
Aku pukul, aku tendang, tubuhku seperti orang yang kerasukan, Edi hanya memandang, aku kadang memukul kerikil yang ada di sekitar rel kereta, kadang seperti membanting sesuatu, Edi tak berani mendekat, sampai setengah jam berlalu, baru aku berhenti, duduk terengah-engah di tanah, lima menit kemudian baru Edi mendekatiku.
“Ian… kenapa kamu..?” tanya Edi masih setengah takut-takut.
Aku terdiam beberapa saat,,
“Gak tau Ed…, kayak ada yang berusaha
menguasaiku, aku tak tau itu apa…” kataku
dengan heran dan melihat tanganku yang perih, ternyata tanganku lecet-lecet dan berdarah…
“Ayo… ayo kita pulang…” kata Edi sambil
membimbingku bangun.
Aku tertatih, badan serasa letih, masih tak
habis pikir, apa sebenarnya yang berusaha
menguasai alam bawah sadarku.
“Ya udah kalau kamu dah pengen pulang, gak
papa, tapi jangan ngamuk gitu, aku jadi sakit
dadaku kena kamu pukul.” kata Edi sambil
berjalan di sampingku.
“Aku gak marah kok Ed…, bener aku ndak sadar, kayak ada yang berusaha menguasaiku…” kataku menjelaskan, walau penjelasanku aku yakin, Edi tak akan mau mengerti.
Aku sendiri tak habis pikir, apa sebenarnya yang berusaha menguasaiku, ku lihat bayangannya tak jelas, hanya seperti warna hitam.
Sampai di rumah pak Sugeng, aku mandi karena tubuh kotor penuh debu, dan ketika tubuh ku guyur air, serasa perih semua, karena tubuh banyak yang lecet.
Edi cerita pada Ikrom, sambil memuter lagu kesayangannya “mari bernyanyi bersama” aku ndak tau siapa yang nyanyi, moga
bukan tukang siomay, sebab ku rasa suaranya
gak seperti suara tukang siomay yang cempreng.
Habis mandi, tanganku diberi obat merah sama Edi. Edi memang sudah menganggapku seperti saudara kandungnya.
“Ian ini ada titipan dari mbak yang jualan di
warung tikungan,” kata Ikrom, sambil
memberikan kresek berisi nasi bungkus.
“Mbak yang mana?” tanyaku.
“Itu mbak Ajeng apa mbak Endah sih kok lupa
namanya?” kata Ikhrom,
“Ah aku juga lupa namanya..” kata Ikhrom.
“Heran Ian, kenapa orang-orang pada suka
padamu ya…, gak yang jual es krim, gak yang jual sepatu, gak orang warung, kenapa pada kasihan padamu?”
“Gak tau, kali aja wajahku kayak pengemis,
hahahaha…”
“Aku malah lihat si Sita, yang penjaga toko
__ADS_1
emas, perasaan wira wiri entah sehari ada
berapa kali di depan toko kita.”
Tambah Edi sambil membuka bungkusan tas kresek, ternyata isinya ayam panggang,
“Eee, perasaan mbak yang jual nasi di tikungan itu gak jual ayam panggang?” kata Edi sambil
mengangkat potongan paha ayam.
“Tadi dia cuma bilang, untuk mas Ian, jangan-
jangan dia naksir kamu Ian…?” kata Ikrom
sambil mencomot ayam di bungkusan.
“Ngaco kamu Ik, dia kan dah punya suami,”
bantahku,
“Kali aja mau dijadi’in simpenan, hahaha…” ejek Edi.
“Emang potonganku kayak uang receh, hahaha…”
candaku.
“Terus terang aku ngiri Ian, la aku di sini sudah
bertahun-tahun, masak gak ada yang sayang
sama sekali.” kata Edi.
“Ya tampangmu aja kali kayak kriminal,” ejek
Ikrom,
“Ya namanya juga dikasih, ya enak lah…” kataku ikut makan tapi memang lumayan enak ayam
kampung panggang, pasti udah rebus dengan
bumbu, kerasa banget bumbunya, juga gak alot.
Taqdir, jika kita ditaqdirkan menjadi A bukan B,
maka jalan ke arah A akan terbuka lebar, dan
seakan kita akan seka saja ke arah A, dan jalan ke B akan seakan tak membuat kita senang.
Menjadi penjaga toko sepatu, rasanya benar-
benar bukan jalanku, aku begitu bosan, pandangan kosong, dan serasa aku seperti robot, yang tak akan berkembang lagi menjadi manusia baru, hanya menjadi robot penjaga toko sepatu,
Seakan aku sudah mati terkubur dengan sepatu, hati sesek, padahal belum genap 2 bulan, dan ada saja kejadian yang membuatku tak kerasan, seperti saat itu, aku lagi memasang tulisan discount digantung, sejak berangkat kerja aku sudah tak enak, seperti mau terjadi sesuatu yang membuatku malu tapi aku tak tau apa itu,
pagi berangkat memakai celana pemberian pak Sugeng, aku merasa celana itu tak enak, walau ukuran pak Sugeng gendut, dan aku agak
kurusan, jelas celana pak Sugeng longgar ku
pakai.
Tapi gara-gara kerja tak boleh memakai celana
levis, padahal aku tak punya celana, selain celana levis yang menemaniku kemana-mana dan sudah sobek sana sini, celana levis saja sudah tidak boleh, apalagi yang sudah sobek sana sini, malah tak boleh lagi, maka Ikrom, pak Sugeng, Edi, semua memberi celana padaku, sekarang pas celana pak Sugeng yang ku pakai.
“Kenapa Ian?” tanya Edi yang sedang memakai hasprey.
“Ini Ed, aku gak nyaman aja sama celana ini.”
__ADS_1
jawabku sambil nunjukin celana warna coklat tua yang ku pakai.
“Ya pakai aja lah, wong yang dua juga belum
kering.” kata Edi beranjak keluar kamar.
Dan apa yang ku kawatirkan terjadi juga.
Pas menaiki tangga stainles untuk memasang
tulisan aku biasa saja, tapi pas kaki ku angkat ke arah tangga, terdengar kraaaak…! Celanaku
robek memanjang, pas di tengah ************,
Dari lutut kiri ke lutut kanan, aku cepat-cepat
turun, walau memasang tulisan discount ku
selesaikan tapi aku segera mepet ke tembok
setelah turun, untung belum banyak orang yang lewat, juga belum banyak toko yang buka, aku
berjalan dari toko sepatu bata, ke toko tempat
Edi bekerja,
Tiap berpapasan sama orang aku
menatap ke atas, supaya orang ikut menatap ke atas, tidak menatap ke celanaku yang robek
tengah kayak rok, setelah orang lewat, aku
berjalan beringsut-ingsut lagi ke arah toko
tempat Edi bekerja, ku lihat Edi sedang menata sepatu jualannya, aku nyelonong saja, ke geladak penyimpanan sepatu…
“Eee ngapain kamu Ian??” tanya Edi.
“Anu…, celanaku robek.”
“Robek? sebelah mana?”
“Ini pas ************ sampai ke lutut.”
“Wah gimana?”
“Ya tolong ambilin celana yang di rumah.”
“Kan belum kering, jauh lagi.”
“Ya tolong deh Ed… masak aku kudu pakai celana kayak gini, gak lucu kan?”
“Tapi Ian… yang jagain tokoku siapa?”
“Ya aku kan bisa dari dalam kotak sini.”
“Iya deh, tunggu sebentar.”
Edi pun berlalu dengan cepat, aku jaga dagangan dia, dari dalam gerobak, cuma kelihatan kepala, geladak gerobak itu untuk menyimpan sepatu, sekaligus menata sepatu, bentuknya undak-undakan kayak tangga,
Di dalam ruangannya lebar, tapi aku terus berdo’a semoga tak ada yang beli, mengingat jika harus melayani, sementara aku seperti ini.
Kebetulan Ikrom datang sambil membawa ember dan alat pel, dia celingukan karena Edi tak ada, tempat kerja Ikrom beda toko, walau kedua toko adalah toko sepatunya pak Sugeng, dia melihatku.
“Ngapain di situ Ian..??” tanyanya dengan
senyum khas bibir hitamnya. “Mana si Edi?”
__ADS_1
“Si Edi pulang bentar.”