Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Ilmu baru


__ADS_3

Akhirnya nyampai juga, baru saja ojek ku bayar, dan mang Sofyan berlalu, hpku bunyi, segera saja ku angkat, terdengar suara Macan dengan nada bahagia..


“Ian syukur, adikku tak jadi dioperasi, dah ujar


sembuh, dan sudah diijinkan pulang, makasih ya Ian…” ujar Macan


“Wah jangan berterimakasih padaku, kita kan


cuma berusaha, kesembuhan ada di tangan Allah jua. Bersyukurlah pada-Nya.”jawabku


“Iya… iya… wah ceramah terus..”


“Eeh uangku, kamu masukkan sakuku, tanpa


setahuku ya Can?” tanyaku ketika ingat uangku ada di sakuku???


“Ah enggak, ini masih ku pegang, iya… iya.., nanti


aku kembalikan, sekarang ku pinjam dulu.. Jangan kuatir..”


nadanya serius, setahuku Macan orangnya tak suka main-main, kalau bilang a ya a kalau bilang b ya b.


Terdengar suara panggilan telpon yg telah terputus..


Lalu kenapa ada uang di sakuku..??


Para santri segera menyambutku, dan


bersalaman mesra, mereka-mereka seperti


saudara-saudara kandungku.


“Mas Ian udah ditunggu kyai.” kata Mujahidi,.


Bibirnya masih seperti dulu, dikelotoki karena


sariawan, sehingga kelihatan jontor sana-sini,


wajahnya juga makin banyak lubangnya bekas


jerawat batu dipenceti, malah lebih kelihatan


seperti kayu dimakan rayap, yah biarlah itu


kesenangannya sendiri.


Aku segera berlalu, kulihat kyai berdiri di bawah pohon melinjo, aku segera menghampiri, dan


bersalaman mengecup tangannya dengan takzim.


“Bagaimana, Macan tak mau?” tanya kyai, Sambil mengajakku duduk di kayu pohon sengon yang


telah mengering, dan telah tumbuh jamur di sana-sini, jamur kecil-kecil berwarna kuning kemerahan.


“Dia tak mau kyai….”


“Ya sudah kalau tak mau, nanti kamu menjalani sendiri, kamu sanggup, menjalani laku gila?”


“Sanggup kyai..” jawabku mantap, “Sekarang pun kalau kyai memintaku berangkat, aku akan


berangkat kyai…”


“Tak usah buru-buru, mungkin sebulan lagi…,


nanti setelah sholat ashar, kamu aku baiat, dan nanti malam mulai melatih ilmu rogo sukmo…”


“Bagaimana aku melatih ilmu itu kyai? Sedang


aku tak punya…” tanyaku meragu.


“Ilmu itu telah ada dalam dirimu, hanya kau tak


tau, nanti kalau ingin melepas sukma baca ini…”


kyai membisiki telingaku.


“Wah cuma dua lafat itu kyai..??” tanyaku heran.


“Iya cuma itu, dan bayangkan tempat yang akan kau tuju…” kata kyai.


“Apakah ada pantangannya kyai?”

__ADS_1


“Tidak, tidak ada pantangan, tapi hati-hatilah,


karena bila merogo sukmo, kau akan melihat


aneka macam mahluq Alloh, dan kalau bertemu jin fasik, pasti akan berantem, kalau kau merasa tak mampu lebih baik menghindar, dan jika kau butuh sesuatu di alam sukma, bayangkan saja dengan hayalmu…”


“Terima kasih kyai, saya mau istirahat dulu…”


setelah berpamitan aku pun menuju ruang


pembuangan jin yang luas, untuk tidur siang


sebentar, dan aku agak masuk angin, maka aku akan meminta pijit pada jin.


Pintu gerbang besi bercat hijau kubuka, suara


menderit khas besi yang tak pakai oli terdengar.


Dan udara dingin menusuk kontan kurasakan,


nyeess! Lebih dingin dari AC karena udara dalam


rumah pembuangan jin ini tak berjalan.


Rumah ini walau tak pernah dimasuki orang, tapi tampak bersih keramiknya. Cat temboknya banyak yang mengelupas, dulu cat ini aku juga


yang mengecatkan, dengan motif whoss, yaitu


kain disobek-sobek seperti kain pita, setelah


segenggaman tangan lalu diikat, nah ujung kain itulah yang dibuat menjadi motif, dicelupkan ke cat dan dikecrok-kecrokkan ke tembok.


Untuk


hasil yang sempurna, cat tembok putih dicampur cat pigmen sebagai pewarna. Dan binder sebagai pengikat, maka setelah kering warna akan menyatu, jadi orang melihat seperti kertas wallpaper yang ditempelkan.


Warna tembok ku motif warna bunga lavender,


dan di tembok lain ku motif bunga tulip.


Aku segera mencari tempat untuk tiduran, aku


dekati tiang besar, ku cium bau wangi menusuk, aku tak jadi, karena mengira pastilah jin wanita, nanti bisa-bisa tak tidur, malah main cinta.


tangan ku lihat pukul sebelas siang.


Kurasakan ada jin yang mendekatiku, dari arah


kananku, karena pipiku menebal, kuucapkan


salam dalam hati, dan kukatakan aku ingin


dipijat, walau aku belum bisa melihat mereka


karena rendahnya ilmuku, tapi aku bisa


merasakan kehadiran mereka.


Kurasakan tanganku ada yang memegang dan


memijid-mijid, juga kepalaku, lalu kakiku juga


ada yang memijid, rupanya dua jin yang


memijidiku, aku mulai keenakan dan mengantuk, sebelum tidur aku minta dibangunkan jam dua, akupun tertidur.


Aku terbangun, ketika kurasakan ada yang


menggelitik kakiku, kubuka mata dan kulihat jam menunjukkan jam dua lebih satu menit.


Aku pun bangun dan tak lupa mengucapkan


terima kasih. Lalu beranjak pergi.


Mengambil sabun yang biasa kuselipkan di bawah para-para, kemudian pergi ke sungai,


“Gak makan dulu mas? Nasinya ada di dapur…”


kata Jauhari dan Kholil ketika berpapasan


denganku.

__ADS_1


“Ah nanti aja.., ” aku segera berjalan di jalan


berbatu yang menuju sungai, dan melompat ke pematang sawah, setelah melewati dua kotak


sawah aku pun sudah sampai di tempat anak-


anak pada mandi, masih ada Tarsan dan Majid


masih sibuk mandi, aku pun bergegas mandi,


setelah mengganti sarung dengan celana pendek khusus mandi, aku pun mencebur,


“Awas mas, banyak lintah…!” suara Tarzan


memperingatkan, tapi terlambat, karena ada


kurasakan sesuatu menempel di dekat mata


kakiku, aku segera keluar dari air dan naik ke


atas batu bundar pipih, sebesar kerbau yang


ditempati Tarzan mencuci.


“Wah ketampel lintah nih…” kataku melihat


binatang hitam ada garis coklat, yang tak lain


lintah.


“Biar mas tak ambilnya mas…” kata Tarzan


Kemudian tanpa jijik, membetot lintah dari


kakiku.


“Untuk apa Zan?”


“Biasa mas, untuk memperbesar…”


“Jangan terlalu besar, nanti tak ada wanita yang mau menikah denganmu lo…”


Setelah mandi aku cepat-cepat kembali ke


kamar, dan sholat dhuhur, melakukan dzikir


setelah sholat, dan pergi ke dapur, ternyata


teman-teman masak urap, yaitu sambal kelapa, karena paling mudah, kelapa tinggal manjat,


lalapan daun pepaya dan daun kopi muda, sedap juga.


Setelah makan terdengar adzan sayup-sayup


sampai dari masjid yang teramat jauh. Aku


bergegas mengambil air wudhu dan sholat ashar, setelah dzikir aku pun menghadap kyai, untuk dibaiat. Teman-temanku semuanya telah berkumpul.


Aku pun diminta duduk menghadap kyai, tangan dijabat lalu menerima ijab, dan kobul, seperti dalam pernikahan. Cuma isinya bukan tentang nikah, tapi siap sedianya diri menjalankan syariat Islam secara kaffah, dan bersedia menjauhkan diri dari segala macam perbuatan dosa.


Baiat pun selesai, dan kami mendengarkan


petuah-petuah kyai, dari bagaimana baiat


dilakukan oleh Rosululloh, dan dijelaskan untung ruginya.


Hari makin sore, para santri melakukan tugasnya masing-masing, aku memilih memasak.


Menggoreng jengkol dan membuat sambel tomat, wah sedap sekali.


Malam itu setelah isyak aku disuruh kyai latihan ilmu rogo sukmo dalam kamar.


Pintu kamar ku kunci, deg-degan juga aku,


karena aku belum tau akan bagaimana nantinya.


Ku duduk membaca Alfatehah tiga kali, Annas


tiga kali, Alfalaq tiga kali, ayat kursi tiga kali,


lalu kutiupkan tangan dan ku usapkan ke seluruh tubuh.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2