Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Tahamah


__ADS_3

“Soal apa itu? Maaf sebenarnya aku sendiri tak


bisa apa-apa, jadi kalau nantinya mengecewakan.” kataku.


“Ini soal anak saya di rumah,”


“Memangnya kenapa anaknya?”


“Saya sendiri tak tau sebab musababnya ustadz, tiba-tiba sekitar sebulan ini anak perempuan saya yang berumur 10 tahun lumpuh, dan tak bisa berjalan.”


“Itu awalnya bagaimana?”


“Makanya itu ustadz, cerita istri anak saya itu


tak panas juga tak sakit, ketika bangun tidur,


begitu saja menjadi lumpuh…”


“Ooo begitu, apa bisa di rumah disediakan air?”


“Maksudnya air apa ustad?”


“Maksudku air mineral, ya air itu dibiarkan


semalam, biar ku transfer obat ke dalam air


tersebut, besok pagi airnya diupayakan diminum, dan dipakai mandi, bagaimana, bisa tidak?”


“Sebentar, saya akan menghubungi istri saya.”


kata Amir Khan, sambil mengeluarkan hape dan menghubungi rumahnya.


“Oh ya sekalian suruh airnya dicampurkan air


untuk mengepel rumah.” kataku di antara


pembicaraannya dengan istrinya.


“Iya sudah disediakan air.” jawab Amir Khan.


“Iya nanti ditunggu saja perkembangan


selanjutnya.” jelasku.


“Makasih ustad saya mohon diri dulu..” kata Amir khan.


Selang beberapa saat Muhsin masuk kamar


membawa bungkusan makanan.


“Apa itu?” tanyaku menanyakan yang dibawa


Muhsin.


“Ini nasi jagung plus ayam, titipan dari orang


Maroko, bernama Abduh yang ku mintakan do’a tentang anaknya dulu, Alhamdulillah anaknya


sudah baikan dan sehat.” jelas Muhsin. “Ayo


dimakan.”


“Wah kalau nasi jagung kurang pas kalau tak


disambelkan, biar aku nyambel sebentar.” kataku segera meramu sambel trasi andalan.


“Kayaknya tadi Amir Khan dari sini?” tanya


Muhsin.


“Iya dia meminta dido’akan anaknya sakit di


Pakistan sana.” jawabku.


“Ooo… wah enak ya kalau mendo’akan orang sakit di mana-mana bisa sembuh.” celetuk Muhsin.


“Ya semua orang juga bisa, la wong berdo’a saja apa susahnya.” kataku.

__ADS_1


“Tapi kan ndak semua diijabah.” jawab Muhsin.


“Semua juga mempunyai hak diijabah yang sama, dan Alloh juga memberi hak diijabah yang sama, cuma manusia sendiri yang menjadikan do’anya terhalang oleh ijabah, nafsunya sendiri yang menjadi penghalang terijabahnya do’a, aku sendiri kan juga bukan orang hebat, sama doyan nasi jagung, sama doyan bakso, dan sama doyan semua yang halal, jadi tak ada bedanya dengan orang lain, sampean atau siapapun.”


“Itulah yang malah sulit membedakan, karena


samanya, jadi sulit dilihat perbedaannya.” kata


Muhsin.


“Kita sebenarnya hanya perlu melakukan cara


ibadah yang benar, yang menjauhi yang dilarang dengan benar, memakan makanan yang terjaga kehalalannya, ya sebenarnya hanya itu.” kataku sambil memindah sambel yang selesai ku ulek.


Orang Maroko punya tradisi jika hari jum’at


mereka memasak nasi jagung, nasi jagungnya


sama dengan masakan Jawa Timur, aku yang


memang suka nasi jagung, walau di Saudi, jadi


hampir setiap jum’at mendapat kiriman nasi


jagung dari orang Maroko, karena mempunyai


murid orang Maroko.


——————————————-


Besoknya aku dikirim ke pabrik baru di Tahamah, perjalanan dari pabrik yang ku tempati ditempuh kira-kira delapan jam, sore hari pulang kerja aku cepat-cepat pulang ke kamar, melewati jalan pintas gerumbul semak perdu, walau di Arab karena kepedulian pabrik, jadi ada pengolahan air dinamakan water treatmen di mana air kotor diolah menjadi air bersih, dan sebagian dipakai menyirami tanaman, sehingga sekitar pabrik semua tanaman tumbuh subur, kebun mangga ada, kebun jambu, kebun pisang, kebun jeruk,


yang paling menyenangkan di sini burung bebas berkeliaran, bahkan di pohon kadang penuh sarang burung, bergantungan, dan semua tiap pagi bernyanyi ramai sekali, juga tiap ada tiang lampu jalan, pasti ditempati sarang elang, atau bangau, bahkan di atap-atap pabrik, penuh sarang merpati, cuma teman-temanku pernah mengambil banyak merpati, karena kalau di sarangnya ditangkap tak lari, jadi mengambil merpati sampai dapat setengah karung, herannya dagingnya rasanya langu, mungkin yang dimakan bukan biji-bijian jagung.


Yang aku heran di sini juga ada ayam liar, atau


kalau di Indonesia ayam alas, tapi bentuknya


kayak kalkun, cuma sebesar ayam kampung, juga bisa terbang, jadi sulit untuk menangkapnya, banyak juga ayam liar, kadang mereka berkelompok. Walau tak pernah hujan, tumbuhan tak mati karena setiap pohon mendapat jatah air dari selang yang dialirkan sepanjang jalan.


Jadi suasana amat rimbun, cuma kalau panas ya tetap panas, walau di bawah pohon, sebab panasterbawa hembusan angin.


“Ustadz, terima kasih…” kata suara seseorang di belakangku, ternyata Amir Khan orang Pakistan yang semalam meminta tolong.


“Bagaimana kabar anaknya?” tanyaku masih


tetap jalan, dan Amir Khan berjalan di


sampingku.


“Alhamdulillah kata ibunya tadi pas istirahat


siang telpon, katanya anaknya sudah bisa jalan, walau pelan-pelan, ibunya juga merasa kaget,


tiba-tiba anaknya turun dari ranjang.” kata Amir


Khan.


“Ya syukur kalau begitu.” jawabku.


“Ustadz, ustadz mau dibelikan apa? Katakan


saja, pasti saya turuti.” kata Amir Khan.


“Aku?” tanyaku.


“Iya..” jawab Amir.


“Wah aku tak ingin beli apa-apa, sudah yang


penting anaknya sehat..”


“Tapi saya mau berterimakasih pada ustadz..”


kata Amir Khan.


“Berterima kasih saja pada Alloh…, aku hanya

__ADS_1


meminta pada-Nya,” jelasku.


“Bolehkah saya menjadi murid Ustad…?” tanya


Amir Khan.


“Ah aku orang bodoh, tak pantas diangkat


menjadi guru, juga pas kebetulan aku berdo’a,


dan Alloh pas menurunkan kemurahannya dan


anakmu diberi kesembuhan.” kataku, dan sampai di kamar.


“Terima kasih ustadz..” kata Amir Khan karena


aku akan masuk kamar.


“Sama-sama..” jawabku.


Akhirnya berangkat juga ke Tahamah, satu


mobil jeep diisi sembilan orang, sepanjang


perjalanan hanya pemandangan padang pasir,


batu, gunung, dan rumah-rumah di puncak


gunung, sekali waktu berhenti di tempat makan, untuk mengisi perut, dan di sini ya paling enak


makannya nasi minyak, dan ayam bakar, tanpa


rasa apa-apa, beda di Indonesia yang ada aneka makanan pilihan, bahkan bumbunya ayam bakar juga cuma cabe utuh, itu juga kalau minta, biasanya cuma dikasih kecap sama irisan bawang bombai.


Sebenarnya jika ke pasar aku lebih suka


makan roti canai, atau roti yang kayak martabak tanpa isi telur jadi cuma adonan tepung tapi


digoreng, makannya disuwir dicolek ke kare


daging, rasanya sih lumayan, mendekati rasa


rendang padang, cuma kebanyakan kunyitnya, ya daripada tak ada, ya itu termasuk makanan


lezat.


Biasanya juga di jalan-jalan ada warung


teh plus nyedot sisa, rokok ala Saudi, dan


tehnya dari daun menthol yang direbus, di Saudi namanya daun Nak-nak, rasanya diminum panas ya hangat-hangat semriwing.


Jam 2 siang, aku sampai di pabrik Tahamah,


ketemu juga banyak orang Indonesia, dan kumpul sebagian rombonganku yang dahulu berangkat bersama dari Indonesia, cuma kemudian yang lain dikirim ke pabrik beda daerah.


Malamnya pada main ke kamarku, ngobrol ngalor ngidul, ya menanyakan kabar dan lain sebagainya.


Pabrik Tahamah adalah pabrik baru yang


sebelumnya katakanlah daerah tanpa penduduk, hanya wilayah gunung mati, jadi entah salah satu gunung dipangkas, diledakkan, didatarkan, kemudian dibangun sebuah pabrik, dan segala macam kebutuhan yang diperlukan pabrik, sehingga jika mau ke kota maka amat jauh, di kanan kiri depan belakang, dan kemana arah mata memandang yang ada hanya gunung dan deretan gunung-gunung batu,


Pabrik ini seperti sebuah koloni di dunia antah berantah, tak seperti di Indonesia yang gunungnya terdiri dari pepohonan dan hutan, kalau di Saudi, maka gunungnya hanya terdiri dari batu dan batu.


Bahkan gunung itu seperti batu yang utuh.


Beberapa hari di Tahamah, bingung juga


pertama sebab ternyata soal pekerjaan sama


sekali tak ada, barang-barang yang ku butuhkan sama sekali tak tersedia, di Tahamah hampir-


hampir dikuasai oleh orang India, insinyur dan


teknisinya juga orang India, taulah orang Ladusingh jika insinyur sekalipun belum tentu insinyur beneran artinya ijazah dari beli, jadi soal kerja sama sekali tak mengerti.


Bahkan aku sendiri ikut dipekerjakan melayani

__ADS_1


tukang batu, memang apes kalau bekerja dengan India, apalagi orang Saudi yang tak mengerti ijazah palsu atau bukan, jadi ingat orang India yang kerja di klinik, sakit apapun diberi obat Parasetamol..


Bersambung...


__ADS_2