Diantara Beribu Perjalananan

Diantara Beribu Perjalananan
Ki Cempli


__ADS_3

Setidaknya aku telah menyelesaikan mengarahkan Husna dalam satu langkah.


Sementara hariannya aku mulai menjadi imam


masjid, dan mengisi pengajian waktu subuh.


Sementara hidupku amat santai, dan semua


lancar-lancar saja.


Taqdir itu adalah ketentuan Alloh, telah


digariskan dan tak siapa mampu mengelak, dan siapa saja tak tau taqdirnya, bahkan jika


ditaqdirkan buruk, tak ada yang tau,


Tapi perlu diingat taqdir itu Alloh yang membuat, maka Alloh juga yang mampu merubah, kita manusia jika tidak menyandarkan diri pada Alloh, bagaimana jika kita ternyata ditaqdirkan buruk,


Maka do’a kita, permintaan kita supaya Alloh


menjadikan yang buruk menjadi baik.


Do’a itu pedangnya orang Islam, Addu’a’u syaiful muslimin, coba kita bayangkan pedang yang belum jadi, pedang itu kalau ingin dijadikan pedang, maka dipilih besi yang unggul, kuwalitas terbaik, lalu besi dibakar agar mudah dibentuk, dipukuli sampai besi menjadi bentuk yang diinginkan.


Jika besi itu tak dibakar tentu akan susah dibentuk, dan jika sudah dibentuk maka


diasah berulang-ulang, agar besi menjadi pedang yang bila dipakai memotong apapun akan dengan mudah terpotong.


Antara kita yang pedang sendiri, dengan kita


memegang pedang tentu beda, manusia yang


telah menjadi pedang, maka pandangan matanya adalah pedang, hatinya pedang, tangannya pedang dan kehendaknya adalah pedang.


Kita ini pedang, kitalah yang akan dipakai


berdo’a, bukan orang yang membaca do’a,


“Berdo’alah pada-KU”, kata perintah berdo’a


dan do’a seperti satu kesatuan yang tak


terpisah.


Jadi kita inilah yang seharusnya dibentuk


menjadi do’a yang tajam.


Nafsu kita dibakar, nafsu keinginan yang


menyala-nyala pada apa yang kita inginkan, itu


dibakar, agar keinginan hati itu bisa diarahkan


pada yang bukan keinginan nafsu, kita bakar


dengan lelaku, kita tempa dengan ibadah tiada


henti, agar kepribadian yang terarah pada


kehendak Sang Khaliq itu terwujud pada segala gerak dan tingkah laku, sehingga orang telah tak bisa membedakan lagi,


Kita ibadah atau bukan sedang menjalankan ibadah, sebab setiap gerak telah semuanya ibadah, seperti orang sudah tak melihat bentuk besi, semua telah menjadi bentuk pedang.


Pembentukan diri menjadi sebuah pedang yang mumpuni, maka diserahkan pada empu yang


mumpuni, jangan diserahkan pada tukang


membuat roti, bisa jadi nanti menjadi pedang


yang lembek.


Diri dibentuk menjadi do’a ruh dan jasadnya,


maka diri diserahkan kepada guru yang matang di bidangnya.


Sehingga pembentukan diri dicapai dengan


maksimal, setelah diri menjadi do’a, kemudian


diasah, melihat kan orang yang mengasah


pedang, tangannya maju mundur, sama diri

__ADS_1


melakukan istiqomah, dzikir dilakukan berulang-ulang, jika cuma digerenda maka pedang walau tajamnya cepat, juga akan menjadi besi muda, mudah patah, tapi jika diasah, maka akan terjadi penumpukan elemen, menjadi pedang yang kuat dan tajam.


Jika diri diasah dengan amaliah yang berulang-


ulang ikhlas, maka diri akan setajam pedang


dalam berdo’a.


Teori itulah yang ku praktekkan, dan tak henti,


siang malam menjalankan laku. Suatu lelaku maka tidak berarti tidak berimbas pada sekeliling kita, amat besar imbasnya.


Pertama, mulai ada khodam dari benda bertuah yang mulai datang ada yang lewat mimpi, ada


juga yang langsung datang dengan perwujudan seperti manusia.


Sampai aku hafal di mana saja letak berbagai


wesi aji, atau batu bertuah, bahkan jika aku


lewat, ada saja yang jatuh biar aku ambil, tapi


sayangnya aku orangnya sama sekali tak tertarik dengan hal-hal seperti itu, sekalipun keris paling ampuh diberikan padaku, maka tak sedikitpun ada ketertarikan di hatiku, bagiku cukup Alloh menjadi penolongku.


Segala jin, malaikat, itu semua sama mahluq-


Nya, ciptaan-Nya, semua terbatas oleh


keterbatasan, tapi kalau Alloh tak terbatas dan


tak berhalangan Sehingga semua khodam yang mendatangi ku tolak, sampai pada suatu malam aku mencoba mengitari daerah Pekalongan.


Baru saja keluar dari daerahku, dalam meraga


sukma, aku dihadang oleh seorang perempuan bercadar biru, dengan perut terbuka, mirip


penari perut Mesir.


Aku tau betul dia bangsa jin,


“Jangan lewat daerahku.” katanya sambil menghadang.


“Kenapa?” tanyaku.


buahku kepanasan,” jelasnya sambil marah.


“Kepanasan itu kan bukan urusanku, jika tak ingin kepanasan, kenapa tak menyingkir?”


“Aku dan semua kaumku telah ratusan tahun


tinggal di sini, dan tak terganggu, tapi setelah


kau datang, kami amat tersiksa.” tandasnya.


“Hm… jadi maumu apa?”


“Kau harus meninggalkan daerah ini.”


“Mana boleh begitu..!”


“Kalau tak mau pergi maka kau akan ku


hancurkan.”


“Kalau memang mampu silahkan.” kataku.


Lalu dia menyerangku dengan kibasan


selendangnya, tapi entah tak tau selalu saja


selendangnya mental, dan selalu dia menjerit,


padahal aku tak berbuat apa-apa.


“Kau rupanya punya ilmu, tunggu akan ku panggil ayahku.” katanya.


“Ya silahkan, aku akan tunggu di sini.” kataku


tenang.


Dia pergi… dan sebentar kemudian datang lagi,


bersama lelaki pendek, berkepala gundul, dan

__ADS_1


hanya bercawat, sementara dadanya telanjang.


“Ini ayah, lelaki yang membuat daerah kita


menjadi panas.” jelas perempuan yang


sebelumnya menyerangku.


“Ini orangnya?” kata lelaki tua itu, tiba-tiba,


dunia seperti gelap gulita, seperti matahari


padam.


Dan aku mengucap dzikir, maka dunia nyala


kembali.


“Hm memang dia lumayan berilmu.” kata lelaki itu pada anaknya,


“Kau menyingkir, biar bopo yang menaklukannya.”


kata lelaki tua itu, sementara aku diam


menunggu.


“Anak muda, kau tau, keberadaanmu di daerah


ini telah membuat panas daerahku, maka kau


akan ku tawan dan ku bawa ke penjara duniaku.”


kata pak tua itu yang belakangan ku ketahui


bernama Kyai Cempli.


Kyai Cempli itu panggilan penguasa Desa di


sebelah desaku, jaraknya kira-kira dari desaku


satu kilo meter, di batas sawah.


Tiba-tiba kyai Cempli menyerangku dengan


serangan yang aneh, tangannya seperti mulur


memanjang, dan menangkap tanganku, lalu


tubuhnya sekejap telah ada di belakangku,


sehingga tanganku tertarik ke belakang bersilangan antara tangan kiri dan tangan kanan.


Juga kakiku berpalitan tertarik ke belakang.


Anehnya ragaku juga dalam kamar seperti itu,


sehingga Husna berusaha membetulkan letak


tangan dan kakiku yang menekuk-nekuk.


Sementara aku berusaha melakukan perlawanan sebisaku, namun berbagai dzikir yang biasa ku lafadzkan tak juga bisa membebaskanku,


Bagaimanapun aku berusaha melepaskan diri


tetap tangan dan kakiku terkunci, sampai ku


rasakan bisikan dari Kyaiku, aku harus


melafadzkan satu dzikir.


Dan akupun mengikuti anjuran, ku lafadzkan


dzikir itu, dan seketika pegangan Kyai Cempli


terlepas, dan dia bergulingan di tanah minta


ampun, dan berulang kali jika ku lafadzkan


lafadz itu maka kyai Cempli menjerit-jerit minta ampun,


“Ampuuuun…! Jangan dilafadzkan asma a’dzom itu aku tak kuat, ampuuun..!” kata kyai Cempli menjerit-jerit.


“Kau menyerah tidak?” tanyaku.

__ADS_1


Bersambung........


__ADS_2