Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Titik Balik


__ADS_3

Dan apa yang menimpaku ini belum seujung kuku, dari apa yang menimpa Nabi Muhammad. Maka pemikiran itu malah membuatku bukan cuma bukan hanya rasa hati lapang, tapi malah kayak ada rasa ketagihan.


Apalagi diambil dosa dengan gratis, artinya walau orang itu sudah bicara kesana kesini, kalau lapar dia makan nasinya sendiri, aku tak perlu memberi makan.


Padahal dia sudah payah-payah menjelekkanku, maka kadang aku do’akan supaya rizqinya lancar, karena dia sudah aktif membersihkan dosaku, walau kelihatan secara lahirnya menghujad dan menjelekkanku.


Mungkin sudah berusaha menjelek-jelekkanku


dalam setiap pengajiannya, kyai Askan, nama


kyai tersebut akhirnya ke rumahku.


“Ada apa kang?” tanyaku ketika telah bertatap


muka dengannya.


“Aku mau bicara,” katanya dengan nada tinggi.


“Silahkan, apa yang mau dibicarakan?” ku buat serendah dan senyaman mungkin nadanya.


“Kau kan orang pendatang, aku orang sini, maka tak selayaknya kau merebut popularitasku di desa ini.” jelasnya masih dengan nada orang marah.


Apalagi makmum yang telah tua-tua, kebanyakan akan sampai nangis-nangis jika aku yang menjadi imam.


Memang itu sudah sejak aku memimpin di


pesantren tahfidzul qur’an dulu, jika aku yang


menjadi imam, maka akan banyak yang menangis, bahkan ada yang sampai menjerit pingsan, hal itu bukan tanpa sebab, karena memang jika seseorang itu membaca qur’an dengan pendalaman kepahaman dan penerapan yang pas akan menimbulkan efek yang menggetarkan hati.


Awalnya kisah ini ku alami, aku ini sebelum


menjadi orang yang berusaha mendekatkan diri pada Alloh, diriku seorang yang dapat dikatakan nakal, seorang yang senang berkelahi, hobby


tawuran, rambut panjang sepantat, dan setiap


hari memakai anting, dimana ada konser rock


pasti datang.


Pada waktu itu ada konser power metal di daerah Bojonegoro, aku dengan teman-temanku pun datang, entah memang sudah diatur oleh Alloh, begitu sampai lokasi kok konser dibatalkan, aku kecewa.


Dan untuk mengobati kekecewaanku, aku jalan-jalan sama temen-temenku keliling kota


Bojonegoro, kok pas kebetulan ada pengajian


akbar, dan pas pembaca saritilawahnya dari


Mesir, ya aku nongkrong aja di situ.


Ee pas yang baca Qur’annya tampil ke panggung, tak ada sama sekali maksud mendengar bacaan qur’an orang itu, tapi kan pakai soundsystem,walaupun dari jauh tetep saja aku mendengar, dan ketika orang itu membaca qur’an, dadaku rasanya diaduk, bergetar, bergolak, aku yang asalnya berdiri dan bersandar pada tembok, sampai sampai karena getaran yang ku rasakan aku tak kuasa berdiri,


mataku berlinang, ingin rasanya menjerit,


melolong, minta ampun atas semua dosaku,


Diriku rasanya hina, tak berharga, munafik, fasik, kafir, pendosa, aku seperti merasa ditelanjangi di padang mahsar, sampai tanpa sadar aku mengguguk, menangis, meminta ampun atas semua dosaku, aku merasa sangat berdosa lebih berdosa dari orang yang paling berdosa, air mataku terkuras, dan itu bukan diriku saja, teman-temanku, semua

__ADS_1


orang yang hadir pun menangis, padahal itu


hanya bacaan al-qur’an, yang aku juga temanku, juga orang yang hadir pasti tak semua tau arti


satu persatu isinya, tapi kenapa semua


menangis?


Setelah pulang dari kejadian itu, aku telah berubah seratus delapan puluh derajad.


Tentang bacaan Qur’an itu selalu terngiang di


pikiranku, siang malam selalu membayangi


langkahku, dan otomatis kemudian menjadi


perenunganku, sampai aku seperti terseret pada pemahaman tentang kenapa orang, bahkan Nabi sendiri jika dibacakan Al-qur’an sampai menangis.


Orang-orang utama kenapa bila membaca Al-quran itu mereka menangis, seperti Abu bakar, ketika membaca qur’an itu akan terdengar suara air direbus di hatinya, bagaimana jika Umar bin Khotob itu membaca Qur’an akan tercium bau daging terbakar, karena terbakarnya hati yang takut


kepada gusti Alloh.


Mata adalah mata airnya hati, jika mata


menangis karena hati yang takut pada Alloh,


seperti tanah yang keluar airnya, karena


menunjukkan tanah yang subur, mata yang keluar airnya karena hati yang takut pada Alloh


Getaran itu terkirim oleh kabel yang tak terlihat. Hanya orang yang telah tergetar hatinya, bisa menggetarkan orang lain.


Lalu bagaimana mungkin hati bisa tergetar? Hati tergetar atau wajilat qulubuhum, karena jika membaca Alqur’an itu diri memahami dan


meyakini seyakin-yakinnya kalau Al-qur’an itu


adalah surat dari Alloh, untuk diri kita, sebagai


orang Islam, maka walaupun isinya tentang


cerita orang munafik, orang kafir, orang yang


tersesat, orang yang dzolim, maka maksudnya


Alloh ya kita itu, bukan orang lain, karena Al-


qur’an diturunkan untuk kita bukan orang agama lain.


Jadi penyadaran diri, kita dalam lahirnya dalam KTP nya orang Islam, tapi masih selalu bertingkah laku sebagai orang ingkar seperti


kafir, pembohong seperti orang munafik, selalu tak menempatkan sesuatu pada tempatnya


seperti orang dzolim, ngeyel seperti Bani Israil,


melakukan perbuatan ngawur seperti orang


tersesat, jadi penyadaran diri akan kemelekatan sifat buruk dalam diri, lalu Alloh menegur kita.

__ADS_1


Dzat yang bisa membalik dunia, dan


menghancurkan kita menjadi bangkai yang tak


berkubur, itu memperingatkan kita, pasti orang


beriman yang menyala imannya akan tergetar,


dan merasa diri itu benar-benar terlekati sifat


buruk.


Sebab jika diri makin merasa suci, maka diri itu makin kotor, sebab walau telah penuh menempul di tubuh aneka macam kotoran, tetap saja merasa suci.


Dan orang yang paling merasa lurus, maka akan paling tersesat, karena sudah tersesat tetap saja merasa lurus, sebab perasaan lurus itu telah mendarah daging.


Juga orang yang paling bodoh itu adalah orang yang paling merasa pintar, karena jelas telah


salah, tapi akan selalu yang dilakukan itu adalah kepintaran dia.


Orang yang paling munafik, adalah orang yang


merasa sifat nifak tidak melekat pada dirinya,


jadi berulang kali berdusta, maka akan dianggap tidak dusta, sebab menganggap dustanya itu suatu kebenaran.


Jadi seseorang yang ingin menjadi baik, maka


tak segan-segan mengkoreksi diri, jika ada


kekotoran maka tak segan mengakui lalu


membersihkannya, agar ketenangan hati yang


bersih didapat.


Dan ketika hati telah bersih, saat mana Qur’an


itu dibaca, maka cahaya hidayahnya Qur’an itu


akan menyinari hati, memperjelas yang samar,


mengurai arti dan makna yang lembut-lembut,


seperti orang yang terseret merasa takut ketika membaca novel horor, dan tertawa ketika


membaca novel humor, dan seakan menjadi


pendekar ketika membaca cerita silat.


Ketika dalam qur’an itu ada cerita tentang


neraka, maka diri itu merasa telah jatuh


kedalam lautan apinya, ketika Alqur’an itu.....


Bersambung.......

__ADS_1


__ADS_2