Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Kembalinya Ilham


__ADS_3

Tapi ketika terdengar bisikan merdu merayu, dan tercium harum memabukkan, tanpa sadar Ilham pun memacu motornya ke pasar yang berjarak dua kiloan dari rumahnya dengan membawa jurigen bensin, tapi begitu sampai di pasar, kesadaran dan nuraninya menolak, maka dia pun linglung,menggelosor begitu saja di tengah pasar,


Dan kalau sudah begitu orang-orang di pasar pun ramai, yang susah juga ibunya Ilham harus membawanya pulang dengan becak. Dan hal itu terjadi berulang-ulang, orang pasar pun


menganggap Ilham gila, karena terjadi terus


menerus.


Ilham pun dikunci dalam kamar, kalau


bisikan datang dia menggedor-gedor pintu, ingin membakar pasar, tapi kalau kesadarannya muncul maka Ilham cuma merenung bengong,


Telah bermacam dukun dan paranormal


didatangkan untuk mengobati, tapi malah ada


yang dibanting dan ada juga yang sampai


digotong pingsan, itulah yang ku lihat dalam


mimpiku.


“Bagaimana kabarnya?” tanyaku setelah duduk di kursi kayu rumah Mashur.


“Ah ndak baik mas.” katanya, dengan pandangan cowong(kosong) matanya menjorok ke dalam, dan ada kantung mata di sekitar mata Ilham, menunjukkan dia tak pernah nyenyak tidur.


“Hehe…. Kamu kan yang membakar warung


minuman keras?” tanyaku sambil tertawa.


“Iya mas.., tentu mas sudah tau keadaanku.”


kata Ilham menunduk.


“Kata siapa aku sudah tau keadaanmu? Tapi


udahlah yang penting 3 jin dalam tubuhmu musti dihilangkan.”


“Saya pasrah saja, apa yang terbaik menurut


mas Ian.” katanya mengiba.


“Tapi aku ingin tau dulu, kenapa kok kamu bisa tau aku akan singgah di mushola sini?”


“Ceritanya begini mas, saat aku dikunci terus


dalam kamar oleh orang tuaku, waktu antara


sadar dan tidak, maksudku tidur dan terjaga,


aku didatangi orang tua, yang mengaku kakek


buyutku.” katanya bercerita, dia menarik nafas


dalam. Biar ceritanya tambah lama.


“Kakek itu berpesan, tunggu pemuda di mushola Annur daerah Pacul, minta tolong untuk membantu masalahmu, apa yang dia katakan turuti saja. Begitu pesan kakek itu, yang mengaku sebagai kakek buyutku,” kata Ilham mengakhiri ceritanya,


“Lalu bagaimana kamu tau pemuda yang kau


tunggu itu aku?” tanyaku.


“Kakek itu juga menyebutkan ciri mas lengkap,


dan saya cerita sama mas Mashur juga, jadi


ketika mas muncul di mushola, baru saya yakin mimpi saya bukan mimpi bohong.”


“Begitu rupanya,” kataku, padahal pakaianku


uapek banget, juga bauku kulit yang terbakar


matahari.


“Terus sekarang bagaimana mas..?” tanya


Mashur yang dari tadi diam menyimak.


“Ya jinnya harus dikeluarkan,” kataku menjawab.


“Wah apa perlu kembang setaman, dan menyan mas? Kalau iya, biar saya yang ke pasar, apa aja syaratnya mas?” tanya Mashur.

__ADS_1


“Ya tak perlu syarat apa-apa.” kataku. “Cuma


perlu persetujuan Ilham aja.”


“Persetujuan apa lagi mas?” tanya Ilham


setengah bengong.


“Ya kamu benar-benar sudah ikhlas, jin yang ada dalam tubuhmu ku cabut?” tanyaku menunggu jawaban mantep dari raut wajahnya.


“Kan sudah saya bilang, saya pasrah pada mas Ian, apa yang terbaik, jadi saya rela serela-


relanya.” katanya mantep.


“Walau semua ilmumu hilang?” tanyaku.


Ilham sebentar merenung, tapi kemudian


berucap, “Sudah saya siap, walau tak punya ilmu, tak apa-apa, yang penting saya bisa hidup wajar seperti orang lain.”


“Baiklah. Sekarang duduk membelakangiku.”


kataku, sementara aku berpikir, ah aku ini belum pernah mencabut ilmu seseorang, juga jin yang menyatu karena seseorang mengamalkan ilmu, apakah aku bisa dan mampu?


Ku ingat Kyai waktu mencabut ilmu seseorang, cuma seperti mengambil buah dari punggung orang itu, digenggam lalu dibuang,


Kalau aku, ah tentu belum bisa setarapan itu, lalu bagaimana? Pikiranku mencari jalan keluar, tapi tanganku perlahan menempel ke punggung Ilham, wirid ku baca tiga kali-tiga kali, aliran hawa panas dan dingin segera menggebu dalam pusarku naik


mengalir ke tanganku.


Tiba-tiba, tanganku seperti tersedot kekuatan kasat mata di punggung Ilham, karuan tanganku menempel pada punggung Ilham, ku pejam mata, kurasakan tenang dari tubuhku menggulung-gulung masuk tubuh Ilham, aku segera membaca doa khijab dan minta pada Alloh, supaya mukzijatnya Nabi dan karomahnya para wali masuk ke tubuhku,


Ku rasakan udara dingin, mendekat sejuk mengalir ke setiap pori tubuhku, tangan ku renggangkan ku sedot apa yang ada di dalam tubuh Ilham ku genggam dalam satu tangan, dan tangan kiriku membuat gerakan mengikat, lalu ku lempar jauh-jauh, sementara Ilham menggelosor di kursi,


Entah pingsan, entah tidur, tapi wajahnya


menyiratkan kedamaian.


Ku ambil teh yang terhidang di meja, untuk


membasahi tenggorokanku yang lumayan kering, lalu ku nyalakan rokok Djarum yang disuguhkan di meja.


“Syukur mas, udah beres, udah biarkan dia


tidur.” kataku sambil mengusap keringat yang


mengalir di jidat.


“Wah mau minta doanya mas, biar pondok saya ramai.” kata Mashur, ketika kami berdua duduk


di emperan mushola, meninggalkan Ilham yang tengah tidur di kursi.


“Ah kita ini sama kang Hur, kang Hur diberi


tangan dan kaki dua, saya juga, jadi pada


kenyataannya kita ini sama,” kataku,


“Kenapa kang Hur tidak berdoa sendiri, minta


pada Sang Kholik agar apa yang kang Hur harap bisa terwujud.”


“Kalau begitu, saya mbok dikasih amalan, biar


santri saya tambah banyak.” kata Mashur sambil menyedot dalam-dalam rokok mlinjo.


Aku pun minta pena dan kertas, dan menulis


amalan untuk mendapatkan santri banyak.


“Aku sebenarnya nyari tempat untuk nyepi,


mengheningkan diri, apa di sini ada?” kataku


setelah menyerahkan catatan amalan.


Kulihat Mashur menerawang, lama tak menjawab pertanyaanku.


“Mas Ian mau, ada tempat di pasar Pacul,


tempatku yang tak terpakai,” katanya kemudian.

__ADS_1


“Yah kita lihat aja dulu…” jelasku.


Dengan naik motor GL aku diantar Mashur ke


pasar Pacul, yang telah terlantar tak terurus,


dan menunjukkan toko yang telah jebol dinding papannya, yah cukuplah untuk tempatku menyepi,


Maka malam itu aku mulai membersihkan bekas toko itu, dan ditinggal sendirian di pasar. Ku ambil air di sumur pompa belakang pasar, sedang waktu magrib telah tiba, ku ambil air wudhu dan menjalankan sholat di dalam toko,


Tapi waktu aku selesai wudhu, seorang jin menghadangku, perawakannya hitam, pakaian sobek-sobek, dan tubuh hitam legam, seperti mandi oli,


“Ada apa kau menghadangku?” tanyaku, sambil mengusap air wudhu yang mengalir di jenggot


kecilku.


Wajah tirusnya mengguratkan rasa takut, bibir


merahnya dan taring yang mencuat, meneteskan air liur, yang membuatku tak bisa untuk tak meludah, dia mundur, “Ada apa?” tanyaku lagi.


Terdengar suaranya mendengung, seperti suara lebah, tapi dengan nada berat, aku pun membuka batin.


“Aku mewakili, para penghuni pasar ini, kami


minta tuan tidak bertempat di pasar ini….”


katanya.


“Memangnya kenapa?”


“Kami merasa panas.”


“Kalau aku tetap bertempat di sini bagaimana?”


“Sungguh kami sangat memohon tuan….” katanya dan perlahan menghilang. Aku pun melangkah ke


dalam dan melakukan sholat magrib, setelah wirid, aku pun beranjak, keluar, ah mungkin aku tak usah mengganggu keberadaan para jin,


Aku pun memutuskan pergi, menelusuri jalan sampai ke setasiun kereta api. Setelah sholat isyak di musola setasiun, aku selonjorkan tubuh di kursi setasiun.


Seminggu telah berlalu, aku hidup di stasiun


Bojonegoro, tak pernah mandi, tidur seadanya,


kadang menggelosor di lantai setasiun aja, jadi tubuh, lengan panjang, celana jean belel


sudah tak karuan warnanya, karena tertempel


debu dan oli kereta, juga rambut panjangku


lengket dan gimbal, hingga tak jarang orang


menyebutku gila.


Aku tak perduli, terlalu terlena dengan robul


izati, tenggelam dalam wirid-wiridku, tenggelam teramat dalam, bahkan aku pun tak memikirkan makan, karena memang tak ada sejumputpun


rupiah di saku, aku kadang makan sepotong nasi yang jatuh ke tanah,


Kadang juga cuma minum air wudhu, walau baru


seminggu tubuhku telah teramat kurus.


Hari itu hari minggu, setasiun teramat ramai,


aku menggelosor aja di lantai, tenggelam dalam wiridku,


Tiba-tiba tangan halus menepukku dari


belakang, “Iyan…? Iyan khan?”


Ku buka mataku yang terpejam, dan menengok ke belakang, seraut wajah gadis cantik nan


anggun dengan balutan jilbab coklat tua,


membungkuk di belakangku,


“Ya Alloh, Ian, kenapa sampai jadi gini….” kata gadis bernama...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2