
Dengan nada datar takut mengejutkan kejiwaannya yang sedang terguncang, pasti
tak ringan yang dialaminya di sana
“Aku ini baru berangkat ke Saudi sebulan kemaren mas, saat sampai di tempat majikanku, dan mas tau aku di sana cuma dijadikan pelampiasan nafsu, digilir tiap hari oleh, ayah, anak, paman dan keluarga mereka, yang aku tak tau, aku selalu disekap, dipegangi, diperkosa ramai-ramai,
huuu… huuu… betapa malangnya nasibku…
cabutlah nyawaku ya Alloh.. bagaimana dengan suamiku, dengan kekotoranku ini…”
Aku ikut menitikkan air mata, tak terbayangkan
akan yang dialami oleh perempuan di depanku, wajar bila jiwanya terguncang.
“Ya tenangkan diri mbak, mbak mengalami itu
bukan karena keinginan sendiri, jadi mbak orang yang didzolimi, bukan orang yang dengan sengaja melakukan perbuata keji, lalu bagaimana mbak bisa pulang?”
“Aku kabur mas, kabur melewati jendela, ini
lihat tanganku bekas diikat.” katanya sambil
menunjukkan tangannya, dan memang ada bekas luka ikatan.
“Lalu sampai di Indo?”
“Aku kabur ke kedutaan mas, dan dipulangkan.” jelasnya.
“Sudah sekarang tenangkan diri, yang menimpa nanti diurus.” kataku menenangkan.
“Aku ingin ganti baju mas.” katanya, memang tadi bajunya kotor karena lari-larian jatuh bangun.
Seorang TKW segera menyerahkan tas berisi
baju pada perempuan itu, dan perempuan itu
diantar ke kamar mandi yang ada di belakang pos satpam.
Aku masuk lagi ke dalam kamar satpam.
Sepuluh menit berlalu, seperempat jam berlalu, di luar adem ayem saja. Aku keluar kamar, dan
ku lihat satpam juga petugas PJTKI masih
ngobrol.
“Lhoh mana perempuan tadi?” tanyaku.
“Ya masih di kamar mandi mas.” jawab satpam.
“Lhoh, gimana to, yaaa kabur pasti, ” kataku
memperingatkan.
Kamar mandi segera digedor, tapi tak ada
sahutan.
“Udah didobrak saja.” kataku.
Kamar mandi pun didobrak, dan dalam keadaan kosong, nampak jejak di dinding, pertanda
perempuan itu telah kabur. Aku hanya geleng-geleng kepala, tak taulah, apa yang terjadi, padahal sudah jam 2 dini hari.
Paginya wawancara dengan manager pabrik
semen berjalan lancar, aku dites membuat aneka motif aliran kaligrafi dan aku dinyatakan lulus, aku tinggal ikut medical, BAP, dan menunggu terbang.
__ADS_1
“Ayo ke penampungan lama mas.” kata seorang pegawai PJTKI.
“Jadi mau dipindah di penampungan baru ya?”
tanyaku.
“Wah mas Ian lupa, kan mas mau bersihkan
tempat itu dari gangguan jin?” kata pegawai yang bernama Arif Rahman.
“Di penampungan itu kosong kok mas, ndak ada penghuninya, cuma ada sopir suami istri, juga yang mau berangkat ke Saudi.” jelas Arif
rahman.
“Oo kirain mau dipindah…”
“Mari mas, berangkatnya ku bonceng motor.”
ajak Arif.
Akupun dibonceng Arif, meliak liuk di antara
mobil yang terjebak kemacetan Jakarta, kadang harus masuk gang sempit, dan becek, juga
menyerempet tong sampah, memang begitulah Jakarta, kebersihannya dan kemacetnya
terlanjur menempel di lidah para gubernur dan
walikotanya, sehingga mengurainya harus
mengelupasnya dari lidah mereka.
Dua jam perjalanan akhirnya sampai, mungkin
sebenarnya jika ditarik garis lurus, dari awal
Sampai di penampungan sudah sore, memang di penampungan ada penghuni suami istri saja, selain penjaga penampungan, karena
penampungan ini penampungan lama, yang sudah tidak dipakai lagi.
Sedang TKL yang bertemu denganku bernama
Tejo, aku tak tau nama istrinya.
“Katanya mau membersihkan penampungan ini dari pengaruh jahat ya mas?” tanya Tejo yang
duduk bicara denganku setelah magrib.
“Iya..”
“Wah kebetulan.” kata Tejo.
“Kebetulan kenapa?”
“Ya kebetulan ketemu orang pinter.”
“Wah orang pinter mana? Ketemu di mana?”
tanyaku heran.
“La mas ini kan orang pinternya…” jelas dia
sambil tertawa, Tejo orangnya kurus kekar, ku
lihat dia biasa bekerja keras, dan bicaranya juga ceplas ceplos.
“Wah saya ndak punya kelebihan apa-apa, jika
__ADS_1
ada ilmu itu juga anugerah dari Alloh, saya cuma dititipi, jadi bisa kapan saja diambil.” jelasku.
“Maaf mas, mbok saya ini dilihat kenapa,”
“Kenapa apanya?”
“Begini mas… sejak saya remaja, saya ini sudah bekerja sebagai sopir truk kontainer, awalnya
sih saya kenek, tapi lama-lama saya belajar dan bisa, kemudian saya jadi sopir, sudah sekian
tahun, sampai saya punya istri, kok ndak ada
sama sekali rizqi yang nyantol, saya malah miskin ndak punya apa-apa, padahal sekali kirim barang, uang 4 ratus ribuan pasti saya dapat, tapi kok ya seperti hilang gak tau kemana, trus kalau sama istri saya selalu bertengkar, kalau sudah bertengkar, apa-apa bisa saya banting,
sepertinya saya merasa hilang kendali.” jelas
Tejo panjang lebar.
Ku raba tubuhnya indraku…
“Sampean habis bacok orang ya di kampung?”
tanyaku.
“Kok sampean tau?” tanya Tejo balik.
“Iya apa enggak?” tanyaku.
“Iya mas… ceritanya begini, di kampung ada
maling yang dikejar-kejar orang kampung, waktu itu aku lagi di sawah, ee kok malingnya lari ke arahku, mau ku tangkap ngelawan, ya terpaksa ku bacok kakinya.” cerita Tejo.
“Kamu pernah Nyupang di Laut Selatan ya?”
tanyaku lagi.
“Kok tau juga mas…”
“La iya apa ndak?”
“Iya mas…, tapi awalnya aku cuma nganter orang-orang, yang mau nyupang ngambil pesugihan di pantai laut selatan, ceritanya begini.” kata Tejo mulai bercerita.
“Saat itu aku karena bekerja menjadi sopir travel, aku mendapat penumpang, mengantar rombongan orang yang mau mengambil pesugihan ke laut selatan, ya aku awalnya ndak tau, ku kira orang yang mau rekreasi, aku mengantar mereka, sampai di pantai kok aku diminta mengantar ke juru kuncinya, dan aku antar, ya aku pengen tau juga apa sebenarnya yang mereka lakukan, maka sekalian aku ikuti, sampai kemudian semua pada melakukan sesaji di laut selatan, di Parangtritis,
malam-malam, aku juga ikut, nah dalam
melakukan sesaji dan persembahan itulah, dari laut muncul ular besar sekali.” cerita Tejo.
“Kamu melihat ularnya.?” tanyaku.
“Ya melihat mas., ular besar sekali dan anehnya wajahnya wajah nenek-nenek, dia menggigit
sesuatu benda, lalu benda itu dilepas, ternyata
berupa bambu yang diikat, banyaknya sesuai
banyaknya kami yang hadir, lalu sama juru kunci bambunya diterima dan dibagikan pada kami, lalu kami disuruh berjanji untuk mempersembahkan bayi sebagai ganti permintaan kami jika sudah berhasil, ya aku ndak mau mas, tapi bambu tanda permintaan kami sudah diberikan, setelah ular besar berkepala nenek-nenek itu memberi pesan
kepada kami, maka ular itu masuk lagi ke dalam air, dan kami semua pulang, dan bambu milikku ku buang,
Ya walaupun aku bukan orang yang beragama, tapi aku ndak mau masuk neraka, mempersembahkan bayi, lalu sampai rumah
bambu sebesar jari itu ku buang, nah sejak saat itu hidupku amat susah, keluarga selalu cekcok, malah aku seperti sering hilang kendali, juga istriku hilang kendali, rizqiku juga sama sulit, sementara orang yang ku antar itu semuanya menjadi orang yang kaya raya.” Tejo mengakhiri kisahnya.
“Kamu pernah menjalankan amalan kejawen?”
tanyaku lagi.
__ADS_1