Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Sumpah


__ADS_3

“Iya kyai,,, syaikh T****** akan kembali, kyai diminta mencium tangannya.”


Aku segera melakukan gerakan seperti mencium tangan, ya memang repot memang kalau mata batinku tertutup, karena tertutup oleh Sengkuni.


Skipp....


Aku lagi makan siang.


“Kyai…. ada syaikh Abdul******************.”


“Mana?”


“Itu di belakang kyai… wah saya tak berani menatap kyai..”


“Kenapa?”


“Silau sekali.”


“Salam ta’dzim kyai, sampaikan pada syaikh Abdul Q**** RA,”


“Ya kyai, beliau menjawab salam dan tersenyum ke kyai.”


“Kyai beliau memberi ilmu ke Aisyah dan ke kyai..”


“Ilmu apa nduk?”


“Ilmu untuk menarik jin dari jarak jauh, kalau jinnya fasik, kata beliau, suruh diremas saja, jadi bubuk, nanti jinnya akan mati.”


“Iya nduk kyai siap menjalankan.”


“Kyai, syaikh Abdul Q**** mau membuka mata batin kyai…”


“Iya kyai siap, dan sami’na wa ato’na.” Serasa di dadaku ada yang bergerak, serasa dingin, beberapa menit berlalu.


“Kyai, syaikh Abdul Q**** mau pergi, kyai diminta mencium tangannya..”


“Kok aku belum terlihat jelas alam gaib?”


“Kata syaikh Abdul Q****, nanti baru bisa dipakainya setelah


4 hari kemudian.”


“Oo yaa.. ya… katakan, kyai mengucapkan terimakasih.”


Aku segera melakukan gerakan seperti mencium tangan beliau yang mulia. Hening…. aku dan Aisyah diam, lalu Aisyah nyeletuk kembali.


“Kyai, ada yang datang… ah Aisyah pergi saja..”


“Kenapa kok pergi…?”


“Silau pak kyai…”


“Sudah di sini saja, siapa yang datang?”


“Bertiga kyai.”


“Siapa?”


“Ada Raden R******S*****A****, S*****Kali****, dan S*****G***, sekarang mereka semua ada di depan kyai.”


Aku segera menyalami mereka bertiga.


“Ada apa nduk, tanya keperluan mereka.”


“Mereka mau memberi ilmu pada kyai, mereka mengatakan kyai untuk siap menerima ilmu.”


Aku segera siap, dan serasa aliran anergi bergulung-gulung memasuki tubuhku, dan beberapa menit kemudian, aliran energi terasa menggumpal dalam tubuhku, berputar-putar.


“Kyai, kata Kanjeng S******A****, para W***


S****, nitip salam pada kyai, agar kyai terus meneruskan perjuangan menegakkan kebenaran, dan bersikap tegas, dan yakin akan pertolongan Allah.”


“InsaAllah kyai siap.”


“Sudah mereka mau pamit.”


Aku dan Aisyah terdiam mengantar kepergian

__ADS_1


ketiga W********, tapi kemudian Aisyah ngomong lagi, tapi sambil menjauh dariku, sehingga aku tak begitu jelas dengan pembicaraannya.


“Kenapa nduk?”


“Aisyah takut kyai..”


“Takut kenapa? Apa ada jin jahat?”


“Bukan kyai.. tapi yang hadir sekarang, silauuuu sekali, dan Aisyah takut sekali.”


“Yang datang bagaimana dia nduk?”


“Beliau tinggi sekali, sampai kepalanya sampai atas..”


“Dari golongan jin?”


“Bukan kyai…”


“Lalu?”


“Dia N***…”


“N***, n*** siapa?”


“Pakaiannya hijau tua, juga memakai surban besar hijau tua, dia mengatakan beliau n***


K*****.., beliau uluk salam kepada kyai.”


“Waalaikum salam. Tanyakan apa keperluan beliau?”


“Beliau ingin memberi ilmu ke kyai, tapi kata beliau, ini sekuatnya kyai saja menerima… nanti ditambah lagi, dan beliau menyuruh agar kyai siap.”


Aku segera siap, dan segera aliran panas dingin berpadu memenuhi punggungku, mengalir deras seperti banjir dalam seluruh tubuhku, dan pengisian selesai.


“Kyai, beliau berpesan agar ilmu yang diberikan dipakai seefektif mungkin, gunakan berjuang untuk menegakkan kebenaran dan menumpas kebatilan.”


“InsyaAllah.”


“Beliau berpesan, dzikirnya kyai diusahakan lebih diperbanyak lagi, agar ruhani kyai kuat menerima ilmu dari para w*** dan n*** yang ingin menitipkan amalnya pada kyai.”


“InsaAllah…”


“Ya…”


Aku segera melakukan salam takdzim kepada


N************* AS.


___________________________________


Nyai Ratu, kakaknya Aisyah, sudah selesai puasa, dan ingin ku perintahkan untuk mendatangi Nyai Roro Kidul, penguasa laut selatan. Maksudku kalau mau, mau ku ajak masuk Islam, sebagaimana aku mengislamkan Dewi Lanjar. Nyai Ratu sudah siap berangkat, tinggal menunggu perintah dariku. Aku sedang berbicara dengan Aisyah, lalu cuci tangan ke dapur, kok aku merasa ada jin fasik yang datang, apa mungkin Nyai Roro Kidul, jin fasik dan jin yang baik itu beda, walau mata batinku tertutup, tapi ketajaman indra perasaku tak terpengaruh, jadi siapa yang datang, jin benar atau bukan tetap ku rasakan kehadirannya.


Jika itu jin fasik, maka akan serasa menebal amat tebal, bagian arah tubuh yang menghadap ke jin, tapi jika jinnya baik, muslim yang taat, maka hanya ada rasa tau kalau ada yang datang, tapi tak tau dan tak melihat siapa yang datang. Kali ini yang ku rasakan, rasa tebal di kepala sangat tebal, perkiraanku adalah jin fasik, apa mungkin Nyai Roro Kidul. Sementara Aisyah sudah memangil-manggil, kyai ada yang datang, dari laut selatan. Dan tiba-tiba sudah langsung masuk ke tubuh Aisyah.


“Siapa? Apa Nyai Roro Kidul?” tanyaku lumayan


tegang.


Dia mengamati, matanya kesana-kesini… meneliti seluruh rumahku.


“Ini rumah siapa?” suaranya seperti anak kecil.


“Ini rumahku..” jawabku.


“Kamu siapa?”


“Aku orang biasa, kamu sendiri siapa?”


“Aku anaknya Nyai Roro Kidul.”


“Kok datang ke sini?”


“Ya karena ada yang membicarakan ibuku, maka aku ingin tau siapa, ternyata ada di sini, dan aku terbawa sampai kesini.”


“Ibumu yang jadi ratu lautan selatan kan?” tanyaku.


“Iya… kenapa?”

__ADS_1


“Agamanya apa?”


“Hindu… kenapa?”


“Apa dia mau masuk Islam?”


“Tak akan mau,”


“Kenapa?”


“Karena kami benci dengan orang Islam.”


“Benci bagaimana?”


“Orang Islam sering membuat kerusakan.”


“Kerusakan bagaimana?”


“Ya mereka kebanyakan sering merusak laut, sering meminta kekayaan.”


“Jangan menuduh apa yang dilakukan segelintir orang, lantas menuduh yang lain sama saja,”


“Ah kenyataannya begitu.”


“Ada pencuri yang dari kampung A, apa semua kampung A adalah pencuri?”


“Aku tak perduli, ibu selalu mengatakan padaku kalau orang Islam itu jahat.”


“Bisa kamu panggil ibumu kesini?”


“Bisa..”


Sebentar dengan hitungan seper sekian detik, Nyai Roro Kidul sudah datang dan masuk ke


tubuh mediator.


“Ada apa kau memanggilku?”


“Aku ingin nyai mau masuk Islam,”


“Tak mau, aku tau kau siapa… hm… ya aku tau sekali kamu siapa… kamu murid kyai *****.”


“Setelah tau diriku, apa masih tak mau masuk Islam?”


“Hehehe… aku tak mau..”


“Apa mau coba adu kesaktian denganku.”


“Ya… kau akan ku hancurkan.” Katanya dengan mendengus marah, dan mulai melakukan jurus menyerang.


Berbagai macam penggambaran Nyai Roro Kidul, momok yang sering ku baca di cerita- cerita sungguh amat menakutkan, juga banyak dibahas di tivi dan media lain, selalu berbau mistik dan serba menakutkan, itu membuatku ingin tau lebih banyak.


“Tunggu dulu, kenapa buru-buru menyerang?”


“Heee… eeh, apa lagi?”


“Apa sampean ini yang benar-benar menguasai samudera yang terkenal itu?” tanyaku berusaha


tenang. Kayak orang lagi duduk jagong, meng- habiskan cemilan jagung goreng.


“Hiya….” jawabnya sambil tangannya masih bersiap menyerang, dan yang kiri menekuk di dada.


Gak tau jurus apa yang dipakai, tapi ku rasa hebat juga dia, biasanya jin jika bertatap muka denganku, saling menatap mata pasti tak kuat, tak tau juga apa yang di mataku, kata Aisyah sih mataku kalau memandang seringnya me- ngeluarkan percikan api, aku juga gak tau, kali saja Aisyah yang ngarang.


“Apa sampean ini bener-bener tak mau ku Islamkan?”


“Tak mau, saya sudah bersumpah untuk tak akan masuk Islam.”


“Sumpah sama siapa?”


“Dengan yang memberi ilmu padaku, ah tak usah banyak tanya…”


“Lo kan biar kita saling tau..”


“Pokoknya aku tak mau diIslamkan, orang Islam semua jahat, jelek perangainya.”


“Jelek bagaimana?”

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2