
Jadi Alloh itu kuasa melakukan apapun, termasuk merubah taqdir seseorang yang buruk ingin dirubah menjadi baik, kita yang manusia, jika khawatir taqdir buruk ternyata telah dituliskan untuk kita, maka kita tinggal meminta pada Alloh agar taqdir yang buruk dirubah menjadi baik, tentunya kita harus mendekatkan diri pada Alloh, baru mengajukan permintaan, orang lapor Polisi aja harus datang mendekat ke kantor Polisi, orang lapor mau nikah harus mendekat ke kantor urusan agama.
Alloh sama sekali tak mengharap kita itu mendekat, sebab kita mendekat atau kita menjauh, sama sekali tak menguntungkan bagi Alloh, tapi kita yang butuh Alloh, bukan Alloh yang butuh kita. Jika kita mau mengenali Allah s.w.t kita tidak boleh melihat-Nya pada satu aspek saja.
Jika kita melihat Allah al-Ghafur (Maha Pengampun), kita juga harus melihat Allah al-‘Aziz (MahaKeras). Jika kita melihat Allah al-Hayyu (Yang Menghidupkan) kita juga harus melihat Allah al- Mumit (Yang mematikan).
Jika kita dapat melihat semua Sifat-sifat Allah s.w.t dalam satu kesatuan barulah kita dapat
mengenali-Nya dengan sebenar-benarnya siapa
itu Alloh.
Bila Allah s.w.t dikenali dalam semua aspek, hikmat kebijaksanaan-Nya dalam menentukan sesuatu perkara pada sesuatu masa tidak terlindung lagi dari pandangan mata hati.
Hati yang tidak mau tunduk kepada Maha
Pengatur tidak akan menemui kedamaian.
Seperti orang yang sudah digariskan makan dengan mulut, lalu berusaha makan makanan
lewat lubang telinganya, sungguh akan
menganiaya dirinya sendiri atau orang yang
sudah ditetapkan melihat dengan mata, lalu
mencoba melihat dengan lidahnya, pasti akan
sulit mengenali barang karena tidak adanya optik di lidah, juga jika berusaha mengecap makanan dengan matanya pasti akan merasakan perih tak berkesudahan jika merasakan sambel, itu merupakan tanda jelas kalau manusia atau hewan apapun itu tak bisa melepaskan diri dari ketentuan Alloh, jika berusaha melepas diri dari ketentuan Alloh, itu hanya akan menganiaya dirinya sendiri.
Waktu, ruang dan kejadian akan membuatnya gelisah karena nafsunya tubuhnya, tidak akan mau diajak memenuhi yang di luar jangkauan, tidak dapat menguasai semua itu. Dia inginkan sesuatu perkara pada satu masa sedangkan Maha Pengatur inginkan perkara lain.
Kehendak makhluk tidak dapat mengatasi kehendak Tuhan. Jika ingin hati menjadi tenteram usahakan agar hati senantiasa ingat
kepada Allah s.w.t. “(yaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah”. Ketahuilah! hanya Dengan
“zikrullah” itu, tenang tenteramlah hati manusia.
(Ayat 28 : Surah ar-Ra’d) menunjukkan
bagaimanapun tidak bisa tidak manusia kalau
__ADS_1
ingin bahagia dunia akherat maka harus
menyesesuaikan diri dengan aturan yang Alloh
berikan, lalu ridho dan menerima bulat,
mensyukurinya seperti Alloh tentukan makan
makanan dari mulut, maka itu kita terima, kita
syukuri dengan menjaga mulut rajin menyikat
gigi, dan menghindari makanan yang membuat
gigi pada lepas, misal makan sekrup, baut dan
koral, atau makan tiang listrik, sebab ada makanan manusia yang mencocoki manusia, nah itu yang kita sesuaikan dengan kebutuhan, sama dengan hati.
Apa yang tidak menjadi porsinya hati, maka kita
hindari dan kita bersihkan, seperti benci, iri, dengki, sombong, ujub, itu bukan porsinya hati,
mulut mengkonsumsi besi dan koral, konsumsinya hati adalah dzikir. Berimanlah kepada Allah s.w.t dan beriman juga kepada takdir. Lepaskan yang sebab musabab yang menjadi pagar nafsu menutup hati.
Skip...
Suhandi datang wajahnya kelihatan sangat keruh sekali, aku yakin dia pasti sangat banyak
masalah.
“Ada masalah lagi…?” tanyaku sambil menyalakan rokok LA kesukaanku.
“Iya mas. Aku mau diciduk Polisi.” jawabnya dengan nada khawatir.
“Kenapa mau diciduk?”
“Aku punya banyak hutang mas, dan orang yang ku mengutang padanya itu melaporkanku ke
polisi.”
“Ya itu kesalahanmu, harusnya kamu itu jangan bayar hutang dengan mengutang lagi, masak bayar hutang dengan meminta barang dan
__ADS_1
memberi giro kosong, dengan mengatakan nanti mau dibayar sekalian, lalu setelah jatuh tempo, giro tidak diisi, malah minta barang lagi dengan alasan kalau itu akan dipakai bayar hutang yang sebelumnya, aku saja mumet dengan cara berpikir yang kamu pakai, kalau aku lebih simpel pikiran, mending bisnis yang langsung jadi, ndak pakai muter-muter, ulur-uluran kertas yang tak ada isinya begitu, ya mending jualan pisang goreng, pisang goreng terjual dan uang dipegang, ya kayak caramu yang kamu pakai itu bisa saja sukses, tapi nanggung hutang yang segitu banyaknya, ya bagiku tak sanggup, bukan tak sanggup nanggung secara tak mau bayar, tapi takutnya aku mati hutangku belum dibayar, makanya sekalipun aku ini hidup miskin, makan
seadanya, malah kerjaan cuma ngurusi jama’ah, ndak punya kerjaan lain, dan miskin, tapi kalau disuruh ngutang terus terang aku takut, jadi hutang se perak saja aku ndak punya, bagiku hidup itu simpel saja, hidup sederhana, apa adanya, di jalan Alloh, hutang tak punya, dan mati tak berat meninggalkan dunia, karena tak ada tanggungan yang harus ditanggung, ya ndak pegang uang ndak papa, yang penting keluarga kecukupan, jadi aku orang yang tak berpikiran muluk-muluk.”
“Tapi kenyataannya aku terlanjur begini, mungkin dulu perhitunganku salah, sehingga aku mengalami seperti ini.”
“Ya menurutku bukan salah lagi, amat salah, karena apa selama ini yang kamu makan saja sudah menjadikan rizqi yang kamu terima tidak
berkah.”
“La terus solusinya bagaimana mas?” tanya Suhandi.
“Ya solusinya kamu harus taubat, mandi taubat tiap jam dua belas malam ke atas.”
“Lalu masalah aku mau diciduk Polisi bagaimana mas..”
“Ya dihadapi dengan jantan, kan kamu berani melakukan harus berani menanggung akibatnya.”
“Tapi saya dibantu do’a mas, biar saya selamat.”
“Ya kalau soal itu aku do’akan kamu selamat.”
kataku sambil menyalakan rokok yang kedua.
“Sebenarnya siapa orang yang melaporkanmu ke Polisi?”
“Ini orang Kajen mas, yang melaporkanku kakaknya yang punya urusan hutang denganku.” jawab Suhandi.
“Lo kok bisa kakaknya yang melaporkan?”
“Iya mas, malah kalau aku ke tempat orang yang punya hutang padaku itu, kakaknya itu yang selalu marah-marah padaku, dan seakan ingin memaksaku.”
“Ya coba nanti aku lihat bagaimana, yang penting kamu itu banyak-banyak bertaubat, dan banyak- banyak mendekatkan diri pada Alloh, agar ditolong oleh Alloh, kalau aku sendiri cuma bisanya mendo’akan, kalau kamu sendiri tak mau mendekatkan diri pada alloh, ya aku percuma saja mendo’akan.
Ya kayak nyiram air bersih ke comberan, berapa kali disiram juga air bersihnya akan ikut menjadi comberan, karena selama ini salah jalan, menjalankan hal yang dilarang agama, kayak suka pergi ke dukun, belum lagi makanan yang kamu makan adalah makanan yang haram dari riba, jadi apa-apa sudah ditolak oleh Alloh, tapi kalau kamu serius, sungguh-sungguh, Alloh itu juga dzat yang penuh kasih sayang,
pintu taubatnya lebih luas dari bumi dan
seisinya, jangan lupa wirid yang ku beri
dijalankan dengan tekun.”
__ADS_1