
“Soal apa itu? Maaf sebenarnya aku sendiri tak
bisa apa-apa, jadi kalau nantinya mengecewakan.” kataku.
“Ini soal anak saya di rumah,”
“Memangnya kenapa anaknya?”
“Saya sendiri tak tau sebab musababnya ustadz, tiba-tiba sekitar sebulan ini anak perempuan saya yang berumur 10 tahun lumpuh, dan tak bisa berjalan.”
“Itu awalnya bagaimana?”
“Makanya itu ustadz, cerita istri anak saya itu
tak panas juga tak sakit, ketika bangun tidur,
begitu saja menjadi lumpuh…”
“Ooo begitu, apa bisa di rumah disediakan air?”
“Maksudnya air apa ustad?”
“Maksudku air mineral, ya air itu dibiarkan
semalam, biar ku transfer obat ke dalam air
tersebut, besok pagi airnya diupayakan diminum, dan dipakai mandi, bagaimana, bisa tidak?”
“Sebentar, saya akan menghubungi istri saya.”
kata Amir Khan, sambil mengeluarkan hape dan menghubungi rumahnya.
“Oh ya sekalian suruh airnya dicampurkan air
untuk mengepel rumah.” kataku di antara
pembicaraannya dengan istrinya.
“Iya sudah disediakan air.” jawab Amir Khan.
“Iya nanti ditunggu saja perkembangan
selanjutnya.” jelasku.
“Makasih ustad saya mohon diri dulu..” kata Amir khan.
Selang beberapa saat Muhsin masuk kamar
membawa bungkusan makanan.
“Apa itu?” tanyaku menanyakan yang dibawa
Muhsin.
“Ini nasi jagung plus ayam, titipan dari orang
Maroko, bernama Abduh yang ku mintakan do’a tentang anaknya dulu, Alhamdulillah anaknya
sudah baikan dan sehat.” jelas Muhsin. “Ayo
dimakan.”
“Wah kalau nasi jagung kurang pas kalau tak
disambelkan, biar aku nyambel sebentar.” kataku segera meramu sambel trasi andalan.
“Kayaknya tadi Amir Khan dari sini?” tanya
Muhsin.
“Iya dia meminta dido’akan anaknya sakit di
Pakistan sana.” jawabku.
“Ooo… wah enak ya kalau mendo’akan orang sakit di mana-mana bisa sembuh.” celetuk Muhsin.
“Ya semua orang juga bisa, la wong berdo’a saja apa susahnya.” kataku.
__ADS_1
“Tapi kan ndak semua diijabah.” jawab Muhsin.
“Semua juga mempunyai hak diijabah yang sama, dan Alloh juga memberi hak diijabah yang sama, cuma manusia sendiri yang menjadikan do’anya terhalang oleh ijabah, nafsunya sendiri yang menjadi penghalang terijabahnya do’a, aku sendiri kan juga bukan orang hebat, sama doyan nasi jagung, sama doyan bakso, dan sama doyan semua yang halal, jadi tak ada bedanya dengan orang lain, sampean atau siapapun.”
“Itulah yang malah sulit membedakan, karena
samanya, jadi sulit dilihat perbedaannya.” kata
Muhsin.
“Kita sebenarnya hanya perlu melakukan cara
ibadah yang benar, yang menjauhi yang dilarang dengan benar, memakan makanan yang terjaga kehalalannya, ya sebenarnya hanya itu.” kataku sambil memindah sambel yang selesai ku ulek.
Orang Maroko punya tradisi jika hari jum’at
mereka memasak nasi jagung, nasi jagungnya
sama dengan masakan Jawa Timur, aku yang
memang suka nasi jagung, walau di Saudi, jadi
hampir setiap jum’at mendapat kiriman nasi
jagung dari orang Maroko, karena mempunyai
murid orang Maroko.
——————————————-
Besoknya aku dikirim ke pabrik baru di Tahamah, perjalanan dari pabrik yang ku tempati ditempuh kira-kira delapan jam, sore hari pulang kerja aku cepat-cepat pulang ke kamar, melewati jalan pintas gerumbul semak perdu, walau di Arab karena kepedulian pabrik, jadi ada pengolahan air dinamakan water treatmen di mana air kotor diolah menjadi air bersih, dan sebagian dipakai menyirami tanaman, sehingga sekitar pabrik semua tanaman tumbuh subur, kebun mangga ada, kebun jambu, kebun pisang, kebun jeruk,
yang paling menyenangkan di sini burung bebas berkeliaran, bahkan di pohon kadang penuh sarang burung, bergantungan, dan semua tiap pagi bernyanyi ramai sekali, juga tiap ada tiang lampu jalan, pasti ditempati sarang elang, atau bangau, bahkan di atap-atap pabrik, penuh sarang merpati, cuma teman-temanku pernah mengambil banyak merpati, karena kalau di sarangnya ditangkap tak lari, jadi mengambil merpati sampai dapat setengah karung, herannya dagingnya rasanya langu, mungkin yang dimakan bukan biji-bijian jagung.
Yang aku heran di sini juga ada ayam liar, atau
kalau di Indonesia ayam alas, tapi bentuknya
kayak kalkun, cuma sebesar ayam kampung, juga bisa terbang, jadi sulit untuk menangkapnya, banyak juga ayam liar, kadang mereka berkelompok. Walau tak pernah hujan, tumbuhan tak mati karena setiap pohon mendapat jatah air dari selang yang dialirkan sepanjang jalan.
Jadi suasana amat rimbun, cuma kalau panas ya tetap panas, walau di bawah pohon, sebab panasterbawa hembusan angin.
“Ustadz, terima kasih…” kata suara seseorang di belakangku, ternyata Amir Khan orang Pakistan yang semalam meminta tolong.
“Bagaimana kabar anaknya?” tanyaku masih
tetap jalan, dan Amir Khan berjalan di
sampingku.
“Alhamdulillah kata ibunya tadi pas istirahat
siang telpon, katanya anaknya sudah bisa jalan, walau pelan-pelan, ibunya juga merasa kaget,
tiba-tiba anaknya turun dari ranjang.” kata Amir
Khan.
“Ya syukur kalau begitu.” jawabku.
“Ustadz, ustadz mau dibelikan apa? Katakan
saja, pasti saya turuti.” kata Amir Khan.
“Aku?” tanyaku.
“Iya..” jawab Amir.
“Wah aku tak ingin beli apa-apa, sudah yang
penting anaknya sehat..”
“Tapi saya mau berterimakasih pada ustadz..”
kata Amir Khan.
“Berterima kasih saja pada Alloh…, aku hanya
__ADS_1
meminta pada-Nya,” jelasku.
“Bolehkah saya menjadi murid Ustad…?” tanya
Amir Khan.
“Ah aku orang bodoh, tak pantas diangkat
menjadi guru, juga pas kebetulan aku berdo’a,
dan Alloh pas menurunkan kemurahannya dan
anakmu diberi kesembuhan.” kataku, dan sampai di kamar.
“Terima kasih ustadz..” kata Amir Khan karena
aku akan masuk kamar.
“Sama-sama..” jawabku.
Akhirnya berangkat juga ke Tahamah, satu
mobil jeep diisi sembilan orang, sepanjang
perjalanan hanya pemandangan padang pasir,
batu, gunung, dan rumah-rumah di puncak
gunung, sekali waktu berhenti di tempat makan, untuk mengisi perut, dan di sini ya paling enak
makannya nasi minyak, dan ayam bakar, tanpa
rasa apa-apa, beda di Indonesia yang ada aneka makanan pilihan, bahkan bumbunya ayam bakar juga cuma cabe utuh, itu juga kalau minta, biasanya cuma dikasih kecap sama irisan bawang bombai.
Sebenarnya jika ke pasar aku lebih suka
makan roti canai, atau roti yang kayak martabak tanpa isi telur jadi cuma adonan tepung tapi
digoreng, makannya disuwir dicolek ke kare
daging, rasanya sih lumayan, mendekati rasa
rendang padang, cuma kebanyakan kunyitnya, ya daripada tak ada, ya itu termasuk makanan
lezat.
Biasanya juga di jalan-jalan ada warung
teh plus nyedot sisa, rokok ala Saudi, dan
tehnya dari daun menthol yang direbus, di Saudi namanya daun Nak-nak, rasanya diminum panas ya hangat-hangat semriwing.
Jam 2 siang, aku sampai di pabrik Tahamah,
ketemu juga banyak orang Indonesia, dan kumpul sebagian rombonganku yang dahulu berangkat bersama dari Indonesia, cuma kemudian yang lain dikirim ke pabrik beda daerah.
Malamnya pada main ke kamarku, ngobrol ngalor ngidul, ya menanyakan kabar dan lain sebagainya.
Pabrik Tahamah adalah pabrik baru yang
sebelumnya katakanlah daerah tanpa penduduk, hanya wilayah gunung mati, jadi entah salah satu gunung dipangkas, diledakkan, didatarkan, kemudian dibangun sebuah pabrik, dan segala macam kebutuhan yang diperlukan pabrik, sehingga jika mau ke kota maka amat jauh, di kanan kiri depan belakang, dan kemana arah mata memandang yang ada hanya gunung dan deretan gunung-gunung batu,
Pabrik ini seperti sebuah koloni di dunia antah berantah, tak seperti di Indonesia yang gunungnya terdiri dari pepohonan dan hutan, kalau di Saudi, maka gunungnya hanya terdiri dari batu dan batu.
Bahkan gunung itu seperti batu yang utuh.
Beberapa hari di Tahamah, bingung juga
pertama sebab ternyata soal pekerjaan sama
sekali tak ada, barang-barang yang ku butuhkan sama sekali tak tersedia, di Tahamah hampir-
hampir dikuasai oleh orang India, insinyur dan
teknisinya juga orang India, taulah orang Ladusingh jika insinyur sekalipun belum tentu insinyur beneran artinya ijazah dari beli, jadi soal kerja sama sekali tak mengerti.
Bahkan aku sendiri ikut dipekerjakan melayani
__ADS_1
tukang batu, memang apes kalau bekerja dengan India, apalagi orang Saudi yang tak mengerti ijazah palsu atau bukan, jadi ingat orang India yang kerja di klinik, sakit apapun diberi obat Parasetamol..
Bersambung...