
Aku yang biasanya males sholat, sekarang sudah tak pernah ku tinggalkan, kami berterima kasih sekali Ian.” kata Edy.
“Iya bener, kamu telah memberi contoh,
bagaimana kami harus berbuat, sehingga manusia disayangi manusia lain.” tambah Ikrom sambil sekali-kali menyedot ingusnya yang mbeler.
“Sudah-sudah, pemuda gagah macam kalian
masak nangis, tuh gak enak dilihat orang yang
lewat.” kataku segera berjalan duluan melepas
pelukan mereka berdua.
Esoknya setelah sholat subuh, aku naik bus
jurusan Surabaya-Gresik, turun di Terminal
Osowilangun,
dari terminal Osowilangun ganti bus jurusan Bojonegoro, sampai rumah sudah
hampir magrib.
Pagi esoknya, Karim mencariku, Karim adalah
pegawainya pak Abdullah.
“Sudah seminggu aku mencarimu yan…, semalem
tau kabar kamu pulang, jadi aku langsung ke sini.” jelas Karim.
“Wah sampai seminggu, memangnya ada apa,
kayak penting banget?” tanyaku heran.
“Aku disuruh pak Abdullah, ini ku bel kan,” kata
Karim menyerahkan Hp nya kepadaku.
“Assalamualaikum, bagaimana kabarnya nih?”
suara Pak Abdullah di Hp.
“Waalaikum salam Pak, Alhamdulillah baik.”
jawabku.
“Ku dengar baru pulang dari Surabaya? Sedang apa di sana?” tanya Pak Abdullah.
“Ah biasa nyari-nyari yang belum dapat.”
jawabku sekenanya.
“Kenapa masih nyari-nyari juga, itu adikku mbok dinikah.”
“Hm gimana ya…”
“Kok gimana-gimana, wah jangan-jangan tak bisa bangun.” kata pak Abdullah, memang kalau bercanda suka omong apa adanya.
“Weh kata siapa gak bisa bangun?” celetukku.
“Ya siapa tahu, nyatanya gak berani nikahi
adikku.”
“Siapa yang bilang gak berani?”
“La buktinya..” wah kayaknya aku mau
dipojokkan.
“Jangan-jangan sudah jadi ikan asin, mengering,
hahaha…”
“Udah-udah… mana adikknya biar ku nikahin.”
kataku terpancing dengan pancingannya.
“Ya datang aja ke Jakarta.”
“Ya kapan?”
__ADS_1
“Besok biar diantar Karim.”
“Baik, siapa takut?”
“Udah kasihkan Hp nya ke Karim biar aku omongi dia.”
Hp ku kasihkan Karim, dan sebentar dia bicara.
“Besok disuruh mengantermu ke tempat Pak
Abdullah.”
“Iya.. aku siap.” jawabku.
Esoknya aku berangkat dengan Karim ke
Jakarta, naik mobilnya Karim, sampai di Jakarta menginap di kontrakannya Karim, di daerah Cipinang Indah,
Malamnya Pak Abdullah menjemputku untuk sowan dan minta ijin ke Kyai, sampai di pesantren jam 3 dini hari, hanya sebentar ketemu kyai, meminta do’a kelancaran
pernikahan, dan setelah sholat subuh, aku dan
pak Abdullah, yang saat itu disopiri Macan, kembali ke Jakarta.
Sampai di Jakarta rasanya penat sekali, aku tidur, sampai waktu asar ada kakak perempuannya Karim main ke kontrakan.
“Denger-denger kamu mau nikah sama adiknya Pak Abdullah ya Yan?” tanya Mbak Ainun, nama kakaknya Karim.
“Belum pasti mbak, aku juga belum pernah lihat orangnya.” jawabku santai.
Kakaknya Karim mengeluarkan sesuatu dari tas tangannya, lalu meletakkan di meja depanku.
“Apa ini mbak?” tanyaku heran melihat
bungkusan kecil.
“Itu dua cincin emas, ku hadiahkan padamu..”
kata mbak Ainun menjelaskan.
“Wah apa ndak salah mbak?” tanyaku heran.
“Salah bagaimana? La kamu kan mau nikah? Kan bisa kamu jadikan mas kawin.”
“Ya ndak papa, ini udah ku berikan padamu, siapa tau nanti ada gunanya.” paksa mbak Ainun.
“Aku yang seharusnya berterimakasih, adikku
Karim sejak berteman denganmu, sholatnya jadi rajin.”
“Itu kan hidayah dari Alloh mbak, tak ada
hubungannya denganku,” elakku.
“Tapi kan semua ada sababiahnya to, sudah, itu cincin diterima.”
“Terimakasih sekali mbak, semoga Alloh
membalasnya, dengan balasan beribu kali lipat.”
“Amiin.., udah aku pamit dulu, moga
pernikahannya lancar.” kata mbak Ainun
beranjak dari tempat duduk.
Malamnya, malam rabu, kami berlima, aku, Pak Abdullah, Macan sebagai sopirnya, dan Karim,
berangkat ke Pekalongan, dalam mobilnya pak
Abdullah sudah ada perempuan, katanya dia
kakak dari perempuan yang akan ku nikahi, ku
lirik perempuan yang ada di sampingku, mencari gambaran gadis yang akan kunikahi, tapi mobil lampunya tak dinyalakan sehingga gambaran tak ku dapat.
Ah sudahlah pasrah saja, dari pada mencari
gambaran yang tak jelas, aku sudah dari awal
pasrah, bahkan uang 1 perak pun tak ada di
sakuku, segala kebendaan malah menakutkanku, membuat hatiku bercabang dari ketawakalanku pada Alloh, tapi yang jelas aku memang tak gableg duwit.
__ADS_1
Jika dibilang nekad, maka aku lebih pantas
dibilang nekad. Tapi dalam hatiku, aku hanya ingin membuktikan gerak gerik kehendak dan perbuatan Alloh mengarahkan dan menempatkanku, jika harus gagal, maka biarlah gagal, berarti aku harus belajar bertawakal lagi, tawakalku, kepasrahanku berarti hanya omong kosong belaka.
Sampai di Pekalongan sudah subuh, kami sholat subuh di masjid di luar kota Pekalongan, dan sarapan pagi di pasar Banyu Urip, tak ada
perasaan apa-apa mau sampai di tempat
tujuanku, daerah Bligo, sampai di Bligo kami berbicara sekedarnya, dan aku dipertemukan
dengan gadis yang dijodohkan denganku.
Dia terdiam, wajahnya biasa, bukan perempuan berjilbab, juga tak ada yang istimewa.
“Sudah tau kalau kita ini dijodohkan?” tanyaku
simpel.
Dia manggut, dan menatapku sesaat, padahal dia ini semalaman kabur dari rumah, karena menolak perjodohan ini, dan mati-matian tak mau dijodohkan, tapi setelah dibujuk dengan
berbagai hal juga diberi pengertian kalau
menolak kan boleh-boleh saja, jadi tidak harga
mati, baru dia mau pulang.
Dan sekarang duduk di depanku. Tentunya aku
tak tau kisah itu. Dan tau setelah kami menikah.
“Lalu bagaimana? Kamu mau dijodohkan
denganku?” tanyaku langsung ke poin masalah.
Aku itu selalu ke poin masalah, kalau mau omong lain nanti itu bisa menyusul, kalau mau bercanda juga kan bisa dilakukan kapan saja, jadi pokok masalah harus selesai dulu, jadi orang yang berhadapan denganku kadang kabet, karena selalu seperti itu, yang ku tanyakan tanpa basa-basi, baru kalau mau bercanda belakangan kan bisa.
“Aku terserah saja, jika masnya menerimaku, ya aku nurut saja.” jawab Husna calon istriku itu.
Mendapat jawaban seperti itu sama sekali tidak membuatku bahagia, atau sedih, la ditolak
sekalipun aku tidak kecewa, sebab tujuanku
bukan soal ditolak atau diterima, tapi aku
melihat bagaimana Alloh itu menggerakkan
segala sesuatu sesuai kehendakNya.
Dan aku bisa melihat segala gerak gerikNya terhadap segala sesuatu.
Kejadian baik buruk adalah proses, seperti
membuat roti, kadang adonannya dikocok,
kadang juga dibakar dioven, jadi menuju
kenikmatan itu kadang kita harus dibakar
dengan diberi ujian yang meluluh lantakkan hati, lalu tercapai kesabaran yang lembut.
Setelah mendapat jawaban, maka aku diajak Pak Abdullah ke Tuban untuk mengurus surat
numpang nikah, ke tempat Lurah dan ke tempat sekertaris KUA, semua dilakukan secara marathon, dan anehnya juga semua mendukung, jadi pengurusan surat amat cepat, lalu kembali ke Pekalongan, malah ketika Ibuku nanya, aku tak memberitahu, hanya ku bilang lagi usaha.
Seorang lelaki tak butuh wali, maka aku tak
perlu memberitahu mereka, aku tak ingin mereka disibukkan dengan pernikahanku.
Jum’at pagi diadakan acara ijab qobul, anehnya yang diriku tanpa ada persiapan sama sekali,
bahkan masih tak memegang uang sama sekali, kecuali dua cincin yang akan ku jadikan mas kawin, itu saja pemberian dari orang, dari jas untuk pengantin, sampai peci hitam, soalnya aku biasa memakai peci putih, jadi peci hitam jelas tak punya,
Semua tersedia tinggal pakai, acara
dilakukan dengan sederhana, dan semua berjalan lancar.
Dan setelahnya dilakukan walimatul ursyi, aku
mau didandani sebagai penganten pria.
Aku diminta buka sarung untuk diganti dengan kain perlengkapan yang dibawa perias penganten, aku bilang tak memakai celana panjang, si perias penganten terkejut.
Bersambung...
__ADS_1