Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Dalam keadaan kritis


__ADS_3

Hari itu Marjuki benar-benar telah sembuh, dan segera dimandikan, aku dan lek Muhsin pun


mohon diri..


Setelah mengalami pengalaman di Bojonegoro,


Rasanya aku rindu dengan keadaan pesantren,dengan Kyiku,teman-temanku dan semua yg bersangkutan dengany ingin rasanya segera kembali,,


Setelah selang dua hari di rumah,aku


pun memutuskan kembali kepesantren. Maka aku mempersiapkan segala sesuatunya, karena besok siang aku pergi dengan bus malam jurusan Kampung Rambutan.


Tapi malam harinya tiba-tiba tubuhku terserang demam teramat tinggi, batuk, kepala pening,


dada ampeg, perut seneb. Dan nafasku sesak


sekali, sampai kalau aku menarik napas akan


terdengar suara ngiik, ngiik, ngiik,suaranya seperti sempritan atau sumur pompa.


Yang jelas aku merasa tersiksa hingga seakan aku telah dekat pada kematian.


Bahkan ketika aku bangun dan mau keluar kamar, tubuhku begitu saja terbanting ke belakang, tanganku yang mencoba menahan dari jatuhpun tertindih punggungku sendiri, sehingga terjadi salah urat, makin lengkaplah penderitaanku.


Aku ingat kata-kata Kyai waktu di Bojonegoro,


kalau aku sakit, keberangkatan ke pondok


ditunda dulu. Rupanya Kyai memperingatkanku.


Dan kini, aku tergeletak begitu saja.Tiada daya,


Dokter dipanggil untuk mengobatiku, aku


disuntik dan diberi obat yang banyak sekali


macamnya, tapi tak membuatku sembuh.


Tanganku juga dibawa ke dukun pijat tapi, sama saja masih salah urat.


Aku belum pernah mengalami penyakit separah ini, paling-paling biasanya pusing, atau sesak


napas, karena terlalu banyak cat yang kuhirup,


karena melukis air brush, walaupun memakai masker yah cat yang


partikelnya teramat kecil tetap saja masuk ke


hidungku, dan melekat di rongga hidung dan


rongga mulutku, sehingga kalau meludah akan sewarna dengan cat yang ku semprotkan, dan


hidungku kaku karena terlalu banyak cat yang


menempel.


Tapi sekarang penyakit ini lain, kalau mau wudhu aja kakiku gemetaran, dan tangan harus berpegangan.


Ketika ibuku menangis di sampingku,


”Bu, jangan menangis….” kataku yang lemah tidur tak


berdaya,


“Kalau Tuhan memang telah


memanggilku, nanti tolong pada Hanni, pintakan maaf, aku tak bisa menikahinya…,

__ADS_1


Katakan juga pada Diyah, supaya mencari lelaki yang lebih baik dariku….” aku nyerocos tak karuan menyebut semua bekas pacarku, yang telah ku kecewakan, seakan aku ini terlampau banyak dosa, telah menyia-nyiakan banyak wanita, tak mensyukuri atas ketampananku, tak mensyukuri kelebihan-kelebihan yang telah Tuhan berikan padaku.


Dokter sudah dipanggil berkali-kali tapi tetap tak ada perubahan pada penyakitku, semua makanan yang ku telan, ku muntahkan kembali, lalu siapa lagi


yang ku harapkan mengobatiku.


Kalau orang lain sakit, begitu mudahnya aku


memberi solusi, tapi ketika aku sendiri yang


sakit,,? ah memang berat kalau kita mengalami sendiri, seperti teman yang sakit gigi, lalu kita


melihat, ah sakit gigi gitu saja merengek-rengek, eee setelah kita yang sakit gigi, maka kita mengaduh lebih-lebih dari teman kita.


Keadaanku makin kritis, aku sudah sering


mengigau, mataku membalik, tinggal kelihatan


putihnya saja, ibuku tiap hari menungguiku


dengan sabar, mengompresku, tidur di


sampingku, ku dengar ayahku marah-marah,


“Ini karena sering bermain dengan jin, jadi


dapat balasannya, mungkin anaknya jin yang ia


tawan atau bunuh, telah membalasnya.”


Yah begitulah ayahku, selalu menyalahkanku, seakan aku berdiri salah, duduk juga salah, bahkan aku mungkin setahun ngomong dengan ayahku juga bisa dihitung dengan jari, tapi memang harus begitu satu sisi ada yang selalu menyayangiku yaitu ibuku, juga ada yang selalu ada yang menyalahkanku yaitu ayahku, jadi aku ada kendali kadang melaju, kadang juga berhenti, jadi tak manja.


Walau ayahku selalu bersikap seperti itu, aku tetap mencintainya, karena tak


ada ayah yang ingin anaknya sengsara, jadi


maksud ayahku itu demi kebaikanku juga.


Ah, lalu siapa yang tadi membangunkanku? Aku mau memejamkan mata lagi, terdengar jelas di sampingku.


“Iyan… bangun ngger…!” karena suara itu


kudengar di samping kiriku, aku pun membuka


mata, dan mencoba menengok orang itu dengan leher yang sakit, ngilu.


Aku heran ada lelaki teramat tua duduk di


sampingku, tersenyum, dan senyumnya terasa


mendamaikanku. Wajah lelaki itu lembut seperti bayi, dan ada cahaya kuning tipis menyelimuti, sejuk dipandang seperti matahari mau tenggelam.


Juga memancarkan wibawa yang menyilaukan, alis orang tua itu tebal melengkung indah, kedua matanya bening lembut memandangku, seakan-akan menembus sampai dasar hatiku.


Hidungnya mancung, seperti hidung orang-orang Arab, kumis dan jenggotnya tebal memutih,namun terawat rapi, ikat kepalanya seperti gambar di wali-wali songo Berwarna putih juga bajunya berwarna putih.


“Siapakah tuan?” tanyaku.


“Apakah tuan yang akan mencabut nyawaku?


Baiklah aku sudah siap.” lalu ku pejamkan mata


dan melafadkan dua kalimat sahadah.


“Anak baik…, aku bukan malaikat yang akan


mencabut nyawamu…,Alloh mencintai orang-orang yang bertaubat.” kata lelaki itu lemah lembut.

__ADS_1


“Lalu siapakah tuan ini?” tanyaku, kembali


membuka mata.


“Ngger, aku Abdul kadir…”


Gemuruh rasa dadaku, takdim, takut, cinta,


rindu, semua teraduk dalam dadaku, bagaimana tidak, manusia yang ku cintai ku kagumi akan amaliahnya, kuyakini akan karomahnya, selalu kukirimi fatihah, karena bersyukur atas ilmunya,


sekarang ada di depanku, aku mencoba bangun tapi tak kuasa, tubuhku terlampau lemah.


“Sudah ngger…, tak usah bangun, kau sedang


sakit, biar aku mencoba menyembuhkanmu,”


tangan Syaih diulurkan ke atas tubuhku, aku


seperti merasakan hawa damai tiada tara, ku


dengar letupan kecil halus, dari dalam tubuhku, dan semua sakitku serasa hilang tak tau entah


kemana, tubuhku nikmat, ringan, dan seketika


aku bersujud mencium tangannya, menumpahkan cintaku, rinduku…,


“Sudah ngger, sebaiknya engkau jangan


memberikan pertolongan di atas kemampuanmu,,


Sempurnakanlah ilmumu, nanti nabi ... alaihi


salam akan mengajarkan ilmu pengobatan


padamu, sebagaimana dia mengajarkan kepada


Kyaimu.., aku pergi ya ngger.”


Terdengar suara


salam, dan tangan yang ku pegang telah hilang, meninggalkan bau harum yang tiada tara.


Aku segera menuju kamar mandi mengambil air wudhu dan menjalankan sholat dua rakaat,


kemudian melakukan sujud syukur.


Ibuku terbangun, melihatku sedang sholat,


setelah aku selesai, ia bertanya.


“Lho udah sembuh to nang?”


“Alhamdulillah sudah bu.”


“Wah bau apa ini nang kok wangi sekali..? Kamu


makai minyak apa nang, kok baunya harum?” kata


ibu sambil hidungnya kembang kempis lucu.


“Jangan-jangan, ah tak mungkin, dulu aku juga


mencium bau harum seperti ini waktu kakekmu


meninggal, tapi kau kulihat sehat, seperti tak sakit lagi?” wajahnya kawatir.


“Ah, ibu jangan berfikir yang aneh-aneh.”

__ADS_1


Besoknya aku pun kembali ke pesantren, naik bus....


Bersambung...


__ADS_2