bebek.” kataku.
“Ya maksudku kan aku yang dikerjani kang.”
“Ya kamu kan tak akan dikerjai, jika batinmu
kuat, keteguhanmu mantap, la kamu cengeng, sok main cewek, tapi tak tahan banting, aku dulu cewekku banyak tapi ndak seribut kamu.” kataku agak jengkel.
“Ya sudah aku nurut sampean.” kata Yatno.
“Nah kalau nurut aku, ini ku kasih dzikir, ini
amalkan, kalau tak kau amalkan, jangan salahkan kalau kamu benar-benar jebol disantet.” kataku.
“Baik akan ku amalkan kang.” kata Yatno.
“Jangan baik-baik, ini serius.”
“Iya kang, tapi dibantu ya.”
“Apa aku kelihatannya tak membantumu? Coba lihat siapa orang Indonesia yang perduli dengan nasibmu?”
“Coba lihat, aku ini bukan saudaramu, kenal juga di Saudi sini, bukan sanak, bukan kadang, bahkan hubungan kerabat sama sekali tak ada, mau membantumu, kira-kira apa yang aku harap darimu? Ndak ada kan? Juga aku membantu pada yang lain, apa aku agar tenar, terkenal? Coba diangan-angan, apa aku pernah meminta pada yang ku tolong? Se-real aja tak minta kan? Kemana-mana juga aku bayar sendiri, sebab aku yakin, yang aku lakukan akan mendapat balasan dari Alloh, jadi bukan karena harapan yang tak seberapa dari manusia.”
“Iya kang, aku ngerti, kalau ku mintai bantuan
lagi mau gak kang?”
“Aku ada teman perempuan, yang sering dipukuli suaminya, karena suaminya sering main saham, awalnya sih kaya karena main saham, tapi belakangan malah bangkrut, dan karena itu malah sering mukuli dan membentak-bentak istrinya, dibilangnya istrinya membuat dia sial lah.” cerita Yatno.
“Sekali ini aku mau membantu, tapi lain kali
tidak, bukan aku tak mau, tapi aku juga manusia biasa No, bukan seorang superman yang semua masalah bisa ku selesaikan, kalau mau membantu orang lain, bantulah semampumu, misal kamu melihat seorang nenek-nenek membawa sekarung beras, lalu kamu ingin membantu, lalu kamu menyuruhku mengangkut karung itu, la kalau jalan sama kamu, ketemu nenek-nenek seratus bawa karung beras semua, lalu semua karung
beras kamu suruh mengangkat aku semua,
bukankah aku akan mati ketiban karung?”
“Iya juga yo kang..”
“Semua orang punya problem No, aku sendiri
juga punya keluarga, aku punya anak, dan tentu anakku tak mau ku kasih makan angin, jadi ya aku membantu selama aku bisa, aku sendiri kan juga ngurus keluargaku, semua orang punya problem dan punya masalah dalam keluarganya, dan Alloh tak membebankan masalah di atas kesanggupan
seseorang, jadi sudah cukup kamu mampu
menyelesaikan masalahmu, jangan lantas kamu mencari masalah orang lain kau timpakan masalahnya kepadaku, sekalipun aku kuat, aku kan butuh juga menghidupi keluarga, bekerja, sebab aku bukan Alloh, mintalah penyelesaian masalah pada Alloh, jangan padaku.” kataku panjang lebar.
“Lalu bagaimana temanku itu kang…?”
“Suruh saja sedia air, nanti ku transfer ke air,
__ADS_1
kalau lelakinya sedang marah siram saja dengan...
Bersambung...