Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Sarana praktek


__ADS_3

Kadang rumah kayak digoncang gempa, dan aku terjengkang terhantam kekuatan yang tak


terlihat.


Sudah dua minggu aku mengobati Kyai, segala daya upaya telah ku lakukan, tapi hasilnya tak banyak, begitu banyak tukang santet yang harus kami hadapi.


Sering ketika tidur, tubuhku terangkat beberapa senti dari lantai, karena tidur kami di lantai, dan terhempas, semua santri sadar yang dihadapi bukan main-main,


Ada yang menyerang memakai santet, ada juga yang memakai hizib, ada tukang santet dari orang dayak, orang badui, leak dari Bali, dari gunung himalaya, juga perguruan santet se Indonesia, yang tak bisa ku sebut daerahnya, padahal guru besarnya pernah datang, dan minta maaf, tapi kadang ketakutan mereka, karena kami bersebrangan dengan mereka, dan jika orang-orang yang menjalankan ilmu hitam, maka dengan sendirinya kami akan menjadi penghalangny, walau kami sama sekali tiada maksud untuk menghalangi sekalipun.


Sebenarnya secara dilihat dari apa yang kami


amalkan, maka tiada satupun yang berhubungan dengan segala macam ***** bengek santet, kami hanya menjalankan ibadah yang berusaha ikhlas, menjalankan ibadah yang sesuai syari’at yang dibawa Nabi, bahkan hanya menjalankan yang ada sanad menyambung pada Nabi SAW, karena


kemurnian aqidah itulah setiap amalan langsung keluar efeknya, langsung keluar jawabnya, bahkan orang-orang prewangan (yang memakai ilmu dengan bantuan jin) akan kepanasan jika berdekatan dengan kami, bahkan murid terendah dari toreqoh q********************.


Seperti pengaduan muridku di rumah, yang baru puasa 21 hari, dia punya saudara perempuan yang mengobati orang dengan bantuan jin, jadi sebelum mengobati, adiknya itu makan kembang dan menyan, lalu bisa mengobati, jika muridku itu main ke rumah saudarinya itu, saudarinya itu kepanasan, dan lari, sampai muridku tak boleh ke rumahnya, karena kepanasan.


Juga batu, atau keris, atau benda bertuah, jika dipegang orang lain, misal tahan cukur, atau tahan bacok, orang lain diiris rambutnya tak akan putus, karena jin yang ada di benda yang dipegang, tapi jika ku pegang, aku dicukur rambutku ya tetap putus, karena jin yang ada di benda kabur, jadi benda sudah tak ada


kekuatannya.


Apa aku atau kyaiku sakti? ya malah ndak sakti wong dibacok saja megang benda bertuah tetep luka, berarti kan gak sakti, tapi kami lebih mengutamakan keikhlasan dan kebenaran


amaliyah, kemurnian aqidah, keutamaan sanad shohihnya amalan, yang kami terima dari guru-

__ADS_1


guru besar kami, seperti Tubagus Q****,Asnawi C*****, Syaikh A*****, Syaikh Nawawi B*****, syaih Abdul K****, Syaikh Tolkhah, dan Syaikh Ahmad Khotib S******, karena murninya akidah yang kami terima dari Rosululloh,


Penyambungannya juga shohih atau kebenarannya bisa dipertanggung jawabkan, maka dengan sendirinya amaliyah yang kami jalankan sangat menghambat dan menghalangi segala ilmu hitam, walau kami hanya melulu ibadah, dan ibadah kami secara lahirnya sama dengan ibadah orang lain, tapi ibadah orang lain itu tak menyambung ke Rosululloh, dan ibadah kami itu menyambung ke Rosululloh,


Sebenarnya hanya itu perbedaannya. Sehingga ibadah orang lain yang tak menyambung ke Rosululloh itu seperti orang yang punya paralon tapi sanyonya tak menyambung ke sumur, dan paralon kami, sanyonya nyambung ke sumur.


Orang yang berakal tentu akan lebih memilih


cara ibadah, yang menyambung pada Alloh lewat malaikat jibril, ke Rasululloh, daripada


melakukan ibadah mengandalkan itak-ituk diri


sendiri, tak jelas hanya dari mempelajari mujarobat, makanya dikatakan ilmu thoreqoh itu ilmu tertinggi, dari segala macam cabang ilmu, karena bukan masalah pengamalnya, tapi sambungan ilmu itu dari Alloh, dan apa ada yang tingginya melebihi kedudukan Alloh? tentu tak ada.


Sebab sampai sekarang, sejak bumi dan langit diciptakan, belum ada yang mampu membuat bumi, matahari, dan langit tandingan.


Jadi selama setengah tahun aku wira-wiri, ke


tempat Kyai, untuk mengobati Kyai, bukan aku


yang bisa mengobati, tapi karena Kyai tak mau


mengobati diri sendiri, dan selalu saja santet diterima masuk ke tubuhnya dijadikan cobaan


agar lebih dekat dengan Alloh.

__ADS_1


Juga tentunya tubuh Kyai seperti sarana praktek untuk ilmu kami, apa ada seorang guru yang menyediakan diri untuk praktek muridnya? Kalau aku sendiri belum pernah menemui selain guruku ini, yang mau saja disantet orang, diterima dengan lapang dada, dengan kesabaran yang sudah tak masuk akal, padahal kalau mau menuntaskan, ya tinggal berdo’a, paling tak sampai 5 menit ijabah akan


datang, tapi Kyai tak melakukan.


Di perjalanan, aku membayangkan andai aku punya majlis yang besar, yang terbuka dan tak terbatas seperti sekarang, untuk semua murid toreqohku yang entah pengen mampir ke majlisku dengan keluarganya atau rombongannya, maka tempat tersedia, kamar menginap ada, dan bisa untuk transit jika ada yang pulang ke Jawa dari Jakarta, sekalian berkumpul menuangkan rindu, hati yang terikat saling mencintai karena Alloh, aku selalu ingat kata-kata Kyaiku, murid- muridku adalah keluargaku.


Aku juga ingin seperti Kyai, kesusahan mereka juga berarti kesusahanku, bahagia mereka berarti kebahagiaanku, kasih kami melebihi kasih saudara, ketika berkumpul, tak ada sama sekali saling merasa lebih baik, atau lebih tinggi, semua sama, kekerabatan karena Alloh… kecintaan karena Alloh, dan aku ingin menjadi fasilisator, tempatku yang dijadikan berkumpul, tapi sepertinya jika mengandalkan himah kemauan kuatku, rasanya masih jauh, apalagi dari soal dana, aku termasuk masih minim, sering juga menolong orang hanya diberi terimakasih saja, bahkan kalau ada orang minta tolong, jika miskin aku usahakan memberinya apa-apa yang bisa ku berikan.


Sebenarnya tempat membangun majlis yang besar, yang bisa dijadikan tempat semua murid internetku berkumpul, sudah ada, tapi dana pembangunan yang mungkin akan sulit aku mendapatkannya, ya harus dari mana aku bisa mendapatkan??


Ada tanah juga dulu mau diwakafkan padaku, lalu ku jawab nanti saja, belakangan malah tanah mau dijual, tak jadi diwakafkan.


Tak apa-apa, mungkin belum rizqi toreqohku. Malah kemaren waktu kyai Askan menjelek-


jelekkanku, dia mengatakan, orang toreqoh itu miskin, tak punya apa-apa. Aku sempat panas juga, tapi aku segera istighfar, ya tak apa-apalah miskin, asal berguna bagi orang lain, sebab kebahagiaan bisa mendo’akan orang sakit, yang kemudian sembuh, itu tak bisa dirasakan orang yang seperti kyai Askan itu.


Yang di pikirannya takut kesaingan, la kok agama kok saing-saingan, memangnya ada?. Yang terakhir ini dia mau membuat jama’ah dzikir tandingan, katanya untuk umur panjang, memangnya orang bisa memulur panjang pendekkan umur, ada-ada saja, lagian orang umur seratus saja tak mati-mati, juga jadi jompo dan tersiksa, kemana-mana sudah jalan susah, makan jagung goreng satu biji saja bisa sebulan tak hancur-hancur, cuma diemut aja.


Apalagi kalau umur sampai 300an tahun, gak


kebayang lah, kecuali orang-orang yang memang diberi keutamaan oleh Alloh.


“Daaarrr…!, daaar..!” tedengar ledakan berkali-


kali, di sampingku, di luar bus, seperti petasan,,

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2