Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Uang Gaib


__ADS_3

Bayangkan menguasai segala macam kerajaan jin di alam raya ini, jelas akan mewarisi juga semua harta kerajaan jin, dari Dewi Lanjar, Ratu Laut Selatan, ratu segala laut, gunung, lembah, sampai Ujung Kulon, dan sampai raja laut merah penjuru bumi, datang berbondong- bondong mau menyerahkan hartanya. Setahuku yang bisa mewujudkan harta gaib itu adalah 3 malaikat yang mendapatkan tugas, yaitu malaikat yang menjadi khodamnya surat ikhlas, yaitu Abdussomad, Abdul Wahid, dan Abdurrokhman, ketiga malaikat itu yang aku tau bisa mengambilkan dan mewujudkan harta gaib menjadi nyata. Di bayanganku, ku kira mewujudkan harta gaib menjadi nyata itu hanya bin salabin ada kadabra, kayak orang memainkan acara sulap menyulap. Ku tarik ulur ke belakang, di tahun 2005-2006, aku pernah mendapatkan tugas dari guruku, untuk memanggil Abdusomad, Abdul Wahid dan


Abdurrohman, tapi dua tahun ku panggil, sampai lelah, aku tak pernah ada jawaban, ya hanya manggil saja, atau kali saja dia datang tapi aku yang tak tau.


Tak tau aku… yang jelas menurut pendapatku aku tak pernah didatangi, sampai aku akhirnya berhenti sendiri. Sekarang di mimpiku, ketiga malaikat itu datang di depanku. Mereka duduk menunduk di depanku, dan memperkenalkan diri masing-masing… setelah perkenalan,


“Maaf, dulu kan saya memanggil kalian bertiga, dan kalian bertiga tak pernah hadir, tapi kenapa sekarang malah hadir?” kataku dengan menyelidik.


“Maaf kyai, kami dulu waktu kyai memanggil, kyai belum tingkatan bisa menghadirkan kami, jadi sekalipun kami hadir, kyai juga tak akan tau kehadiran kami.” jawab Abdussomad.


“Ooo begitu, lalu sekarang?”


“Ya kami bertiga siap diperintahkan untuk mengambil harta dari mana saja, yang kyai kehendaki, kyai kan sudah menjadi raja segala jin, jadi kyai bisa mengambil harta dari mana saja kyai kehendaki.”


“Baik kalian ku perintah mengambil harta dari yang ku kehendaki.” Lucu juga kejadian yang dialami di alam mimpi, Abdussomad lantas mengambil harta dari Dewi Lanjar di laut utara, dan dia berangkat, mungkin maksudnya adalah agar tak menyulitkanku, ketika yang diambil emas dan agar aku langsung bisa memakainya, dia jual emas itu di jin lain, dengan uang jin tentunya.


“Kyai… uangnya sudah saya taruh di tempat


kyai…” kata Abdussomad.


Lalu aku di bawa Abdussomad pada uang yang dibawanya…


“Mana, kok gak kelihatan?” tanyaku, karena memang tak ada apa-apa.


“Lhoh uangnya kan di depan kyai ini, bertumpuk-tumpuk…” ototnya. Waduh gak beres ini.


“Uang apa? Sama sekali tak ada uang, kamu tadi bagaimana Abdussomad ceritanya soal uang ini, bukannya ngambilnya dari Dewi Lanjar adalah bentuk lempengan emas?”


“Iya benar kyai… tadi ku ambil dari sana bentuk lempengan emas, lalu agar tak menyusahkan kyai, supaya kyai bisa memakainya langsung, lantas uang itu saya bawa ke kerajaan jin lain, dan saya suruh membelinya, jadi saya bawa ke sini dalam bentuk uang..”


“Wah itu namanya uang gaib, gak wujud, jangan-jangan uangnya itu uang daun… walah bagaimana to..?”


“Maaf pak kyai… maaf… lalu bagaimana ini, emasnya sudah di tempat kerajaan jin itu?” kata dia panik.


“Sudah tak papa, uangnya sudah ku kembalikan saja, ku ambil dari kerajaan itu ku kembalikan ke tempatnya semula, di tempat Dewi Lanjar.” kataku sambil membuat gerakan mengambil uang dan mengembalikan ke tempat emas semula. Dan emas kembali ke tempat semula Kembali dilakukan pengambilan emas dari tempat lain. Dan lagi-lagi tak wujud tetap saja gaib.

__ADS_1


Dan memang mengambil uang atau harta karun gaib itu tak semudah membalikkan telapak tangan, teorinya, kita mengambil uang banyak di dunia nyata saja perlu perijinan dari ini itu, kecuali uang sedikit, dan perijinan itu bisa saja berbelit-belit, misal mengambil dari negara lain, ke negara lain, jadi tidak semudah kelihatannya, apalagi kalau dari gaib ke nyata, maka makin banyak lagi perijinannya, dan tak semudah kelihatannya, kecuali bersekutu dengan setan, dan iblis, nyupang, pesugihan dan lain-lain, itu menggunakan kekuatan sihir iblis jadi bisa, makanya jangan mudah tertipu kalau ada orang yang mengajak mengambil uang dari gaib, jangan sampai tertipu.


___________________________________


Dalam mimpi sekarang aku didatangi berbagai raja kerajaan manusia, namanya juga mimpi, jadibukan nyata tentunya, mungkin ruhnya atau apa, aku juga gak ngerti. Yang datang raja Tamim, seorang pemuda seumuran 37an tahun yang gagah dia dari Qatar.


“Ini siapa?” tanyaku pada pemuda di depanku, yang tinggi.


“Saya raja Tamim…” jawabnya.


“Dari mana ini raja Tamim?”


“Saya dari Qatar.”


“Raja jin dari Qatar.”


“Bukan saya raja Qatar dari bangsa manusia.”


“Benar, dari bangsa manusia, lalu ini apanya?”


“Saya ruh nya..,”


“Saya ruh idhofi atau ruh aslinya raja Qatar.”


“Oooo…. begitu.”


“Ini murid kyai… ” tanya raja Qatar menunjuk mbak Nur yang duduk agak jauh dariku.


“Boleh… boleh… apa dia ada yang punya…?”


“Tanya saja sendiri..” jawabku.


“Wah saya ndak berani kyai,”


“Kenapa ndak berani..?”

__ADS_1


“Dia kan murid kyai..”


“Silahkan saja kalau mau, tanyakan saja…”


“Wah kyai, saya jadi salah tingkah ini, wah bagaimana saya keringat dingin ini…” dia duduknya menjauhi dan mencoba membelakangi mbak Nur.


“Kenapa salah tingkah?”


“Ya gak tau… kenapa saya jadi salah tingkah begini…”


“Jangan malu-malu…”


“Maaf… sudah punya belum mbak ini…?”


“Sudah…” jawab mbak Nur.


“Belum, dia sebelumnya sudah punya suami tapi kemudian cerai.” jelasku.


“Lalu suaminya di mana…?” tanya raja Tamim.


“Ya di rumahnya…”


“Boleh ku minta, kyai..”


“Silahkan saja kalau dia mau..”


“Aduh saya jadi serba salah… kyai saja yang bilang padanya…”


“Kenapa tak bilang sendiri?”


“Saya malu kyai… “


“Hahahah… gak bener ini… ngayal…” kata mbak Nur… Ya sudah akhirnya terbangun dari mimpi…Bergantian dalam mimpi, raja Saudi, raja Emirad Arab, dan raja Tamim, juga raja Brunei datang


menemuiku. Namanya juga mimpi, juga aneh- aneh saja.

__ADS_1


Teringat waktu awal-awal aq ketemu Kyai Guruku. Waktu itu pagi belumlah terang, lereng gunung putri masih diselimuti kabut tebal, dingin masih menusuk tulang. Di lereng gunung sebelah selatan, nampak berjejer kobong pondokan santri tak teratur. Sayup terdengar suara wirid para santri di bagian tengah pondokan, rumah bambu yang tak sederhana, dinding yang dianyam dari bambu dengan rapi. Juga alas hamparan dari bambu yang dipukul hingga pecah, kemudian dihamparkan dengan rapi, sehingga kalau diinjak kaki akan terdengar bunyi derit bambu yang khas. Nampak para santri yang jumlahnya 15 orang duduk melingkar khusuk dalam wiridnya. Sang Kyai yang juga ada dalam lingkaran juga duduk bersila, orang tak akan menyangka mana Kyai mana murid. Sebab semua sama, hanya ketika Sang Kyai mengangkat tangannya dan wirid semuanya berhenti. Kemudian Sang Kyai menyuruh wirid yang lain, santri pun melanjutkan. Orang tak akan menyangka yang disebut Kyai ini seorang remaja, kira-kira umurnya 12 tahun, kulitnya putih bersih, dengan....


Bersambung...


__ADS_2