Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Pengisian iLmu


__ADS_3

“Muridmu sudah dibawa teman-temanku.”


“Kemana.”


“Terbang ke Surabaya,”


“Ke tempat Sengkuni?”


“Ya..”


“Apa sebenarnya maunya Sengkuni ini, kenapa selalu menggangguku, dan membawa Aisyah?”


“Hmmm… karena dia kau ajari mengobati.”


“Kan dia ku ajari menolong orang.”


“Tak boleh.”


“Kenapa tak boleh?”


“Ya tak boleh berbuat baik, tak boleh menolong orang, tak boleh mengobati.”


“Kenapa?”


“Nanti thoreqohmu menjadi terkenal, jadi banyak pengikutnya.”


“Sekarang bawa Aisyah kembali,”


“Hahahahah… tak bisa, dia akan kami kurung, akan kami bunuh.”


“Suruh temanmu bawa kembali.”


“Tak bisa, hahaha…, bawa kembali sendiri kalau mampu"


“Baik.” segera ku membaca doa memohon minta sama Allah diberi pedangnya malaikat maut, padahal aku sendiri pun tak tau, apakah malaikat maut itu punya pedang apa tidak, heheheh…, yang jelas aku membayangkan pedang di tanganku menembus langit, dan ku tebaskan pada jin yang membawa kabur Aisyah, dan….


“Ampuuun….” terdengar jin lain.


“Siapa?”


“Kami yang membawa Aisyah.”


“Sekarang dia di mana?”


“Sekarang dia di penjara di sangkar burung.” Perlu diketahui, Aisyah itu berbentuk asli burung merpati berwarna putih.


“Ayo bebaskan.”


“Tak bisa…”


“Kenapa? Apa kamu tak takut denganku?”


“Ya kami semua takut.”


“Kenapa tak mau membebaskan?”


“Kami diancam.”


“Sama siapa?”


“Sama Sengkuni, kalau kami tak menangkap Aisyah dan membebaskannya, kami akan disiksa.”


“Takutan mana sama Sengkuni, apa denganku?”


“Takut denganmu.”


“Nah bebaskan, apa kamu mau ku penggal kepalamu?”


“Jangan, jangan, jangan kami dibunuh.”


“Nah sekarang bawa kesini.”


“Kami tak bisa membuka sangkar burungnya, karena dikunci dengan ilmu,”


“Ini pegang pedangku, dan tebas sangkar burungnya.” ku berikan pedangku padanya.


“Aduuh berat sekali.”

__ADS_1


“Sudah segera tebas, sini ku bantu tenaga,”


Lalu dia melakukan gerakan menebas.


“Pak kyai… saya bebas..” suara Aisyah.


“Ampuun… kami ingin menjadi murid kyai.” terdengar suara jin yang tadi.


“Iya… kalian sudah Islam..?” tanyaku.


“Belum..”


“Ayo tirukan aku membaca dua kalimat sahadat.”


“Iya.”


Lalu dia ku ajari membaca dua kalimat syahadat, dan setelah itu ku suruh mandi sebagai tanda masuk Islam.


___________________________________


“Pak kyai… ada sekelompok jin lagi yang membawa kerangkeng ingin menangkapku.”


“Wah bener-bener keterlaluan, posisi nya ada di mana nduk?”


“Itu pak kyai ada di bawah pohon mangga." Segera saja ku bentuk bola api di tangan dan ku hantamkan ke arah jin.


“Wah meledak pak kyai.”


“Apanya yang meledak nduk?”


“Ya kerangkengnya pak kyai, tapi jinnya kabur..”


“Wah gak ketangkap.”


Saat itu aku belum begitu paham, jadi kalau jin kabur aku tak bisa menangkapnya, seiring perkembangan waktu, dan sampai sekarang, setelah berjalannya waktu, ternyata jin langit, atau jin di mana saja bisa ku tarik dengan tanganku, subhanallah, maha besar ilmu dari Allah, benar memang semakin kita banyak tau, maka akan makin banyak yang belum kita tau, dan semakin haus akan ilmu, makin tak bisa terbendung, ingin terus nambah saja ilmu.


Apalagi akhir-akhir ini, makin banyak kejadian ku alami, beruntun dan serasa sungguh berat menanggungnya, makin aku sadar kalau itu semua adalah cara Allah menggemblengku untuk menjadi orang yang sanggup memegang amanah yang dibebankan ke pundakku, setelah tau itu, segala ujian itu malah serasa ringan, dan malah ketagihan ingin terus di-uji dan di-uji, jika aku mengingat anugerah yang diberikan padaku, maka segala ujian itu menjadi tak memberatkan sama sekali, pantesan guruku begitu senangnya menerima ujian, dan tak mau menolaknya sama sekali.


Yang dapat ku rasakan manfaat dari ujian yang bertubi-tubi yang ku terima itu adalah, para guru besar, seperti syaikh Abdul Qodir ******


RA, syaikh N*****, syaikh Abdul Karim


ketika ada pengajian thoreqoh di rumahku, dan malaikat yang hadir hingga berlapis-lapis, sampai tembus langit, berbaris, malah sering ketangkap kamera yang memotret, dan yang hadir dari dunia jin juga sampai memenuhi semua tempat, yang aneh malah yang dari manusia jarang ada yang ikut. Tetangga saja jarang ada yang ikut, ya biarkan saja.


Sebenarnya aku sendiri juga tak tau kalau mereka ikut, tauku diberi tau Aisyah, biasanya Aisyah akan memberitahu siapa saja yang hadir di pengajian.


“Kyai… wah Aisyah tak berani ikut hadir di dalam majlis kyai.”


“Kenapa nduk?”


“Aisyah silau.”


“Silau kenapa nduk?”


“Di samping kanan kiri kyai, dari syaikh Abdul Q****, syaikh Abdul K****, syaikh T*****,


syaikh N*****, syaikh saya tak tau lagi kyai, banyak sekali semua hadir, dan yang sering hadir syaikh M****** dengan anaknya.”


“Siapa syaikh M******?”


“Itu kyai yang tinggal di Gresik.”


“Apa mereka dari bangsa jin?”


“Bukan kyai, mereka dari ruh, wah silau sekali kyai, belum lagi para malaikat yang ikut hadir, sampai tembus langit tuju berbaris.”


“Apa bener nduk?”


“Ya benar lah kyai, masak Aisyah bohong, nanti masuk neraka, juga kuwalat kalau bohong sama guru, Aisyah siap diperintah kyai, Aisyah siap mati untuk kyai…”


Aku jadi terharu, mendengar ucapan Aisyah.


“Kyai…”


“Ada apa nduk?”


“Anu anaknya syaikh M*****, cuaaantiik sekali.”

__ADS_1


“Cantik mana sama Aisyah?”


“Wah cantik dia kyai, pakaiannya hijau, kerudungnya hijau, wajahnya putih seperti susu, dan hidungnya mansuung.”


“Coba tanya dia, apa mau jadi istri kyai?”


Aisyah lalu terdiam.


“Ah kyai… la bu nyai mau dikemanakan?”


“Ya kan boleh saja punya istri 2, 3, 4.”


“Iya deh Aisyah tanyakan.”


Sebentar dia diam….


“Kyai… dia katanya masih mau sama abinya katanya kalau mau melamarnya, diminta segera langsung Utarakan minta sama abinya.”


“Iya deh nanti kyai minta sama abinya..”


“Dia malu kyai..”


“Ya biar… dia sendiri yang nyuruh kyai minta sama abinya.”


“Ee dia kabur, malu… heheheh lucu.. manusia…


heheheh…”


___________________________________


Pagi-pagi… habis hujan gerimis, serasa malas sekali mau tidur, padahal semalaman belum tidur, Aisyah memanggil.


“Kyai…”


“Ada apa nduk…” kataku.


“Ada yang mencari kyai…”


“Di mana?”


“Di sumur sana..”


“Mau apa, coba kamu tanya nduk siapa dia, ada keperluan apa?”


“Dia bernama syaih T***** dari Kalisapu Cirebon.”


“Syaikh T*****, gurunya Syaikh M***** bin


Nur Muhammad?”


“Iya kyai…”


“Mau apa dia di situ.”


“Dia bilang ingin memberi ilmu pada kyai..”


“Ooo… ya kyai siap.”


“Kyai…” panggil Aisyah, biasa dia kalau omong sambil matanya kesana kesini.


“Ada apa nduk.”


“Tadi syaikh T****** mengisi sumur.”


“Mengisi dengan apa nduk.”


“Diisi karomah kyai, air sumurnya jadi bergolak.”


“Oo ya ndak papa… ini kyai sudah siap.”


“Iya syaikh T**** sudah ada di belakang kyai.”


Ku rasakan tangan dingin, menempel di punggungku, dan aliran energi masuk ke tubuhku, tubuhku serasa panas. Dan pengisian selesai.


“Kyai , syaikh T***** berpesan supaya ilmu yang diberikan dipakai berjuang di jalan Allah. Semua guru akan mendukung kyai dibelakang.”


“Iya katakan pada syaikh T*****, kalau kyai

__ADS_1


insaAllah siap lahir batin memperjuangkan dan insaAllah menjalankan amanah yang diberikan


sekuatnya.”


__ADS_2