Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Bu sundasih


__ADS_3

“Perutnya selalu terasa penuh ya?”


“Iya mas kyai, perut saya terus terasa penuh.”


jawabnya.


“Ya diedel-edel dokter percuma saja, kamu itu


terkena santet angin, atau hawa, jadi hawa yang


dikirim seseorang, berupa angin atau hawa,


biasanya sulit dideteksi, karena berupa angin.”


“Jadi ini bikinan orang?” tanyanya.


“Ya kan udah bisa dilihat, tapi ndak perlu curiga


pada siapa saja ya, yang penting penyakitnya


sembuh saja.”


“Iya mas kyai.”


“Pernah diobatkan ke orang pinter?”


“Wah kalau itu sudah kemana mana, kalo saya dengar orang ada yang bisa ngobati pasti saya datangi, tapi ya itu tak ada hasilnya apa-apa.”


“Ini nanti saya kasih air, untuk mandi dan diminum, air lagi untuk dipelkan di seluruh rumah, ingat di seluruh rumah, lalu nanti aku kasih empat batu untuk ditanam di empat tempat pojok rumah, ingat nanam batunya setelah selesai mengepel seluruh rumah, ingat kan caranya, mandi dulu, lalu ngepel, lalu menanam batu, itu lakukan berurutan.” jelasku


pelan-pelan.


“Iya mas kyai akan saya ingat.” jawabnya. Lalu


dia pun pamit pulang.


——————————————-


Dua hari kemudian Munawar menghubungiku


lewat Hp.


“Ada apa Mas?” tanyaku.


“Ini Mas kyai waktu mengepel rumah, saya lupa


kamar mandi tidak saya pel, dan ini kok ada yang aneh.” suara Munawar kedengaran ketakutan.


“Aneh bagaimana?” tanyaku.


“Istri saya cerita, kalau mandi di kamar mandi kok kayak ada yang memegangi gayungnya, awalnya saya tak percaya, la malah saya mengalami sendiri, gayung saya waktu mau nuang air di kepala kayak ada yang memegangi, kami serumah jadi takut kalau ke kamar mandi.”


“Wah itu jin yang terjebak di kamar mandi, kan kalau kena air pel-pelan itu dia kepanasan, jadi mundur, maksudku di-pel semua, jadi kalau ada jin dan keluar rumah, nah baru dipagar pakai batu, agar jinnya tidak kembali ke rumah, ya ndak papa nanti ku buangnya.” jawabku.


“Ya kapan buangnya mas kyai, soalnya kami semua jadi gak mandi ini, karena ketakutan.” kata Munawar.


“Ya nanti malam saya buang.” kataku.

__ADS_1


“Makasih sebelumnya mas Kyai, jadi ngerepotin.”


“Ya tak apa-apa, lalu bagaimana penyakitnya mas Munawar sendiri.”


“Alhamdulillah ini sudah enakan, juga sudah


mulai kerja.”


“Syukur kalau begitu.”


“Tapi ini mau ngerepotin lagi, ada teman saya


yang juga mau berobat, bagaimana kalau saya


ajak teman saya kesana, apa mas kyai ada


waktu?”


“Ada, ada waktu, tapi nanti selepas isya’ aja ya


datangnya.”


“Iya nanti saya kesana, selepas isya.” jawab


Munawar.


Sore hari seorang perempuan seumuran 40 tahunan datang kerumah dengan kepala diikat handuk. Perempuan itu terus mengaduh-aduh


tiada henti, suaranya ribut, bicara dengan


“Bah… itu ada bu Sundasih mau minta tolong.”


kata Husna.


Aku dengan segera keluar kamar untuk menemuinya.


“Ada keperluan apa bu?” tanyaku.


“Aduuh maas…, saya mau minta tolong, aduuh.. sakitnya kepalaku rasanya mau pecah, nafas sesak, aku ini sakit apa to…” kata bu Sundasih merintih-rintih.


Ku lihat aura sangat jahat melingkupi tubuh bu Sundasih.


Sakit bu Sundasih ini sudah ada lima belas tahunan, dan berulang kali dia dibawa ke dokter, sampai habis uang berjuta-juta, katanya sih tumor otak, tapi di dokter lain, dibilang kanker kelenjar, lalu di dokter lain beda lagi penyakitnya, sampai setiap dibawa ke rumah sakit akan beda penyakit yang di temukan, membuat yang sakit sendiri sampai kebingungan sebenarnya dia sakit apa?


Beda menurut dokter, beda lagi menurut dukun, ada yang bilang sakitnya karena diguna-guna, ada yang bilang karena kena santet, ada yang bilang karena kuwalat kepada lelakinya, ada yang bilang karena pernah menabrak ular di jalan, dan di kepalanya ada ularnya, ada juga yang bilang karena kuwalat dengan benda pusaka.


Namanya juga manusia boleh saja membuat perkiraan, dan sah-sah saja perkiraan apapun. Dan anehnya orang yang mengobati dengan membuat prediksi sendiri itu ada bukti nyatanya,


Contoh Sundasih pernah berobat pada seorang dukun wanita tua, oleh dukun itu dikatakan kalau di kepala Sundasih ada banyak ular kecil, karena menurut dukun itu Sundasih pernah menabrak ular jin, dan mati tak dikubur, sehingga menurut dukun itu, bapaknya jin marah dan menanam telur ular di kepala Sundasih, dan telur itu telah menetas menjadi ular kecil-kecil yang mengeram di kepala Sundasih, dukun itupun menempelkan telur ayam katanya untuk menyedot ular yang ada di kepala Sundasih, dan telur dipecah, di dalam telur banyak ditemukan ular kecil-kecil yang masih hidup menggeliat geliat.


Entah sihir atau apa, tapi sakit Sundasih tak juga sembuh. Dibawa ke dokter, katanya kangker kelenjar, dokter menyarankan disinar, dan Sundasih pun disinar, beberapa juta biaya dikeluarkan, tapi penyakitnya tetap utuh.


Di bawa lagi ke seorang dukun dari Batang, kata si dukun terkena sengkalanya keris dan peninggalan ayahnya suaminya Sundasih, semua keris dan pedang disuruh mengeluarkan oleh dukun itu untuk diruwat dan dibersihkan, tapi si dukun malah muntah darah dan pulang digotong, lalu memanggil gurunya, dan gurunya juga merasa tak sanggup, sudah sepuluh tahun Sundasih sakit dan sudah berganti dukun, dokter, bahkan dibawa ke tempat Gus M** yang di tivi tapi tetap saja tak ada hasilnya.


Cuma kekurangan Sundasih suka berganti-ganti lelaki untuk dijadikan pacar, walau dia sendiri sudah bersuami.


“Aku ini mbok ya dido’akan to ustad biar sembuh…” kata Sundasih kelihatan wajahnya menahan rasa sakit.

__ADS_1


“Boleh aku do’akan, tapi aku punya syarat.” kataku.


“Syaratnya apa?”“Syaratnya sampean harus taubat.”


“Mbok sarat laen to mas kyai..” kata Sundasih.


“Syaratku cuma itu.”


“Tak kasih uang saja ya, sampean minta berapa?”


“Tidak bu… Alloh memberi penyakit, dan


mengijinkan penyakit apapun menyerang manusia


itu, agar manusia sadar, diingatkan agar mendekatkan diri pada Alloh, jadi syaratku cuma itu, sampean mau taubat, saya do’akan, insaAlloh langsung sembuh.”


“Ya kalau begitu saya minta diri…,” kata


Sundasih.


“Silahkan…” kataku, melihat Sundasih berlalu,


dan aku hanya geleng-geleng kepala.


Kembali Sundasih mengundang dukun, dan dibacakan yasin sampai ratusan kali oleh dukun itu, juga dibakarkan menyan, tapi tetap saja sakitnya tak sembuh.


Sundasih seminggu kemudian datang lagi ke


rumahku.


“Bagaimana bu…, mau memenuhi syarat saya?”


Tanyaku melihat Sundasih sampai menekuk-nekukkan tubuhnya menahan sakit dia sudah tak kuasa menjawab, suaranya tak keluar, dan dia manggut.


Ku ambil kan air mineral, lalu ku tiup dengan do’a, dan segera ku serahkan.


“Ini diminum, dan dipakai mandi sebagian,”


kataku dan menjelaskan mandi taubat, yang


harus dilakukan. Lalu Sundasih minta diri.


Malamnya dia datang lagi.


“Bagaimana bu, sudah enakan?” tanyaku.


“Sudah mas kyai…, saya malah sudah bisa sholat, asalnya ku pakai rukuk dan sujud badanku sulit ditekuk, tapi kok kepalaku masih sakit.” kata Sundasih,


“Kalau sesak nafas, nyeri di seluruh


tubuh sudah tak ada, tapi kepalaku kok masih


sakit.”


“Hm… ooo bu Sundasih ini memakai susuk ya?”


“Iya… dulu disuruh kyai Askan.”

__ADS_1


__ADS_2